
" … Itu mah karna model jaketnya aja yang over size. Liat dong kakinya."
"Iya juga ya. Gedean juga lengen gue daripada kakinya. Kurus banget anjir kaya tengkorak."
"Yaiyalah kurus. Zaim Alfarezi kan mendadak ngilang."
"Tapi kira-kira ngilang ke mana ya? Kantornya juga mendadak tutup kaya kantor Kakeknya. Masa iya cuma kebetulan?"
"Mana ada kebetulan. Zaim Alfarezi tuh udah bosen sama dia makanya nutup kantornya dan ngilang. Cowok kalo udah bosen kan gitu."
"Udah bosen sama udah kenyang sih lebih tepatnya."
"Bener banget. Gue yakin sekarang Zaim Alfarezi lagi party di luar negri sama cewek-cewek yang lebih matengan dikit."
"Gue sih setuju. Daripada sama dia yang masih bocah ingusan gi–"
"Heh, pala lu berdua isinya tape ya? Apa lu berdua nganggep gue tembok? Gue denger setan!"
Vina menyela ucapan seorang wanita dengan seruan bertabur "kata-kata mutiara". Awalnya Vina pun cuek. Tetapi demi Tuhan Vina butuh headset dan musik dangdut bervolume tinggi untuk menyumpal telinganya jika ingin konsisten bersikap cuek sampai tiba di stasiun terakhir! Jujur saja tali kesabaran Vina sudah putus sejak dua wanita julit yang bersandar di pintu kereta itu membicarakan Nia, sahabat sehati sesanubarinya.
"Kalo mau gibah yang cerdas dong," imbuh Vina seraya berjalan menghampiri dua wanita tersebut. "Pake kode, pake kata ganti orang, pake otak."
"Apa sih nih anak gak sopan banget ngotak-ngotakin orang tua da–"
"Justru lu yang gak sopan," sela Vina. "Tau udah tua tapi gak ngasih contoh yang bener ke yang lebih muda. Nyontohin gibah. Nyontohin julit. Nyontohin ngomong di kereta. Goblok lu anjir."
"Dih ngelunjak baget nih anak. Be–"
"Iya gue ngelunjak," sela Vina lagi. "Mubazir orang goblok kaya lu berdua gak dilunjakin dan gak dikasih pelajaran."
Vina langsung menjambak rambut satu dari dua wanita julit tersebut sembari melontarkan "kata-kata mutiara"nya yang menyentuh kalbu! Duel di gerbong khusus wanita itu pun pecah. Nia yang sedari tadi sibuk mendengarkan musik langsung menoleh saat seruan Vina mengalahkan volume musiknya. Nia tak tahu apa yang sedang terjadi. Tetapi satu yang pasti, Vina tidak ada di tempatnya melainkan di sana. Di tengah medan jambak-jambakan yang sengit!
Duel itu kian sengit meski Nia dan para penumpang kereta sudah mati-matian melerai. Hingga akhirnya petugas keamanan datang membelah arena duel jambak-jambakan dan mantap menurunkan Nia, Vina serta dua wanita julit di stasiun terdekat sebagai sanksi! Vina masih tampak tak puas meski sudah keluar sebagai pemenang dalam duel. Terlihat dari Vina yang berniat mengejar dua wanita julit tersebut. Namun Nia dengan cepat mengadang.
"Vin, udah, Vin."
"Enggak sebelom makhluk-makhluk goblok itu minta maaf sama lu," balas Vina pada Nia.
"Gak usah orang gue juga gak butuh permintaan maaf dari mereka."
"Lu bilang gitu karna lu gak denger apa yang mereka omongin tentang lu. Mereka bilang lu bocah ingusan, lu kaya tengkorak. Mereka juga bilang Zaim udah bosen sama lu dan sekarang lagi party di luar negri sama cewek-cewek," teriak Vina.
"Yaudah sih biarin aja. Toh gak ada yang tau kebenerannya selain Zaim sendiri kan. Ngapain juga dipikirin?"
"Tapi lu mikirin, Nya. Kalo lu gak mikirin lu gak akan sekurus ini. Gak akan murung, dan gak akan berangkat sekolah dengan mata bengkak tiap hari."
Seketika Nia terdiam.
