HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
BONUS ZAIM


__ADS_3

Mobil mewah itu masih bergeming, seolah tak acuh meski lampu lalu lintas sudah berganti berulang kali. Meski begitu tak ada seorang pengendara pun yang bernyali meluapkan kejengkelannya selain sebatas umpatan dalam hati. Bahkan polisi yang berjaga di pos, hanya beranjak sesaat dan kembali duduk menyantap burjonya. Pemilik mobil seharga triliunan itu bukan orang yang tepat untuk dijadikan lawan cekcok, jadi pilihan teraman benar-benar hanya menutup mata.


"Orang kaya emang suka seenak jidat." Seorang pengendara motor menggeleng dan segera tancap gas tak lama setelah lampu lalu lintas berubah warna.


"Emang itu siapa?" tanya wanita yang dibonceng si pengendara motor.


"Emang siapa lagi yang bisa bikin polisi mendadak katarak selain Zaim Alfarezi?"


"Oh, yang ganteng itu."


"Percuma ganteng! Kalo attitude kita jelek, kita jelek!"


"Tapi zaman sekarang kan yang penting ganteng dulu. Coba kamu yang brenti di tengah-tengah lampu merah kaya Zaim Alfarezi, pasti langsung dihakimin massa."


Si pengendara motor terdiam, merasa kalah telak ditangkis kekejaman fakta. Ya, kejam memang, menyadari uang dan rupa memiliki kuasa atas segalanya. Tapi itulah yang terjadi. Jadi bisa apa mereka yang tak punya uang pun rupa selain mengikuti arus? Berbeda dengan Zaim Alfarezi yang memiliki keduanya. Jangankan berhenti di lampu lalu lintas selama berjam-jam, mendirikan tenda di tengah rapat dewan sekali pun tidak akan bisa membuat seorang Zaim Alfarezi disentuh hukum.


"Oh, ternyata dia mau wikwik." Si pengendara motor terbahak seraya membenahi kaca spionnya.


"Kok tau?"


"Taulah. Tuh, buktinya dia masuk ke karaoke ples-ples."


Spontan wanita yang dibonceng si pengendara motor menoleh ke belakang, dan mendapati kebenaran ucapan sang gebetan. Benar, mobil mewah Zaim memang berbelok memasuki sebuah tempat karaoke, lebih tepatnya karaoke ples-ples. Zaim menyambangi tempat itu sebulan sekali untuk meluapkan penatnya melalui lagu-lagu rock. Tetapi sampai detik ini, meski sudah menjadi pelanggan tetap sejak tempat karaoke itu berdiri, Zaim belum pernah membayar untuk layanan ples-ples.


"Seperti biasa, Pak Zaim?"


"Gak. Hari ini saya mau yang lain," balas Zaim pada manajer tempat karaoke. "Ada yang jarang dipake?"


"Sebentar, Pak." Manajer pria itu buru-buru memeriksa buku absen karyawan, tepatnya karyawan ples-ples. "Delapan belas taun aman, Pak?"


"Kok tanya saya? Tanya dia dong. Aman gak dia sama yang dua puluh tujuh taun?" Zaim mengeluarkan satu dari sekian black card dari dompetnya.


"Aman, Pak." Si manajer menerima kartu holkay itu, memberikannya pada kasir, dan berjalan setengah berlari menghampiri Zaim untuk mengantarnya ke room paling mahal yang ada di sana. "Silahkan, Pak Zaim."


KLEK


Room bernomor nol itu terbuka, dan seketika wewangian kayu manis menyeruak menyambut kedatangan Zaim. Terlihat gadis ples-ples berusia delapan belas tahun yang dipesan Zaim tengah berbaring di ranjang bertabur kelopak bunga mawar merah, dengan posisi yang sama persis dengan posisi tidur Nia yang tak sengaja dilihatnya beberapa jam lalu. Bahkan tidak hanya posisi, tubuh tanpa setitik noda itu pun sangat mirip dengan Nia. Tetapi tentu saja itu bukan Nia.


