HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
BONUS NIA


__ADS_3

SREK


Ushi menutup kasar tirai jendela ruang tamu, sembari menghela napas tak kalah kasar. Demi apapun, para wartawan yang sejak siang sudah menyesaki gerbang depan rumahnya itu semakin bertambah banyak saja, dan bahkan mulai berubah menjadi barbar. Mulanya mereka hanya berteriak, namun lambat laun mulai menggedor gerbang. Meski begitu Ushi dan sang putra tidak bisa melakukan apa-apa selain mengendap dan mengintip.


Semuanya berawal dari unggahan video salah seorang pengguna instagr*m yang tak jelas jenisnya. Dalam unggahan video berdurasi sembilan belas detik tersebut, terlihat Zaim Alfarezi, hidden crazy rich Jaksel, tengah menggandeng seorang gadis berseragam sekolah SMAN Lentera Dunia menuju mobilnya yang ada di parkiran. Kuat dugaan gadis tersebut adalah gadis yang sama dengan gadis yang menghabiskan malam minggu dengan Zaim di sebuah mall.


"Bu Ushi Widhiani, tolong konfirmasinya. Apa benar pacar baru Zaim Alfarezi tinggal di sini?" Suara seorang wartawan pria terdengar tak kalah lantang dari komandan upacara kemerdekaan.


"Apa temuin aja, Bu? Bilang aja gak tau gitu. Sleepwalking* aku bisa makin parah kalo denger itu wartawan teriak sekali lagi."


*Sleepwalking atau somnabulisme merupakan salah satu kondisi gangguan tidur di mana seseorang bangun dan berjalan saat sedang tidur.


"Sleepwalking kamu bukannya udah gak ketolong ya?" Ushi menjatuhkan dirinya di sofa. "Dari kapan kamu tau Nia pacaran sama Zaim Alfarezi?"


"Belom lama, Bu. Itu juga tau dari Bunga."


"Siapa Bunga? Pacar kamu? Kamu ganti pacar lagi?"


Ikbal berdeham, "Pokoknya aku belom tau lama. Terus aku juga gak tau Zaim Alfarezi yang mana. Ibu kan tau aku cuma tertarik maenan fruit ninja."


"Sama maenan cewek," balas Ushi. "Coba telfon Nia lagi."


"Mati hpnya. Biasa pasti lowbat, Bu. Soalnya tadi aku liat power banknya ada di meja belajar. Casannya juga."


Ushi kembali menghela napas kasar. "Duh, dibawa ke mana ya itu anak sama Zaim Alfarezi? Mana masih kecil lagi. Awas aja sampe diapa-apain, bakal Ibu jadiin isian dimsum."


Spontan Ikbal melepeh sepotong dimsum yang baru saja disuapnya.


"Eh? Itu kaya ada suara rame-rame bukan sih?" Ushi berlari menuju jendela.


SREK


Terlihat dari tirai jendela yang sedikit disingkap Ushi, Nia dan Zaim tengah melewati lautan wartawan dengan dikawal puluhan polisi. Ushi pun kembali berlari untuk membukakan pintu. Ushi langsung memeluk Nia saat sosok gadis berkuncir kuda itu ada di hadapannya, dan lambat laun perasaan tak nyaman yang sedari tadi menerornya, lenyap. Meski begitu tak berarti amarah Ushi juga ikut lenyap. Tetap ada sidang, dan sidang pun, dimulai.


"Kalian beneran pacaran?" Ushi melihat bergantian ke arah Nia dan Zaim.


"Boleh saya jawab?"


Ushi menggeleng menanggapi Zaim. "Saya paling gak bisa liat muka orang ganteng kalo lagi marah. Rentan lupa." Ushi berdeham, "Nia, kamu aja yang jawab."


"Mmm, iya, Tan. Mmm kita pacaran."

__ADS_1


"Sejak kapan?"


"Mmm, kira-kira sejak dua minggu yang lalu," balas Nia.


"Pacaran serius apa cuma hahahihi?"


"Saya udah boleh jawab?" Zaim menunjuk dirinya sendiri.


Ushi kembali berdeham, "Yaudah deh boleh."


"Saya serius sama Nia. Saya niat ngajak Nia nikah kalo umurnya udah 20 taun."


Ushi membulatkan mulutnya, pun Ikbal yang bahkan hampir menjatuhkan ponsel tercintanya.


"Jadi sampe saat itu, Anda gak perlu khawatir. Saya janji atas nama Kakek saya, orang yang paling saya sayangin ngelebihin diri saya sendiri, saya bakal jaga kehormatan Nia. Saya juga bakal lindungin dan bahagiain orang-orang yang Nia sayang," imbuh Zaim.


"Oke, saya restuin."


"Ibu!" Ikbal refleks meneriaki Ushi. "Maen restu-restuin aja dih. Diliat dulu bibit bebet bobotnya, Bu."


"Emang bibit bebet bobotnya seorang Zaim Alfarezi masih perlu diliat?"


Ushi menepok mulut Ikbal. "Kamu tuh yang perlu diliat bibit bebet bobotnya. Kamu kan suka maenan cewek." Ushi menoleh pada Nia. "Tapi kamunya oke?"