__ADS_1
"Gue gak ngarep lu sepemikiran sama gue tapi menurut gue, gak ada alesan buat seseorang gak ngasih kabar ke kita. Mau sedarurat apapun kondisinya pasti dia bakal berusaha ngasih kita kabar. Apalagi dia cinta sama kita," tambah Vina.
Nia masih terdiam. Bahkan meski akhirnya Vina meninggalkannya seorang diri, Nia masih setia diam. Sejujurnya Nia sama sekali tidak memikirkan ucapan dua wanita julit tadi, pun ucapan Vina. Sebab Nia sudah kewalahan memikirkan apa yang diucapkan kata hatinya. Tak ada yang salah dengan ucapan dua wanita julit itu. Nia memang kehilangan banyak berat badannya dan angka sembilan belas tahun memang masih cocok dicap sebagai bocah ingusan, bukan?
Apa yang baru saja diucapkan Vina juga tak salah. Tidak ada alasan bagi orang yang mencintai kita tak memberi kabar, tidak peduli sedarurat apapun kondisinya. Tetapi yang mengarungi hubungan asmara yang dipenuhi jalanan berliku yang bobrok, tikungan terlewat curam di sana-sini dan lubang yang tak kasat mata itu adalah Nia serta Zaim, bukan Vina maupun dua wanita julit yang sepertinya harus memborong sampo penumbuh rambut esok hari!
"Mungkin Zaim emang lagi di luar negri. Tapi ngapain? Apa nyusul Kakeknya buat minta restu? Bisa jadi. Tapi alesannya gak ngabarin gue apa? Apa mungkin dia kalah debat sama Kakeknya dan endingnya nyerah sama hubungan ini? Atau …"
Nia tak henti meluapkan tanyanya dalam hati, pun memikirkan cara apalagi yang harus digunakannya untuk mengetahui kabar Zaim yang mendadak hilang bak ditelan bumi! Nia sudah berulang kali ke kediaman Zaim, namun tak ada yang didapatnya dari sana. Nia juga sudah pergi ke kantor Zaim meski lagi-lagi hanya mendapati teras bangunannya yang dipenuhi dedaunan kering. Lalu Nia juga tak menyerah menghubungi Bastian serta Sobari meski kerapkali diabaikan.
" … Kamu di mana sih sebenernya?" Nia menghela napas. "Serius aku dikit lagi marah nih sa–"
"Ehem."
DEG
...•▪•▪•▪•▪•...
"Kamu ke mana aja sih? Tau gak aku tuh hampir ikut-ikutan nethink kaya Vina sama cewek-cewek julit itu."
Zaim hanya tersenyum menanggapi Nia, lalu dengan lembut menggiring tubuh gemetaran itu ke dalam pelukannya.
"Aku dikit lagi mau marah tau gak," tambah Nia."
"Maaf, Sayang. Tolong tunggu aku sebentar lagi ya."
Zaim mengangguk menanggapi Nia.
"Gak boleh," imbuh Nia seraya berganti memeluk Zaim. "Sebelom kamu kasih tau ke mana kamu mau pergi, aku gak ngebolehin kamu pergi ke mana-mana."
"Maaf ya, Sayang. By the way, i love you as always*."
*Ngomong-ngomong, aku mencintaimu seperti biasa.
"Gak-gak. Gak love you love youan. Eh? Tunggu. Zaim. Brenti atau aku beneran marah. Za–"
DUG
"Kamu gak apa-apa?"
Spontan Nia menoleh ke asal suara. "Oh. Iya gak apa-apa, Kak."
"Tapi kayanya sakit. Soalnya suara kebenturnya lumayan kenceng."
Nia mengusap-usap kepalanya yang baru saja terbentur jendela kaca mobil. "Saya beneran gak apa-apa kok, Kak."
Hendri mengangguk-angguk. "Mimpi buruk ya?"
__ADS_1
Nia hanya tersenyum paksa pada Hendri.
"Mau sarapan dulu?"
"Makasih tapi saya udah sarapan tadi di rumah," jawab Nia akhirnya. "Ngomong-ngomong Zaim ngapain pergi ke tempat sejauh ini? Daritadi kayanya gak nyampe-nyampe."
