HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
MULAI GENTING


__ADS_3

Di sebuah halte bus terbengkalai, Monaco dan pria yang berhasil menarik perhatiannya itu bertemu untuk pertama kali. Pria misterius yang mengaku berasal dari Indonesia itu adalah Bagas. Benar, Bagas. Bagas yang itu, yang satu tahun lalu menggemparkan jagat dunia maya dengan video syur palsu Nia dan Zaim.


Entah dari mana Bagas bisa tahu tentang Monaco yang sangat ingin membawa Nia ke Taiwan serta kegagalan misi satu miliar Monaco beberapa waktu silam, yang pasti saat ini Bagas tengah berada di atas angin. Dan Monaco, tidak memiliki pilihan selain mengikuti ke arah mana angin tersebut berhembus.


“Saya Bagas. Bagas Prasetyo.”


“Monaco Yang.” Monaco membalas jabatan tangan Bagas.


“Maaf sebelumnya udah ngajak ketemuan di tempat kaya gini, Pak Monaco.”


“Saya malah bakal milih pemakaman kalo ada di posisi Anda, Pak Bagas.”


Bagas tertawa. “Kayanya kita bisa jadi partner.”


“Soal itu bukan Anda yang bisa mutusin tapi saya.”


“Anda bakal mutusin kaya gitu kok.” Bagas menoleh pada Monaco. “Soalnya cuma saya yang bisa bawa Yesenia Eve ke sini tanpa ketauan Zaim Alfarezi.”


Monaco tak menjawab, hanya menoleh pada Bagas. Pun tangan kanan Monaco, Duyi, yang sedari tadi berdiri tepat di samping Monaco. Apa yang baru saja dikatakan Bagas dengan raut wajah angkuh itu cukup membuat antusiasme Monaco berdesir, tetapi juga cukup untuk mengantarkan Bagas ke kamar mayat.


“Kuasa Zaim Alfarezi itu lebih gede dari yang orang-orang tau,” imbuh Bagas. “Saya bisa bawa Yesenia Eve ke sini tanpa perlu repot-repot masukin orang ke Indonesia.”


“Caranya?”


“Gak bisa saya kasih tau gitu aja dong sebelum Anda nyetujuin syarat dari saya.”


“Saya juga gak bisa asal setuju gitu aja dong kalo gak tau persentase keberhasilannya,” jawab Monaco.


“Seribu persen. Saya jamin, gak akan gagal.”


“Dan kalo gagal?”


“Gampang. Tinggal singkirin saya. Atau, masukin aja saya ke ruang oprasi plastik. Gimana?”


Alih-alih terkejut, Monaco malah menyeringai mendengar itu. Di luar dugaan ternyata Bagas Prasetyo bukanlah seonggok daging yang tidak berguna. Selain Duyi dan seorang dokter bedah plastik, tidak ada yang tahu tentang hukuman mengerikan yang diberikan Monaco pada mereka yang gagal menjalankan misi satu miliarnya. Lantas, dari mana Bagas tahu?


“Oke. Apa syaratnya?”


“Kasih saya identitas baru. Kalo perlu, kasih saya muka baru.”


“Selama Anda di Taiwan, terutama di Fulung, Anda bisa jadi siapa aja dan berbuat apa aja, Pak Bagas.”

__ADS_1


Bagas hanya menjawab Monaco dengan seringai.


“Sekarang boleh saya tau gimana cara Anda bawa Yesenia Eve ke sini tanpa perlu masukin orang ke Indonesia?”


Bagas mengangguk. “Saya punya kaki tangan di Indonesia. Temen sekolahnya Yesenia Eve. Dia bakal ngelakuin apapun yang saya suruh.”


“Gimana Anda bisa seyakin itu?”


“Soalnya masa depannya ada di tangan saya.”


Monaco kembali menyeringai, pun Bagas.


“Selamat datang di Fulung, Pak Bagas.”


“Saya bakal jadi warga baru yang baik di sini.” Bagas berganti membalas jabatan tangan Monaco.


...•▪•▪•▪•▪•...


Zaim tampak berlari keluar masuk rumah sakit, memasukkan koper dan tas-tas berukuran sedang ke dalam bagasi sedan mewahnya. Ternyata hari ini adalah hari terakhir Nia menyandang status sebagai pasien. Setelah lima hari menjalani rawat inap akibat sakit yang cukup serius di bagian kepala, akhirnya Nia diperbolehkan pulang oleh dokter.


Terlihat Nia berbicang dengan dokter yang selama ini merawatnya sebelum masuk ke dalam mobil Zaim. Bukan tanpa alasan kenapa hanya Zaim seorang yang menemani hari terakhir Nia di rumah sakit. Vina dan Ikbal tak memiliki nyawa lagi untuk membolos. Sementara Ushi, tidak bisa meninggalkan studio karena bosnya yang sakit gigi tidak kunjung sembuh!


