HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
AVENGERS?


__ADS_3

"Pak Bastian?"


"Eh, Jan. Ngapain di sini?"


"Saya abis jenguk Pak Subur," balas Jani pada Bastian.


"Pak Subur yang pakar telematika itu?" 


Jani mengangguk. "Beliau dirawat di sini karna sakit gula."


"Sekedar jenguk atau dapet misi dari Zaim?"


"Yang kedua pastinya, Pak." Jani tertawa. "Saya dapet misi buat nangkep orang-orang yang bikin video panasnya Zaim sama Yesenia Eve."


"Video apa kamu bilang?"


"Video panas." Jani menoleh pada Bastian. "Serius Pak Bastian baru tau?"


Bastian tak merespon Jani, namun sorot mata terkejutnya secara tak langsung menjadi jawaban iya.


"Bapak buka aja situs ****po*. Terus ketikin Z atau Y, nanti videonya bakal langsung muncul. Itu video gak ada cacat sama sekali. Polisi aja sampe percaya. Mereka juga ke sini buat ketemu sama Pak Subur tapi udah balik duluan."


"Heran. Ada aja masalah." Bastian menghela napas. "Terus Pak Subur ngomong apa?"


"Gak ngomong apa-apa. Keluarganya gak ngizinin saya jenguk Beliau."


"Terus rencana kamu selanjutnya?"


Jani berganti menghela napas. "Belum tau, Pak. Gak ada petunjuk sama sekali soalnya. Kayanya saya harus diskusi sama Zaim."


"Mau ke rumahnya? Yaudah ayok bareng. Saya juga mau laporan."


Dan berangkatlah kedua abdi negara itu menuju kediaman Zaim. Saat keduanya tiba di sana, terlihat mobil Hendri, tangan kanan Al Hakam, tampak sudah lebih dulu mengantri di depan gerbang utama kediaman Zaim. Ketiganya pun bersama-sama memasuki kediaman mewah itu. Tetapi ternyata sudah ada orang lain yang datang menemui Zaim lebih cepat dari ketiganya. Benar, Ikbal.


"Gak apa-apa. Lanjut aja."


Ikbal mengangguk pada Zaim. "Iya intinya gitu, Kak. Temen saya yang namanya Bayu dikasih duit sejuta sama Bapak saya buat bikin opening video panas itu."


"Tunggu-tunggu. Jadi yang bikin video panas itu Bapak kamu?"


"Bukan," sahut Ikbal pada Jani. "Tapi temen sekolah saya yang namanya Bayu sama temen Bapak saya yang orang Jepang."


"Pantes itu video mulus banget." Jani beranjak. "Kamu ikut saya bu–"


"Duduk dulu, Jan," sela Zaim. "Gak perlu buru-buru. Lagian kita udah megang buntut mereka kan?" Zaim menoleh pada Hendri. "Lu ada apaan?"


Hendri meletakkan flashdisk di atas meja. "Ini rekaman obrolannya Kakek sama Umar Zakawat ta–"

__ADS_1


"Jadi itu anjing beneran masih idup?" Bastian berdeham, "Sorry. Oke lanjut-lanjut." Bastian menepuk pundak Hendri berulang kali.


Hendri hanya menoleh pada Bastian, menyingkirkan tangan Bastian dari pundaknya, lalu melanjutkan tujuan kedatangannya. Hakam meminta Zaim memberikan pendapatnya tentang rekaman cctv yang tersimpan di dalam flashdisk tersebut. Semua orang kecuali Ikbal pasti tahu apa arti dari perintah Hakam. Benar, Hakam sedang dalam keraguan dan baru bisa bertindak setelah mendengar pendapat Zaim.


"Oke nanti gua liat." Zaim menoleh pada Bastian. "Kalo lu?"


"Ini bocil denger gak apa-apa?" Bastian menunjuk Ikbal.


Zaim tak menjawab, hanya ikut menatap Ikbal yang kebetulan juga tengah menatapnya.


"Saya gak ember kok, Kak. Saya juga gak butuh cuan tutup mulut."


Zaim tersenyum pada Ikbal lalu meminta Bastian melanjutkan meski tahu robot paling setianya itu tak percaya. Bastian pun terpaksa melanjutkan apa yang ingin dilaporkannya yakni tentang Kasih, tentang Yoshi, tentang hubungan terlarang antara Kasih serta Yoshi, dan terakhir, tentang Emily yang kemungkinan besar merupakan pemicu hubungan terlarang tersebut.


" … Kasih pernah hamil sebelumnya. Tapi keguguran. Penyebabnya Emily," terang Bastian.


Semua orang yang duduk di ruang tamu yang didesain bak ruang pertemuan para raja itu kompak membelalakkan mata. Semua orang kehilangan kata-katanya, termasuk Zaim. Zaim baru bisa bersuara saat Hendri mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal. Menurut pengakuan Umar Zakawat, di detik sebelum pesawat itu jatuh, dirinya melihat Zain bercinta dengan salah seorang pramugari.


"Kesaksian asli Umar Zakawat pasti disimpen Safi buat dijadiin kartu as." Zaim berganti menoleh pada Jani. "Kalo kamu?"


"Tadinya sih mau diskusi sama kamu soal video panas itu. Tapi kayanya aku mau ganti partner diskusi deh." Jani melirik Ikbal.


"Oke. Gini." Zaim diam sesaat. "Serahin semua orang yang terlibat sama video itu ke polisi. Terus pastiin gak ada orang yang bisa ngakses video itu lagi dan urus semua orang yang punya salinannya." Zaim beranjak. "Bas, lanjutin misi lu. Gak masalah mau selama apapun." Zaim mengambil flashdisk di meja. "Umar Zakawat biar gua yang urus."


