HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
PERKARA CATUR


__ADS_3

*PERCAKAPAN DALAM BAHASA MELAYU*


KLEK


"Silahkan tehnya, Tuan."


Sayfudin Qazzafi alias Safi, hanya mengangguk sembari menerima sodoran cangkir teh dari Wafiq Ma'ruf, tangan kanannya.


"Kalo gitu selamat beristirahat, Tuan," imbuh Wafiq.


"Ada yang mau saya tanyain sebelum istirahat."


Spontan Wafiq mengurungkan niatnya meninggalkan kamar tidur berukuran satu petak itu. Wafiq lalu melangkah tanpa suara mendekati sang Tuan, dan berdiri tepat di sampingnya yang sejak siang tadi duduk menikmati pemandangan di luar jendela.


"Kita di mana?"


"Wisconsin Amerika, Tuan. Lebih tepatnya di Desa Droseros."


Safi mengangguk-angguk. "Kira-kira Atlas sama Al Hakam ngejar kita sampe sini gak?"


"Gak, Tuan. Kemarin malam Al Hakam sama orang-orangnya udah balik ke Indonesia. Kalo Atlas masih nyari kita di Malaysia."


"Emang gigihnya Joffrey Scott Altlash gak ada lawan ya." Safi menyeruput tehnya. "Terus, berapa orang yang masih mau ngikut saya?"


"Sekitar dua puluh orang termasuk saya, Tuan."


Safi terkekeh. "Bener kata orang dulu ya. Nilai sifat orang tuh jangan pas lagi jaya-jayanya." Safi menoleh pada Wafiq. "Berarti kamu sama yang lain udah paham kondisi saya kan?"


Tentu saja. Bahkan semut pun tahu kondisi terkini mantan Raja Malaysia yang pernah terpilih sebanyak tiga kali berturut-turut itu. Setelah gagal menduduki singgasana Raja Malaysia, Safi merenungkan di mana bagian yang salah. Dan tak butuh waktu lama untuk Safi mengantongi jawabannya. Safi yakin bisa kembali menjadi Raja Malaysia tahun ini jika saja dirinya tidak kehilangan kepercayaan masyarakat akibat kasus video porno yang didalangi mantan menantunya, Bagas Prasetyo, yang dikuak Zaim secara blak-blakan!


Itulah motif Safi menuntut balas pada Zaim. Seperti biasa Safi yang tidak ingin mengotori tangannya untuk menyingkirkan Zaim, akhirnya mencari tangan ketiga. Dan tangan ketiga itu adalah Emily. Namun Safi tak menyangka jika Emily juga akan mencari tangan ketiga yakni Kasih. Kasih yang entah bagaimana bisa berurusan dengan salah satu anggota Atlas, menjadi awal kehancuran Safi. Aksi balas dendam Safi gagal, bisnis Atlas merugi karena itu, dan mereka memburu Safi yang dianggap dalang untuk dimintai pertanggungjawaban!


Safi melakukan segala cara agar Atlas tak bisa menyentuhnya. Namun siapa pun tahu Atlas tak pernah bisa dijadikan lawan. Sampai akhirnya Safi bangkrut. Semua harta bahkan rumah milik Safi terpaksa dijual, pun para bawahannya yang terpaksa dipecat. Setelahnya Safi kabur ke Droseros bersama Wafiq tanpa memberi tahu siapa pun termasuk sang istri, Suleikah. Namun Safi tak menaruh dendam pada Atlas. Mungkin karena sadar, atau takut? Penyebab kehancuran hidupnya tetaplah Zaim Alfarezi. Itulah yang terpatri di otak Safi!


"Ya, Tuan. Saya paham."


Safi beranjak dari kursi. "Kalo gitu nunggu apalagi? Kamu sama yang lain boleh pergi. Soalnya saya gak yakin bisa ngasih kalian makan."


"Kami tau Tuan bakal ngomong gini. Makanya kami udah rundingan dan nyiapin jawaban. Kami bakal ngabdi sama Tuan seumur hidup."


"Sekali pun saya bilang belom nyerah buat bales dendam sama Zaim Alfarezi?"


"Ya, Tuan."


"Kalo gitu kamu juga pasti paham resikonya kan? Kita semua bisa mati. Karna kalo kita mau nyingkirin Zaim Alfarezi, kita harus ngadepin Atlas dulu."