"Bentar lagi nyampe kok."
"Gitu ya."
"Iya." Hendri diam cukup lama sebelum melanjutkan, "Sebenernya saya boong. Kita bukan mau ketemu Zaim. Saya juga gak tau Zaim ada di mana sekarang. Yang lain pun gak tau."
"Udah saya duga sih. Soalnya muka Kakak pas ngajakin saya ketemu Zaim tuh palsu banget."
Hendri tampak terkejut, tetapi sebisa mungkin menyembunyikannya. Ya, Hendri adalah orang misterius yang mendatangi Nia yang tengah lontang-lantung di stasiun kereta beberapa jam lalu. Dengan wajah pun nada suara yang dibuat-buat, Hendri menawarkan Nia untuk ikut dengannya jika ingin bertemu Zaim. Nia langsung setuju bukan karena putus asa melainkan penasaran ada maksud apa dibalik mimik wajah Hendri yang palsu. Selain itu, Nia juga tidak ingin tertangkap polisi yang kerapkali memburu anak-anak sekolah yang hobi membolos!
"Karna bukan ketemu Zaim, apa mungkin kita mau ketemu Pak Hakam?"
Hendri menggeleng. "Pak Hakam lagi istirahat. Beliau kecapean soalnya baru banget nyampe dari Malaysia."
Nia mengangguk-angguk. "Kalo gitu kita mau ketemu siapa?"
"Kamu bakal tau sendiri nanti. Tapi sebelumnya saya mau minta maaf. Yang saya lakuin sekarang bukan bentuk bales dendam karna kamu hampir nyelakain Pak Hakam. Ini kesepakatan yang saya buat sama seseorang. Saya minta bantuan orang itu buat nyingkirin seseorang. Orang itu setuju dengan syarat ditemuin sama kamu."
Nia tak menjawab, pun tak berselera mencerna apa yang baru saja dikatakan Hendri. Intinya Nia akan bertemu dengan seseorang yang menyebalkan. Karena entah kenapa sejak mendengar dua kata itu, Al Hakam dan Malaysia, suasana hati Nia seketika memburuk! Hendri menarik rem tangan mobilnya, mematikan mesin sedan mewahnya, melepas seat belt, dan membukakan pintu untuk Nia. Nia menurut sembari melihat pemandangan sekitar. Itu adalah salah satu restoran siap saji yang ada di SPBU terakhir di jalan tol menuju Merak.
KLEK
"Nia."
Nia terlihat sangat terkejut. Bahkan tanpa sadar, langkahnya mundur tanpa diperintah!
"Makasih udah mau nemuin Mamah. Dan, maaf, Nia. Maafin Mamah. Tolong maafin semua kesalahan Mamah ya."
Nia masih kesulitan berkata-kata, apalagi saat ibu sambungnya, Nila, tiba-tiba menghambur memeluknya. Rasa sakit tak terkira yang kadang-kadang menghajar kepala Nia tanpa ampun perlahan mulai datang, bersamaan dengan kenangan buruk masa kecilnya. Namun entah kenapa kesadaran Nia tak kunjung dirampas. Kenapa? Apa karena Hendri juga membawa Dokter Leo ke reuni keluarga yang hancur ini? Atau karena tangan yang dulu gemar memukul itu kini tengah memberi usapan terlewat lembut?
"Mah, udah cukup. Nanti Nia bisa pingsan kaya di video call waktu itu."
"Iya. Bisa panjang urusannya kalo anak ini sampe pingsan. Kita harus lanjutin perjalanan. Sejam lagi pesawat kita sampe," timpal Monaco pada Monica seraya keluar dari restoran.
"Iya yaudah kalo gitu." Nila buru-buru melepas pelukannya dari Nia seraya mengusap air matanya yang tak henti menetes. "Kamu jaga kesehatan ya. Sekali lagi makasih udah mau ne–"
"Aku gak akan ke sini kalo tau siapa yang bakal aku temuin," sela Nia. "Tapi aku gak nyesel udah mau ikut ke sini."
Spontan Nila kembali menghambur memeluk Nia, begitu pula dengan Monica. Ketiganya pun kompak berpelukan sambil menangis histeris.
BRAK
__ADS_1
"Kalian pada cari mati ternyata."