
KLEK
"Malem, Bu. Maaf saya namu malem-malem. Ada hal penting yang mau saya omongin."
"Oh iya gak apa-apa. Saya juga belum tidur kok." Ushi membuka lebar pintu rumahnya. "Masuk-masuk, Za."
"Makasih, Bu."
KLEK
Canggung. Ya, setelah pintu utama kediaman Ushi kembali tertutup rapat, kecanggungan seketika menjadi penguasa. Berbeda dengan Zaim yang tampak duduk santai sambil menunggu secangkir minuman hangat buatan Ushi, Ushi malah terombang-ambing dipermainkan pikiran negatif. Wajar. Memang perkara penting apalagi yang ingin dibicarakan Zaim di pukul sebegini jika bukan perkara kepindahan Ushi ke Droseros?
Tetapi faktanya tidak. Zaim tidak menyinggung perkara itu sedikit pun. Zaim berkata jika dirinya datang karena semalam Ikbal meneleponnya dan memberi tahu perihal wanita mencurigakan yang menawari Nia pekerjaan bernama Adelweiss. Mendengar itu, Ushi seolah langsung terbebas dari jerat pikiran negatifnya, pun rasa canggung. Kini Ushi terlihat sangat amat antusias, seperti dirinya yang tanpa topeng.
"Saya rasa ada yang lagi ngerjain Nia deh. Soalnya saya masih inget pas Adelweiss bilang dia gak mainan medsos."
Zaim mengangguk-angguk. "Berarti emang ada yang lagi ngerjain Nia. Tapi kalo ngerjainnya sampe bikin akun instagr*m palsu yang dikasih checklist biru, kayanya yang ngerjain Nia ini punya dendam khusus sama Nia. Tapi dari mana Ibu kenal Adelweiss?"
"Oh, saya pernah pake jasa dia. Udah lama banget sih." Ushi menyeruput tehnya. "Buat bales dendam sama si Bagas. Dulu dia kan nyelingkuhin saya."
Zaim kembali mengangguk-angguk menanggapi Ushi.
"Sebutannya Adelweiss tuh cewek rental. Jadi dia bisa dirental dengan dua jasa. Jasa bales dendam sama cowok yang suka selingkuh, sama cowok yang suka ngeret," imbuh Ushi.
Zaim masih mengangguk-angguk. "Saya gak kenal Adelweiss. Tapi saya kenal kakaknya, Galang. Dulu kita satu SD. Saya udah telfon Galang buat minta ketemuan sama Adelweiss."
"Oya? Terus-terus? Mau?"
Zaim menyeruput tehnya sebelum menjawab, "Mau. Galang bilang besok siang Adelweiss ada waktu."
"Di mana ketemuannya, Za? Saya sama Nia kan juga harus ketemu Adelweiss. Besok saya izin kerja deh setengah hari."
"Di rumah saya, Bu. Soalnya Galang cuma mau dateng ke tempat yang dia kenal."
"Oke-oke. Besok abis dari studio saya langsung jemput Nia terus ke rumah kamu ya."
"Iya, Bu." Zaim meletakkan cangkir tehnya yang kosong, lalu beranjak. "Kalo gitu saya permisi. Sekali lagi saya minta maaf udah namu malem-malem."
Ushi ikut beranjak. "Saya kan udah bilang gak apa-apa. Kalo gitu ati-ati di jalan ya, Za."
Zaim tak menjawab, hanya mendadak menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Ushi. Tentu saja Ushi terkejut, dan pikiran negatif yang sekian menit lalu mendekapnya, balik kanan! Benar saja. Setelah menunduk memandang entah apa di bawah sana, Zaim pun menatap Ushi, tersenyum, lalu perlahan menumpahkan semua pikiran negatif Ushi, bahkan dengan tepat menjabarkan alasan perubahan sikap Ushi pada Zaim.
" … Bapaknya Ibu gak mungkin punya waktu buat itu. Jadi pasti Kakek saya. Kakek saya pasti udah ngasih tau Ibu kalo dia gak ngerestuin hubungan saya sama Nia berikut alesannya."
Ushi diam, sebab demi Tuhan, jantungnya hampir saja copot!
