
"Good morning, Sayang," bisik Zaim sembari mengecup kening Nia.
Zaim beranjak dari sofa, menguap, sambil melakukan peregangan ringan. Sepertinya hujan tidak berhenti sejak semalam. Zaim menoleh pada Nia yang tenggelam di balik selimut, berkhayal. Andai saja status mereka sekarang adalah suami istri, ini akan menjadi cuaca yang sempurna untuk "menghangatkan diri". Sayangnya status mereka masih sebatas kekasih. Jadi mau tak mau, Zaim masih harus meluaskan sabarnya.
"Semakin rasanya setengah mati, semakin imbalannya di luar ekspektasi. Sabar-sabar," gumam Zaim. "Mending gua ngegym du–"
Ucapan Zaim terjeda, sebab suara bel rumahnya yang mendadak berdering. Itu pasti para pelayan Zaim yang diusirnya semalam. Padahal Zaim sudah menyuruh mereka untuk kembali besok siang. Zaim melangkah membuka pintu utama kediaman mewahnya dengan mimik wajah angker, bersiap mendamprat semua pelayannya yang begitu bernyali mengganggu waktu berharganya dengan sang kekasih.
KLEK
"Tuh kan. Saya bilang juga apa. Dia belom jalan ke kantor. Ka–"
"Mau pada ngapain?" sela Zaim pada Bastian.
Bastian menunjukkan tiga buah plastik besar pada Zaim. "Mau nganter oleh-oleh dari Korea."
"Kalo gua mau laporan soal Bagas."
Zaim mengangguk menanggapi Jani. "Lanjutin."
"Bagas sama temen editornya udah landing di Jakarta subuh tadi. Mereka bakal disidang hari ini jam satu siang. Tapi sidangnya tertutup."
Zaim menghela napas. "Oke."
"Masalah beres satu tapi kok lu kaya gak seneng gitu?" Bastian mengintip ke dalam rumah Zaim. "Terus kok rumah lu sepi banget? Lu lagi sama cewek ta–"
KLEK
"Saya belom selesai ngomong loh," imbuh Bastian.
"Gak usah diselesaiin juga kan Bapak udah tau jawabannya."
"Maksudnya dia beneran lagi sama cewek gitu?"
Jani hanya mengangguk pada Bastian.
"Kalo gitu harus kita cek dong. Kali aja itu bukan Yesenia kan? Kamu gak liat mukanya? Dia tuh tipe cowok brengsek ta–"
KLEK
"Ubah sidangnya jadi terbuka. Terus undang Ushi." Zaim mengambil alih plastik oleh-oleh dari tangan Bastian. "Bukannya lu yang brengsek ya? Gua denger lu kebablasan lagi sama cewek pas di Korea."
"Hah? Siapa? Jangan ngasal ka–"
__ADS_1
KLEK
"Saya gak pernah kebablasan. Sumpah," tambah Bastian. "Si Zaim tuh kalo ngomong emang suka seenak udel."
"Bapak gak perlu jelasin sama saya kok. Soalnya saya gak pernah tertarik sama privacy orang. Kalo gitu kita berangkat duluan aja, Pak. Takutnya macet. Biar saya yang nyetir." Jani berlalu.
"Iya juga ya. Kenapa juga segala gua jelasin ke si Jani?"
...•▪•▪•▪•▪•...
Pemandangan di halaman ruang sidang itu tampak tidak biasa. Para petugas kepolisian dan wartawan tidak terlihat saling melempar tatapan sengit. Justru sebaliknya, mereka malah mengobrol seru sambil mengoper bungkus rokok dan korek pada satu sama lain. Padahal hari ini ada sidang yang paling dinantikan. Ya meski yang menanti sudah sangat jemu, lupa bahkan masa bodoh.
Masih ingat dengan kasus video syur Nia dan Zaim yang sempat viral beberapa waktu lalu? Yang keviralannya bahkan sampai menggeser kasus salah satu pesinetron yang tersandung narkoba? Benar, hari ini adalah sidang untuk kasus itu. Dua tokoh utama dalam kasus tersebut, Bagas dan teman editornya, Ken Izanagi, akhirnya berhasil diseret ke hadapan hakim.
Bagas dibekuk di Taiwan, tepatnya di daerah bernama Fulung. Sementara Ken Izanagi, menyerahkan dirinya ke kantor polisi Jepang karena mengaku stres setelah hampir setiap hari diburu oleh salah satu robot Zaim yang diyakininya berjenis perempuan. Kini keduanya pun sudah duduk bersebelahan layaknya pasangan. Mengenakan pakaian couple, dan disatukan dengan borgol.
"Eh-eh, itu mereka dateng." Salah seorang wartawan beranjak dari sandarannya.
"Bu Ushi, ada yang mau disampaikan, Bu?"
"Mungkin ada pesan untuk mantan suaminya, Bu?"
"Apa Pak Sayfudin Qazzafi juga hadir, Bu Ushi? Lalu …"
Ushi hanya tersenyum menanggapi tanya para wartawan, dan berlalu memasuki ruang sidang bersama sang putra dan Edo, kekasih tak sampainya.
"Pak gimana kronologi penangkapan Bagas Prasetyo?"