"Mmm ya mmm, aku mau jalanin dulu aja, Tan. Kayanya masih terlalu cepet buat aku ngomongin pernikahan deh."


"Bener-bener. Oke, Tante setuju." Lagi-lagi Ushi berdeham, "Jadi, saya selaku Ibu sementaranya Nia, fix kasih restu buat kalian. Tapi gak tau loh ya nanti Ibu benerannya Nia kasih restu juga apa gak."


"Kalopun ada yang lain yang masih harus saya minta restunya, kayanya itu cuma alamarhum Pak Burhan." Zaim tersenyum pada Ushi.


...•▪•▪•▪•▪•...


" … Jadi karna temen-temen media udah tau saya lagi menjalin hubungan sama siapa sekarang, tolong kerja samanya. Saya gak mau aktivitas pacar saya atau keluarganya atau temen-temennya dan atau pihak lain sampe terganggu ka–"


TAK


Suara remote televisi yang diletakkan kasar di atas meja kaca itu seketika mengejutkan tiga orang yang ada di ruangan Al Hakam, CEO Muezza, katering diet nomor satu di Indonesia. Hakam tampak tak senang mendengar apa yang baru saja dikatakan sang cucu, Zaim Alfarezi, pada awak media yang disiarkan secara live oleh salah satu channel. Namun sesekali Hakam juga tersenyum. Entah mana yang benar dari ekspresinya itu, Hakam memang terkenal misterius.


"Tuh, Pak. Si Zaim malah terang-terangan pacaran padahal Kasih lagi dirawat. Kita gak bisa tinggal diem, Pak. Kasian Kasih."


Hakam mengangguk-angguk menanggapi Anto, ayah Kasih, sambil menyeruput tehnya.

__ADS_1


"Kondisi Kasih ngedrop terus, Pak. Tapi sampe sekarang si Zaim gak ada nengokin." Davina, ibu Kasih, mulai terisak. "Keterlaluan banget kan, Pak, si Zaim?"


Hakam masih setia merespon sepasang suami istri itu dengan anggukan.


"Kalo jadinya kaya gini, paksa aja si Zaim nikahin Kasih, Pak. Kalo Bapak yang nyuruh pasti Zaim gak bisa nolak."


"Bener, Pak. Daripada sama anak di bawah umur yang masa depannya belom jelas dan kemungkinan cuma ngincer hartanya Zaim, ketauan mending sama Kasih kan, Pak? Iya kan, Pak?" Davina menimpali sang suami.


Kali ini Hakam diam. Tak mengangguk, apalagi menyeruput teh melati favoritnya.


Anto berdeham, "Pak, perut Kasih makin gede. Dan bukan cuma Kasih aja yang butuh Zaim tapi juga anaknya. Masa Bapak tega biarin cucu pertama di keluarga kita besar tanpa sosok seorang bapak?"


"Terus mau kalian apa?" tanya Hakam akhirnya, sembari memberikan cangkir tehnya yang kosong pada sekretaris yang sedari tadi berdiri di sampingnya.


Davina mengusap cepat air matanya. "Kaya yang tadi dibilang Mas Anto, Pak, nikahin Zaim sama Kasih."


Hakam menerima cangkir tehnya yang baru diisi oleh sang sekretaris. "Gimana kira-kira menurut kamu, Hendri? Mau gak Zaim nikahin Kasih kalo saya yang nyuruh?"


"Boleh saya jawab pake persentase, Pak?"


"Boleh dong." Hakam kembali menyeruput tehnya.


"Nol persen, Pak."


"Gak maunya apa gak bisa nolaknya?"


Hendri berdeham, "Gak maunya, Pak."


Spontan Hakam terbahak, berbeda dengan Anto dan Davina yang tampak sangat terkejut. Hendri, sekretaris yang terkenal dengan julukan legend itu benar-benar tahu tentang segala hal, terutama yang menyangkut Zaim Alfarezi. Sebab Zaim dan Hendri yang sama-sama yatim piatu itu dibesarkan bersama oleh Hakam sedari tali pusar mereka belum dipotong. Jadi jika ditanya siapa orang yang paling mengenal Zaim dari luar pun dari dalam, jawabannya sudah tentu bukan Bastian Bramantyo!


"Kalo Zain bisa distir. Kenapa? Karna karakternya memang cinta damai, dan prioritasnya cuma ngebahagiain saya. Nah, kalo Zaim. Gimana kalo Zaim, Hen?"


"Zaim ya. Kalo Zaim." Hendri diam sesaat. "Kalo Zaim mah orang gila tanpa gejala, Pak."


Tawa terbahak Hakam seketika kembali pecah. Seolah memecahkan gendang telinga siapa saja, pun kemungkinan besar, memecahkan kepercayaan diri orangtua Kasih.


"Saya gak bisa maksa Zaim buat nikah sama Kasih, tapi saya kan juga gak sembarangan masukin orang buat jadi bagian dari keluarga kita. Jadi kalian gak perlu sekhawatir itu." Hakam kembali menyeruput tehnya.



...YESENIA EVE...

__ADS_1


__ADS_2