
Terlihat Ikbal tengah berjongkok di depan gerbang rumahnya sambil menguap, mengorek telinga, dan menggaruk-garuk rambutnya yang sama sekali tidak gatal. Minggu pagi yang menyebalkan! Kenapa? Karena hari ini, untuk yang pertama kali, Ikbal harus menyiapkan sarapan. Sejujurnya bukan keharusan. Ikbal bisa saja memimpikan gadis-gadis cantik hingga jam satu siang seperti hari minggu yang lalu-lalu, tetapi insiden semalam sungguh sangat mengusik nuraninya.
“ ... Roti-roti. Roti coklat roti keju Purnami Bakery. Roti-roti. Roti susu roti berry Purnami Bakery. Ro—“
“Eh, roti.” Spontan Ikbal beranjak. “Bang, woy, beli roti, Bang,” teriak Ikbal.
“Oh, iya.”
“Ada roti apaan aja? Roti tawar ada?”
“Ada dong, Mas. Mau tawar biasa, susu, apa gandum?” Abang Roti bergegas turun dari motor dan membuka gerobak rotinya.
“Tawar yang biasa aja, Bang, satu.”
“Oke siap. Apalagi, Mas?”
Ikbal memasukkan roti goreng ayam ke dalam plastik yang dijembreng Abang Roti. “Ini tiga. Sama yang rasa pisang keju satu, pisang coklat dua ...”
Setelah pulang dengan membawa sekantong plastik penuh berisi roti dengan aneka rasa, Ikbal kembali berjongkok di depan gerbang rumahnya, kali ini sambil memeluk empat buah mangkuk berukuran sedang. Masih kurang. Ikbal khawatir Nia pun sang ibu tak berselera menyantap roti untuk sarapan. Itulah kenapa Ikbal berniat menunggu Abang-abang selanjutnya. Abang Bubur Ayam dan Abang Bubur Kacang Ijo.
“Tapi kalo pada gak selera juga sama bubur gimana ya? Oh iya, nasi uduknya Bu Jum.” Ikbal menyabet hoodienya yang tersampir di kursi meja makan dan berlari keluar rumah.
Memang, feeling tak boleh diacuhkan begitu saja meski sering meleset! Beruntung Ikbal menyiapkan beberapa macam menu sarapan. Jika tidak, Nia serta Ushi pasti hanya akan turun ke lantai satu untuk mengambil air mineral di dalam lemari pendingin. Namun sayangnya feeling Ikbal tak mengatakan apapun tentang apa yang harus disiapkannya untuk mengatasi atmosfer yang terlampau hening itu.
“Jadi kamu mau gimana sama si dajjal itu?” Ushi beranjak, meletakkan mangkuk bubur ayamnya di tempat cucian piring.
“Buat sementara aku gak mau bahas itu dulu, Bu. Aku suka tiba-tiba trauma kalo inget dia.”
“Ya jelas kamu traumalah. Dia kan mukulin kamu dari bayi sampe gede. Bahkan di depan Burhan aja dia berani mukul kamu ...”
*FLASHBACK ON*
Ushi berlarian menyusuri koridor rumah sakit, mencari-cari kamar bernomor enam belas. Dan akhirnya, ketemu. Namun Ushi tak segera memasuki kamar tersebut, sebab ada bisik-bisik yang mengganggunya. Terdengar dua orang suster yang baru saja keluar dari kamar nomor enam belas melewati Ushi sambil menggunjingkan kisah yang menyayat hati. Pasien di kamar nomor enam belas, Burhan, tidak dijenguk siapa pun meski sudah dirawat sejak dua pekan silam. Hanya putri Burhan yang masih kecil yang selalu setia mendampinginya.
" … Istrinya sempet ke sini sekali. Itu pun gak buat jenguk tapi minta duit."
"Ya ampun. Terus-terus?"
"Terus aku denger istrinya marah-marah sambil maki-maki. Istrinya tuh kaya minta duit buat bayar utang gituloh. Tapi Pak Burhannya bilang gak bisa karna uangnya buat kuliah anaknya. Terus anaknya nangis kan tuh. Eh, malah ditampar sama istrinya. Ya itu terus dari situlah kondisi Pak Burhan makin drop."
"Gila-gila. Tega banget nampar darah daging sendiri. Duh, kasian banget itu anaknya Pak Burhan. Gimana ya nasibnya kalo Pak Burhan meninggal?"
"Taulah. Paling ditaro panti. Soalnya abis dari sini katanya istrinya Pak Burhan naik taksi ke bandara."
__ADS_1
"Ya Allah. Duh, udah jangan cerita lagi. Bisa nangis aku."
*FLASHBACK OFF*
“ ... Untung waktu itu si dajjal itu udah kabur ke Taiwan. Kalo gak, beneran Ibu matiin di tempat tuh.”
Ikbal tersedak mendengar apa yang baru saja dikatakan Ushi, begitu pun dengan Nia.
“Pokoknya Ibu gak terima,” tambah Ushi. “Ibu yakin Zaim juga gak terima.” Ushi berganti menyendok mangkuk bubur kacang ijo. “Pasti sekarang Zaim udah nyampe Taiwan.”
Nia kembali tersedak. “Maksudnya Zaim udah tau soal ini? Ibu ngasih tau Zaim?”