"Gua ikut, Za." Hendri ikut beranjak. "Gua pengen nonjok Umar Zakawat seenggaknya sekali."


Ikbal pun ikut beranjak. "Aku juga, Kak. Aku mau ikut bantu urus video itu karna nyangkut Bapak."


...•▪•▪•▪•▪•...


"Gila, gabut banget gue."


Entah sudah berapa kali Nia menggumamkan sebaris kalimat itu sambil memandang langit-langit kamarnya. Benar-benar tidak ada aktivitas yang bisa Nia lakukan meski ini hari senin. Semuanya karena video panas Nia dan Zaim yang pada hari ini resmi menembus satu miliar penonton. Gila! Lambat laun video panas itu pun mulai dikonsumsi oleh para kaum hawa, termasuk Ushi.


Nia melirik seragamnya yang tergantung di belakang pintu. "Baru ini gue kangen sekolah."


Siapa pun yang berada di posisi Nia pasti akan mengatakan hal yang sama. Sudah tiga hari Nia absen ke sekolah, dan rutinitasnya selama tiga hari tersebut benar-benar sangat monoton. Andai saja setidaknya Nia bisa pergi berjalan-jalan. Sejak Ushi mengetahui video panas Nia dan Zaim, Ushi menjadi semakin over protektif bahkan sampai ikut-ikutan absen bekerja.


Nia melirik ponselnya yang bergetar. "Ini lagi. Akhir-akhir ini bales chatnya singkat-singkat banget." Nia tiba-tiba beranjak. "Tunggu. Jangan-jangan dia udah bosen sama gue."


"I'll call you later, Sayang*." Suara Zaim terdengar melalui sambungan telepon.


*Nanti aku telfon lagi, Sayang.


"Enggak. Jawab dulu kamu lagi ngapain."


"Lagi otw ke rumah kamu."

__ADS_1


"What? Serius? Malem-malem gini?"


"Iya. Jadi lanjutin ngobrolnya di rumah aja ya. I'm driving*."


*Aku lagi nyetir.


"Oh yaudah ka–" Nia memelototi layar ponselnya. "Dih. Dimatiin. Orang belom selesai ngomong ju–"


Ucapan Nia kembali terjeda, tetapi kali ini karena suara gaduh mesin mobil yang tiba-tiba berhenti di depan rumahnya. Nia melompat dari ranjang, lalu berlari melongok ke luar jendela. Bukan Zaim. Mana mungkin Zaim datang berkunjung dengan taksi bandara yang disopirinya sendiri? Tetapi mungkin saja mengingat tidak ada yang tidak mungkin jika itu menyangkut Zaim Alfarezi, bukan?


"Loh? Ikbal? Eh, Om Bagas juga? Ada apa ya?" tanya Nia dalam hati.


Nia berniat turun ke lantai satu untuk meredakan kekepoannya. Namun suara teriakan Ushi yang terlewat melengking seketika menghentikan langkah Nia yang kepo. Nia tidak perlu repot-repot mencari tahu. Sebab sungguh, teriakan Ushi yang menggelegar seperti lakon utama dalam drama musikal itu sudah cukup meredakan kekepoan siapa pun yang pendengarannya masih normal.


PLAK


" … Kamu punya otak kan? Di dalem pala kamu itu isinya otak kan bukan sampah? Iya kan, Gas? Kok bisa sih kamu kepikiran buat ngelakuin hal sekotor itu?"


"Dia yang salah. Dia yang kurang ajar da–"


PLAK


"Jadi dia harus diem aja pas kamu pegang-pegang baru namanya gak kurang ajar gitu? Hah? Kamu anggep anak aku apa?" Teriakan Ushi kian melengking. "Kamu tau apa yang dia tanggung setelah video buatan kamu sama temen kamu yang laknat itu kesebar? Dia dilecehin semua orang. Bahkan gurunya sendiri!"


"Dia pantes dapetin itu ka–"


BUG


PRANG


KLEK


"Eh?"


"Jangan keluar." Ikbal tiba-tiba muncul di depan pintu kamar Nia. "Sorry. Gua ngewakilin bokap minta maaf. Gua yakin bokap gak bermaksud begitu. Karna bokap yang gua kenal gak kaya gitu. Gua sendiri juga masih gak percaya sa–"


"Ternyata lu gak sok serius aja tapi sok kuat juga ya."


Ikbal tak menjawab, hanya membalas pelukan Nia demi menyembunyikan tangisnya.


"Gue ngerasa gak harus maafin Om Bagas kok. Karna gue gak marah. Lagian kenapa juga gue harus marah? Kecuali kalian percaya kalo cewek di video itu gue."


"Awalnya gua percaya kok."


Spontan Nia melepas pelukannya, melotot.


"Orang mirip banget," imbuh Ikbal. "Kak Zaim apalagi. Sampe tato-tato kecil di tangannya aja mirip." Ikbal membuang wajahnya. "Udah, intinya gua ngewakilin bokap minta ma–"

__ADS_1


Nia mengusap kepala Ikbal. "Lu kali yang harus maafin Om Bagas. Karna keliatan banget lu sayang sa–"


"Kalian lagi main sinetron? Kalo ada oknum lain yang dendam, interaksi kalian kaya yang barusan bisa dijadiin opening video panas juga loh." Zaim menghampiri Nia dan Ikbal, lalu berdiri di antara keduanya. "Ngomong-ngomong kalo judul sinetronnya aku memeluk dan mengelus adik laki-lakiku di depan kekasihku, bagus gak kira-kira?"


__ADS_2