
Terlihat Bastian duduk di salah satu kursi taman yang paling teduh, sambil mengipasi dirinya dengan topi. Bastian tampak sangat lelah. Wajar saja. Sudah dua jam Bastian mengelilingi tempat wisata berkonsep istana negeri dongeng itu, demi mencari keberadaan Zaim yang menurut Nisma, sekretaris Zaim, sedang berscosplay menjadi petugas kebersihan. Namun nihil. Tidak ada petugas kebersihan dengan tinggi di atas 180 senti yang mengenakan buff dan penutup kepala ala petani.
"Di mana sih sebenernya tuh manusia?" Bastian merogoh ponselnya, berniat kembali membuat panggilan telepon.
"Beres?"
Spontan Bastian beranjak, dan relfeks menodongkan pistol ke asal suara penggugah berahi itu.
Zaim menurunkan pistol Bastian dengan gagang sapu lidi. "Kayanya lu cocok main film horor. Mau gua danain?" imbuh Zaim seraya menjatuhkan tubuhnya ke kursi.
Bastian menghela napas. "Sialan."
"Mata lu minus apa buta?"
Bastian hanya menoleh kesal pada Zaim.
"Lu yang nyari gua tapi kok bisa gua yang ngikutin lu?" Zaim ikut menoleh.
"Sabar-sabar," batin Bastian. "Yang lu minta beresin udah beres."
"Terus soal Ushi Widhiani?"
"Stuck. Kayanya gua harus ke Malaysia kalo rencana gua gak berhasil juga," jawab Bastian.
"Rencana apa?"
"Gua yakin ada petunjuk masa lalu Ushi di kamarnya. Rencananya gua mau ngegledah kamarnya minggu ini. Pasti ada petunjuk, sekalipun itu di kamar Ushi yang di Malaysia. Soalnya Ushi ini bucin sama yang dulu ngehamilin dia. Yakin gua."
Zaim hanya mengangguk-angguk menanggapi Bastian.
"Cewek kalo gak bucin mana mau diajak ini itu," tambah Bastian.
"Gua bucin tapi gak mau tuh disuruh Kaoru nunjukin roti sobek."
"Hah? Maksudnya?"
Zaim beranjak. "Kalo rencana lu gak berhasil, langsung ke Malaysia aja. Bilang aja sama Nisma apa-apa yang lu butuhin selama di sana."
Bastian tak menjawab, hanya memandang Zaim yang kini kembali menyapu dedauan kering. Demi apapun, selama mengelilingi tempat wisata yang berdiri di atas lahan seluas tiga hektar itu Bastian tidak melihat sosok pria berpakaian serupa petani hama. Semua petugas kebersihan di tempat wisata yang tiket masuknya dibanderol Rp80.000 itu rata-rata mengenakan atribut ala kadarnya, dan tidak menyapu sebersih seperti Zaim, dan tidak pula menjumput sampah dengan tangan telanjang.
__ADS_1
"Sekarang gua yakin lu serius sama itu bocil."
"Emang apa faedahnya pacaran becanda?"
"Hah? Pacaran? Siapa?"
Zaim enggan merespon, hanya berjongkok mengamati sesuatu di balik rumput yang sulit disapu.
"Jangan bilang lu macarin itu bocil?"
"Bentar lagi dia delapan belas taun," balas Zaim akhirnya.
"Ya tetep aja masih belasan, Za. Nih, denger, berdasarkan aturan undang-undang nomor 16 Tahun 2019 atas perubahan atas undang-undang nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan di Indonesia, syarat nikah KUA adalah minimal usia 19 tahun."
"Iya gua tau, tapi masa lu gak tau?"
"Maksudnya?" Bastian mulai naik darah.
"Gua kan bisa beli undang-undang."
Darah Bastian sudah sampai di ubun-ubun dan siap ditumpahkan kapan saja. Namun apa mau dikata, jawaban lawan bicaranya sulit untuk ditangkis bahkan meski hanya dalam hati.
Bastian mengatur napasnya dengan sangat amat susah payah. "Terus, Kasih?"
"Emang apa urusan gua sama Kasih?"
"Kasih kan lagi hamil, Za."
"Hamil anak siapa?"
"Ya sekali pun bukan hamil anak lu tapi kan lu masih terikat tanggung jawab sampe Kasih ngelahirin."
"Lu yakin tanggung jawab gua cuma sampe situ aja?"