Meski gadis ples-ples itu mengenakan topeng, Zaim tahu betul sorot matanya bukanlah milik Nia. Gadis itu menyudahi pose tak senonohnya, lalu beranjak mendekati Zaim. Jari-jemari lentiknya yang dihias kuteks merah itu begitu lihai menanggalkan satu per satu pakaian Zaim. Tubuh kekar dengan tato bermotif topeng oni itu pun kini sudah terlihat sepenuhnya. Si gadis ples-ples tampak tak sabar, pun Zaim meski tak diperlihatkannya secara terang-terangan.


"Jangan ditahan dong. Biar aku ada temennya. Hm?" Jari-jemari si gadis ples-ples akhirnya berhasil membuka ritsleting celana Zaim. "Mau sampe jam berapa?"

__ADS_1


"Kuat sampe jam berapa?"


Si gadis ples-ples tertawa kecil. "Gimana kalo kita taruhan?"


Zaim tak segera menjawab, sebab jari-jemari si gadis ples-ples yang sudah berhasil memprovokasi miliknya. "Taruhan apa?"


Si gadis ples-ples kembali tertawa kecil. "Kalo aku bisa bikin kamu gak bisa bangun dari kasur, mobil kamu buat aku."


"Kalo sebaliknya?" tanya Zaim akhirnya, dengan napas yang mulai terdengar putus-putus.


"Pake aku kapan pun, dimana pun, dan tanpa satu rupiah pun."


"Deal."


SREK


Zaim membuka matanya, sesaat setelah mendengar suara tirai kamarnya yang disibak kasar, pun sesaat setelah merasakan ada sesuatu yang membasahi pakaian tidurnya. Ternyata mimpi. Mimpi yang diprakarsai aksi penyusupan di kediaman Ushi pagi tadi. Gila. Itu benar-benar mimpi paling gila yang didapatkan Zaim sejak resmi menyandang status pria baligh. Dan sesuatu yang membasahi pakaian dalam Zaim, bukankah sudah jelas itu air? Benar, air. Air yang itu. Air dari pikirannya yang terlewat keruh.


"Udah jam tujuh." Kasih mengikat tirai jendela. "Kata Emily jadwal kamu hari ini padet. Aku udah siapin sarapan. Baju kamu juga. Pak Ucil juga udah nunggu di depan."


Zaim tak merespon, malah kembali menarik selimut setelah berbalik memunggungi Kasih.


"Kamu berubah, Za." Kasih mulai terisak.


"Apa karna dia? Selingkuhan kamu? Maeve? Bener kan namanya Maeve?" tanya Kasih.


"Eve. Ma itu bahasa slang dari my. Jadi Maeve artinya mi--"


"Keterlaluan! Bisa-bisanya kamu terang-terangan ngaku kalo kamu selingkuh! Aku lagi hamil anak kamu, Za!"


"Keluar. Brisik."


Tangis Kasih pecah, pun perabotan mewah yang ada di sekitarnya. Demi memuaskan sakit hatinya pada sang suami yang baru saja mengakui perselingkuhannya dengan wanita bernama Eve, Kasih melemparkan apa saja yang bisa dijangkaunya ke ranjang Zaim. Meski begitu Zaim bergeming, bahkan hampir kembali terlelap andai saja isak tangis Kasih tidak tiba-tiba terhenti. Kasih jatuh pingsan, beruntungnya para pelayan yang sedari tadi menguping sigap menangkap Kasih.


"Tuan? Non Kasih gak napas, Tuan." Seorang pelayan pria spontan memekik.


...•▪•▪•▪•▪•...


"Tapi si Pithecanthropus Erectus itu masih batu aja biarpun udah lu kasih liat videonya tidur di dalem mesin cuci, di pinggiran kolam ikan, dan di tengah-tengah ruang tamu?"


Nia mengangguk menanggapi Vina. "Mungkin kalo dikasih tau Dokter dia baru percaya kali kalo dia punya sleepwalking*."

__ADS_1


*Sleepwalking atau somnabulisme merupakan salah satu kondisi gangguan tidur di mana seseorang bangun dan berjalan saat sedang tidur.


