
GLEK GLEK GLEK
Suara minuman yang ditenggak cepat itu seketika mengembalikan air muka Nia dan sahabat sehati sesanubarinya yang semula pucat pasi. Kelas olahraga memang bencana. Kaos olahraga yang memperlihatkan lekuk tubuh para siswi serta gerakan-gerakan olahraga yang kerapkali dijadikan "candaan" para siswa, membuat kelas olahraga resmi mendapat julukan kelas bencana!
"Liat deh mukanya si Pithecanthropus Erectus sama antek-anteknya. Cabul banget anjir." Vina mendecak, "Kenapa kita harus sekelas sama trio cabul itu sih? Dan kenapa juga si Esa sama Falah pindah ke sini juga?"
"Jodoh kan emang gitu." Nia beranjak.
"Dih." Vina ikut beranjak. "Mereka dari tadi ketawa-ketawa kaya orgil gitu pasti lagi ngomongin yang jorok-jorok."
"Yaiyalah. Liat dong muka mereka makin gosong gara-gara dosanya udah lumer-lumer."
Spontan Vina terbahak. "Udah yuk ah. Ganti baju terus ke kantin. Hari ini gue mau makan …"
Pilihan yang tepat. Memang, daripada memikirkan apa maksud dari tawa mencurigakan Ikbal dan antek-anteknya, lebih baik bergegas mengantri di ruang ganti untuk kemudian mengisi perut di kantin. Terlihat Nia serta Vina bergandengan menuju kantin. Setelah mengelilingi satu per satu gerobak makanan, akhirnya Nia dan Vina menarik kursi pedagang soto mie bogor.
"Risolnya pisah ya, Bu."
Ibu pedagang mengangguk menanggapi Vina. "Minumnya udah pesen belom?"
"Udah, Bu. Tadi pesen es kacang merah di sana. Nanti dianterin ke sini kok sama Abangnya."
"Oh yaudah kalo gi–, eh, Pak Denar. Soto mie satu, banyakin tomat, minumnya es tawar, terus dianter ke ruangan Kepsek di lantai dua."
"Iya, Bu. Tapi hari ini saya mau makan di tempat aja," balas Denar pada ibu pedagang sambil tersenyum.
"Silahkan kalo gitu, Pak." Ibu pedagang buru-buru mengelap salah satu meja yang kosong. "Silahkan, Pak Denar."
"Di sini aja, Bu." Denar menarik kursi di samping Nia. "Saya boleh join kan?"
Nia tersenyum paksa. "Oh, boleh, Ka-eh, Pak, boleh."
Ini bencana! Benar, inilah bencana yang sesungguhnya. Semua pasang mata di kantin yang seramai pasar malam itu mendadak tertuju sepenuhnya pada salah satu meja di belakang gerobak soto mie bogor. Dan jika kamera ponsel para makhluk-makhluk julit sudah siap di posisi, esok pasti nama Nia akan kembali menempati posisi teratas di semua kolom pencarian.
"Gimana? Kamu betah di sini?"
"Hah? Oh, iya betah, Ka, eh, Pak, betah." Lagi-lagi Nia tersenyum paksa.
"Syukur kalo gitu." Denar mulai mengaduk isi mangkok makanannya. "Ternyata kamu gak cuma udah gede aja tapi udah berubah juga ya."
Spontan Nia menoleh pada Denar.
__ADS_1
"Soalnya baru ini saya ngeliat kamu takut sama saya. Padahal dulu kamu sering ke kontrakan saya sendirian," imbuh Denar sambil menggeser kotak tisu.
Nia tersedak, dan refleks menarik selembar tisu uang baru saja digeser Denar.
"Semua orang emang bakal berubah sih. Tapi saya gak nyangka kamu bakal seberubah itu."
Nia berdeham, "Ka–, eh, Bapak masih tinggal di Kemuning?"
"Enggak. Sekarang saya tinggal di sekitar sini."
Nia melirik cincin di jari manis Denar. "Mmm, Bapak udah nikah?"
Denar mengangguk. "Anak saya tiga. Cowok dua cewek satu" Denar diam sesaat. "Tapi boong."
Nia kembali tersedak, kali ini diikuti Vina yang menganggap dirinya kentang. Gawat. Bisa-bisa kotak tisu milik ibu pedagang soto mie bogor ludes karena Denar yang tak segera angkat kaki. Masalahnya sedari tadi Denar hanya mengaduk-aduk isi mangkoknya dan hanya bersemangat menanyai Nia. Dan dari sekian banyak tanya Denar, tanya terakhirnyalah yang paling pas dijuluki bencana!
"Kamu udah ngapain aja sama Zaim?"
"Hah? Eh, mmm, itu, kayanya itu, mmm, privacy deh, Ka– eh, Pak," jawab Nia pada Denar.