Bastian diam, memikirkan jawaban atas tanya yang sama.
"Jawabannya iya kalo dia masih idup. Tapi kan dia udah mati, dan cuma Kasih yang nganggep sebaliknya." Zaim berlalu. "Makanya idup semua orang jadi ruwet."
...•▪•▪•▪•▪•...
__ADS_1
Suara gaduh seseorang yang menuruni tangga rumah sementara Nia itu membuat Nia, Ikbal serta Ushi yang tengah sibuk menyiapkan sarapannya masing-masing, kompak menoleh ke arah tangga. Ketiganya terlihat tak sabar menanti kemunculan si pembuat suara gaduh alias Vina. Dan akhirnya Vina pun muncul, dengan ekspresi wajah terlampau semringah, seperti orang yang baru saja mendapat kiriman uang nyasar.
"Big news. Big news." Vina menarik salah satu kursi makan dan membaca sesuatu di ponselnya. "Kinan and the geng, mbak kantin, guru sejarah XII IPS 1, guru BK kita, sama Pak Abdul, resmi keluar dari Lentera Dunia."
"Demi?"
Vina hanya mengangguk bersemangat menanggapi Nia.
"Maksudnya keluar tuh dikeluarin dari pihak sekolah apa gimana, Vin?"
"Mengundurkan diri, Tan. Katanya mereka dateng barengan gitu ke sekolah buat ngundurin diri. Tapi ada yang bilang sebagian dari mereka emang dikeluarin sih sama Kepsek."
"Pak Abdul yang cleaning service musola bukan? Emang lu dibully juga sama dia?" Ikbal menoleh pada Nia.
"Ji–"
"Yaiyalah masa enggak." Vina memotong ucapan Nia. "Waktu itu kan si Nia lagi sholat, eh Pak Abdul tiba-tiba matiin lampu sama ac musola. Gue tanyalah tuh kenapa dimatiin padahal ada orang sholat, dia jawab gak keliatan ada orang. Kan peres."
"Kalo guru-guru itu gimana ngebullynya, Vin?" tanya Ushi lagi, sembari mematikan kompor.
Vina tak menjawab, hanya menoleh pada Nia, menujukan tatapan yang sama penasarannya dengan Ushi.
"Kalo guru sejarah kelas dua belas gak pernah deh, Tan. Tapi kalo guru BK yang baru iya. Aku liat guru BK itu yang ngasih tikus mainan ke Kinan."
Ushi menggeleng-geleng, sembari meletakkan sepiring oncom goreng di meja. "Pokoknya kalian harus pindah sekolah. Hari ini abis ngurus surat pindah kalian, kita langsung cari sekolah baru."
"Emang harus banget pindah ya, Bu? Kan yang ngebully si Nia udah dikeluarin semua."
"Emang kamu pikir pembullynya cuma mereka doang?" Ushi balik melempar tanya pada Ikbal.
"Tapi aku gak mau pindah sekolah, Tan."
"Aku juga gak mau, Bu. Si Esa sama Falah bisa nelor di kelas X selamanya kalo aku sampe pindah sekolah," timpal Ikbal pada Nia.
Tak ada jawaban, Ushi hanya melihat bergantian pada Ikbal dan Nia yang duduk di seberangnya. Ushi sadar dirinya sudah bertindak terlalu jauh, pun sudah mengambil keputusan secara sepihak. Karena jujur saja Ushi masih sangat khawatir, bahkan sampai detik ini. Pembullyan tidak ada bedanya dengan meracuni seseorang sedikit demi sedikit, jadi orangtua mana yang akan bergeming saat mengetahui anaknya diracuni?
Ketika tahu Nia menjadi korban pembullyan di sekolah, hanya satu yang ingin Ushi lakukan sesegera mungkin. Benar, memeluk Nia, dan kemudian membawanya ke tempat yang paling aman. Ushi tahu Nia dan Ikbal bukan anak-anak bermental tempe yang hanya akan menangis meratapi nasib di sudut ruangan yang gelap. Meski begitu keputusan Ushi tetap bulat, tetap sepihak, dan tetap tidak bisa diganggu gugat.
"Cepet abisin sarapannya. Terus siap-siap. Kita ke sekolah buat urus surat pindah kalian sekalian anter Vina." Ushi meninggalkan ruang makan. "Titik."
__ADS_1