
Suasana pemakaman yang digelar tepat pada tengah malam itu benar-benar terasa seperti adegan dalam film horor. Alam beserta hewan penguasa malam seolah bekerja sama membisiki mereka-mereka yang memiliki indra keenam bahwa si almarhum mati secara tak wajar. Namun kedatangan Zaim seketika menghancurkan adegan yang membuat bulu kuduk berdiri itu.
Tidak hanya suara knalpot motor pun langkah kaki Zaim yang membuat gendang telinga para pelayat kompak bersumpah serapah, namun kostum yang dikenakannya juga. Zaim memang mengenakan pakaian berwarna hitam, lebih tepatnya jas hujan. Tetapi bukan jas hujan itu yang tak patut melainkan gambarnya. Gambar di bagian belakang jas hujan tersebut, apakah harus wanita telanjang?
Meski begitu Zaim tak mengindahkan. Hujan tiba-tiba turun sangat deras tak lama setelah Hendri mengabarkan akan kematian Riko. Bagi Zaim kesehatan adalah yang terpenting, dan yang paling penting, pemilik jas hujan itu bukan dirinya! Prosesi pemakaman pun dilanjutkan setelah Zaim melompat ke dalam liang lahat, dan tentunya setelah Zaim melepas jas hujan tak senonoh itu.
"Diotopsi gak?" tanya Zaim seraya memandang nisan Riko.
"Gak. Keluarganya gak ngasih."
"Tapi lu liat kondisi terakhirnya?"
"Gak. Pas gua dateng dia udah disholatin."
"Bongkar kuburannya diem-diem."
"Lu gak bisa brenti gila barang sedetik aja apa?"
"Emang gua pernah waras barang sedetik?" Zaim melepas kacamatanya. "Kita gak bisa fitnah Safi sembarangan. Kalo Riko beneran mati kecelakaan gimana? Cuma otopsi yang bisa bikin kita yakin. Bongkar aja. Gua yang tanggung jawab."
"Dia mati karna gua. Gua yang bakal tanggung jawab." Hendri berlalu.
"Pasti kalian lagi ngerencanain buat bongkar kuburannya Riko kan?"
Zaim hanya menoleh ke asal suara.
"Kakek setuju. Bongkar aja. Sekalian bongkar juga kuburan mantan tenaga medis yang katanya jadi saksi waktu Ushi Widhiani lahiran," imbuh Hakam. "Ada lima orang. Mereka juga ditabrak bis, sama kaya Riko."
"Kapan mereka meninggal?"
"Hari ini juga." Hakam berdiri di samping Zaim. "Tapi ternyata si Safi itu gak cuma kejam sama orang-orang yang gak dia suka aja ya. Soalnya si Umar Zakawat ditinggal di kantor polisi. Sementara Safinya sendiri barusan kabur ke Malaysia."
"Gimana ceritanya?"
Hakam diam sesaat. "Ada cctv yang nangkep Umar Zakawat lagi ngobrol sama sopir bis di toilet terminal. Dan ternyata sopir bis itu pelaku yang nabrak salah satu mantan tenaga medis."
"Kantor polisi ma–"
"Gimana Kakek bisa nerima pembunuh kaya Safi jadi anggota keluarga kita coba?" sela Hakam. "Anaknya hamil di luar nikah. Terus mantan mantunya diem-diem temenan sama editor video porno." Hakam menoleh menatap Zaim. "Kakek mendingan kehilangan cucu satu-satunya daripada harus nerima mereka."
__ADS_1
Zaim diam, tak menemukan satu kata pun untuk menampik fakta-fakta yang baru saja dijabarkan sang kakek.
Hakam menghela napas, lalu menggeleng berulang kali. "Soal rekaman cctv yang waktu itu gimana?"
"Umar Zakawat jujur."
Hakam berganti diam.
"Yang dia omongin dari awal sampe akhir, semuanya jujur," tambah Zaim.
"Kamu gak harus boong sampe segitunya cuma buat balik marah sa–"
"Mana mungkin aku bisa marah sama orang yang paling aku sayang?" potong Zaim. "Aku juga gak percaya Zain lebih brengsek dari aku. Tapi mau apa kalo faktanya gitu?" Zaim mengenakan kacamatanya. "Kalo mau benci sama orang yang logis dong. Yang pembunuh, yang hamil di luar nikah, dan yang temenan sama editor video porno kan bukan pacar aku." Zaim berlalu.
...•▪•▪•▪•▪•...
Sang mentari yang masih betah bertukar kelakar dengan awan hitam, membuat rabu pagi itu terasa sejuk. Namun cici-cici uzur pemburu sinar mentari pagi tampak tak senang, meski begitu mereka tetap berbondong mendatangi taman komplek untuk berjemur, pun tetap menepi karena tahu akan ada siswi yang gemar berlari tanpa melihat kanan kiri. Dan tak lama, siswi itu, Vina, pun muncul. Kali ini Vina terlihat bermaraton dengan menenteng dua plastik putih berukuran besar.
