HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
EMANG BOLEH SESUKA ITU?


__ADS_3

" … Yaudah kalo gitu gue jalan dulu ya, Nya."


Nia hanya mengangguk sambil membalas lambaian tangan sahabat sehati sesanubarinya, Vina. Hari ini kelas Nia mendapat giliran untuk membesuk Kepala Sekolah, Denar Djajadi. Namun Nia memutuskan tidak ikut serta karena merasa harus menjaga jarak dengan Denar. Sebenarnya Vina ingin menemani Nia, tetapi wali kelas mereka menolak memberi izin.


Denar masih terbaring di ranjang rumah sakit setelah menerima jotosan bertubi dari Zaim di bandara beberapa waktu lalu. Menurut kabar dari kelas lain yang sudah lebih dulu membesuk Denar, kondisi Denar cukup serius. Beberapa buah giginya tidak hanya copot tetapi juga tertelan sehingga harus dilakukan operasi. Lalu tulang hidungnya patah, dan tulang rahangnya bergeser.


Mendengar kondisi Denar membuat Nia kesal alih-alih ikut menaruh iba. Kenapa tiba-tiba Denar menganggap Nia sebagai cinta pertamanya? Wajar jika Zaim mengamuk saat mendengar itu. Beruntung ada Bastian, Sobari dan Ikbal yang menghalangi Zaim saat kejadian. Jika tidak, sudah dipastikan Denar akan berakhir menjadi tape! Dan kenapa pula orang-orang berbondong menghujat Zaim?


"Cowok gue seseksi itu masa dibilang kaya Wiro Sableng? Dih," batin Nia seraya beranjak meninggalkan ruang kelas. "Mereka kali tuh yang sableng."


Nia masih bersemangat meluapkan rasa tidak terimanya, sampai sebelum dirinya melihat Al Hakam secara tidak sengaja memasuki rumah sakit. Nia pun langsung mengurungkan niat memesan taksi online, dan refleks mengekori Al Hakam. Nia mulai memikirkan alasan Al Hakam pergi ke rumah sakit. Mungkinkah kondisi CEO katering diet itu belum pulih betul pascakecelakaan Pongpong*?"


*Perekam video mini yang diklaim bisa merekam apapun karena memiliki fitur tembus pandang. Pongpong juga bisa menjangkau seluruh ruangan meskipun hanya dipasang satu buah saja. Pongpong terhubung dengan aplikasi bernama serupa. Melalui aplikasi ini, pengguna Pongpong bisa memantau semua yang berhasil terekam. Kemudian hasil dari rekaman tersebut akan otomatis terunduh ke gallery dengan kualitas 1080p.


"Kalo bener Beliau belom pulih kan mending gue besuk Pak Hakam daripada Kak Denar." Nia diam sesaat. "Apa sama sekalian ngaku juga ya?" Nia menggeleng-geleng. "Jangan. Minta maaf aja biar rada plong."


Dengan hati-hati Nia mengekori Al Hakam memasuki rumah sakit elit itu. Tetapi di luar dugaan Al Hakam tidak menemui dokter fisik melainkan dokter jiwa alias psikolog. Nia pun kembali memikirkan alasan. Kenapa? Apakah Al Hakam mengalami trauma pascakecelakaan Pongpong? Atau stres karena sangat-sangat enggan memberikan restu untuk hubungan Nia dan Zaim?


"Kira-kira kenapa ya Pak Hakam ketemu psikolog? Duh, makin ancur aja hubungan gue sama dia. Nunggu dan minta maaf sesuai rencana atau …"


Nia terus melempar tanya pada dirinya sendiri. Hingga mantap memilih untuk pulang. Nia berjalan keluar dari rumah sakit sambil melamun. Entah sudah berapa kali Nia menabrak barang sampai orang. Merasa butuh menenangkan diri sebelum melanjutkan perjalanan pulang, Nia pun berniat singgah sebentar. Nia menoleh, melihat taman rumah sakit, lalu bergegas ke sana.


"Kamu lagi jenguk seseorang?"


