
Suara panggilan telepon yang tak terjawab itu seketika menyadarkan Nia dari lamunannya. Nia pun buru-buru menelepon balik Zaim, namun kali ini berganti Zaim yang tak menjawab. Bukan tanpa alasan Nia melamun sampai mengabaikan empat kali panggilan telepon dari sang kekasih. Sungguh, lamunan Nia berulang kali membawanya ke tiga puluh menit yang lalu, ketika dirinya berselisih hebat dengan Ushi.
*FLASHBACK ON*
" … Yang masang Pongpong* di mobilnya Zaim bukan Pak Safi, Bu, ta–"
*Perekam video mini yang diklaim bisa merekam apapun karena memiliki fitur tembus pandang. Pongpong juga bisa menjangkau seluruh ruangan meskipun hanya dipasang satu buah saja. Pongpong terhubung dengan aplikasi bernama serupa. Melalui aplikasi ini, pengguna Pongpong bisa memantau semua yang berhasil terekam. Kemudian hasil dari rekaman tersebut akan otomatis terunduh ke gallery dengan kualitas 1080p.
"Tapi kamu kan, sama Vina. Ibu tau kok. Soalnya tadi Ibu gak sengaja denger kamu telfonan sama Vina."
Nia tampak sangat tekejut.
"Ibu bohong soal siapa pelaku yang sebenernya karna pengen bales dendam aja soal masa lalu," imbuh Ushi. "Kan Kakek kamu udah misahin kamu dari Ibu."
"Bu, yang udah yaudahlah. Toh sekarang aku sama Ibu kan."
Ushi mendecak, "Kamu tuh kaya Burhan, terlalu baik. Udah dijahatin tapi diem aja. Bales dong. Tapi yaudah kalo kamu gak punya niat yang sama sama Ibu. Kamu diem aja. Biar Ibu yang urus."
"Tapi, Bu. Ibu kan tau Pak Safi orang yang kaya gimana. Kalo sampe Zaim kenapa-kenapa gimana?"
Ushi menoleh pada Nia. "Yaudah kalo gitu kan tinggal diganti."
"Maksud Ibu?"
"Maksud Ibu kambing itemnya tinggal diganti. Diganti aja sama si dajjal itu. Nila. Iya kan?"
*FLASHBACK OFF*
"Duh, gimana nih. Padahal gue niatnya mau bantu ngeringanin masalah Zaim. Tapi kok malah jadi kacau gini," gumam Nia. "Terus kenapa Ibu tiba-tiba berubah jadi antagonis gitu sih."
Ya, tak salah Nia menjuluki sang ibu seperti itu. Karena setelah berselisih dengan Nia, Ushi langsung melarang Nia keluar dari rumah dengan alasan apapun selain sekolah. Itu artinya Nia harus berdiam diri di rumah selama satu bulan penuh karena saat ini sedang libur sekolah! Sejujurnya Nia bisa saja pergi ke kediaman Vina atau bahkan menjenguk Al Hakam. Tetapi apa untungnya membuat situasi semakin kacau?
"Gue harus gimana ya sekarang? Apa gue jujur aja sama Zaim? Atau langsung jujur ke Pak Hakam aja?" Nia menatap langit-langit kamarnya. "Gue harep ini semua mimpi. Semoga pas gue bangun nanti Pak Hakam lagi di kantor, terus Zaim ke sini bawain gue baksonya Pak Kumis."
Nia pun terlelap, tak lama setelah menyampaikan harapannya. Dan ketika Nia terbangun, dirinya hampir saja terjungkal dari ranjang karena melihat jaket Zaim yang tersampir di kursi belajarnya. Nia yang merasa harapannya didengar Tuhan pun langsung keluar dari kamar, mencari keberadaan Zaim. Dan benar saja, terlihat Zaim dan Ikbal tengah membuka plastik makanan meski bukan plastik bakso Pak Kumis!
"Udah bangun, Sayang?"
__ADS_1
Nia mengangguk menanggapi Zaim. "Kok kamu di sini?"
"Iya abisnya kamu ngacangin telfon aku. Ibu kamu juga. Ikbal juga."
"Kan udah aku bilang aku juga ketiduran, Kak Zaim," sahut Ikbal sembari merogoh ponselnya yang bergetar. "Halo? Hah? Apaan? Oh …"
"Dinner yuk."
Nia kembali mengangguk pada Zaim.
"Lagi pengen dinner yang kuah atau yang goreng? Tadi aku beli tengkleng*, ayam geprek, sama nasi goreang seafood," tambah Zaim."
*Merupakan makanan semacam gulai kambing tetapi kuahnya tidak memakai santan. Isi tengkleng adalah tulang belulang kambing dengan sedikit daging yang menempel.
"Ini aja." Nia meraih mangkuk berisi tengkleng.
"Aku juga lagi pengen yang kuah-kuah."
"Kak Zaim, aku keluar bentar ya. Aku mau nyamperin kurir paket aku dulu. Katanya nyasar di komplek belakang." Ikbal berlalu. "Pada dinner duluan aja. Tapi sisain loh."
