HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
KADO?


__ADS_3

TEKAN 1, 3, ATAU 5 UNTUK MENINGGALKAN PESAN SUARA TE–


Zaim menghela napas entah untuk yang keberapa kali. Sejak kemarin malam atau lebih tepatnya sejak pertemuan Nia dan Hakam di kantor polisi, nomor ponsel Nia mendadak tidak bisa dihubungi. Zaim tahu Nia sengaja mematikan ponselnya, sebab sang kakek sudah menceritakan semua bincang blak-blakannya dengan Nia. Wajar jika Nia tersinggung karena Zaim pun tahu jika kekasihnya itu sama sekali tidak silau dengan uang milik orang lain. 


"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" Nisma, sekretaris Zaim buru-buru beranjak ketika mendapati kemunculan atasannya yang tiba-tiba.


"Rapat evaluasi jam berapa?"


"Jam setengah lima, Pak."


"Tolong undur satu jam ya," balas Zaim.


"Baik, Pak." Nisma mulai mencatat. "Ada lagi, Pak?"


"Tapi langsung cancel aja rapatnya kalo jam tiga saya belom dateng."


"Baik, Pak."


"Thanks, Nis." Zaim berlalu.


Nisma mengantar kepergian Zaim sambil berburuk sangka dalam hati. Pasti Zaim hendak menemui kekasihnya yang masih anak bau kencur itu. Dan ya, benar, Zaim memang hendak menemui sang kekasih di kediamannya. Namun tak ada siapa pun di rumah bernomor delapan tersebut. Wajar jika tidak ada Nia dan Ikbal sebab jam mereka pulang sekolah belum tiba, tetapi seharusnya ada Ushi yang selalu mengambil libur kerja di hari sabtu.


"Bahaya kalo Ushi ikutan ngambek juga." Zaim merogoh ponselnya, berniat menelepon Ushi.


TEKAN 1, 3, ATAU 5 UNTUK MENINGGALKAN PESAN SU–


Zaim tak henti menghela napas, raut wajahnya tampak sangat amat jengkel! Jika sudah begini, cara satu-satunya untuk bisa menemui Nia hanyalah menyusulnya ke sekolah. Namun meski begitu Zaim tidak ingin membuat kehebohan. Kehebohan berita tentang Nia yang digelandang ke kantor polisi dengan seorang om-om saja belum mereda barang sedikit. Zaim pun memutuskan menanti di sekitar SMAN Lentera Dunia, tepatnya di bawah pohon kersen.


Dan akhirnya, waktu penantian Zaim pun usai. Bel pulang sekolah berbunyi, dibarengi dengan suara gerbangnya yang kekurangan minyak. Satu per satu murid berseragam abu-abu biru mulai muncul dari balik gerbang berukir lentera raksasa. Sebagian dari mereka berjalan kaki, sementara sebagian yang lain mengendarai sepeda motor, seperti Zaim. Zaim tetap fokus melihat satu per satu murid wanita dari balik helm, meski tahu dirinya sedang menjadi buah bibir.


"Siapa tuh?" Seorang murid wanita menyenggol temannya.


"Yang pasti bukan cowok gue."


"Pacarnya kating kali ya?"


"Kayanya sih iya."


"Anjir gak motornya gak helmnya gak orangnya keren parah."


"Pake helm aja ganteng."


"Apa malah zonk makanya pake helm?"


Berbeda dengan gadis-gadis ganjen yang tak tahu siapa pria di balik helm dan motor keren itu, Nia, yang saat ini tengah mengintip dari sela-sela tembok musala tahu betul siapa pria dengan motor yang bannya sebesar truk tronton tersebut. Ikbal yang bergabung dengan Nia dalam aksi mencurigakan itu bertanya kenapa Nia tidak menemui Zaim dan malah memintanya untuk mengantar ke kediaman Vina.


" … Kekanakan anjir lu. Udah tua juga. Kalo berantem ya diomongin yang benerlah bukan malah ngumpet-ngumpet kaya gini. Udah ah gue mau balik."


"Oke sono balik. Tapi pas lu nyampe rumah, instagr*m lu pasti rame." Nia menyeringai. "Soalnya foto ciuman lu sama ta* berjalan gue posting."


"Anjir," gumam Ikbal sembari kembali ke posisi mengintipnya. "Emang ada apaan sih lu sama Kak Zaim hah?"

__ADS_1


"Bukan sama dia tapi sama Mbahnya."


"Maksudnya Pak Hakam? Ngomong apaan emang dia?"


Nia diam sesaat. "Dia bilang gue pacaran sama Zaim cuma karna mau ngeret beli skincare, hp sama tas milyaran."


"Anjir. Terus lu jawab apaan? Pasti jawab goblok kan lu? Atau malah diem? Harusnya lu jawab lu cucu angkatnya mantan Raja Malaysia! Bego banget sih lu!"


Nia kembali diam, tapi perlahan menoleh menatap Ikbal. "Lu suka Vina kan?"


"Dih gak nyambung lu anjir."


"Gue baru pertama ngeliat lu semarah itu. Gue tau lu juga lagi marah sekarang. Tapi marahnya beda loh. Kalo sama Vina tuh lebih ke marah ya–"


"Mau gue anter gak? Cepet ke parkiran. Kita lewat belakang aja ," sela Ikbal sembari berlalu.


...•▪•▪•▪•▪•...


