
"Jadi bener nama aslinya Vina," gumam pria itu sembari mengangguk-angguk.
"Iya, Om. Om kenal sama Vina?"
Pria tanpa rambut itu menggeleng cepat menanggapi teman sekelas sekaligus musuh bebuyutan Vina, Bayu.
"Kirain Om kenal. Jadi Om siapanya Vina?" tanya Bayu lagi.
Pria itu, ya, Pria Purnama, berdeham, "Nih buat kamu jajan."
Seketika kedua mata Bayu berbinar-binar melihat dua lembar uang pecahan seratus ribu yang dimasukkan paksa ke dalam baju seragamnya. "Makasih ya, Om."
"Tapi jangan bilang siapa-siapa ya kalo kamu ketemu saya."
"Aman, Om, aman," balas Bayu.
"Yaudah sana sekolah."
Bayu hanya mengangguk menanggapi Pria Purnama, dan bergegas mengantri dengan teman-temannya yang kini tengah diperiksa atributnya oleh Kepala Sekolah dan guru olahraga. Entah mimpi apa Bayu semalam sampai mendapat uang dua ratus ribu secara dadakan. Saat itu Bayu sedang dalam perjalanan menuju sekolah, namun ada sebuah mobil yang mengklaksoninya berulang kali. Awalnya Bayu menepi, berpikir mungkin dirinya tanpa sadar telah melewati batas pejalan kali. Tetapi ternyata itu bukan klakson peringatan.
Seorang pria misterius tiba-tiba meminta Bayu untuk mendekat. Tentu saja Bayu menolak, takut jika dirinya akan menjadi sasaran penculikan. Namun pria bersetelan kemeja dan celana bahan itu tiba-tiba turun dari mobilnya. Pria yang mengaku bernama Heri itu mengatakan sedang mencari seorang gadis bernama Yesenia Eve alias Nia. Tentu saja semua orang mengenal Nia, apalagi setelah fotonya yang tengah bermalam minggu dengan Zaim Alfarezi tidak lagi diblur oleh warganet. Makin-makin terkenallah Nia si primadona Lentera Dunia.
*FLASHBACK ON*
" … Namanya Nia, Om, bukan Vina. Kalo Vina mah temennya."
"Tapi Elvina Priska bukan nama lengkapnya Vina?" tanya Heri pada Bayu.
"Iya."
"Oh, jadi gitu. Ternyata mereka ngerjain saya."
"Hah? Maksudnya, Om?"
Heri menggeleng. "Oh, gak-gak. Kamu deket sama Vina?"
"Enggak. Tapi dia temen sekelas saya."
"Kebeneran banget. Terus Vinanya udah berangkat belom?"
"Dia mah nanti jam tujuh baru berangkat, Om. Biasanya dia ke rumah Nia dulu."
__ADS_1
"Gitu ya." Heri berdeham, "Kamu ada fotonya Vina?"
"Gak adalah, Om. Tapi di instagr*mnya banyak."
"Oya? Apa nama instagr*mnya?"
*FLASHBACK OFF*
"Pasti waktu itu Vina sengaja nyuruh Nia ngecek gua kaya gimana makanya dia gak nongol. Dia udah feeling kalo gua jelek ternyata." Heri terbahak. "Gila gua dikerjain bocil."
Heri masih terbahak, terbahak kesal. Ya, siapa pun itu pasti akan kesal jika berada di posisi yang sama dengan Heri. Jujur saja Heri sudah melupakan insiden kejar-kejaran yang terjadi di mall beberpa bulan silam. Tetapi foto Nia yang tersebar di semua media sosial dan terutama televisi membuat ingatan menjengkelkan hari itu perlahan naik ke permukaan. Heri berpikir dirinya tidak hanya dikhianati oleh Vina tetapi juga dipermainkan habis-habisan.
"Cantik juga." Heri memandangi salah satu foto Vina di instagr*m. "Yang cantik-cantik gini enaknya diapain ya?"
Pria berkepala empat yang memiliki usaha makanan beku itu tak henti terbahak. Sungguh, Heri sangat kesal, dan dirinya sudah tak sabar memberi Vina pun Nia pelajaran. Tetapi khusus Nia, tampaknya Heri harus ikhlas. Meski hanya sekali, Heri pernah bercakap langsung dengan Zaim Alfarezi. Heri ingat betul saat itu H-2 sebelum malam tahun baru, dan Zaim sedang berbelanja di tokonya bersama sang kakak. Kesan pertama Heri tentang Zaim hanya satu, pria itu tak boleh diusik!
"Sayang banget. Harusnya gua bisa maen sama dua cewek cantik. Pasti masih pada perawan semua. Tapi gak apa-apa deh, daripada gak dapet." Heri menyeringai sembari menyalakan mesin mobilnya. "Tunggu Om ya, Vina."
...•▪•▪•▪•▪•...
" … Dia tuh care banget sama gue. Selalu ngasih kabar. Terus sering natap gue gitu. Sama, mmm, kayanya dia suka kontak fisik."
"Jangan artiin semua kontak fisik tuh kecabulan ya tolong," sahut Vina pada Nia. "Cowok kalo gak beneran suka sama kita malah ogah kontak fisik. Kalo lu sendiri gimana? Suka beneran gak sama Zaim?"
Spontan Vina berbalik dari posisi malasnya. "Gak usah sok jual mahal deh, Bun."