"Selamat pagi. Good morning. Ohayou Gozaimasu. Guten Morgen. Buenos Dias. Bon–"
KLEK
"Kamu bertanyea? Atau bertanyea-tanyea?"
"Amit-amit jabang bayi."
"Btw Tante udah jalan belom?"
"Belom." Ikbal kembali mengunci gerbang. "Ngapa emang?"
"Gue bawain nasi uduk pake semur jengkol sama bakwan yang masih hot sama bolu tape dua loyang."
"Buat nyogok?"
Vina mengangguk-angguk berulang kali menanggapi Ikbal.
"Gak mempan," imbuh Ikbal seraya masuk ke dalam rumah. "Gua sama Nia tetep bakal pindah sekolah."
"Isoke. Masih ada rencana cadangan." Vina cekikikan. "Woy, Phitecanthropus Erectus, bantuin bawa dong …"
__ADS_1
Persis seperti yang dikatakan Ikbal, Ushi tidak goyah sedikit pun meski tahu saat ini Vina sedang menyogoknya dengan beragam makanan favoritnya. Tekad Ushi sudah bulat, dan semakin bertambah bulat sebab Ikbal serta Nia tidak menyuarakan protes apa-apa. Ushi akan memindahkan Nia dan Ikbal dari Lentera Dunia hari ini juga. Ya, hari ini. Ushi bahkan sudah membuat janji temu dengan kepala sekolah SMA Andalan Teladan dan SMA Panutan Bangsa dari jauh hari.
" … Jadi, gak ada gunanya kamu protes sendirian, Vin."
"Yaudah kalo gitu, Tante. Pindahin aja Nia dari Lentera Dunia. Aku kan tinggal ngikut." Vina cekikikan.
"Eh? Maksudnya kamu ikut pindah sekolah juga gitu?"
"Gak cuma aku, Tante. Tapi hampir semua anak di Lentera Dunia. Ternyata nih ya, waktu kasus bully yang dulu itu, ada empat anak yang pindah dari Lentera Dunia selain Kinan. Dan sekarang setelah ada kasus pelecehan, hampir semuanya pindah, Tan. Termasuk aku."
"Bagus deh. Harusnya dari dulu kalian pindah dari sana. Segala protes sih." Ushi memukul jidat Nia dan Ikbal dengan sendok. "Terus kamu mau pindah ke Andalan Teladan apa Panutan Bangsa?"
"Ke mana aja yang penting ada Kakak Nia." Vina menghambur memeluk Nia.
"Idih. Kesambet apaan sih lu?"
"Kesambet setan rumah kosong di samping warungnya Bu Jum kali," timpal Ikbal pada Nia.
"Stop-stop. Cepetan abisin sarapannya. Terus kita langsung ke Andalan Teladan." Ushi beranjak. "Pake seragamnya yang bener biar gak keliatan badung-badung banget." Ushi meninggalkan ruang makan sambil menunjuk Ikbal. "Ibu lagi ngomongin kamu."
Dan, tibalah Nia, Ushi serta yang lain di SMA Andalan Teladan. Andalan Teladan adalah sekolah menengah atas yang tidak masuk urutan tiga pun lima besar sekolah terbaik di kota itu, tetapi ada banyak pilar-pilar negeri ini yang menempuh pendidikan di sana. Andalan Teladan terletak di jantung kota Jakarta, di mana itu artinya Nia dan yang lain harus siap berangkat lebih awal untuk berdesakan di dalam commuter. Tapi tampaknya baik Nia, Vina, dan Ikbal tidak keberatan sedikit pun.
"Kantinnya kaya pasar malem ya, Vin. Kayanya nyari tawon goreng di situ juga ada deh."
Vina mengangguk-angguk. "Seragamnya juga bagus. Ala-ala sekolah Jepang gitu."
"Penghuninya juga cakep-cakep. Terutama penghuni ceweknya." Ikbal melambaikan tangan pada gerombolan siswi perempuan yang baru saja melintas.
"Omg plis banget ya buaya cap minyak bulus. Di otak lu tuh bener-bener cuma ada cewek ya hah?"
Ikbal mengangguk mantap pada Vina. "Sama game fruit ninja."
"Anjir ngelunjak banget ini ma--"
"Stop-stop. Duh, gak di rumah gak di luar ya kerjaan kalian tuh rusuh mulu." Ushi tiba-tiba muncul. "Kenalin ini Kepala Sekolah Andalan Teladan."
"Omg ganteng betul." Spontan Vina membekap mulutnya dengan kedua tangan.
"Eh, Kak Denar, bukan?"
__ADS_1
Denar mengangguk sambil tersenyum pada Nia. "Lama gak ketemu, Dek Nia."