"Saya cuma khawatir, dan cuma mau ngingetin aja kok." Denar meletakkan sendoknya di atas garpu. "Cowok yang bener itu gak bakal nyentuh kamu sebelum halal." Denar menoleh pada Nia. "Dan cowok yang bener itu gak bakal ngajakin kamu pacaran. Karna pacaran itu jalur ekspres menuju perzinahan, Dek."
...•▪•▪•▪•▪•...
"Siap. Tapi ke kantor yang mana, Den?"
"Zet."
"Siap meluncur, Den." Pak Ucil, sopir pribadi Zaim langsung menyalakan mesin mobil meninggalkan Andalan Teladan.
Andalan Teladan? Ya, sekolah Nia yang baru. Dua jam yang lalu, tepatnya usai rapat evaluasi karyawan hotelnya, Zaim bergegas menuju sekolah Nia. Bukan untuk mengantar Nia pulang atau mengajaknya makan siang bersama, melainkan untuk meredakan keresahan hati. Entah kenapa sejak membuka mata pagi ini, Zaim merasa sangat resah. Dan sejauh ini pemicu utama beragam emosi yang dirasakan Zaim hanya satu, sang kekasih!
Dan rupanya keresahan Zaim bukan sekadar alarm dari mentalnya yang mengeluh meminta istirahat. Keresahan itu, rupanya mengacu pada Monica, kakak sambung Nia. Zaim tiba di Andalan Teladan bersamaan dengan bel pulang serta, Monica. Alih-alih menghentikan Monica yang tujuannya sudah jelas untuk bertemu Nia, Zaim malah meminta Pak Ucil untuk balik kanan dan memarkirkan mobil mewahnya di semak-semak.
Tak lama, terlihat Nia dan Vina muncul dari gerbang Andalan Teladan. Monica pun langsung keluar dari taksi, berjalan setengah berlari menghampiri dua primadona baru Andalan Teladan itu, dan membicarakan sesuatu yang berhasil membuat Nia naik ke dalam taksi. Zaim hanya memerhatikan dari kaca mobilnya yang dibuka setengah, tanpa berniat melakukan apapun. Sia-sia saja. Ya, sebab cepat atau lambat Nia akan bertemu Monica.
"Saya gak bisa selamanya nyembunyiin dia."
"Setuju, Den. Lama-lama Non Nia pasti bakal tau," balas Pak Ucil pada Zaim. "Soal Den Zaim nyogok Ketua Rt Kemuning sama warganya buat nyembunyiin Non Nia dari ibunya ju–"
"Juga lama-lama bakal ketauan."
__ADS_1
"Betul, Den."
Zaim kembali menghela napas. "Kira-kira konsekuensinya apa kalo dia tau saya nyogok mereka?"
Pak Ucil diam sesaat, tampak berpikir. "Tergantung sih, Den." Pak Ucil kembali diam. "Kalo Non Nia benci sama ibunya ya gak akan ada konsekuensi. Kalopun ada pasti kecil. Tapi kalo sebaliknya, ya gawat, Den."
Zaim mengangguk-angguk. "Dia pasti langsung minta putus."
"Ya jangan mau diputusin kalo Den Zaimnya suka."
"Saya gak suka. Tapi sayang."
"Emang beda, Den?"
"Kata pakar cinta sih beda. Suka itu hal yang menuntut. Cinta itu saling memberi dan menerima. Kalo sayang itu, ikhlas."
"Kalo boleh tau pakar cintanya Den Hendri apa Den Bastian, Den?"
"Mario Teguh," sahut Zaim.
"Oh, berarti bener. Kalo pakar cintanya Den Hendri atau Den Bastian mah jangan dipercaya. Wong cah loro kae ora tau kenal wedoan, Den. Mung podo mbalik merkicuk tapi raiso digugu*."
*Orang anak dua itu gak pernah kenal cewek. Cuma pada pinter ngomong tapi gak bisa dipercaya.
"Artinya?"
Pak Ucil berdeham, "Artinya percaya sama Pak Mario Teguh aja, Den." Pak Ucil berdeham lagi, "Terus ada tugas apalagi buat saya, Den?"
"Pantau terus aja Salih sama warganya. Laporin pergerakan mereka ke saya setiap hari. Kalo ada yang bertingkah langsung tindak."
"Siap laksanakan, Den."
"Terus Den Zaim udah ada rencana misal nanti Non Nia beneran minta putus?"
"Iya. Mundur."
Spontan Pak Ucil berteriak, "Kok segitu doang perjuangan Den Zaim buat Non Nia? Sayanglah, Den. Udah setaun pa–"
"Maksud saya mundurin mobilnya."
Pak Ucil refleks menginjak rem. "Eh? Di sini, Den?"
__ADS_1
"Bukan, tapi di sana." Zaim menunjuk KUA. "Soalnya rencana saya ada di sana."