Dan tinggallah Nia dan Zaim. Keduanya menikmati makan malam yang terlambat itu dengan obrolan kecil seperti biasa. Namun di makan malam kali ini Nia tampak merespon Zaim sekenanya. Wajar. Nia masih memikirkan perselisihannya dengan Ushi siang tadi, dan apa yang akan dilakukan Ushi selanjutnya. Zaim yang sadar pikiran Nia tengah berada di tempat lain pun langsung membuka topik yang tidak terduga.
"Hm?"
Zaim mengisi air ke dalam gelas Nia yang masih tersisa setengah. "Minum dulu."
"Udah kan barusan."
"Minum lagi."
Nia menatap Zaim sesaat, heran. Tetapi refleks menuruti pinta Zaim.
"Aku tau kamu yang masang Pongpong di mobil aku," imbuh Zaim seraya menyodorkan tisu pada Nia.
Nia tak menjawab, apalagi meraih tisu yang disodorkan Zaim. Bahkan tersedak pun tidak meski mendengar betul apa yang baru saja dikatakan Zaim.
"Tapi aku yakin banget kamu gak ada niat buat bikin Kakek aku celaka. Iya kan?"
__ADS_1
Nia refleks mengangguk-angguk. "Sumpah aku cuma mau bantu ngeringanin masalah kamu karna kamu kan gak mau cerita sama aku. Tapi aku gak nyangka endingnya bakal kaya gini."
"Aku paham. Kalo jadi kamu pun aku bakal ngelakuin hal yang sama. Lebih ekstrim malah. Tapi, Sayang. Kamu tuh partner hidup aku, bukan partner tempur di medan perang. Jadi aku harap ini yang terakhir kamu ikut turun ke medan perang. Hm?"
Nia kembali tak memberi jawaban. Apa-apaan? Kenapa Zaim menangkapnya basah bukan dengan kata-kata murka tetapi malah dengan kata-kata seuwuw itu?
"Terus aku pengen liburan sama kamu. Nanti kalo kondisi Kakek udah membaik, kita liburan ya? Itung-itung ganti study tour kamu juga kan. Kan waktu itu kamu gak ikut. Hm?"
...•▪•▪•▪•▪•...
Sama dengan Nia, saat ini Ushi pun tengah terombang-ambing dalam lamunannya. Setelah berselisih dengan Nia serta memberinya hukuman, Ushi berkendara tanpa tujuan dan baru menginjak rem ketika mobilnya berteriak haus. Ushi pun menepi ke SPBU, sambil mengincar kafe di seberang untuk melanjutkan lamunannya yang sempat tertunda. Setelah memesan kopi dan seporsi donat, Ushi pun langsung mencari tempat duduk yang jauh dari keramaian.
"Bu Ushi."
Spontan Ushi menoleh ke kursi kosong di sampingnya, dan langsung terkejut setengah mati. "Pak Bastian?"
Bastian hanya mengangguk seraya tersenyum menanggapi Ushi.
"Kok Pak Bastian bisa ada di sini ya? Jangan-jangan aku diikutin karna Pak Bastian udah tau kalo aku boong soal pelaku Pongpong yang sebenernya," batin Ushi. "Se–"
"Saya pertama kali kenal Zaim pas dia kelas dua SMP. Waktu itu saya ditugasin atasan saya buat ngawal seminar Pak Hakam di London. Tapi gak tau gimana saya malah ngawal Zaim. Kesan pertama saya tentang Zaim tuh satu, Zaim udah tangguh dari dini karna tau kelak bakal jadi penguasa. Sama kaya Pak Safi."
Ushi tersenyum paksa. "Saya gak ngerti maksud Pak Bastian."
"Jangan ngadu Zaim sama Pak Safi, Bu. Karna penguasa kaya mereka berantemnya serem kalo udah ngerasa dirugiin. Kaya dulu waktu saya ke Malaysia buat nyari tau isi loker Bu Ushi, Pak Safi hampir bunuh saya. Beliau bahkan sampe nyewa sniper."
"Apa?"
Bastian menyeruput kopinya. "Kalo mau nyari kambing hitam, jangan Pak Safi. Apalagi Bu Nila. Karna itu lebih bahaya lagi. Mungkin Bu Ushi belom tau kalo Bu Nila nikah sama mantan gangster yang sampe sekarang masih ditakutin di Taiwan."
Ushi mengusap air matanya cepat. "Pak Bastian gak tau posisi saya. Sebelumnya saya pernah coba misahin Nia dari Zaim dengan cara pindah ke Droseros. Pas Zaim tau, dia masih maafin. Tapi saya yakin kalo Zaim tau siapa pelaku sebenernya yang bikin Pak Hakam hampir meninggal, dia pasti gak bakal maafin."
"Zaim udah tau, Bu Ushi."
"Apa?"
Bastian mengangguk. "Zaim udah tau siapa pelaku sebenernya. Tapi Ibu gak perlu khawatir. Zaim sama sekali gak marah sama Nia. Bahkan sekarang mereka lagi dinner. Saya saranin Ibu tutup mulut aja. Pura-pura gak tau so–"
__ADS_1
"Emang siapa pelaku sebenernya, Bas?"
DEG