
Zaim berkeliling melihat-lihat ruang kerja Joff sambil menunggunya selesai menjawab telepon penting. Akhirnya hari itu Zaim mengambil cuti sehari dan terpaksa menyerahkan semua pekerjaannya pada sekretaris barunya, Suseno Santoso, alias Om Santos, alias ayah Vina. Meski begitu Zaim sudah berjanji akan menghadiahi Santos status sebagai sekretaris tetapnya jika esok Santos tak mengeluh akan penderitaan dadakan yang diberikannya hari ini.
Zaim masih asyik berkeliling, hingga lambat laun langkahnya terhenti di depan sebuah foto raksasa yang tergantung sangat tinggi di dinding. Itu adalah foto pernikahan Joff dan sang istri yang kabarnya tak kalah indah dari Dewi Aphrodite. Zaim memandang lekat potret istri Joff. Bukan karena terpesona melainkan karena sudah sangat tidak sabar melihat Nia tertawa bahagia dalam pelukannya sembari mengenakan gaun pengantin seperti itu.
Merasa mendadak diserang rasa rindu pada sang kekasih, Zaim tanpa sadar menelepon Nia. Ternyata Nia sedang berada di kelas matematika. Zaim pun meminta maaf karena tidak memikirkan apapun selain rindunya yang menggebu dan buru-buru mengakhiri telepon. Tetapi Nia menahan Zaim dengan alasan sang guru yang sedang tidak ada di tempat. Keduanya pun mengobrol. Namun entah kenapa Nia merasa itu tidak seperti obrolan yang biasanya.
" … Terus kamu gak kerja?"
"Enggak, Sayang. Aku lagi di rumah temen. Aku mau liat ruang bawah tanahnya," balas Zaim pada Nia.
"Temen siapa? Pak Bastian?"
"Bukan." Zaim menoleh, melirik potret Joff. "Dia temen seperjuangan aku."
"Siapa?"
"Nanti aku kenalin langsung aja ya."
"Iya. Tapi kenapa sepi banget?"
"Soalnya aku sendirian. Temen aku lagi keluar ngangkat telfon."
"Oh gitu." Nia diam cukup lama sebelum melanjutkan, "Kamu nelfon beneran karna iseng?"
"Kok iseng sih? Dibilang karna kangen."
Nia mendecak, "Hari ini mau makan siang bareng gak? Tadi pas berangkat sekolah aku liat ada restoran ayce* tapi aycenya seblak sama baso aci."
*Ayce atau All You Can Eat merupakan restoran yang mengusung konsep makan sepuasnya dengan hanya sekali bayar.
"Yaudah nanti kabarin aja kalo kamu udah pulang sekolah. Biar aku jemput."
"Iya yaudah. Kalo gitu aku matiin ya. Guru aku lagi otw kelas katanya."
"Tunggu, Sayang. Masih ada yang mau aku omongin. Setengah menit aja."
"Katanya nelfon karna rindu. Emang ya. Gak ada yang murni di dunia ini. Pasti ada campurannya biarpun sedikit."
__ADS_1
Spontan Zaim tertawa menanggapi Nia.
"Dih malah ketawa. Cepetan mau ngomong apaan?"
Zaim berdeham, "Iya jadi aku cuma mau minta maaf kalo selama jadi pacar kamu, aku masih banyak kekurangan. Maaf kalo aku sering bikin kamu kecewa ya, Sayang. Aku bukan gak mau terbuka atau gak percaya tapi ada beberapa hal yang emang gak bisa aku bagi ke kamu walopun kamu pasangan aku. Tolong ngerti ya. Dan tolong dukung misi aku buat cuma bikin kamu bahagia."
"Apa sih tiba-tiba ngomong gitu."
"Kalo ini baru iseng." Zaim tertawa lagi.
"Dih. Yaudah aku matiin ya. Love you. Sampe nanti."
"Love you too, Sayang."
...•▪•▪•▪•▪•...
KLEK
"Selamat datang di nerakanya Atlas," ujar Joff sembari mempersilakan Zaim memasuki ruang bawah tanahnya.
Kondisi keempatnya tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata saking sadisnya. Wajar Joff menyarankan Zaim untuk menunggu satu jam setelah sarapan. Andai Zaim menolak, pasti saat ini dirinya sudah kehilangan wibawa karena muntah. Zaim tak tahu siksaan apa yang diberikan Joff pada keempat orang berpenyakit hati itu. Tetapi jelas semua kuku dan gigi mereka dicabut paksa, telapak tangan serta kaki mereka dibakar, dan wajah mereka, dikuliti!
"Pak Zaim, tolong saya, Pak. Sumpah saya cuma disuruh nongolin muka saya di depan Nia biar trauma masa lalunya kambuh. Tapi si Denar tiba-tiba muncul nyelametin Nia. Saya panik tapi sumpah saya gak ada niat buat kabur." Ferdi menunjuk A110. "Saya kabur karna dia nodongin pistol ke arah saya. Dia mau bunuh saya, Pak."
A110 menghela napas. "Udah saya bilang bukan kamu yang mau saya bunuh tapi Denar."