Safi menutup tirai jendela. "Makanya mendingan kita istirahat dulu, Tuan. Istirahat sambil nyusun rencana yang lebih mateng. Pokoknya prioritas kita sekarang istirahat dan ngehindarin Atlas. Karna mati jauh lebih baik daripada masuk ruang bawah tanahnya Joffrey Scott Atlash."


Safi mengangguk. "Kamu boleh pergi."


"Selamat beristirahat, Tu–"


"Makasih, Fiq. Makasih banyak."

__ADS_1


"Sebuah kehormatan, Tuan."


KLEK


Safi menghela napas. "Aku gak nyangka bales dendamku bakal ngelibatin Atlas. Bahkan aku sampe jadi buronan mereka. Tapi katanya Zaim Alfarezi ilang. Apa mungkin ditahan Joffrey? Bisa jadi. Karna dibanding aku kan anak haram itu lebih bikin bisnis Atlas rugi. Yah semoga aja Atlas jadi tangan ketigaku buat nyingkirin Zaim Alfarezi."


Semoga yang berisikan hal-hal buruk memang tetap dipertimbangkan Tuhan, meski kadang langsung diabaikan. Jika dipertimbangkan biasanya apa yang disemogakan akan kembali kepada yang menyemogakan. Tetapi jika diabaikan, berarti siapa pun itu yang disemogakan akan berada dalam perlindungan penuh dari Tuhan. Namun sayang sekali apa yang baru saja disemogakan Safi langsung diabaikan Tuhan. Karena terlihat dari balik pintu utama Atlas yang baru saja dibuka, Zaim muncul dengan kondisi tetap menawan dan, seksi!


"Den. Den Zaim. Den Zaim gak apa-apa?"


Zaim tersenyum pada sopir pribadinya, Pak Ucil. "Saya cuma ngantuk, laper, sama kangen pacar saya."


"Kalo gitu mau langsung saya anter ke rumahnya Non Nia, Den?"


"Bentar saya pikirin dulu."


"Loh ngapain dipikirin, Den? Katanya kangen?" tanya Ucil lagi.


"Iya. Tapi masalahnya saya gak kurang tidur tapi belom tidur selama lima hari."


"Hah? Kok bisa, Den? Saya aja tidur. Saya beneran kaya tamu spesial selama di sini. Tapi, Den, kenapa tiba-tiba kita ditahan?" Ucil menggeleng-geleng. "Malah nanya yang gak-gak. Jadinya gimana, Den? Mau saya anter ke rumah Non Nia?"


"Kayanya kita pulang aja."


Ucil buru-buru membukakan pintu mobil untuk Zaim. "Kangen tuh gak boleh ditahan-tahan loh, Den."


"Saya tau. Tapi sekarang saya gak lagi mode bahaya tapi buas."


Zaim tertawa. "Oke-oke tolong anter saya ke rumah pacar saya."


"Siap, Den. Berangkat."


...•▪•▪•▪•▪•...


"Gabut banget anjir. Padahal cuma libur sekolah sehari." Nia menghela napas. "Oke fix gue mau tidur. Misal kebangun tengah malem, gue ngedrakor aja sa–"


TING TONG TING TONG


Nia langsung beranjak dari sofa saat mendengar bel kediamannya berbunyi. Itu pasti Ushi yang kembali karena salah membawa dompet. Atau bisa juga Ikbal yang lagi-lagi melupakan salah satu perlengkapan futsalnya. Tidak mungkin itu Vina karena sepasang sahabat sehati sesanubari itu belum berbicara lagi sejak insiden duel jambak-jambakan di kereta. Apalagi Zaim. Lebih-lebih tidak mungkin! Namun.


KLEK


"Hai, Sayang."


Nia melongo. Merasa halusinasinya tentang Zaim semakin parah karena sosok pria seksi itu kian terlihat jelas di matanya.


"Sayang?" imbuh Zaim seraya menghambur memeluk Nia. "I miss you too much*."


*Aku terlalu rindu kepadamu.


Nia tak menjawab meski telah tersadar jika pria yang memeluknya sangat erat itu kali ini adalah pria sungguhan. Bukan pria bayangan yang akan hilang saat matanya berkedip.


