HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
BISIKAN HATI


__ADS_3

"****," gumam Nia.


Sudah hampir setengah jam Nia duduk di depan kaca, memandang tanda merah yang ditinggalkan Zaim di lehernya. Itu benar-benar berwarna merah, dan diukir di tempat yang sangat amat mencolok! Kerah seragam Nia bahkan tidak bisa menutupi tanda merah itu, pun plester barbienya yang tinggal tersisa satu buah. Nia pun mengeluarkan makeup, membubuhi apa saja agar warna merah di lehernya itu bisa sedikit tersamarkan. Dan beruntungnya, berhasil.


"Gila malu banget kalo inget." Nia menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Tapi gue suka sih. Tipe gue banget. Tapi sumpah itu brutal banget omg-omg."


*FLASHBACK ON*


"Diem gak?"


Nia masih meronta. "Gaklah. Udah gila ya kamu? Lepasin apa aku teriak?"


"Semua kamar tidur sama kamar mandi di rumah ini kedap suara."


"What? Ma–"


Nia terkejut sejadinya, hingga tanpa sadar menggantung ucapannya sendiri. Bagaimana tidak? Zaim yang semula memeluknya dari belakang kini sudah ada di atas tubuhnya. Wajah tampan tak tahu malu tak takut ini itu dan tak ragu-ragu itu terlihat mencurigakan, seolah akan melakukan sesuatu yang sangat buruk. Dan benar saja. Tak peduli meski Nia meronta pun mengancam, Zaim tetap melancarkan aksinya mengukir tanda.


Ya, mengukir tanda, di mana-mana. Atau lebih tepatnya hanya di tempat yang mencolok. Beruntung Ushi menelepon Nia, andai saja tidak, mungkin tanda berahi yang disamarkan dengan tanda cinta itu juga akan berakhir di tempat yang tidak mencolok. Awalnya Zaim tidak peduli dan terus membuat tanda, tetapi saat Nia menempelkan ponselnya di telinga Zaim, ciuman yang terasa sedikit nyeri itu pun berhasil diatasi.


"Halo, Nia. Kamu belum tidur kan? Maaf ya Tante telfon malem-malem. Besok kamu udah bisa pulang. Tante jemput ya abis pulang kerja …"


*FLASHBACK OFF*


"Dia gak mungkin bisa makeup kan? Oke, mari kita bales dendam." Nia beranjak dari kursi rias.


Nia mengendap, menyelisik setiap sudut kediaman super mewah itu. Zaim tidak ada di lantai tiga. Nia melirik jam dinding yang kini menunjukkan pukul enam tiga puluh satu dan mantap menyimpulkan jika Zaim pun tidak akan ada di lantai empat, lantai khusus untuk berolahraga. Nia lalu merogoh ponselnya, memeriksa kotak pesan. Kosong. Berarti Zaim belum pergi ke kantor. Mungkin sedang menyantap sarapan di lantai dua, atau menunggu jemputannya di lantai satu.


"Gak. Jangan cek di kamarnya. Jangan pernah masuk ke ka–"


Nia buru-buru menyembunyikan dirinya ketika Zaim tiba-tiba keluar dari kamar. Terlihat Zaim turun menuju lantai satu sambil bebicara dengan seseorang melalui panggilan telepon. Nia kembali mengendap, mengintip, memeriksa situasi. Tidak aman. Terlalu banyak pelayan. Rencana balas dendam Nia mengusung tema 21+, jadi tidak boleh ada seorang saksi mata pun yang melihat, apalagi mengabadikan melalui foto atau video.


"Kayanya dia lagi badmood," batin Nia. "Badmood aja ganteng." Nia memukul kepalanya. "Duh, lupain kegantengan. Bales dendam dulu."


Nia masih setia di posisi mengintipnya, hingga waktu tepat untuk menuntut balas pun datang. Beberapa orang pelayan yang semula mengerumuni Zaim sudah tidak terlihat batang hidungnya. Nia pun bergegas menghampiri Zaim. Tentu saja Zaim terkejut, karena tidak biasanya Nia sudah siap berangkat ke sekolah di jam-jam seperti sekarang. Zaim meletakkan pisau selainya, lalu memberi kode pada pelayan untuk menyiapkan peralatan makan tambahan.

__ADS_1


"Gak-gak aku gak sarapan."


"Why?" Zaim mengusap mulutnya dengan lap makan.


"Aku mau sarapan nasi uduknya Bu Jum aja."


"Di mana tempatnya? Biar dibeliin."


"Gak-gak gak perlu. Aku mau beli sendiri." Nia berdiri di samping Zaim. "Aku punya permintaan."


"Apa?"


"Copot dasi kamu."


Zaim kembali membuat ekspresi terkejut, tetapi akhirnya tersenyum dan menuruti perintah Nia. "Terus? Copot apa lagi?"