“Orang bucin tuh gak perlu repot-repot dikasih tau.”
“Semalem Kak Zaim tiba-tiba ke sini,” timpal Ikbal pada Ushi.
Nia menoleh pada Ikbal. “Terus kok dia bisa tau?”
“Sahabat sehati sesanubari lu yang kaya speker kampanye noh yang ngasih tau.”
Pantas meski cici-cici uzur pemburu matahari pagi sudah kembali dari berjemur, batang hidung Vina belum juga kelihatan. Ternyata Vina telah menambah minyak ke dalam api yang berkobar setinggi gedung pencakar langit! Semalam setelah menumpahkan tangisnya, Nia langsung mengurung diri di kamar. Tangis Nia yang enggan diajak kompromi membuatnya menyerah. Nia pun tertidur dan pasrah saat dihampiri kereta mimpi buruk.
Nia buru-buru beranjak. “Duh, gawat-gawat.”
Ikbal menggeleng-geleng. “Gak ada yang bagus, Bu, kalo Duplikat L.K udah turun tangan.”
“Kok Duplikat L.K sih? Orang Ibu lagi ngomongin Zaim juga. Lagian siapa juga tuh Duplikat L.K?”
Ikbal menjumput satu per satu sampah plastik roti di meja. “Mending Ibu gak usah tau. Makan aja, Bu, makan."
...•▪•▪•▪•▪•...
“Aku lagi sama klien, Sayang.” Suara Zaim terdengar berbisik melalui panggilan telepon.
“Aku mau video call sebentar.”
Tak ada sahutan dari Zaim, namun tak berselang lama wajah tampannya memenuhi layar ponsel Nia. Nia pun refleks menghela napas lega.
“Aku telfon balik nanti pas jam makan siang ya?”
“Abis makan siang ada schedule apalagi?”
“Gak ada sih. Kenapa? Mau makan siang bareng?”
__ADS_1
“Iya,” balas Nia. “Di bukit yang waktu itu.”
“Yaudah nanti aku jemput. Sekarang aku tutup ya ...”
Nia kembali menghela napas lega, saat panggilan singkat itu diakhiri Zaim. Ternyata kali ini Zaim tidak langsung bertindak seperti saat Nia dibully dan dilecehkan di sekolah. Padahal Nia sudah waswas dengan nasib Monica dan Nila yang kemungkinan besar akan berakhir tragis melebihi nasib Kinan dan kawan-kawan. Syukurlah pekerjaan Zaim membuatnya sibuk. Itu yang Nia pikirkan, padahal yang sebenarnya terjadi adalah.
“Orang gila.” Monica muncul dari bawah kolong meja.
“Baru nyadar?” Zaim memberikan lima lembar uang seratus ribu pada seorang pelayan kafe. “ Makasih ya.”
“Sama-sama Pak Zaim,” sahut pelayan pria itu seraya berlalu.
“Jadi gimana? Deal?”
Monica menghela napas menanggapi Zaim. “Gimana bisa deal? Saya dateng jauh-jauh ke sini tuh buat bawa Nia ke Mamah saya. Mamah saya mau minta maaf langsung sama Nia.”
“Saya yakin gak bakal dimaafin buat sekarang. Jadi saya kasih waktu seminggu. Sebelom saya bikin kamu gak bisa keluar dari Indonesia.”
Cowok sinting! Monica terus menyerukan dua kata itu dalam benaknya. Setelah memaksanya bersembunyi di kolong meja dan menyuap seorang pelayan kafe untuk berpura-pura menjadi kliennya, Zaim dengan luwesnya mengelabui Nia. Seharusnya Monica tidak membukakan pintu apartemennya untuk Zaim yang berkunjung di pagi buta. Tetapi Monica bisa apa jika pengelola apartemen bahkan memberikan kunci cadangan pada Zaim dengan sukarela?
“Saya udah janji sama orangtua saya, terutama sama Mamah saya. Saya bakal bawa Nia ke Taiwan.”
“Kalo gitu ingkarin dong demi hidup kamu.” Zaim menyeruput susu cokelatnya.
“Sehari aja. Tolong izinin saya sehari aja bawa Nia ke Taiwan. Biar Mamah bisa tenang sekali pun setelahnya dia mungkin bakal meninggal.”
Zaim hanya menjawab Monica dengan gelengan mantap.
“Kalo kamu gak percaya kamu bisa ikut. Bu Ushi sama anaknya juga ikut sekalian gak apa-apa. Sa--”
“Awalnya saya pikir kamu baik sama Nia, tapi ternyata saya salah,” sela Zaim. “Yang kamu pikirin cuma Mamah kamu. Kamu gak mikirin gimana perasaan korban pas ditemuin sama penjahatnya. Ya, walopun kamu bilang penjahatnya udah tobat.”
DEG
“Monica, saya orang gila loh,” tambah Zaim seraya meletakkan tiga lembar uang seratus ribu di bawah cangkir susu cokelatnya.
DEG DEG
Zaim masih melanjutkan, “Dan orang gila tuh gak boleh dipancing sama hal-hal gila.” Zaim beranjak. “Jadi, saya kasih kamu waktu seminggu. Oke?”
DEG DEG DEG
__ADS_1
...Ushi Widhiani...