HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
KONDANGAN ++


__ADS_3

" … Namanya Mei. Usianya sekitar empat puluhan. Warga negara asli Taiwan … Seratus persen orangnya Monaco, Pak."


Zaim hanya mengangguk-angguk menanggapi robot barunya, Sobari.


"Jadi mau diapain, Pak Zaim?" Suara Sobari terdengar antusias melalui panggilan telepon.


"Biarin aja. Dia bakal dapet hukuman dari Monaco jadi gak usah ditambahin," jawab Zaim akhirnya. "Saya udah cukup dengan info kalo ternyata Monaco gak milih duduk anteng. Perketat penjagaan aja."


"Baik, Pak Zaim. Ada perintah lain?"


"Ada." Zaim membenahi sandarannya, sambil kembali memandangi kamar tidur Nia yang ada di lantai dua. "Mulai hari ini, mau itu wni atau wna, harus ngelewatin pemeriksaan* sebelom masuk Indonesia."


*Permeriksaan empat tahap buatan Zaim, Sobari dan Menteri Pertahanan yang diperuntukkan bagi warga negara asing yang hendak mengunjungi Indonesia. Tahap pertama merupakan pemeriksaan identitas oleh pihak Bandara Soetta. Tahap kedua wawancara langsung dengan Sobari, orang nomor satu di kepolisian RI. Tahap ketiga pemeriksaan ulang identitas, dan tahap terakhir wawancara langsung dengan Zaim Alfarezi.


"Baik, Pak Zaim."


"Makasih, Pak Sobari. Selamat bertugas."


Zaim menghela napas kasar, sembari mengantongi ponselnya. Setelah cukup lama merenung, Zaim pun beranjak, dan kembali masuk ke kediaman Nia. Nia muncul bersamaan dengan Zaim yang baru saja tiba di ruang tamu. Bak adegan dalam sinetron cinta-cintaan yang membuat para ibu berdaster kelojotan, Zaim tampak tak berkedip melihat Nia yang begitu memesona dengan balutan gaun berwarna merah jambu.


Sama halnya dengan Zaim. Nia pun tampak terpesona melihat Zaim dengan tuksedo birunya. Entah kenapa Nia merasa sangat serasi dengan Zaim. Mungkin karena beberapa tahun terakhir berat badan Nia bertambah, pun tinggi badannya, dan ukuran pakaiannya. Kini Nia lebih percaya diri untuk berdiri di samping Zaim. Jantung Nia mulai membuat suara berisik, ketika Zaim berjalan semakin mendekat.


"Will you be my queen tonight*?"


*Maukah anda menjadi ratu saya malam ini.


"If i could refuse. Unfortunately no*." Nia tersenyum seraya menerima uluran tangan Zaim.


*Andai aku bisa menolak. Sayangnya tidak bisa.


"Omg-omg so sweetnya sampe tumpah-tumpah gitu sih." Vina berjingkrak kegirangan. "Untung gue rekam. Ntar gue sebarin ah ke grup penggemar Zaim biar pada patah hati jamaah." Vina cekikikan.


"Gaje lu. Benerin dulu tuh lipstik lu yang kemerahan kaya kuyang* abis minum fanta."


*Kuyang, Krasue, atau Palasik adalah siluman berwujud kepala manusia dengan isi tubuh yang menempel tanpa kulit dan anggota badan yang dapat terbang untuk mencari darah bayi atau darah wanita setelah melahirkan.


Vina mengejar Ikbal. "What? Apa lu bilang? Siapa yang kuyang …"


Zaim dan Nia hanya tertawa melihat Vina serta Ikbal yang hampir setiap detik terlibat percekcokan sengit. Berbeda dengan Ushi yang malah menunjukkan ekspresi tak tenang.


"Kayanya si Ikbal makin akrab sama Vina. Duh, gawat kalo sampe pada suka. Bisa-bisa si Ikbal berontak pas hari h," batin Ushi.

__ADS_1


" … Ibu!"


Spontan Ushi menoleh ke asal suara.


"Ngelamunin apa sih, Bu? Katanya mau buru-buru balik ke studio abis dandanin aku sama Vina," imbuh Nia. "Ayok bareng."


"Oh, iya-iya ayok."


...•▪•▪•▪•▪•...


Menakjubkan. Ya, itu adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan suasana pesta pernikahan Denar dan Marina. Gedung dua puluh lantai yang dibangun di jantung kota itu benar-benar seperti sudah ditakdirkan berdiri di sana, pun tamu undangan yang mengenakan dress code black tie* itu, seperti sudah ditakdirkan memilih warna yang sama. Tamu undangan wanita dengan mayoritas gaun berwarna merah jambu, dan tamu undangan pria dengan mayoritas setelan berwarna biru.


*Salah satu jenis dress code pernikahan yang mengharuskan tamu wanita untuk mengenakan gaun panjang yang tidak memperlihatkan pergelangan kaki di ujung gaun. Sementara tamu pria diharuskan untuk memakai tuksedo dengan dasi kupu-kupu hitam, rompi hitam, ikat pinggang, dan sepatu kulit.


"Suka?" tanya Zaim. "Mau kaya gini juga nanti kalo kita nikah?"


Spontan Nia menyudahi ketakjubannya, dan menoleh pada Zaim. "Diem."