__ADS_1
"Makanya sikap Ibu ke saya berubah drastis, dan Ibu rencana pindah ke Droseros buat misahin saya sama Nia. Sebenernya Ibu gak perlu sampe segitunya. Kalo Ibu juga gak ngasih restu hubungan saya sama Nia, ya buat apa? Mending kita putus," tambah Zaim.
Ushi masih diam. Meski mendengar sesuatu yang diharapkannya langsung dari mulut Zaim, entah kenapa Ushi malah merasa ada yang salah.
"Tapi, Bu. Karna sekarang status saya masih pacarnya Nia. Saya masih punya tanggung jawab buat nyingkirin pengganggu di hubungan kami. Kaya mantan suami Ibu misalnya, yang masih pengen bales dendam sama Nia."
"Hah? Maksud kamu si Bagas? Bales dendam sama Nia maksudnya gimana? Kan dia yang salah. Kok belom kapok juga sih tuh manusia. Gimana caranya bikin dia kapok sih," sahut Ushi akhirnya.
"Ibu gak perlu pikirin itu. Saya lagi urus kok. Saya juga pelan-pelan lagi urus Monaco."
"Monaco?"
Zaim mengangguk. "Bapaknya Monica. Karna Monica balik ke Taiwan tanpa Nia, Monaco mau bawa Nia paksa ke Taiwan. Kemaren Monaco dateng sendiri ke sini. Tapi saya usir. Tapi Monaco masih belom nyerah. Sekarang Monaco lagi gencar masukin orangnya ke sini buat bawa paksa Nia ke Taiwan."
DEG
"Ibu juga gak perlu pikirin itu. Mau itu mantan suami Ibu, Monaco, Adelweiss palsu, atau siapa pun, gak akan saya kasih celah buat gangguin Nia."
DEG DEG
"Tapi maaf, semua itu udah gak jadi tanggung jawab saya lagi kalo saya sama Nia putus," imbuh Zaim.
DEG DEG DEG
...•▪•▪•▪•▪•...
TIINNN TIINNN
"Dih!" seru Nia sembari menoleh. "Eh?"
"Good morning, Sayang."
Nia tak menjawab sapaan Zaim, apalagi senyumnya yang demi apapun selalu membuat jantung dalam bahaya. Nia hanya bergegas masuk ke dalam mobil Zaim dan menghambur memeluknya sambil berjingkrak kegirangan. Benar, rindu memang lebih sialan dari rasa penasaran! Dengan senang hati Zaim membalas pelukan Nia. Sepertinya Zaim rela pergi ke luar negeri untuk waktu yang lama jika akhirnya respon semembahagiakan ini yang akan didapatkannya.
"Ini masih pagi loh, Sayang"
"Terus kenapa?" Nia semakain mengeratkan lingkaran kedua tangannya di leher Zaim.
"Cowok gak boleh diprovokasi kalo masih pagi. Karna mau lagi ada di mana pun, tempat itu endingnya bakal jadi kasur."
"Dih." Spontan Nia melepas pelukannya dan memukul Zaim berulang kali. "Katanya abis dari Korea mau ke Thailand? Kok baru dua hari udah balik? Cepet banget."
"Kerjaan aku selesai lebih cepet."
"Terus emangnya kamu gak ke kantor? Kok pagi-pagi udah klayapan di komplek rumah aku?" tanya Nia lagi, sembari mengenakan sabuk pengaman.
__ADS_1
"Ini kan mau sekalian ke kantor. Semalem aku landing jam sepuluh terus langsung main golf sama klien. Rumahnya di sekitar sini jadi aku booking hotel di sekitar sini juga."
"Oh gitu. Terus kok aku gak liat oleh-oleh aku ya?" Nia menyelisik seluruh sudut mobil mewah Zaim.