Spontan Nia terlonjak, saat menyadari Al Hakam yang kini tengah duduk di sampingnya.


"Atau periksa kesehatan mandiri? Atau, ngikutin saya?"


"Oh iya. Mmm maksudnya, yang terakhir," jawab Nia akhirnya.


Hakam mengangguk-angguk. "Ada perlu apa sama saya?"


"Itu, mmm, soal Pongpong. Maksudnya kecelakaan karna Pongpong yang nimpa Bapak dulu. Iya, mmm, saya minta maaf karna cuma besuk sekali. So–"


"Kirain kamu mau minta maaf sebagai orang yang masang Pongpong," sela Hakam.


Nia diam, merasakan keterkejutan yang sampai membuat jantungnya nyeri.


"Udah saya maafin. Demi Zaim. Jadi kamu gak perlu minta maaf."


Nia masih diam, jantungnya semakin terasa nyeri.

__ADS_1


"Suasananya jadi gak enak ya. Saya jadi ngerasa bersalah." Hakam tertawa. "Kalo gitu saya duluan ya."


Nia ikut beranjak. "Sebenernya masih ada yang mau saya tanyain, Pak."


Hakam hanya berbalik dan menghadap Nia.


"Mmm, kenapa Bapak nemuin Psikolog?"


"Cuma ngobrol," sahut Al Hakam.


"Bukan karna trauma pascakecelakaan?"


Hakam hanya menggeleng.


"Kalo gitu, pasti karna stres. Bapak gak perlu maksain diri buat ngerestuin hubungan saya sama Zaim kok."


"Emang sampe mati pun saya gak akan pernah ngerestuin hubungan kalian. Karna mau kamu akur atau gak sama Safi, kamu tetep cucunya. Cucu dari orang yang udah bunuh Zain. Tapi saya tau Zaim bakal nekat nikahin kamu. Jadi yaudah terserah."


"Kalo boleh milih saya juga gak mau jadi cucunya." Nia kembali duduk di bangku taman. "Sebenernya bukan cuma Bapak kok yang gak ngerestuin hubungan kami. Ibu juga. Ibu bilang pusing mikirin masalah yang gak ada abisnya." Nia diam cukup lama. "Saya udah ngulur waktu."


Hakam ikut duduk. "Ngulur waktu maksudnya?"


...•▪•▪•▪•▪•...


Zaim pulang terlambat, dan merasa aneh melihat kondisi kediamannya yang begitu tenang. Nur yang paham akan ekspresi bertanya di wajah Zaim pun tak ragu memberikan jawaban. Ushi sudah pulang bekerja, tetapi pamit ke taman belakang untuk mencari angin. Sementara Ikbal, ada di rooftop, sedang mengotak-atik aplikasi kencan. Dan terakhir Nia, ada di kamarnya, tengah belajar untuk ulangan esok hari sembari menyantap bubur kacang ijo.


"Makasih, Bi."


"Sama-sama, Tuan," balas Nur pada Zaim. "Oh iya, Tuan. Tadi Non Nia bikinin Tuan bubur kacang ijo. Mau saya panasin?"


"Boleh. Tolong anter ke kamar dua puluh menit lagi ya."


"Baik, Tuan."


Zaim melangkah cepat menuju kamarnya di lantai dua setelah memberikan jasnya pada Nur. Bukan bermaksud meragukan Nur yang kesetiannya tak mempan dibeli dengan apapun, Zaim hanya ingin menambah bukti penguat melalui cctv tersembunyi. Zaim memeriksa semua cctv tersembunyi di kediamannya. Terutama cctv tersembunyi kamar Nia, taman belakang, dan rooftop. Ternyata benar. Nia, Ikbal serta Ushi tengah beraktivitas seperti yang dikatakan Nur.


Merasa tidak ada yang aneh, Zaim pun mematikan kamera cctv tersembunyi dan bergegas merendam tubuhnya. Memang, tidak ada keanehan pada Ushi yang sedang melamun pun Ikbal yang sedang girang bermain aplikasi kencan. Namun jelas ada yang aneh pada Nia. Jika saja kamera cctv tersembunyi bisa menangkap apa yang sedang Nia tulis, pasti Zaim akan langsung kebakaran jenggot. Alih-alih menulis materi ulangan, Nia malah menulis daftar alasan mengulur waktu.


