HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
PANIK-PANIK AJAIB


__ADS_3

" … Nih di sini aja, Om. Kebetulan pas banget sama yang dagang raket nyamuk."


Edo mengangguk-angguk merespon Vina. "Oke-oke. Bentar ya. Soalnya ini jalannya sempit."


"Atau kita cari parkiran dulu aja, Om, baru belanja."


"Boleh tuh. Soalnya saya ngeri ngelecetin mobilnya hidden crazy rich Jaksel nih." Edo tertawa.


"Ih tapi tadi ada yang dagang raket nyamuk, Om."


"Kaya yang dagang raket nyamuk cuma di situ aja sih, Vin. Lu gak liat ini pasar seluas samudra?" Nia menunjuk kejauhan. "Tuh-tuh sampe ujung sono tuh."


"Iya sih. Yaudah deh, Om. Kita cari parkiran dulu aja baru belanja."


Edo tak menjawab, hanya kembali tertawa sembari melanjutkan kegiatannya berkeliling pasar mencari area parkir yang kosong. Ini adalah hari kedua liburan Nia, Zaim dan yang lain di Bukit Pelangi Jawa Barat. Kemarin, sesampainya di Bukit Pelangi, Nia, Zaim serta yang lain langsung membuat agenda bakar-bakar dadakan hingga lewat tengah malam.


Mereka terlalu antusias, hingga lupa di mana mereka menginap selama liburan. Ya, di sebuah bukit. Bukit yang tidak terjangkau listrik, jauh dari gerai-gerai retail, dan dikelilingi banyak sekali tanaman yang menjadi tempat persembunyian favorit kawanan nyamuk. Alhasil mereka pun tertidur dengan berteman gulita, dingin, dan, nyamuk!


Itulah alasan Nia, Vina dan Edo berada di pasar saat ini. Mereka ditugaskan Ushi untuk berbelanja lilin, korek api, dan yang paling utama, senjata melawan nyamuk! Sementara Ushi, Zaim serta Ikbal, tinggal di pondok untuk membersihkan sisa bakar-bakar semalam. Mereka beraktivitas tanpa pernah menyangka bahwa berita besar telah tersebar.


"Ini cuma perasaan saya aja atau kita emang lagi diplototin sama orang-orang ya?"


"Mmm kayanya kita emang lagi diplototin sama mereka deh, Om," balas Nia pada Edo. "Ada apaan ya?"


"Jawabannya ada di rumah Pak Kades. Gak usah dipikirin ah. Udah ketauan pasti berita viral recehan. Mending kita buruan belanja." Vina menunjuk pedagang perabotan. "Di situ kayanya ada raket nyamuk."


"Iya kayanya ada. Yaudah yuk ke sana. Yuk, Om."


Edo hanya mengangguk pada Nia seraya mengekor.


"Permisi. Pak, ada raket nyamuk?"


"Eh?" Seorang pria pemilik toko perabot refleks menunjuk Nia. "Mbaknya bukannya yang ada di tv ya? Yang gak punya hati?"


"Hah? Maksudnya apa ya, Pak? Saya punya hati kok."


Pria berusia kisaran empat puluh tahunan itu tak menjawab, hanya buru-buru menyalakan televisinya. Dan, benar saja. Tak lama setelah televisi tua itu menyala, sebuah berita besar telah tersiar ke mana-mana. Terlihat potret Nia, Zaim dan yang lain yang tengah mendaki Bukit Pelangi terpampang di semua channel televisi dengan headline, MANUSIA TAK BERHATI!


" … Hendri Zachary dianggap lebih pantas menjadi penerus Al Hakam dibandingkan Zaim Alfarezi yang menurut netizen hanya sibuk berpacaran dengan Yesenia Eve, murid tingkat sebelas SMAN Andalan Teladan … Berikut adalah kumpulan komentar kocak dari para netizen yang mendapat jutaan likes bahkan dari Bapak Presiden kita."



__ADS_1










"Anjir gue berasa skak padahal belom nangkis."


"Karna kita emang gak seharusnya nangkis, Vin. Gak seharusnya liburan juga tapi jenguk Pak Hakam." Nia menoleh pada Vina. "Iya kan?"


Edo berdeham sembari menggenggamkan kunci mobil Zaim pada Nia. "Mending kalian tunggu di mobil. Biar saya aja yang belanja. Karna saya yakin Ushi lagi ngamuk sekarang. Jadi kita harus cepet balik. Terus …"


Tepat sekali. Saat ini Ushi memang sedang mengamuk. Ketika mengetahui berita viral itu dari Ikbal yang buru-buru kembali ke pondok setelah mengambil ponsel semua orang yang diisi daya di kediaman Pak Kades, Ushi langsung mengamuk sejadinya karena merasa tidak terima dengan komentar para netizen. Ushi juga tak lupa mengutuk si penyebar foto dengan kutukan beraneka bahasa!


"Saya bisa redain berita ini dalam beberapa jam kok, Bu," balas Zaim pada Ushi.


"Bukan itu masalahnya, Za. Hubungan kalian itu loh bikin pusing."


"Saya paham, Bu. Ini emang salah saya."


"Ya salah kita semualah, Kak Zaim. Kita kan mau diajak ke sini. Malahan Ibu yang paling salah. Emang Ibu gak sadar kalo Ibu yang paling antusias di antara kita semua?"