"Pak siapa nih yang ditanya?" Bastian balik melempar tanya sembari tertawa. "Pak sobari aja yang jawab karna Beliau senior di sini. Silahkan, Pak Sobari."
Sobari tersenyum. "Tolong wakili saya ya, Bu Jani."
Jani membalas Sobari dengan senyum, lalu maju ke tengah kerumunan wartawan dan menjelaskan kronologi penangkapan Bagas.
" … Bukan saya aja yang nangkep Bagas Prasetyo. Pak Bastian, Pak Sobari dan Pak Zaim juga berkontribusi … Yang nangkep Ken Izanagi juga bukan saya. Saya cuma terima info lokasi dan meluncur …"
Jani masih menjelaskan dengan rendah hati perihal kronologi penangkapan Bagas dan Ken Izanagi. Hingga penjelasan Jani yang berapi-api itu terjeda oleh kemunculan Zaim dan Nia dari kejauhan. Para wartawan pun langsung menghambur saling mendahului menghampiri sepasang sejoli itu, setelah kompak mengucapkan terima kasih pada Jani, Bastian dan Sobari.
"Pak Zaim, apa bener Bagas Prasetyo oprasi plastik biar gak ketauan kalo dia masuk DPO*?"
*Merupakan kepanjangan dari Daftar Pencarian Orang. DPO merujuk pada daftar orang-orang yang dicari atau yang menjadi target oleh pihak aparat kepolisian. DPO juga merujuk pada dua hal yakni orang hilang atau pelaku kriminal.
"Iya. Tapi oprasi plastiknya gagal. Soalnya idungnya rada mencong."
__ADS_1
Spontan para wartawan terbahak mendengar respon dari Zaim yang kerapkali mengundang tawa. Zaim memang layak dijadikan panutan dari segala segi. Baik dari segi kesuksesan usaha-usahanya, perlakuannya pada para wartawan, hingga caranya dalam menemukan jalan keluar atas beragam masalah yang menimpanya sampai hari ini.
Alih-alih mengubur kasus video syurnya yang menggemparkan selagi warganet bersikap masa bodoh, Zaim malah memberi tiket para warganet di kursi penonton paling depan melalui sidang tertutup yang diubahnya menjadi sidang terbuka. Robot-robot Zaim pun tak ketinggalan dari riuh gibahan baik. Mereka dinilai yang paling pas berdiri di samping seorang Zaim Alfarezi.
"Saudara Bagas Pasetyo dan Ken Izanagi … Terbukti melakukan penipuan online, pemalsuan identitas, pencemaran nama baik … Penjara seumur hidup dan denda sebesar …"
Berakhir sudah sidang panjang hari itu, pun nasib Bagas dan Ken Izanagi. Keduanya langsung dijebloskan ke penjara sesaat setelah suara palu sang hakim berhenti menggema. Lalu perlahan satu per satu orang menyusul keluar dari ruang sidang, termasuk Al Hakam yang turut serta menjadi tamu tak diundang. Ternyata diam-diam Hakam ikut menyaksikan proses sidang tersebut.
"Makasih banyak ya, Za. Kalo bukan karna kamu, cepet atau lambat pasti si Bagas bakal jahatin Nia. Siapa yang bisa tau coba kalo itu dia."
"Sama-sama, Bu. Selama masih jadi tanggung jawab saya."
Ushi hanya mengangguk sembari tersenyum paksa menanggapi Zaim.
"Ini pasti Pak Edo," imbuh Zaim.
"Benar. Perkenalkan saya Edo Nugroho."
Zaim membalas uluran tangan Edo. "Zaim Alfarezi."
"Saya seneng bisa ketemu langsung sama panutan pengusaha muda negri ini."
"Saya lebih seneng bisa ketemu langsung sama abdi negara paling berpengaruh di Semarang. Kalo Anda lama di sini, silahkan mampir ke kantor saya. Mungkin Anda tertarik buat baca surat kontrak robot."
"Robot?"
Zaim tertawa. "Saya becanda." Zaim menoleh pada Ikbal. "Kamu gak apa-apa, Bal?"
"Apa-apalah, Kak. Tapi ntar juga lupa. Makasih banyak sebelumnya ya, Kak Zaim."
Zaim mengangguk merespon Ikbal, lalu berganti menoleh pada Nia. "Aku masih ada urusan. Nanti aku telfon ya."
"Iya."
Zaim tersenyum pada Nia. "Kalo gitu saya duluan ya, Bu, Pak Edo." Zaim berlalu, diekori Nisma.
"Mending kamu batalin rencana kamu buat pindah ke Droseros deh, Shi."
Ushi refleks memukul Edo. "Apa sih? Ada anak-anak juga."
"Justru karna ada mereka aku ngomong. Mending kamu juga diskusiin aja deh sama mereka. Soal alesan kamu pindah ke Droseros."
"Bener banget tuh, Om Edo. Jujur aja aku sama Nia kepo banget. Kenapa sih, Bu, tiba-tiba kita harus pindah sampe sejauh itu?" tanya Ikbal.
__ADS_1
"Karna Ibu udah tau kalo penyebab kematian kakaknya Zaim tuh Pak Safi. Iya kan, Bu?"
DEG