HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
BUKAN FERDI SAMBO


__ADS_3

" … Pokoknya ini perdana gue ngerasain perasaan nano-nano, Nya. Gue yakin sejuta persen kalo Danny Phantom itu jodoh gue."


Nia hanya mengangguk-angguk merespon sahabat sehati sesanubarinya sembari menyedot jus buah naga.


"Makanya pas dia nembak gue, gue langsung iyain."


"Akhirnya kalian pacaran juga ya," balas Nia.


"Yaiyalah. Dia tuh cool tapi perhatian banget tau gak. Sumpah gue klepek-klepek. Kayanya gue harus mengakhiri hubungan online ini secepetnya deh, Nya."


"Maksudnya lu mau ngajak dia ketemuan?"


"Yup. Gimana menurut lu? Kali ini gue yakin gak bakalan zonk."


"Yaudah ayok gue temenin."


Vina menghambur memeluk Nia. "Emang ya lu itu sahabat sehati sesanubari gue banget. Tapi btw gud pake baju apa ya, Nya? Pake celana apa rok? Apa gue beli baju baru aja kali ya?"


"Pake baju itu aja."


Vina menunjuk seragam sekolahnya sendiri. "Ini? Ih apaan sih, Nya, orang gue serius juga."


"Ya gue juga serius. Lu mau ketemuan sama Danny Phantom kan? Ketemuan sekarang aja ayok gue temenin. Orang Danny Phantom anak Andalan Teladan juga."


Mendengar itu bola mata Vina tampak seperti akan melompat keluar. Vina pun langsung memberondongi Nia pertanyaan. Tentu saja Nia menjawab dengan jujur sebab tahu identitas asli pengguna Zet* bernama Danny Phantom itu. Benar, Ikbal. Jadi tidak ada alasan untuk Nia berbohong tentang Ikbal pada Vina yang sudah mengenal Ikbal sedari bayi, bukan? Nia sudah menjawab semua pertanyaan Vina, pun memberi petunjuk tipis mengenai Danny Phantom. Namun alih-alih sadar, Vina malah salah tangkap!


*Aplikasi kencan milik Zaim yang sudah diunduh oleh lebih dari seratus juta pengguna.


"Jadi dia anak Andalan Teladan juga dan bahkan seangkatan dan sekelas sama kita?"


Nia kembali mengangguk-angguk.


"Anjir gue udah deg-degan. Gue pikir dia junior gue. Ya kali gue sama brondong. Tapi jujur gue gak nyangka ternyata Danny Phantom tuh dia. Sebenernya gue udah feeling sih. Tapi masih gak nyangka aja. Ternyata dia gak cuma suka buku," tambah Vina.


"Hah? Buku? Siapa? Mana ada dia suka buku anjir."


"Hah? Lu lagi ngomongin siapa sih, Nya? Ketua kelas kita kan? Si Joni?"


Nia menepuk jidatnya. "Bukan. Bukan Joni."


"Terus siapa dong?"


"Pithecanthropus Erectus alias buaya Bantar Gebang alias Ikbal Navarro."

__ADS_1


"What?"


Teriakan terkejut Vina membuat semua orang yang ada di taman sekolah itu kompak menghentikan aktivitasnya masing-masing. Termasuk Ikbal yang ternyata mengintip Vina diam-diam dari balik tempat tongkrongannya. Ikbal bertanya-tanya apa yang sedang pacar onlinenya perbincangkan dengan Nia hingga tak membalas pesannya. Ikbal masih sibuk bertanya-tanya hingga dirinya refleks bersembunyi ketika Vina tiba-tiba menoleh ke arah tempat tongkrongannya dengan tatapan bengis!


" … Berani-beraninya itu makhluk astral ngerjain gue. Awas aja. Lagian ngapain dia mainan Zet sih anjir. Gabut banget apa?"


Nia tertawa. "Bukan gabut. Tapi dia emang beneran suka sama lu, Vin."


"Idih ogah amat gue sama bekas. Nih ya, gue kasih tau. Lu pasti kaget. Ini kejadiaannya pas kita belom pindah dari Lentera Dunia. Pas gue mau bayar utang pulsa sama si Bayu, gue liat dia lagi ciuman sama Kinan di parkiran."


"Oh itu gue juga liat. Sempet gue foto malah. Tapi udah gue apus."


"Nah-nah lu juga liat ternyata. Itulah kenapa gue ogah sama dia walopun gue tau dia udah suka sama gue dari zaman baheula."


"Jadi lu gak mau sama dia karna dia udah pernah ciuman gitu?"


"Yaiyalah," jawab Vina dengan nada sedikit ngegas!


"Terus kalo sama cowok laen lu mau? Emang lu tau mereka udah ciuman atau belom? Mereka pasti pernah ciuman cuma gak ketauan kaya Ikbal aja. Iya kan?"


Vina tak menyahut, fokus mencerna ucapan Nia.


"Tapi wajar sih kalo lu nyari yang belom pernah ciuman," imbuh Nia seraya beranjak. "Karna lu kan belom pernah. Tapi, Vin, gak ada orang yang sempurna. Gue juga gak bakal setuju lu jadian sama Ikbal misal lu gak bisa nerima masa lalunya. Karna walau gimanapun gue Kakaknya Ikbal, dan gue punya hak milihin cewek yang bener buat dia." Nia berlalu.


...•▪•▪•▪•▪•...


*Kebiasaan buruk yang dapat menghambat produktivitas dan menciptakan stres. Istilah ini merujuk pada kecenderungan menunda-nunda tugas yang seharusnya dilakukan dan memprioritaskan hal-hal yang kurang penting.