"Sekolah makeup udah. Yang belom nyobain dunia kerja sama nikmatin masa muda. Tapi kalo semuanya udah tapi Ibu sama Pak Hakam belom ngasih restu juga gimana?" tanya Nia dalam hati. "Ada yang bisa gue curhatin gak sih? Mi–"


Ucapan Nia terjeda, karena sebuah pesan dari Monica. Awalnya Nia enggan membuka pesan itu. Sebab sudah pasti isinya hanya permintaan maaf yang sepanjang bon belanja bulanan. Terlebih ketika mengingat Monica otak Nia secara otomatis juga mengingat wajah Nila saat di video call. Sungguh, menyeramkan! Namun jika dipikir lagi, sepertinya Monica yang sudah dewasa bisa menjadi tempat yang tepat untuk mencurahkan isi hati. Bukankah begitu?

__ADS_1


"Kan bener minta maaf lagi. Tiap hari makin panjang aja nih permintaan maaf. Telfon aja kali ya biar paham." Nia menekan tombol panggilan. "Halo, Kak."


"Oh iya, Nia. Halo. Kakak seneng banget kamu nelfon." Suara Monica terdengar tulus bergembira.


"Iya. Aku nelfon karna gak nyaman Kakak minta maaf mulu. Kan udah aku maafin. Tapi buat sementara aku gak mau video call."


"Iya Kakak ngerti. Sebagai tanda makasih, kamu bilang aja kalo ada yang bisa Kakak bantu. Kakak janji bakal langsung bantu. Apapun itu."


"Kayanya Kak Monic emang dikirim Tuhan buat jadi tempat curhat gue deh. Apa gue ceritain aja semuanya ya? Tapi Kak Monic muka dua gak sih? Kayanya gak deh," batin Nia.


"Nia? Halo?"


"Oh iya halo, Kak."


"Kamu lagi ada masalah ya?"


"Iya. Dikit."


"Yaudah cerita. Kakak kan udah janji bakal bantu."


"Iya. Mmm, jadi gini …"


Pada akhirnya Nia menceritakan masalah yang membuatnya galau hingga menomorduakan ulangan esok hari. Karena hubungan asmaranya dengan Zaim tersandung restu dari Ushi dan Al Hakam, Nia berniat mengulur waktu. Nia berharap dengan itu bisa membuat mereka sadar akan keinginannya untuk berbahagia bersama di hari pernikahan. Namun Nia sudah memutuskan untuk menikmati kebahagiaan itu sendiri jika Ushi dan Al Hakam tetap tak melunak.


" … Tapi sebenernya aku juga takut ngulur-ngulur waktu kaya gini. Aku takut Zaim marah dan mutusin aku."


"Kamu emang sesuka itu ya sama Zaim," sahut Monica.


"Iya."


"Yaudah kalo gitu jangan ngelakuin hal-hal yang gak dia suka. Contohnya ngulur waktu kaya sekarang. Karna endingnya yang kamu takutin bakal kejadian. Zaim pasti bakal marah dan mutusin kamu."


Nia diam, lambat laun perasaannya mulai campur aduk.


"Mending kelar sekolah makeup kamu langsung nikah aja. Tapi kalo kamu emang mau nyobain dunia kerja dan nikmatin masa muda, bilang sama Zaim dari sekarang. Kalo kami bilangnya pas kelar sekolah makeup ya jelas Zaim bakal marahlah. Kan kamu janji bakal nikah setelah lulus," imbuh Monica.


Nia masih diam, setia memasang telinga, pun setia diombang-ambingkan perasaannya yang kian campur aduk.


Monica melanjutkan, "Kalo kelak mereka tetep gak ngasih restu kan masih ada Mamah. Ada Papah juga. Mau gimana pun mereka kan juga keluarga kamu, Nia. Iya kan?"


TOK TOK TOK

__ADS_1


__ADS_2