HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
RAHASIA


__ADS_3

Vina langsung memesan ojek online, dan meminta sang driver untuk berkendara secepat mungkin menuju kediaman sahabat sehati sesanubarinya. Beberapa menit yang lalu, tak lama setelah mengantar kepulangan Nia dan Ikbal, Vina langsung masuk ke kamarnya, bersembunyi di bawah selimut Shinchan yang warnanya sudah memudar, dan bertukar pesan dengan teman-teman prianya yang tak jelas melalui DM instagr*m.


Namun kegiatan wajib Vina sebelum tidur itu seketika mandek, saat salah seorang teman pria onlinenya memberi tahu jika CEO Muezza*, Al Hakam, baru saja mengalami kecelakaan di tol arah Ciawi. Kuat dugaan kecelakaan hebat tersebut disebabkan oleh Pongpong* yang dipasang di bagasi. Al Hakam yang sempat keluar dari mobil terseret hingga sekian ratus meter, sementara sedan mewah yang dikendarainya, ringsek!


*Perusahaan milik Al Hakam yang menawarkan jasa katering diet.


*Perekam video mini yang diklaim bisa merekam apapun karena memiliki fitur tembus pandang. Pongpong juga bisa menjangkau seluruh ruangan meskipun hanya dipasang satu buah saja. Pongpong terhubung dengan aplikasi bernama serupa. Melalui aplikasi ini, pengguna Pongpong bisa memantau semua yang berhasil terekam. Kemudian hasil dari rekaman tersebut akan otomatis terunduh ke gallery dengan kualitas 1080p.


" … Mungkin lu mikir gue takut dipenjara. Tapi gak sama sekali, Nya. Bukan itu maksud gue nyuruh lu rahasiain soal Pongpong."


Nia tak memberi jawaban, hanya konsisten memamerkan wajahnya yang pucat.


"Lu masih mau sama-sama Zaim sampe akhir kan? Itulah kenapa gue nyuruh lu rahasian soal Pongpong," tambah Vina.


Nia masih membisu, dengan wajahnya yang masih pucat, dan cengkeraman tangannya di pinggiran ranjang yang masih terasa kebas.


"Tapi semuanya terserah lu, Nya. Karna lu masih punya pilihan lain. Lu bisa ngasih tau yang sebenernya ke Zaim bahkan ke Kakeknya sekarang juga."


"Cuma kita yang boleh tau yang sebenernya, Vin," balas Nia akhirnya.


Vina mengangguk mantap. "Gue bakal jaga rahasia ini seumur hidup gue, Nya. Gue janji."


Nia ikut mengangguk. "Tapi, Vin, misal kakeknya Zaim meninggal gimana?"

__ADS_1


"Kita tunggu berita terbaru soal kondisi kakeknya Zaim dulu aja baru kita pikirin lagi, Nya."


Nia hanya mengangguk pada Vina.


"Sekarang lu harus tenang. Dan plis, jangan nyalahin diri lu sendiri. Gue yang lebih salah, Nya. Semuanya …"


Vina masih menenangkan Nia yang panik, meski dirinya sendiri jauh lebih panik. Wajar. Keduanyalah penyebab kecelakaan lalu lintas yang kabarnya sampai menghancurkan separuh tol arah Ciawi, serta membuat nyawa Al Hakam berada di ujung tanduk! Meski begitu beruntung karena hanya mereka yang tahu. Padahal saat ini salah satu robot Zaim yang bertugas mengawal Nia tengah mengawasi mereka melalui mata teropong.


"Ngomong apa ya mereka? Kok mukanya sampe pada pucet begitu?" tanya Sobari dalam hati. "Perekam suaranya yang rusak, atau ini yang rusak?" Sobari mencopot headsetnya. "Kok saya gak denger apa-apa ya?"


...•▪•▪•▪•▪•...


" … Saya belum bisa ngasih kabar apa-apa karna tim dokter masih belum keluar dari ruang oprasi. Minta doanya aja ya."


"Terus Muezza bakal tetep beroprasi gak, Pak Zaim?" tanya wartawan lainnya.


