HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
YANG JELES YANG JELES


__ADS_3

Spontan Ferdi menoleh, dan menunjuk wajah pria itu. "K-kamu?"


"Iya saya. Kenapa, Om? Kaget? Apa kangen?"


Ferdi kehabisan kata, meski jauh di lubuk hatinya banyak terucap kata umpatan. Tetapi sungguh, lengan berotot yang semakin menenggelamkan lehernya itu membuat nyali Ferdi ciut! Wajar. Tangan yang selalu terulur untuk Nia itu memang sudah sedari dulu berotot. Merasa terancam, Ferdi pun berusaha melepaskan diri dari tangan berotot Denar Djajadi, Kepala Sekolah SMA Andalan Teladan yang sangat digandrungi.


"Sssttt," imbuh Denar. "Mau diem terus ikut saya ngopi, apa mau teriak tapi saya patahin leher Om?"


"I-ikut n-ngopi."


Denar tersenyum mendengar jawaban Ferdi, dan langsung memaksa duda kesepian itu balik kanan. Namun belum sempat keduanya menggenapkan langkah kompaknya, sebuah suara tembakan tiba-tiba menggema. Spontan saja Denar dan Ferdi menoleh ke asal suara. Terlihat dari arah pukul satu, seorang pria sedang menodongkan pistol ke arah mobil limosin yang baru saja tancap gas.


Merasa semakin terancam, Ferdi pun refleks mendorong Denar dan melarikan diri. Dengan gesit Denar mengejar meski cukup kewalahan karena ternyata Ferdi tak kalah gesit! Sementara Denar berusaha mengejar Ferdi, orang misterius yang melepaskan timah panasnya dari balkon lantai dua sebuah rumah mewah itu, Sobari, pun berusaha mengejar si pemilik limosin mengilap.


Kembali ke tujuh menit silam. Sobari yang mendapat perintah dari Zaim untuk kembali melindungi Nia secara gerilya, langsung bergegas menuju rumah aman*. Di jam-jam seperti sekarang ini Nia pasti sedang membersihkan kamarnya. Namun saat Sobari membuktikan keyakinannya melalui teropong, tirai kamar Nia yang ada di lantai dua masih tertutup. Di mana itu artinya, Nia tidak ada di tempat!


*Sebuah rumah yang digunakan Zaim untuk kepentingan misi-misinya. Rumah aman terletak tepat di depan rumah Nia.


Sobari pun bergegas mencari Nia. Tetapi ketika Sobari baru akan keluar dari rumah aman, sosok Nia muncul dari kejauhan. Sobari lalu kembali ke balkon, dan meneropong. Namun mendadak teropong Sobari menangkap pemandangan ganjil. Seorang pria mencurigakan tiba-tiba saja menghampiri Nia, tetapi aksi mencurigakannya itu seketika dihentikan oleh seorang pria lain.


Kemudian kedua pria itu balik kanan. Pada saat itulah pemilik limosin menodongkan pistol ke arah kedua pria tersebut. Entah siapa targetnya, Sobari hanya refleks menghentikan aksinya. Dan meski tembakannya meleset, setidaknya Sobari tahu siapa si pemilik limosin dan berhasil mengantongi barang bukti penting. Ya, pistol pemilik limosin itu jatuh saat tembakan Sobari mengenai punggung tangannya.


" … ****!" seru A110 sembari menekan luka tembak di punggung tangannya. "Cepet. Kejar saksi itu. Gak boleh ada saksi demi kelancaran misi."


"Siap," balas sopir A110. "Tapi maaf, ada yang ngikutin kita."


Spontan A110 menoleh ke belakang. "****. Dia orang yang nembak saya. Oke gini. Kamu ngebut aja buat ngelabuin dia. Terus nanti saya bakal lompat di tengah jalan buat ngejar saksi. Abis itu kamu balik aja ke Atlas*. Dia gak bakal berani ngejar lagi kalo kamu berhasil sampe Atlas."


*Julukan untuk kediaman/keluarga besar Joffrey Scott Atlash, hidden crazy rich Jakarta Barat.


"Siap."