Nia memandang sekeliling sembari menunggu Zaim yang tengah berpamitan dengan sang dokter. Ada yang mengawasi. Ya, Nia bisa merasakan itu. Entah hanya perasaan atau ketakutan akan kembali terulang kecelakaan yang hampir meregang nyawanya seperti di stasiun kereta api tempo hari, yang jelas ada yang mengawasi Nia di suatu tempat.


“Kaya ada yang ngawasin aku gitu deh.”


“Emang. Aku kan selalu ngawasin kamu.”


“Bukan kamu.” Nia menunjuk lantai dua, bekas kamar rawatnya. “Tapi dia. Soalnya aku reflek nengok ke situ mulu.”


“Dasar Bastian. Udah dibilang kawal Nianya diem-diem. Dia pasti beneran ada di situ,” batin Zaim. “Kayanya kamu jadi parno sejak kecelakaan.”


“Apa iya ya?”


“Iya. Makanya kamu harus cepet-cepet pulang, makan enak, minum obat, terus istirahat.” Zaim mengecup pucuk kepala Nia. “Oke?”


“Oke. Tapi kenapa kamu dari tadi nyiumin pala aku mulu?”


“Emang maunya dicium di mana?”


Nia hanya menoleh dan memelototi Zaim seperti biasa. Zaim pun terbahak sembari menancap gas meninggalkan lobby utama rumah sakit. Sepasang pasangan bucin itu tampak sangat menikmati perjalanan yang macet. Mereka mengobrolkan apapun mulai dari obrolan yang umum hingga tentu saja obrolan 21+ yang menjadi favorit Zaim akhir-akhir ini.

__ADS_1


“ ... Kan kamu sendiri yang nawarin mau nyuapin aku. Ya aku jawab mau. Tapi gak mau kalo pake ta-”


“Cukup, Roma,” sela Nia. “Cukup.”


Tawa Zaim kembali pecah, pecah lebih nyaring hingga membuatnya hampir menginjak rem.


“Ati-ati dih.”


“Maaf-maaf, Sayang. Abis kamu lawak banget,” sahut Zaim akhirnya.


“Lagian kamu. Orang nanya apa jawabnya apa.”


“Oke-oke. Kamu nanya apa tadi? Kenapa aku mecat Nisma? Aku gak mecat dia kok. Aku emang lagi butuh sekertaris tambahan.”


“Kirain kamu mecat dia karna kecelakaan di stasiun. Terus Kak Bunga kamu apain?”


“Gak aku apa-apain. Cuma aku kasih ultimatum biar gak nongol di depan kamu, Ibu kamu, Vina, atau Ikbal.”


Nia mengangguk-angguk. “Bener-bener. Kalo gak dikasih ultimatium bisa-bisa aku dijorokin lagi sama dia. Terus ...”


Sementara Nia dan Zaim asyik mengobrol, kakak beradik yang mereka bicarakan tengah dikungkung kepanikan. Maksud hati ingin berdamai, tetapi apa mau dikata jika pada akhirnya malah saling menantang memasuki ruang meja hijau? Sayangnya Nisma dan Bunga harus menelan tantangannya sebelum sempat memasuki ruang meja hijau. Kenapa?


“ ... Karna bapaknya Vina beneran pengacara, dan dia terkenal gak pernah kalah belain kliennya.”


“Ya terus? Kakak terima si Vina happy-happy di luar sana setelah neror aku? Setelah bikin mental aku ancur? Gak kan?”


Nisma menghela napas menanggapi Bunga. “Tapi kita gak punya peluang menang satu persen pun.”


“Coba dulu dong, Kak. Kenapa udah nyerah gitu sih padahal belom nyoba?”


“Karna kita bakal kalah cuma dengan ngelawan bapaknya Vina. Bayangin kalo ditambah pengacaranya Zaim? Semua pengacara top di Indonesia tuh orangnya Zaim.”


Bunga membisu, urat-urat kepanikan di wajah cantiknya kian terlihat jelas menggumpal.


“Jadi mendingan kita gak usah bawa kasus ini ke ranah hukum,” tambah Nisma.  “Terus mendingan kamu apus akun instagr*m grup penggemar Zaim.”


“Maksudnya? Kok jadi bawa-bawa instagr*m grup penggemar Zaim sih?”


Nisma menghela napas lagi. “Ya kalo ketauan kita ngeduitin semua postingan di situ gimana? Yang ada kita beneran berurusan sama bapaknya Vina dan sama pengacaranya Zaim. Terus kakak dipecat. Mau?”


Bunga kembali membisu, namun tentu saja, hatinya bersuara sangat lantang.

__ADS_1


“Anjing. Gue gak akan tinggal diem. Oke kalo emang gue gak bisa nyolek Nia. Tapi gue masih bisa nyolek Vina kan. Tunggu aja,” ujar Bunga dalam hati.


__ADS_2