"Tapi tetep aja abis Denar saya juga bakal jadi korban selanjutnya kan? Ha–"
"Tutup mulut mereka," sela Joff sembari melemparkan lakban pada salah seorang anak buahnya. "Calon mayat gak boleh banyak ngomong. Suara kalian tuh bikin malaikat maut migren. Jadi biar saya aja yang lanjutin, oke?"
Ferdi mengangguk-angguk menanggapi Joff. Pun A110 meski mengangguk lemas karena tengah di ambang sekarat.
"Pas A110 mau nembak Denar, Sobari keburu nembak dia duluan. Dari situ situasi mulai kacau karna A110 ninggalin jejak lewat pistolnya yang berhasil diamanin Sobari. A110 dikejar Sobari tapi berhasil kabur. A110 lanjut ngejar Denar dan niat bunuh dia yang adalah saksi. Tapi A110 salah tembak. Yang ditembak ternyata warga sipil yang bajunya sama sama Denar. Terus A110 kabur tapi dihadang Sobari. Ditembak jugalah Sobari. Bisa tebak lanjutannya, Za?"
"Tapi ternyata Pak Sobari masih hidup karna pake rompi anti peluru. Pak Sobari langsung jadiin itu kasus dan mulai dari situlah bisnis Atlas rugi. Dan makin rugi karna citra Atlas mulai ancur karna lu sering keluar masuk kantor polisi buat menuhin panggilan."
Joff bertepuk tangan. "Bingo. Tapi setelah gua cari tau ternyata yang harus bertanggung jawab sama masalah ini tuh bukan A110 tapi Safi."
__ADS_1
"Apa? Safi?"
"Iya." Joff menoleh pada Emily. "Jelasin, Sayang."
Emily tak memberi respon pada Joff. Wajar. Kondisi mantan pramugari maskapai ternama itu bahkan tidak jelas. Entah di ambang sekarat sama seperti yang lain atau malah sudah menghadap Sang Pencipta! Tetapi ketika anak buah Joff yang berada dekat dengan Emily menyiramnya dengan air es, Emily pun langsung menggeliat. Di tengah kesadarannya yang belum sepenuhnya terkumpul, Emily menjelaskan dengan suara parau.
"Safi tiba-tiba dateng ke penjara. Dia bilang mau bales dendam sama kamu. Terus dia nawarin kerja sama sama aku, Bagas, Ken Izanagi, sama Heri. Tapi yang nerima tawaran itu cuma aku. Karna aku benci kamu, benci kakak kamu, dan terutama Kasih. Aku benci dia yang biasa aja tapi bisa punya segalanya. Bahkan setelah gila pun dia masih bisa punya cowok yang cinta mati sama dia. Aku be–"
"Tutup juga mulutnya," potong Joff.
Anak buah Joff yang berada di dekat Emily langsung bergerak membungkam mulut Emily dengan lakban hitam.
"Bisa nebak lagi lanjutannya, Za?"
Zaim menggeleng. "Gua perlu tau dulu motifnya Safi."
"Jadi awalnya Safi mikir kalo kegagalannya jadi raja tuh karna Bagas, mantan menantunya. Tapi setelah dia pikir-pikir lagi ternyata lebih ke karna lu. Maksudnya kalo waktu itu lu nyelesaiin kasus video porno itu secara tertutup, masyarakat kan gak bakal nyangkut-nyangkutin Safi sama Bagas yang adalah pelaku sebenernya video porno itu. Ples, gak akan mengaruhin pemilunya."
Zaim diam, tenggelam dalam pikirannya. Dalam hati Zaim sudah bertekad untuk menyembunyikan fakta itu dari Hakam. Sebab jika pengusaha terkaya nomor tiga di tanah air itu sampai tahu, Hakam pasti akan langsung menyerang Safi demi melindungi Zaim yang merupakan keluarga satu-satunya.
"Masuk akal. Terus, Ibu itu siapa?"
"Oh, dia figuran. Sama kaya Ferdi," sahut Joff pada Zaim sembari menoleh pada ibunda Nuna. "Tugasnya sama-sama mau mancing trauma masa lalu cewek lu."
"Jangan-jangan Ibu ini yang anaknya dipinjemin duit sama cewek gua?"
"Bingo lagi. Tapi anaknya gua lepas karna masih bayi. Mana bisa bayi disiksa iya kan? Gigi sama kukunya kekecilan. Apalagi badannya. Kaya boneka." Joff beranjak. "Ngomong-ngomong, Za. Kayanya lu gak tau alesan sebenernya Kakek lu nutup kantornya."
DEG
"Oh ternyata beneran gak tau," imbuh Joff seraya berjalan menghampiri Zaim. "Kakek lu sama sekertarisnya lagi ngeburu Safi. Soalnya mereka udah tau duluan soal masalah ini. Bahkan mereka dibantu sama mantan gangster asal Taiwan juga. Itulah kenapa gua gak terlalu ngoyo ngeburu Safi."
DEG DEG
Joff masih melanjutkan, "Oh iya, menurut lu nih. Cewek lu termasuk orang yang bikin Atlas rugi juga gak sih? Hm?"
DEG DEG DEG
__ADS_1