"Bukan jual mahal. Gue emang suka deg-degan sih tiap deket dia. Tapi itu karna omongan ples perlakuan dia yang emang bikin deg-degan. Kaya pas dia natap gue sambil bilang, 'mulai hari ini kita pacaran pake gaya 27 taun', gitu. Siapa yang gak deg-degan coba? Semua orang pasti deg-degan kalo digituin kan?"
Vina hanya mengangguk-angguk menanggapi Nia, tanpa menghentikan tangannya mencocol kentang goreng ke dalam mayones.
"Dan gue masih gak ngerti kenapa dia suka sama gue. Masa suka karna gue cakep doang? Kalo kaya gitu mah misal ada yang lebih cakep dia bakal berpaling. Iya kan? Gue rasa dia cuma gabut deh," imbuh Nia.
"Gue baca quotes pagi ini yang relate banget sama perasaan lu."
"Apaan?" Nia pun tak henti mencocol nugget berbentuk dinosaurus itu ke dalam saus.
"Saran terbaik tentang dunia percintaan yang pernah saya terima adalah, jika mereka menyukai kamu, kamu akan tahu. Jika tidak, kamu akan bingung."
"Kalo gitu fix dia gak suka sama gue. Buktinya sekarang gue bingung," jawab Nia.
"Masih kecepetan buat ngambil kesimpulan, Nya. Eh, kenapa lu gak coba dengerin jantungnya aja?"
__ADS_1
Nia menghentikan kunyahan lahapnya, kemudian menoleh pada sang sahabat yang kerapkali memberikan saran sesat itu.
"Maksud gue lu tatap dia aja. Gak usah ngomong atau ngelakuin sesuatu yang bikin deg-degan gitu. Tatap yang lama, abis itu langsung dengerin jantungnya," tambah Vina.
Nia masih tak memberi respon, namun seperti biasa dirinya lagi-lagi mulai terpengaruh saran sesat sang sahabat.
"Terus bikin dia jeles juga. Karna deg-degan sama jeles tuh emosi sepaket yang harus lu punya kalo lu beneran suka sama orang. Tapi harus yang alami ya, Nya."
"Maksudnya alami?" tanya Nia.
"Ya yang alami. Kaya yang gue bilang tadi."
Nia diam, bukan karena paham melainkan sebaliknya. Vina pun menjelaskan saran sesatnya itu lebih rinci, setelah menghela napas menanggapi Nia yang tidak hanya tak peka tetapi juga lola alias loading lama. Jadi maksud Vina adalah, Nia harus mengalami debaran dan cemburu secara alami dengan cara menatap Zaim tanpa mengatakan apapun. Setelahnya Nia hanya perlu mendengarkan jantung Zaim. Lalu perihal cemburu, Nia tidak bisa meminta Zaim untuk menyengajakannya tetapi Nia bisa.
" … Bikin dia jeles."
Nia diam sesaat, ragu. "Caranya?" jawab Nia akhirnya.
"Kaya biasalah pake cara sinetron ongoing."
"Yang kegagalan pastinya seratus persen itu?"
Vina terbahak. "Oke gini aja. Buktiin dulu aja si Zaim ada deg-degan gak sama lu. Kalo fix ada, nanti baru kita pikirin cara bikin dia jeles. Karna kalo ternyata dia gak deg-degan ya buat apa juga dibikin jeles kan? Artinya fix dia macarin lu cuma karna gabut."
"Oke gue coba."
"Tapi kalo menurut gue Zaim beneran suka sama lu deh, Nya. Kita kan bisa ngerasain kalo ada orang yang suka sama kita."
Nia kembali menoleh pada Vina. "Kan kata lu keenggakpekaan gue naudzubillah."
Vina tertawa lagi, tertawa hingga hampir tersedak kentang goreng yang baru saja dilahapnya. Obrolan itu pun berlanjut sampai tak terasa pedagang sekoteng sudah mulai berkeliling. Benar, waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Vina yang setiap hari jumat biasa bermalas-malasan di rumah Nia demi menghindari acara pengajian rutin yang diselenggarakan sang ibu, harus segera mengenakan sepatunya jika tidak ingin tertinggal angkot terakhir.
"Bye hanibaniswiti. Semangat ya besok pelajaran penjaskesnya. Inget, kayang-kayang kaya penyanyi dangdut." Vina terbahak sambil melambaikan tangannya pada Nia yang juga tengah terbahak.
KLEK
Gerbang rumah bernomor delapan itu kini sudah tertutup sepenuhnya. Vina pun mulai berjalan cepat setelah sebelumnya menyerut tali hoodienya. Namun langkah bersemangat Vina mulai melambat. Ada yang membuntuti Vina, satu orang, dengan sepatu kantor. Awalnya Vina berpikir itu hanya orang yang memang searah dengannya, tetapi tidak sejak dirinya menyadari orang misterius tersebut mengimbangi setiap langkahnya. Vina pun menghentikan langkah sepenuhnya, mulai kepo tapi juga takut.
"Hai, Irene Adler. Sendirian aja. Mau ditemenin gak?"
Spontan Vina berbalik cepat saat nama samarannya di Zet diserukan oleh suara si orang misterius yang ternyata berjenis pria.
__ADS_1
"Aku anter pulang aja gimana?" imbuh pria itu.
DEG