A110 menyodorkan tangannya. "Saya pinjem pistol kamu."


"Siap silahkan."


Dijalankanlah rencana darurat A110, dan berakhir semulus harapan. A110 berhasil melompat di tengah kecepatan mobil yang tinggi, lalu Sobari, berhasil dikelabui. Berbekal alat pelacak yang dipasang di ponsel Ferdi, A110 pun langsung menyusul. Dan tak butuh waktu lama untuk A110 menemukan Ferdi, pun untuk melubangi kepala saksi dengan berondongan timah panas.


DORR DORR DORR


BRUK


A110 menyeringai memandang darah segar yang membanjiri trotoar. Setelahnya A110 memberi kode pada Ferdi untuk menjawab teleponnya. Tetapi alih-alih menurut, Ferdi malah terbirit seperti dikejar demit! Awalnya A110 juga berniat melubangi kepala Ferdi, namun setelah dipikir-pikir, itu bukanlah tindakan yang diperlukan mengingat Ferdi hanyalah seorang pengecut.

__ADS_1


A110 memasukkan pistolnya ke dalam jas. "Pengecut mana berani buka mulut. Jadi aku gak perlu khawatir. Yang penting saksi itu udah mati. Tapi pistol aku jatoh di tempat tadi. Gawat kalo sampe ditemuin orang, dan makin gawat kalo ada yang tau lambang rahasia Atlas di pistol itu. Ta–"


"Diam di tempat."


DEG


"Angkat tangan," tambah Sobari.


DEG DEG


A110 menghela napas seraya mengumpat dalam hati, "****!"


"Balik badan."


A110 tak menyahut pun tak memiliki pilihan selain menuruti instruksi Sobari.


"Ternyata bener anggota Atlas," imbuh Sobari. "Diliat dari warna dasi kamu, posisi kamu masih rendah. Tapi kok udah berani berulah?" Sobari menunjukkan pistol A110. "Kamu pasti mikir gak akan ada yang tau lambang rahasia Atlas di pistol ini? Iya, kamu bener. Tapi sayangnya saya tau. Soalnya saya mantan anggota Atlas ya–"


DORR DORR DORR DORR DORR


BRUK


"Banyak bacot," sela A110 seraya mengambil kembali pistolnya dan berlalu.


" … Kalian jangan masuk sekolah dulu sampe penembaknya ketangkep. Nanti biar Ibu yang ngizinin langsung ke wali kelas kalian." Ushi menoleh bergantian pada Nia dan Ikbal. "Denger gak?"


"Aku sih denger, Bu." Ikbal melempar Nia dengan bantal sofa. "Dia tuh tau denger tau gak. Maen hp mulu dari tadi."


"Aduh sakit," teriak Nia sembari melempar balik Ikbal. "Aku juga denger, Bu. Anaknya Ibu aja tuh yang kerjaannya nething. Padahal aku sambil mantau abang G*food."


"Yaudah dengerin Ibu." Ushi duduk di antara Ikbal dan Nia. "Walopun gak sekolah, kalian gak boleh keluar rumah. Ibu yang bakal mantau kalian karna Ibu juga bakal ambil izin kerja."


"Dih Ibu sampe segitunya. Emang Ibu gak percaya sama aku?"


Ushi menoleh pada Ikbal. "Emang kamu gak pernah ngaca? Muka sebadung kamu mana bisa dipercaya."


Spontan Nia terbahak.


"Muka kamu juga badung loh, Nia," imbuh Ushi.


Ikbal berganti terbahak.


"Udah-udah." Ushi beranjak. "Nih dengerin Ibu. Mulai malem ini, gerbang depan harus selalu dikunci walopun ribet. Karna bisa aja penembaknya nyari tempat ngumpet kan. Dia kan lagi buron. Terus …"

__ADS_1


Rentetan perintah Ushi itu bermula sejak berita tentang pelaku kriminal bersenjata api yang berkeliaran di sekitar kediamannya tersiar. Pelaku kriminal yang tak lain adalah A110 itu disebut telah melepaskan tembakan sebanyak sembilan kali. Dan sebab aksinya tersebut, seorang warga sipil tewas di tempat. Ya hanya seorang. Bukan Denar, pun Sobari yang saat kejadian mengenakan rompi anti peluru.