Zaim tak henti menoleh ke sana ke mari, menjawab satu per satu tanya dari para awak media sembari menahan perasaannya yang sama sekali tak jenak. Meski begitu tidak hanya Zaim seorang yang digerayangi ketidakjenakan. Sang kekasih, Nia, pun sama tak jenaknya. Bersama Vina dan Ikbal, Nia terus memelototi layar televisi demi mendapat kabar terbaru perihal kondisi Al Hakam yang sejak semalam masih belum keluar dari ruang operasi.


Begitu pula dengan robot-robot Zaim yakni Bastian, Jani serta Sobari, yang meski sedang dalam misi, masih menyempatkan waktunya untuk memantau kondisi terbaru Al Hakam. Berbeda dengan Ushi yang saat ini tengah berada di Droseros, Amerika Serikat. Meski terkejut dengan musibah yang menimpa Al Hakam, Ushi tidak terlalu tertarik dengan kabar terbaru perihal kondisi Al Hakam. Rasanya sekadar prihatin saja sudah cukup bagi Ushi.


"Makasih, Do." Ushi menerima secangkir cokelat hangat dari Edo.


"Kalo kataku sih Al Hakam gak selamet. Mustahil banget soalnya, keseret sejauh itu tapi bisa diselametin. Aku boleh nanya sesuatu gak, Shi?"

__ADS_1


"Apa?"


"Misal bener akhirnya Al Hakam gak selamet, kamu tetep gak bakal ngerestuin hubungan Nia sama Zaim Alfarezi?"


Ushi diam, meski begitu, isi kepalanya langsung kocar-kacir!


"Kamu gak salah kok khawatir sama Nia yang mungkin bakal trauma kalo dia tau Al Hakam gak ngerestuin hubungannya sama Zaim Alfarezi karna Bapak kamu udah bunuh kakaknya Zaim. Tapi menurut aku itu gak ada kaitannya loh, Shi."


Ushi menoleh pada Edo yang sedari tadi memandang keluar jendela. "Maksud kamu?"


"Maksud aku, Nia bisa trauma kalo pemicunya berkaitan. Misal, ibu tirinya tiba-tiba muncul di depan Nia. Kalo gitu barulah tuh Nia bakal trauma. Kalo konflik pribadi Al Hakam sama Bapak kamu mah gak bakal bikin Nia trauma, Shi."


Ushi menghela napas. "Yang aku khawatirin tuh kalo Zaim tau alesan Kakeknya gak ngasih restu dan mutusin Nia. Emang kamu gak bisa liat kalo Nia tuh suka banget sama Zaim? Ditinggalin orang yang dia suka banget gimana gak bakal bikin trauma coba hah?"


"Kok kamu bisa seyakin itu kalo Zaim Alfarezi bakal ninggalin Nia misal kelak dia tau alesan Kakeknya gak ngasih restu? Nah kalo sebaliknya gimana?"


Ushi menyeruput cokelat hangatnya. "Gak mungkin sebaliknya. Aku yakin banget."


"Keyakinan kamu tuh ada campuran bencinya Shi, ati-ati."


Ushi kembali diam, pun menyeruput cokelat hangantnya.


"Gimana kalo kamu tanya langsung aja ke Zaim Alfarezi? Karna bisa aja Zaim udah tau alesan kamu pindah ke sini. Kalo ternyata bener dia udah tau dan tetep lanjutin hubungannya sama Nia, berarti sia-sia aja kan kamu pindah ke sini. Terus yang ada kamu yang malah jadi pemicu trauma Nia karna diem-diem nyoba misahin dia dari Zaim Alfarezi."

__ADS_1


Bak dihunjam belati berkali-kali, jantung Ushi seketika terasa sangat nyeri, sesaat setelah mendengar apa yang baru saja dikatakan kekasih tak sampainya. Bagaimana bisa Ushi tidak pernah berpikir sampai ke sana? Bahwa alih-alih Zaim, Al Hakam, sang ayah, atau yang lain, ternyata dirinya sendirilah yang akan menjadi pemicu utama trauma putri semata wayangnya. Benarkah selama ini Ushi hanya berpegang erat pada keyakinan yang telah dicemari rasa benci pada Al Hakam?


Edo berbalik, menghampiri Ushi. "Gini aja, Shi. Mendingan kamu pending dulu renov rumah kamu yang di sini, terus kita balik ke Jakarta besok. Kita temuin Zaim buat bahas ini. Oke?"


__ADS_2