Nia hanya menjawab dengan dehaman, sembari mengikat kedua tangan Zaim dengan dasi tersebut. "Sekarang tutup mata."


Zaim tersenyum lagi, pun kembali menuruti perintah Nia. "Te–"


PRANG


...•▪•▪•▪•▪•...


Sayang. Maaf. Aku salah. Semuanya salah aku. Keluarga kamu cuma pengen yang terbaik buat kamu. Hidup bahagia sama keluarga kamu aja jangan sama aku. Karna hidup sama aku cuma bakal bikin kamu menderita. Keluarga kamu dengan segala yang mereka punya, itulah yang kamu butuhin baik sekarang maupun nanti. Aku terpaksa pergi. Kamu jaga diri baik-baik ya. Aku cinta kamu ...


"Cinta katanya. Perempuan mana cukup cuma dikasih cinta."


Safi menggeleng, sambil memamerkan mimik wajah menghina. Entah sudah berapa kali Safi memutar ulang rekaman suara Burhan. Dalam lanjutan rekamannya Burhan terus mengatakan jika dirinya begitu mencintai Ushi melebihi apapun. Burhan juga meminta maaf karena harus meninggalkan Ushi tepat setelah melahirkan, pun meminta maaf karena tidak menuruti pinta Ushi untuk menikah meski tanpa restu dari orangtuanya. Burhan baru menyesalinya sekarang. Namun nasi sudah menjadi bubur. Setidaknya Burhan dan Ushi pernah memiliki seorang putra.


"Kamu yakin gak ada jejak lain yang ditinggalin si Burhan itu?"


"Yakin, Pak," jawab Jani mantap. "Cuma ada selembar foto itu sama voice recorder. Saya juga udah cek isi lokernya Bu Ushi berkali-kali dan gak ada yang mencurigakan."


Safi tak membahas lebih, hanya meletakkan foto serta voice recorder itu di meja. "Boleh saya tau alesan kamu ngekhianatin Zaim Alfarezi?"

__ADS_1


"Gak ada alesan khusus, Pak. Saya bakal ngekhianatin siapa aja yang mampu bayar lebih tinggi."


Safi tertawa. "Mau coba ngekhianatin saya?"


"Saya siap selama ada yang mampu bayar lebih tinggi."


Safi kembali tertawa. "Oke, kerja sama kita selesai."


"Hubungi saya kapan pun, Pak Safi."


Safi hanya mengangguk menanggapi Jani yang baru saja meninggalkan tempatnya. Ada yang mengganggu pikiran Safi, meski jejak terakhir Burhan sudah berada dalam genggaman tangannya. Tapi apa? Semakin Safi memikirkan jawabannya, semakin dirinya merasa terganggu. Safi adalah orang yang selalu menimang bisikan hati, dan bisikan itu tengah mengomandaninya untuk bergerak. Bergerak mengorek masa lalu. Bisikan itu meyakinkan Safi jika masih ada jejak yang ditinggalkan Burhan dan anak haramnya.


"Cuba awak cari doktor yang masa tu tolong ushi bersalin." Safi Diam sesaat. "Cari semua saksi dan bawa ke hadapan saya."


"Baik, Tuan. Ada sesuatu lagi, Tuan?"


Safi hanya memberi kode pada tangan kanannya untuk pergi. "Tunggu."


Tangan kanan Safi, Wafiq, langsung menghentikan langkahnya dan buru-buru menghampiri Safi.


"Masa tu awak pun jadi saksi kan?"


"Betul, Tuan," jawab Wafiq.


"Pernahkah awak tengok anak luar nikah itu? Maksud saya jenis. Adakah dia benar-benar lelaki seperti Burhan cakap?"


"Tidak, Tuan. Saya tak tengok. Adakah Tuan risau Burhan tipu?"


Safi tak segera memberi jawaban pada Wafiq, tetapi perlahan mengangguk ragu. "Sepatutnya masa tu dah sahkan jenis anak luar nikah dengan mata kepala sendiri. Walaupun saya meluat*."


*Harusnya waktu itu saya pastikan jenis anak haram itu dengan mata kepala saya sendiri. Walaupun saya jijik.


"Burhan mungkin berbohong, Tuan. Tetapi adalah mustahil untuk doktor."


"Saya masih rasa tak sedap hati. Ushi juga terlalu panik apabila saya memberitahunya bahawa saya tahu dia telah diam-diam merawat Yesenia Eve." Safi memandang selembar foto bayi yang tergeletak di meja. "Padahal dia tak patut panik kalau Yesenia Eve betul-betul anak Burhan dengan Nila." Safi menoleh pada Wafiq. "Apa pendapat awak?"

__ADS_1


"Saya akan segera mencari doktor dan semua saksi, Tuan."


__ADS_2