Dan sampailah Nia serta Ikbal di kediaman Vina. Sejak insiden dikejar-kejar Pria Purnama alias Heri di sekitar komplek yang terkenal angker, Vina jatuh sakit. Vina pun izin tidak masuk sekolah sampai kondisi fisik dan terutama mentalnya kembali gesrek. Sebab sejak insiden itu Vina menjadi sedikit pendiam. Jelas saja. Heri memang sudah kehilangan akalnya. Mulutnya benar-benar sampah, pun perangai serta isi kepalanya!


"Dia ada nelfon lu?" Nia menyerahkan helm pada Ikbal.


"Siapa? Kak Zaim?"


"Yaiyalah."


"Hp gua lowbat."


"Gue yakin ntar dia bakal ke rumah nyariin gue. Lu bilang aja gak tau."


"He'em."


"He'em." Ikbal menyalakan mesin motornya.


Dan tepat sekali dugaan Nia. Saat Ikbal tiba, Zaim sudah menunggu di depan kediamannya. Sesuai yang diperintahkan Nia, Ikbal pun mengatakan tidak tahu-menahu akan keberadaan Nia. Ikbal juga menambahkan jika Nia pun tidak ada di rumah Vina sebab dirinya baru saja kembali dari sana. Zaim mengangguk mengerti, lalu berganti menanyakan Ushi. Ternyata Ushi terbang ke Malaysia pagi-pagi sekali karena ada urusan mendesak.


"Gitu ya."


Ikbal mengangguk menanggapi Zaim. "Lagi marahan sama Nia ya, Kak?"


"Mana bisa disebut marahan kalo yang marah cuma satu orang?" Zaim mengenakan helmnya.


"Bener juga. Gak masuk dulu, Kak?"


"Saya ada rapat bentar lagi," sahut Zaim.


"Gitu. Btw keren tuh kak motornya."


"Mau?"


"Maulah. Tapi kurang greget naekinnya kalo bukan belian sendiri." Ikbal tertawa.

__ADS_1


"Itu baru cowok."


Ikbal kembali tertawa.


"Kalo Nia udah balik tolong suruh aktifin hpnya ya," imbuh Zaim.


"Siap, Kak. Ati-ati, Kak."


Zaim hanya menanggapi Ikbal dengan klakson, lalu langsung menancap gas menuju pintu keluar komplek. Ikbal masih berdiri di depan rumahnya, pun masih melihat ke arah ke mana Zaim baru saja pergi. Ikbal berniat menunggu selama beberapa saat, khawatir kalau-kalau Zaim kembali. Tetapi Ikbal mantap menancap gas ke arah yang berlawanan dengan Zaim untuk menjemput Nia setelah menunggu selama tiga puluh menit.


Dan akhirnya sandiwara kekanak-kanakan itu pun bersambung. Ya, bersambung, bukan tamat. Sebab tentu saja Zaim tidak benar-benar pulang. Mana mungkin Zaim akan lebih memilih rapat membosankan daripada mengembalikan suasana hati sang kekasih yang amburadul. Saat Ikbal dan Nia tiba di rumah, seperti biasa Ikbal akan langsung berbuat onar di dapur. Sementara Nia, mengunci diri di kamar hingga malam untuk menghindari keonaran itu.


KLEK


"Anjir." Nia terlonjak, sesaat setelah mendapati Zaim yang baru saja keluar dari kamar mandinya.


"Itu ungkapan kaget kan? Bukan makian buat aku?" Zaim melepaskan jaketnya. "Soalnya aku gak terima loh dimaki tanpa sebab."


"Kita ngomong di luar aja."


"Ngomong apa? Emang ada yang perlu kita omongin?"


Nia mengurungkan niatnya untuk balik kanan, lalu kembali menghadap Zaim. "Ada."


"Oya? Apa?"


"Aku mau pu–"


"Karna aku baru tidur dua jam sejak balik dari Malaysia, jangan ngomong yang gak-gak dulu. Kaya mau putus misalnya." Zaim melepas kemejanya. "Soalnya kalo kurang tidur aku suka lepas kontrol."


"Tapi aku emang mau putus." Nia meletakkan tasnya di bawah meja belajar. "Aku gak suka sama kamu. Kamu juga kan? Ngaku aja gak apa-apa kok. Aku yakin kamu macarin aku cuma karna gabut. Soalnya mau dipikir berapa kali pun gak mungkin kamu suka sama aku la–"


Ucapan Nia terjeda, sebab Zaim yang tiba-tiba mengecup bahunya. Spontan Nia pun berbalik.


"Udah gila ya hah?"


"Gak boleh?" Zaim balik bertanya.


"Gak bolehlah. Bisa-bisanya na–"


"Kan bukan leher, bukan bibir juga."


Nia terdiam. Bukan, bukan karena suara Zaim yang semakin bertambah seksi saat tengah berbisik melainkan karena saat ini tatapan Zaim tidak beralih dari sana. Benar, dari sana, dari bibirnya.


"Ulang taun kamu udah lewat ya? Aku belom ngasih kado lagi," tambah Zaim.


"Jangan ma–"


"Tapi aku bisa ngasih kadonya sekarang."


"Gak usah. Aku ga–"

__ADS_1


Ucapan Nia lagi-lagi terjeda, tetapi untuk yang terakhir. Sebab Zaim tidak akan bisa lagi menjeda ucapan Nia. Bibir Zaim tengah sibuk. Tidak, lebih tepatnya sangat-sangat sibuk. Seharusnya Nia memercayai Zaim saat Zaim mengatakan dirinya bisa lepas kontrol ketika kurang tidur, sehingga ciuman penuh berahi itu tidak akan terjadi. Tapi apa mau dikata. Janji sudah diingkari, dan nikmat, sudah merambat.


CEKREK


__ADS_2