
Terlihat Nia berjalan setengah berlari mengekori Zaim yang begitu gesit menghindari tempat-tempat yang dipasangi cctv. Dua sejoli itu kompak tertawa meski tampaknya sangat tergesa. Dan meski sedari tadi hanya mengitari ruang pesta, mereka akhirnya menghentikan langkahnya tepat di depan pintu janitor room*. Mereka pun masuk, dan tak berselang lama langsung terdengar suara yang akan membuat jiwa kesepian kaum jomblo minta tolong!
*Ruang petugas kebersihan.
"Naik," bisik Zaim.
"Nanti dress aku kotor."
"Yaudah copot dulu baru naik."
Nia tertawa. "Kamu tuh ya. Gampang kepancing tapi hobinya mancing-mancing."
Zaim ikut tertawa, sembari mengangkat tubuh Nia dan mendudukkannya di atas meja. "Kayanya aku gak bisa kalo harus nunggu dua taun lagi."
"Harus bisa dong. Kan tinggal sebentar lagi."
"Buat kamu sih sebentar. Tapi buat orang cabul kaya aku mah rasanya kaya seabad."
Nia tertawa lagi. "Ya terus gimana? Aku kan harus lulus SMA dulu."
"Ya mau gimana juga kalo aku beneran gak bisa? Mau gak mau aku beneran harus ngacak-ngacak urutan nikah."
"Hah? Ngacak-ngacak urutan nikah ma–"
Ucapan Nia menggantung, menggantung untuk selamanya. Karena mustahil Nia lebih memilih untuk melanjutkan ucapannya daripada fokus pada ciuman Zaim yang membuat tubuhnya panas dingin. Tapi tunggu, ciuman apa ini? Kenapa terasa berbeda dari ciuman-ciuman sebelumnya? Kenapa ciuman kali ini terasa lebih kasar, lebih basah dan lebih berisik? Lalu satu lagi yang berbeda. Tangan kekar dan kasar itu sedang menggerayang ke mana?
"Za, tunggu-tunggu."
"Gak mau," jawab Zaim tanpa menghentikan kecupannya di sana-sini.
"Tunggu dih. Kayanya ada yang dateng."
"Emang."
Nia mendorong Zaim meski sia-sia. "Yaudah ayok keluar."
"Gak keburu."
"Hah? Maksudnya?"
"Dia udah nguping dari tadi."
"Hah? Siapa yang kamu ma–"
KLEK
Lagi-lagi ucapan Nia kembali menggantung, karena seorang wanita yang mengenakan seragam petugas kebersihan yang tiba-tiba muncul. Petugas wanita tersebut pun langsung memergoki Zaim yang sebagian tubuhnya tampak dari balik tembok persembunyian. Sintinngnya, Zaim muncul dengan wajah pun kata-kata yang tidak tahu malu! Sambil merapaikan setelannya yang berantakan, Zaim memperkenalkan diri serta alasannya memasuki janitor room.
" … Dan saya lagi french kiss*."
__ADS_1
*Merupakan ciuman bibir romantis dengan menitikberatkan pada keterampilan lidah. Sensasi ketika lidah saling bersentuhan diklaim dapat meningkatkan hormon oksitosin dan mengurangi stres.
Si petugas wanita itu hanya melongo. Entah melongo karena terkejut melihat otot seksi Zaim di balik setelannya yang berantakan atau melongo karena tidak tahu-menahu apa itu french kiss!
"French kiss. Ciuman. Ciuman opening. Sebelom unboxing," imbuh Zaim. "Ngerti kan?"
Si petugas wanita itu masih melongo.
"Kalo ini pasti ngerti kan?" Zaim mengeluarkan lima lembar uang seratus ribu dari dalam saku tuksedonya.
"Oh iya, Pak. Ngerti-ngerti," sahut si petugas wanita akhirnya.
"Kalo gitu saya boleh pinjem ruangannya sekitar lima belas menit lagi?"
Si petugas wanita mengangguk cepat, lalu keluar dari janitor room sembari memeluk rezeki nomploknya erat-erat.
KLEK
"Kamu gila ya? Ngapain di sini lima belas menit lagi coba?" Nia melompat dari meja.
"Ngapain lagi?" Zaim kembali mengangkat tubuh Nia dan mendudukkannya di meja. "French kiss ronde dua."
Nia tak menjawab. Meski begitu Zaim tahu jika Nia diam-diam menyetujui pintanya. Keduanya pun melanjutkan aksi panas yang sempat tertunda itu dengan lebih kasar, lebih basah, dan lebih berisik!