Spontan Ushi menoleh pada Ikbal. "Kok kamu jadi nyalahin Ibu sih? Kamu ganti kubu?"


"Dih siapa yang ganti kubu. Dari dulu mah aku kubunya Kak Zaim."


"Oh yaudah kalo gitu gak usah pulang ke rumah ka–"


"Ssstttt diem dulu, Bu," sela Ikbal. "Nih Pak Hakam bikin video klarifikasi di instagr*m officialnya Muezza*." Ikbal berlari sembari menambah volume ponselnya.


*Perusahaan milik Al Hakam yang menawarkan jasa katering diet.


"Langsung aja ya. Saya Al Hakam. Saya mau menanggapi berita viral yang kayanya cukup berdampak buat citra cucu saya, Zaim … Soal liburan itu saya yang nyuruh Zaim karna dia keliatan stres banget … Pondok di Bukit Pelangi juga hadiah dari saya buat liburannya Zaim … Jadi daripada kalian ribut-ribut soal hati mending pada nyobain menu paket baru Muezza, balado ati ampela …"

__ADS_1


Zaim menyeringai seraya membatin, "Kakek kenapa tiba-tiba jadi pro gini ya? Pasti lagi ngerencanain sesuatu. Kira-kira apa ya?"


...•▪•▪•▪•▪•...


Sisa-sisa isak terdengar memenuhi sebuah kamar tidur yang terbengkalai. Terbengkalai oleh sebab pertengkaran hebat antara kakak beradik, Nisma dan Bunga. Pecahan kaca rias, vas bunga, lampu tidur beserta bingkai-bingkai foto itulah yang menjadi saksi bisu pertengkaran hebat itu. Pun memar di pipi keduanya serta bekas cakaran di sana-sini, hanya benda-benda itulah saksi satu-satunya. Ya, meski bisu.


Terlihat keduanya berdiri saling memunggungi satu sama lain, pun saling mencari cara untuk meredakan isak yang kian terasa sesak. Semuanya berawal ketika Nisma menghapus akun instagr*m Bunga tanpa sepengetahuannya. Tentu saja Bunga langsung naik pitam. Pasalnya itu bukan sekadar instagr*am untuk tempat adu pamer tetapi fanbase terbesar Zaim Alfarezi seindonesia.


Namun dibalik hebatnya pertengkaran kakak beradik tersebut, ada sesuatu yang mengalihkan perhatian. Sesuatu itu adalah wallpaper yang menghiasi kamar tidur Bunga dan foto-foto yang dibingkai dan ditata rapi di sana-sini. Bukan wallpaper bunga yang biasa dipilih oleh anak perempuan kebanyakan pun bukan foto-foto keluarga atau diri sendiri melainkan wallpaper dan foto-foto hidden crazy rich Jaksel!


"Pak Bastian udah tau kalo kamu admin fanbase itu. Dia juga udah tau kalo kamu ngeretin mereka," ujar Nisma sambil mengusap kasar air matanya. "Kamu gak akan brenti kalo akun itu masih ada. Jadi Kakak terpaksa apus."


"Yaudah mau gimana lagi. Toh udah diapus."


"Kakak panik pas Pak Bastian bilang kamu bisa dipenjara karna udah ngeretin penggemarnya Zaim lewat foto-foto sama video-videonya. Terus Pak Bastian juga udah tau kalo kamu pura-pura jadi Adelweiss buat nyelakain Nia."


Bunga menghela napas. "Ya apa sih yang gak dia tau. Namanya juga polisi. Udah aku gak mau bahas. Kakak keluar aja deh mendingan."


"Kakak belom selesai ngomong."


Bunga kembali menghela napas. "Apalagi sih?"


"Kakak bakal resign jadi sekertarisnya Zaim. Terus abis itu kita balik ke Bandung."


"Lebay banget sih cuma gara-gara masalah sepele aja sampe harus balik ke Bandung!"


"Zaim belom tau soal fanbase itu dan soal kamu ngeretin penggemarnya. Pak Bastian janji bakal tutup mulut dengan syarat kita keluar dari Ja–"


"Gak! Pokoknya aku gak mau balik ke Bandung! Aku gak mau tinggal serumah sama pembunuh Mamah! Kakak gila ya hah! Atau Kakak mau aku jadi gila!"


Nisma tak menjawab, sibuk menahan isaknya yang kembali terprovokasi. Entah apa yang terjadi pada keluarga kakak beradik itu. Namun satu yang pasti, mereka harus pulang alih-alih bertarung dengan hasil yang sudah pasti. Kalah telak! Nisma yang tak mampu lagi menahan isaknya pun berlalu, tetapi Bunga dengan segera menahan langkah sang kakak yang terburu.


"Yaudah oke. Kita pulang."


Spontan Nisma menghambur memeluk Bunga. "Kita bakal tinggal sementara aja kok di-"


PRANG


BRUK


DUG


"Pulang-pulang. Mana bisa gue pulang ninggalin dia yang enak-enakan liburan sama Zaim. Seenggaknya gue harus ngelakuin sesuatu yang bisa bikin hati plong dulu dong," gumam Bunga sembari melempar bingkai foto yang baru saja digunakannya untuk memukul kepala sang kakak.

__ADS_1


__ADS_2