"Tapi kayanya ini yang paling parah deh, Nya. Biasanya kan dia bangun biasa aja tuh. Ini lu bilang dia bangun-bangun pucet, palanya benjol dan idungnya mimisan kan? Apa ada yang jorokin dia? Soalnya gak mungkin dia kepleset."


"Iya juga ya. Kalo dia kepleset mah udah dari dulu-dulu dia ke rumah sakit. Masa iya ada maling? Gak mungkinlah."


"Di zaman serba susah kaya sekarang gak ada yang gak mungkin, Nya. Plis deh." Vina mengekori Nia yang duduk di salah satu kursi kantin rumah sakit.


"Tapi masa malingnya Zaim Alfarezi sama Pak Bastian?"


"Ya kalo itu mah gak mungkin anjir." Vina terbahak. "Yang ngomong gitu si Ikbal?"


"Iya." Nia diam sesaat. "Jadi dia bilang tadi pagi dia kebangun aus. Terus pas dia keluar kamar, katanya barengan sama Zaim Alfarezi yang keluar dari kamar gue dan Pak Bastian yang keluar dari kamar Tante. Teriaklah tuh si Ikbal kan, tapi katanya cuma sempet teriak sekali karna Pak Bastian keburu nimpuk dia pake senter dan Zaim Alfarezi keburu ngedorong dia ke lantai satu da–"


Vina kembali terbahak, menjeda cerita Nia yang belum selesai mencapai *******. "Udah gak good looking, suka tidur sambil jalan, halunya kenceng pula. Heran gue kok masih ada aja cewek yang mau sama dia."


"Tapi, Vin, dia serius loh ngomongnya."


"Emang gitu, Nya. Orang kalo pinter gombal pasti pinter ekting juga. Kaya udah sepaket getoloh. Udah ah jangan dipikirin. Apa-apa yang nyangkut dia mah gak penting anjir. Makan aja yuk." Vina menggeser buku menu pada Nia. "Btw nomer lu bapuk apa gimana sih? Kok pas ditelfon tiba-tiba gak kedaftar? Bikin gue sama Tante panik aja."


"Tau. Padahal aktif. Hari ini kayanya banyak yang aneh de–, eh, itu bukannya Zaim Alfarezi?" Nia tiba-tiba menunjuk seberang Vina.


Spontan Vina menoleh. "Eh iya bener. Tapi ngapain dia di situ? Itu bukannya ruangan dokter kandungan?"


Tatapan kepo Vina dan Nia seketika menggerakkan langkahnya ke sana. Benar, ke ruangan dokter kandungan. Meski tahu tidak akan bisa menguping pembicaraan Zaim Alfarezi dan sang dokter, kepo tetaplah kepo. Vina dan Nia berpura-pura lewat di depan ruangan dokter kandungan, dan seketika kompak bersorak gembira saat mendapati ketepatan penglihatannya. Itu benar-benar Zaim Alfarezi, pria paling tampan dan tajir melintir seindonesia raya.


"Sekarang gue yakin yang ngirimin gue sms anceman itu istrinya Zaim Alfarezi."


"What? Siapa yang diancem siapa?" tanya Vina dengan nada suara setengah berteriak.


"Ceritanya panjang. Pokoknya banyak banget yang belom gue ceritain ke lu deh."


"Oke kalo gitu ceritain semuanya ke gue hari ini," balas Vina.


"Yaudah yuk. Jangan sampe ketauan Zaim Alfarezi. Apalagi istrinya. Bisa gawat."


"Tunggu-tunggu. Istrinya siapa? Zaim Alfarezi? Dia mah masih single. Kan gue udah pernah bilang. Yang udah nikah mah kakaknya, Zain Elfatih."


"Zain Elfatih?"


Vina mengangguk. "Tapi udah meninggal. Kecelakaan pesawat dua taun yang lalu."

__ADS_1



...ZAIM ALFAREZI A.K.A DUPLIKAT L.K...


__ADS_2