Zaim masih melanjutkan, "Aku tau kamu pasti marah banget sama aku. Tapi aku punya alesan. Aku bakal jelasin. Jadi tolong selama itu tetep peluk aku ya. Ini soal bisnis …"

__ADS_1


*FLASHBACK OFF*


"Oh iya, menurut lu nih. Cewek lu termasuk orang yang bikin Atlas rugi juga gak sih? Hm?"


Zaim menoleh pada Joff, membalas tatapan psikopatnya. "Secara kronologi, iya."


Joff tertawa sembari bertepuk tangan. "Gua gak nyangka sama jawaban lu loh, Za. Terus menurut lu gimana solusinya?"


"Gua belom kepikiran. Karna kayanya lu gak akan puas kalo gua cuma ganti kerugian bisnis Atlas."


"Bingo. Gua lebih puas kalo citra Atlas bisa balik kaya semula. Tapi mustahil kan?"


Zaim tak menjawab. Jujur saja firasatnya terus menyerukan sesuatu yang buruk!


"Oh gua ada ide," tambah Joff. "Gimana kalo kita main catur? Kalo lu menang, gua bakal lepasin cewek lu. Gua juga bakal ngelupain kerugian bisnis Atlas dan ngikhlasin citra Atlas yang udah terlanjur rusak. Tapi kalo gua yang menang, lu taulah mau gua apa? Gimana?"


Berengsek! Begitu umpat Zaim dalam hati. Bagaimana bisa Zaim menang melawan Joffrey Scott Atlash yang sudah dianugerahi gelar Grandmaster sedari bayi? Ternyata sejak awal Joff juga sudah berniat memburu Nia. Namun berkat Safi yang sulit diburu, Nia masih dibiarkan bernapas bebas. Zaim pun terpaksa menerima tantangan dari Joff, dengan sumpah akan mencoretnya dari daftar orang terdekat setelahnya.


"Oke."


"Dari dulu gua selalu suka sama percaya diri lu, Za. Oh iya, lu masih inget aturan main catur sama gua kan?"


"Gak ada hp. Gak ada toilet. Gak ada tidur sebelom ada yang keluar sebagai pemenang."


Joff menyeringai. "Bingo."


*FLASHBACK ON*


" … Aku menang. Tapi sebenernya aku kalah sih. Karna Joff sengaja kalah. Ternyata dia ngerjain aku. Dia kesepian karna strinya lagi ngadain pameran lukisan di luar negri dan gak mau diganggu. Padahal aku udah mau mecat dia jadi temen." Zaim melepas pelukannya. "Sayang? I'm sorry. Bu–"


"Gak bisa," sela Nia akhirnya. "Aku udah bilang sama Kakek kamu, sama Ibu juga. Kecuali karna kamu kecelakaan atau meninggal, aku gak bisa maafin."


"Kalo meninggal gak bisa. Kan kita mau nikah. Kalo kecelakaan masih bisa. Yaudah kalo gitu aku kecelakaan dulu baru balik lagi ke sini. Te–"


BUG BUG BUG


Ucapan Zaim terjeda, sebab Nia yang tiba-tiba berbalik dan memukulnya. Tentu saja Zaim terkejut, meski dalam keterkejutannya itu ada rasa girang bukan main. Tampaknya kemarahan Nia harus bertekuk lutut pada kerinduannya. Nia berganti memeluk Zaim erat, seolah tak akan melepasnya sampai kapan pun. Setelahnya, entah bagaimana rasa rindu yang menggebu itu menggiring mereka pada ciuman panas!


"Sayang, tunggu dulu." Zaim memalingkan wajahnya. "Ki–"


"Nunggu apa? Kamu gak kangen aku?"


"Bukan gi–"


"Terus? Kamu tuh hoki loh. Abis bikin masalah gede bukannya kena damprat tapi malah kena cium."


Zaim menghela napas. "Oke kamu yang minta ya."


Nia mengangguk-angguk merespon Zaim, dan ciuman panas itu pun kian memanas dengan diiringi sentuhan-sentuhan tak kalah panas! Tidak terhitung sudah berapa banyak perkakas yang pecah karena aksi panas dua sejoli yang tengah diprovokasi rindu menggebu itu. Dan andai saja Suleikah berada di masjid lebih lama, sungguh, Nia dan Zaim benar-benar akan mengacaubalaukan urutan nikah yang sesuai hukum dan agama!


"Astagfirullah."


BRUK

__ADS_1


__ADS_2