Warga sipil itu adalah pria muda baik hati yang bersedia membantu Denar mengejar Ferdi tanpa diminta. Nahasnya pria muda itu malah menjadi sasaran salah tembak. Mungkin karena warna setelan yang dikenakan pria muda itu sama persis dengan warna setelan yang dikenakan Denar. Nia sudah tahu tentang itu, karena Denar langsung menelepon Nia dan menceritakan semuanya sesaat setelah insiden berdarah itu terjadi.


Mendengar cerita Denar seketika membuat bulu kuduk Nia berdiri. Bagaimana tidak? Nia hampir terlibat lagi dengan Ferdi, si duda kesepian, andai saja Denar tak iseng mengikutinya sepulang sekolah. Namun yang terpenting saat ini bukanlah ketakutan Nia, melainkan siapa yang memunculkan Ferdi. Lalu mengapa sampai harus memilih cara seekstrem itu? Dan benarkah Kasihlah otak dibalik semua keekstreman itu?


" … Anak yang dorong kamu ke rel kereta waktu itu bukan pelakunya? Menurut kamu siapa? Feeling aja, Dek. Halo?"


"Iya halo," sahut Nia pada Denar melalui panggilan telepon.


"Pelakunya mahasiswi yang waktu itu dorong kamu ke rel kereta bukan?"


"Gak tau, Kak."


Denar menghela napas. "Gini. Mending sekarang kamu bilang dulu sama Zaim. Soalnya yang nargetin kamu tuh orang kaya raya dan bersenjata. Ferdi tuh cuma kacung. Kakak liat dia keluar dari limosin sebelom nyamperin kamu. Dan …"


Nia kembali membatin, "Limosin? Mobilnya Bu Kasih kan bukan limosin. Berarti pelakunya bukan Bu Kasih dong?"


" … Atau Kakak aja yang bilang ke Zaim?"


"Jangan, Kak," balas Nia akhirnya. "Aku harap cuma kita berdua aja yang tau soal ini."


"Jangan bercanda kamu. Ini masalah serius. Kalo sampe terjadi apa-apa sama ka–"


"Kak," sela Nia. "Zaim udah keseringan nyelesaiin masalah aku. Dia kan juga punya masalah. Terus aku gak mau kalo sampe Ibu, Ikbal, Vina, Om Edo dan terutama Zaim musingin masalah aku lagi. Kapan mereka bahagianya? Kali ini aku mau coba nyelesain masalah aku sendiri."


Denar hanya kembali menghela napas.


"Aku janji, aku bakal langsung bilang Zaim kalo endingnya aku gak bisa nyelesaiin ma–"


"Gimana cara kamu nyelesaiinnya?" Denar berganti menyela ucapan Nia.


"Buat sekarang aku belom tau. Tapi aku bakal pikirin pelan-pelan. Siapa-siapa aja yang punya motif buat jahatin aku."


Denar tak henti menghela napas. "Yaudah. Tapi janji sama Kakak, kamu gak boleh keluar rumah sampe penembaknya ketangkep."


"Iya aku janji."


"Yaudah sekarang kamu istirahat. Gak usah mikir macem-macem."


"Iya, Kak."


Nia berganti menghela napas, setelah Denar mengakhiri panggilan telepon itu. Nia pun keluar dari toilet kamarnya, dan berniat untuk benar-benar beristirahat tanpa berpikir macam-macam, seperti yang dikatakan Denar. Namun, betapa terkejutnya Nia ketika mengetahui ada orang lain di kamarnya. Dan nyaris saja Nia berteriak maling, andai saja orang tersebut tak segera menoleh dan memamerkan dada bidangnya yang seksi.

__ADS_1


"Telfonan sama siapa, Sayang? Kok lama banget bahkan sampe ngumpet-ngumpet? Jawabnya jangan berbelit-belit ya. Soalnya aku kurang tidur," ujar Zaim.


__ADS_2