"Mana bisa. Dari tadi aku udah nahan-nahan mau bawa kamu ke situ loh." Zaim menunjuk janitor room*.


*Ruang petugas kebersihan.


"Makasih udah dateng ya, Dek," ujar Denar pada Nia.


Nia tak menjawab, bahkan sekadar mengangguk sebagai ganti jawaban iya pun tidak. Nia hanya menatap Denar dingin.


"Ini pilihan Kakak, Dek. Dan Kakak bahagia sama pilihan ini," imbuh Denar seraya tersenyum. "Ini hidup yang Kakak impiin. Jadi Kakak harap kamu mau ngasih restu."


Nia masih membisu, pun masih menatap Denar dengan tatapan dingin.


Vina berdeham, "Btw Pak Denar kok cuma ngundang Nia sih? Saya ini sahabat sehati sesanubarinya Nia loh."


Denar tertawa. "Maaf sebelumnya ya, Vina. Saya emang gak ada rencana untuk ngundang murid-murid Andalan Teladan. Kalo Nia kan gak saya anggep murid."


"Oh, jadi maksudnya Bapak gak ngarepin kehadiran saya gitu ya?"


"Lu kenapa sih anjir mendadak jadi baper gitu?" Ikbal menoyor Vina. "Jangan dipikirin omongan dia mah gak penting sama sekali, Pak." Ikbal menjabat tangan Denar. "Selamat buat pernikahan Pak Denar dan Bu Marina."


"Makasih, Bal." Denar menoleh ke sana ke mari. "Ngomong-ngomong saya gak liat Pak Zaim."


"Tadi sih bilangnya mau nyapa kenalan, Pak."

__ADS_1


Denar hanya mengangguk-angguk menanggapi Vina.


"Btw saya tetep mau ngucapin selamat ke Pak Denar walopun Bapak gak ngarepin kedatengan saya," tambah Vina sembari mengulurkan tangannya pada Denar.


Denar tertawa lagi. "Makasih, Elvina." Denar menoleh pada Nia. "Kamu gak mau ngucapin selamat ju-"


Ucapan Denar terjeda, karena Nia yang tiba-tiba balik kanan. Vina yang refleks hendak mengejar Nia yang berjalan entah ke mana itu dihalangi oleh Ikbal, pun Denar. Wajar Nia bersikap seperti itu. Sebab mau dipikir berapa kali pun pengorbanan yang dilakukan Denar untuk Nia memang terlalu besar. Jujur saja Denar sudah cukup dengan Nia yang mau mengenakan gaun pertamanya di hari pernikahannya. Dan perihal restu, tak masalah meski Nia baru memberikannya sepuluh tahun lagi.


"Padahal di foto aja keliatan gak bahagia. Bisa-bisanya bilang bahagia," gerutu Nia. "Si Zaim ke mana sih? Fix pasti kenalannya cewek ka-, eh? Itu bukannya cewek yang gue liat di stasiun ya?"


Nia melangkah semakin dekat menghampiri wanita yang mematung tepat di samping stand sate padang itu. Tidak salah lagi. Wanita berkerudung merah jambu itu memang wanita yang dilihat Nia di stasiun. Terlihat Nia langsung mengangkat gaunnya, ketika wanita misterius itu tiba-tiba meninggalkan aula pesta sambil menangis. Meski kesulitan bermain kejar-kejaran dengan sepatu berhak tinggi, Nia berhasil mengejar si wanita misterius. Namun niat Nia untuk menegur si wanita misterius terpaksa terhenti.


"Mau ke mana?"


Nia menunjuk si wanita misterius. "Itu-itu. Itu cewek yang aku liat di stasiun."


"Terus? Mau ngapain?" tanya Zaim lagi.


"Mau ngapain lagi? Mau aku kejarlah."


"Untungnya apa? Denar kan udah bahagia, Sayang. Terlepas dari itu jujur atau sebaliknya, yang paling penting Denar bilang bahagia gak pake mulut orang."


Nia tak memberi respon, hanya bergantian menatap Zaim dan punggung si wanita misterius yang semakin mengecil.


"Jadi gak ada untungnya kamu ngejar cewek itu, Sayang," tambah Zaim seraya mengeratkan kedua tangannya pada Nia.


"Terus kalo cewek itu punya niat jahat?"


"Ya biar diatasin Denar. Kamu gak perlu ikut campur walopun kamu ngerasa punya utang budi sama Denar." Zaim mengecup punggung tangan Nia bergantian. "Jadi, Sayang, bisa kita fokus nikmatin pesta aja? Atau, mau fokus nikmatin yang lain?"


"Nikmatin yang lain apaan?"


Zaim menunjuk balkon. "Itu, nikmatin view di sana. Aku abis ngobrolin bisnis sama kenalan aku di sana. Viewnya bagus banget."


"Oh. Kirain nikmatin apaan."


"Emang kamu ngarepinnya nikmatin apaan? Nikmatin aku? Ya ayok kalo mau nikmatin aku. Mau di mana? Di hotel? Di mobil? Apa di sini?"


"Dih parah mulutnya makin cabul."


Zaim terbahak sambil mengejar Nia yang kembali ke aula pesta. "Aku serius loh, Sayang. Aku kosongin ini gedung sekarang juga kalo kamu emang mau ..."

__ADS_1


__ADS_2