"Oleh-oleh kamu masih otw. Soalnya kemaren pas aku cari-cari abis. Aku …"
Bohong. Jangankan mencari oleh-oleh, terbang ke Korea saja tidak. Setelah mukbang Gua Bao* di restoran Monaco, Zaim langsung menjenguk Nila, ibu sambung Nia. Meski tidak canggung, pertemuan Zaim dan Nila pun tidak meninggalkan kesan yang baik. Zaim hanya menatap Nila sekilas, meninggalkan tas berisi kado di atas meja, dan langsung angkat kaki untuk meringkus Bagas yang ternyata sudah lebih dulu diringkus oleh Jani.
*Gua Bao mirip dengan sandwich, hanya saja isinya daging rebus yang sudah dibumbui. Daging yang biasanya digunakan untuk isian adalah daging babi. Namun ada juga isian daging sapi, ayam, telur atau ikan. Gua Bao disajikan dengan tambahan acar sawi, daun ketumbar, kacang tanah, dan mustard.
Jadi mana sempat Zaim pergi ke Korea untuk mencari langsung oleh-oleh yang diminta sang kekasih? Zaim menugaskan robotnya yang lain, Bastian, untuk berbelanja oleh-oleh. Tentu saja Bastian menolak, namun daripada terus mengikuti agenda Zaim sambil dibayang-bayangi duel dengan Monaco dan para kacungnya yang tampak segesit Jackie Chan itu, lebih baik Bastian bercosplay menjadi suami idaman yang berbelanja Daechang* dan Gopchang* di pasar Korea.
*Makanan berlemak yang terbuat dari usus sapi yang dipanggang atau digoreng dengan lumuran saus barbeque. Perbedaan gopchang dan daechang adalah, gopchang biasanya dibuat dari usus kecil sapi sedangkan daechang terbuat dari bagian usus besar.
" … Maaf ya, Sayang."
"Gak apa-apa kok. Yang penting oleh-olehnya nyampe. Kan seru nonton film sambil makan Daechang sama Gopchang sama kamu."
"Sama aku?"
Nia mengangguk-angguk. "Iya sama kamu."
"Bukannya seharusnya sama Vina?"
"Vina mah gak suka Daechang sama Gopchang. Yang suka mah nyokapnya. Soalnya nyokapnya yang gila drakor."
Zaim tertawa. "Kalo gitu nonton film sama makannya di rumah aku aja. Udah lama juga kan kamu gak ke rumah aku."
Nia kembali mengangguk-angguk, pun berjingkrak kegirangan. "Jadi makin gak sabar. Pasti seru banget. Nanti kita pesen pizza juga ya. Pizza …"
Zaim tertawa di sepanjang perjalanan menuju SMA Andalan Teladan. Bagaimana tidak? Nia benar-benar seperti boneka bayi yang baterainya tak habis meski tombol rahasianya ditekan berulang kali. Nia mengoceh, menyanyi, bahkan sesekali berjoget mengikuti irama lagu. Hingga tak terasa mobil mewah Zaim sudah tiba di Andalan Teladan. Alih-alih mengikuti teman-temannya yang berlari tunggang langgang karena kesiangan, Nia malah kembali memeluk erat Zaim.
"Sayang, ini udah jam setengah delapan. Kamu udah telat loh."
"Gak ada hukuman kalo lagi uas. Lagian kalo dihukum malah bagus kan? Bisa ngerjain ujian sambil menghirup angin sepoi-sepoi," sahut Nia.
Zaim tertawa. "Kalo kamu gak lagi uas, serius bakal aku bawa ke kantor."
"Jangan ngomong gitu dong sama pemilik mental-mental pembolos kaya aku. Itu tuh ibarat nawarin es teh di siang bolong sama orang yang lagi puasa."
Zaim kembali tertawa. "Serius ini udah jam setengah delapan lewat, Sayang. Ka–"
"I love you."
Zaim tak menjawab, hanya tersenyum memandangi Nia yang keluar dari mobilnya dan berlari secepat kilat. Zaim menyentuh sebelah pipinya yang baru saja dikecup Nia, sambil membalas ucapan Nia yang sudah lama dinantikannya. Namun dibalik rasa bahagia itu, ada sedikit rasa sedih yang terselip. Semoga saja itu bukan ketenangan yang mengelabui sebelum badai datang, pun bukan bukan kata-kata mendebarkan sebelum perpisahan.
__ADS_1
"I love you too, Sayang."