"Itu kenapa pasien rumah sakit lari-larian gitu dibiarin ya," gumam Pak Ucil.


"Apa, Pak?"


Spontan Pak Ucil menoleh pada Zaim yang duduk di kursi belakang, lalu menunjuk sesuatu di jpo*. "Ituloh, Den. Kenapa pasien rumah sakit dibiarin lari-lari ya? Kabur apa gimana tuh?"


*Jembatan penyeberangan orang.


Zaim tak menjawab, hanya menoleh ke arah Pak Ucil menunjuk. Dan betapa terkejutnya Zaim saat mendapati orang yang berlarian di jpo itu adalah Ferdi. Benar, Ferdi, si duda kesepian yang dulu selalu dipercaya Nila untuk menjaga Nia kecil. Zaim bertanya-tanya kenapa Ferdi berkeliaran dengan pakaian pasien rumah sakit dan seolah tengah diburu oleh sesuatu yang sangat menakutkan? Di tengah usaha keras Zaim memikirkan jawabannya, dua orang pria berseragam Atlas* tiba-tiba muncul dan menyeret Ferdi yang meronta kesetanan.


*Julukan untuk kediaman/keluarga besar Joffrey Scott Atlash, hidden crazy rich Jakarta Barat.


"Loh-loh, itu cowok-cowok pake seragam item-item itu bukannya anak buahnya Pak Joff? Mau di bawa ke ma–"


"Pak Ucil," sela Zaim pada Pak Ucil. "Kita mampir ke Atlas dulu."

__ADS_1


"Oh baik, Den."



Atlas, kediaman bergaya kerajaan seperti dalam komik fantasi itu tidak sembarangan menerima tamu. Apalagi tamu yang datang di pagi buta tanpa membuat janji terlebih dahulu. Rasanya didepak sudah pasti akan menjadi akhir. Namun nyatanya gerbang raksasa dengan ukiran wajah-wajah para penguasa Atlas terdahulu itu terbuka untuk Zaim. Zaim pun masuk, dan bergegas menuju pintu utama di mana di sana dirinya sudah disambut oleh kepala pelayan beserta barisan anak buahnya yang berjejer tak kalah rapi dari pasukan baris berbaris.


"Tuan Joff sudah menunggu, Pak. Mari silahkan. Sebelah sini."


Zaim hanya mengangguk dan mengekori Kepala Pelayan Atlas.


"Silahkan, Pak," imbuh Kepala Pelayan Atlas. "Semoga Anda menghabiskan waktu yang menyenangkan."


KLEK


"Gua udah prediksi lu bakal ke sini cepet atau lambat. Tapi gua kira besok gitu. Atau hari ini tapi rada siangan dikit."


Zaim hanya tertawa menanggapi Joff.


"Mau sarapan dulu atau mau to the point aja?"


"Dua-duanya boleh," balas Zaim akhirnya seraya membalas pelukan Joff.


"Mau request menu sarapan?"


"Yang ada aja."


"Oke."


Joff membunyikan lonceng sebanyak dua kali, dan deretan kereta makanan yang diantar oleh koki langsung muncul satu per satu memasuki ruang kerjanya. Sambil menyantap sarapan empat sehat lima sempurna itu, Joff mulai menjabarkan maksud to the pointnya. Selama beberapa bulan terakhir Joff memang tengah gencar memburu orang-orang yang sudah membuat bisnisnya rugi demi memberi mereka pelajaran. Namun di antara orang-orang tersebut, ada dua orang yang sampai sekarang masih belum merasakan pelajaran dari penguasa Atlas itu.


" … Mereka lumayan licin"


"Siapa?"


Joff menenggak habis winenya sebelum menjawab, "Wafiq Ma'ruf sama bosnya, Safi."


"Mereka bikin bisnis lu rugi juga? Kok bisa?"


"Ternyata anak buah lu yang hampir mati itu belom ngasih tau lu apa-apa ya."


Zaim tak menjawab, sibuk memikirkan siapa di antara Bastian, Sobari serta Jani yang hampir mati dan bungkam sampai detik ini!


"Gua pikir orang yang harus bertanggung jawab A110, mantan anak buah gua. Tapi ternyata dia cuma kaki tangan. A110 disuap kakak ipar lu, Kasih. Terus Kasih dicuci otak sama Emily, dan Emily dilindungin sama Safi. Kecuali Wafiq sama Safi, semuanya ada di Atlas. Lagi gua kasih pelajaran," imbuh Joff.

__ADS_1


Fakta mencengangkan yang baru saja ditangkap telinganya membuat Zaim tak kuasa berucap. Apalagi kata memberi pelajaran yang terus diulang oleh Joff, membuat Zaim bergidik sejadinya. Kini terjawab sudah alasan Ferdi berlarian di jpo seperti orang gila. Ferdi pasti berniat kabur setelah selesai diobati. Karena Ferdi tahu akan kembali dikirim ke Atlas untuk disiksa. Memang begitu cara Joff memberi pelajaran. Setelah ditangkap, mereka akan disiksa, diobati, disiksa lagi, diobati lagi, dan begitu seterusnya sampai mereka lebih memilih mati!


"Kalo lu mau liat mereka, dengan senang hati bakal gua anter. Tapi mending rada nanti. Daripada sarapan lu keluar lagi." Joff tersenyum seraya mengadu gelas winenya dengan gelas wine Zaim. "Cheers."


__ADS_2