CUP
SESAAT LAGI KERETA ANDA AKAN TIBA DI STASIUN …
Nia bergegas membelah kerumunan untuk melakukan transit, mengekori sesama roker*. Seperti biasa di hari senin seperti ini Nia akan berangkat satu setengah jam lebih awal, sengaja untuk menikmati kesesakan Kota Jakarta dan nasi uduk Bu Jum. Sahabat sehati sesanubari Nia, Vina, biasanya akan menunggunya di salah satu meja nasi uduk yang kosong, atau di pintu timur Stasiun terakhir.
*Rombongan kereta.
"Fix si Vina nunggu di warungnya Bu Jum." Nia memeriksa ponselnya. "Soalnya gak ada chat atau telfon dari Vina. Yaudah gue langsung ke sana aja deh."
"Nia?"
Spontan Nia menghentikan langkahnya, dan menoleh ke asal suara.
"Gak nyangka kamu bakal naik kereta. Sendirian aja?"
Nia tak menjawab, hanya memandangi wajah polos mantan pacar Ikbal Navarro yang sama sekali berkebalikan dengan tabiatnya.
"Eh? Nia? Tunggu. Kamu kenapa? Kok kamu gak jawab malah nyelonong gitu aja sih," imbuh Bunga sembari mengadang Nia. "Kakak ada salah ya?"
"Iya."
"Eh? Serius? Salah apa? Kakak bener-bener gak tau kalo kamu cuma diem gini."
Nia menggeleng-geleng. "Ternyata beneran ada ya. Muka malaikat tapi jiwa psikopat. Gila-gila."
__ADS_1
"Apa sih kamu tuh bukannya ngasih ta–"
"Maksud Kakak masuk kamar aku diem-diem dan moto-moto barang aku tanpa izin apa hah?" sela Nia. "Kakak kan bilang sendiri di grup DLL*. Masih gak mau ngaku?"
*Duplikat L.K Lovers.
"Tunggu-tunggu. Demi Allah Kakak gak ngerti ma–"
"Oh kayanya Kakak perlu diteror dulu ya baru ngerti," sela Nia lagi. "Mau diteror lagi?"
"Anjir! Jadi lu yang neror gue selama ini!"
Seruan murka Bunga seketika menghentikan aktivitas para roker yang tak henti memadati stasiun transit. Meski begitu Bunga tak acuh, dan memilih melanjutkan seruannya. Bunga yang salah paham mengira Nia sebagai orang yang menerornya selama ini pun tak lagi ragu melotot, memaki, dan bahkan sesekali mendorong-dorong Nia. Wajar. Gara-gara teror itu hidup Bunga berubah total.
" … Gue sampe harus minum obat tidur! Gak berak dua minggu! Bahkan konsul ke psikolog! Anjir lu ya!"
"Oh, syukur deh. Fair kan jadinya," balas Nia.
"Apa lu bilang? Fair? Sakit lu ya! Lu pi–"
"Loh, bukannya Kakak ya yang sakit ya? Karna orang sehat tuh gak akan buka-buka privacy orang tau gak."
Bunga terbahak. "Serius nilai ulangan lu yang kaya nomer absen, celana dalem lu yang motifnya stroberi, dan foto kecil lu yang kaya gembel itu lu sebut privacy?" Bunga kembali terbahak. "Baper lu anjir!"
Nia kembali menggeleng-geleng. "Emang gak ada faedahnya ngomong sama orang sakit."
"Gue gak sakit ya anjir! Lu tuh yang sakit!" Bunga menarik ransel Nia. "Sadar gak lu tuh siapa? Lu tuh cuma yatim piatu yang numpang di rumah mantan gue yang tajir! Jadi gak usah belagu ya lu!"
Nia menepis tangan Bunga yang mencengkeram ranselnya. "Ya ya ya terserah Kakak mau ngomong apa. Saya bisa maklumin kok. Kakak kan sakit."
"Anjir!"
BRUK
PRIIITTT
PRIIITTT
PRIIITTT
SESAAT LAGI KERETA DENGAN TUJUAN JAKARTA KOTA RANGKAIAN DUA BELAS KERETA …
"Awas! Minta jalan minta jalan," teriak seorang security sambil terus meniup peluitnya.
"Mundur-mundur! Ada yang jatuh ke lintasan rel!" Security lainnya berteriak tak kalah seru.
Para security pun petugas kereta api terlihat berhamburan dari segala penjuru, dan tanpa ragu terjun ke lintasan rel untuk menyelamatkan Nia yang langsung pingsan setelah di dodorong oleh Bunga. Bunga yang ketakutan berniat untuk kabur, namun dengan sigap dibekuk oleh para roker. Evakuasi Nia berlangsung dagdigdug karena suara kedatangan kereta yang semakin jelas terdengar dari kejauhan.
TUUUTTT TUUUTTT
__ADS_1