HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
ULET BULU


__ADS_3

ZAIM : … Dan hadiah ulang taun buat kamu udah siap.


NIA : Padahal ulang taun aku udah lewat dua hari yang lalu 🙄


ZAIM : I'm sorry, Sayang. Tapi mau gimana kalo hadiahnya baru siap sekarang coba?


NIA : Seenggaknya nyicil ngucapin selamat ulang taun dulu kek.


ZAIM : mengetik…


NIA : 🙄


ZAIM : Aku maunya ngucapin langsung. Soalnya aku paling suka liat muka kamu pas lagi klepek-klepek.


NIA : Dih apa-apaan sih cowok ganteng satu ini.


ZAIM : Haha.


Nia ikut tertawa, sambil terus membuat sibuk kedua jempol tangannya. Meski hampir setiap hari Nia dan Zaim bertukar pesan, membuat panggilan telepon serta video call, entah kenapa hari ini terasa berbeda. Mungkin karena suasana hari ini yang sama persis dengan saat itu. Benar, jika dipikir-pikir suasananya memang sama persis. Baik dari waktu, kegiatan yang Nia lakukan sembari bertukar pesan, dan keberadaan Ikbal, semuanya benar-benar sama persis.


Saat itu Nia juga sedang menikmati libur kenaikan tingkat seperti sekarang. Ya, sekarang Nia sudah resmi menjadi siswi tingkat sebelas IPS, pun resmi berumur delapan belas tahun. Lalu sama seperti saat itu, sekarang Nia juga tengah menyedot susu cokelatnya sambil berjingkrak-jingjrak di ranjang. Dan terakhir, yang paling persis di antara yang lainnya. Nia baru saja memberikan tiga lembar uang lima puluh ribunya secara cuma-cuma pada Ikbal yang miskin yang ingin bermain di warnet.


*FLASHBACK ON*


KAO : Hi, Duplikat L.K?


LK : ?


Spontan Nia beranjak dari posisi malasnya. “Ih anjir dibales. Beneran dibales anjir. Demi apa?”


KAO : Aku pengguna baru.


LK : Ada kendala?


“Ada kendala? Kaya customer care aja nanyanya duh ngakak.” Nia tertawa.


KAO : Sejauh ini belom ada. Aplikasinya oke. Tampilannya fresh. Gak banyak iklan. Gak banyak makan ruang juga. Aku suka.


LK : mengetik...


KAO : Anyway,  ini kencan pertama aku loh. Tapi jangan takut ya. Aku bukan orang jahat. Aku cuma butuh temen ngobrol selama liburan.


LK : Anak sekolah?


KAO : Yup.


LK : Umur?


KAO : Peraturan pertama, dilarang kasih tau informasi pribadi kecuali palsu.


LK : Haha.

__ADS_1


KAO : mengetik...


LK : mengetik...


KAO : Udah berapa lama main Zet?


LK : Lama.


“Irit ngomong banget nih cowok. Eh, tunggu. Emang beneran cowok?”


KAO : Kamu beneran cowok?


LK : Tebak.


KAO : Mmm tau Perip*ra?


LK : Haha.


KAO : Fix, cowok.


LK : Itu kosmetik.


KAO : Ciye yang dibela-belain searching.


LK : Haha.


“Anjir beneran seru.” Nia berguling-guling kegirangan di ranjang.


LK : Kaoru?


LK : Ciye yang lagi jingkrak-jingkrak.


KAO : Oh jadi gini rasanya ditangkep basah.


LK : Haha.


KAO : mengetik...


LK : mengetik...


KAO : Aku off dulu ya. Tante tiba-tiba pulang dan kayanya marah ngeliat rumah berantakan.


LK : mengetik…


*FLASHBACK OFF*


ZAIM : Aku rapat dulu ya, Sayang.


NIA : Loh? Terus hadiahnya kapan dikasihin ke aku?


ZAIM : Hadiahnya gak bisa dibungkus, Sayang.

__ADS_1


"Hah? Gak bisa dibungkus?" Nia diam sesaat, pun kedua jempol tangannya yang sedari tadi sibuk. "Omg-omg. Jangan-jangan dia ngehadiahin gue rumah?"


NIA : mengetik…


ZAIM : I'll call you as soon as possible*.


*Aku akan menghubungimu sesegera mungkin.


NIA : Oke. Bye.


ZAIM : I love you, Sayang.


NIA : ❤


Nia melirik jam pada ponselnya. Ini jam makan siang. Artinya Zaim tidak seharusnya sibuk. Tetapi kenapa malah sebaliknya? Sepenting apapun sebuah rapat, jika tiba waktunya jam makan siang bukankah harus disudahi? Sama seperti saat guru agama sedang menerangkan arti sebuah ayat, jika bel istirahat sudah berdering, Beliau pasti akan langsung angkat kaki dari kelas, bukan? Ada yang tidak biasa dengan Zaim. Nia yang sudah hampir satu tahun bersama Zaim bisa merasakan itu.


"Masa dia boong?" Nia refleks membekap mulutnya sendiri. "Omg-omg. Gak mungkin kan dia bilang rapat tapi sebenernya lagi modusin cewek?" Nia melompat dari ranjang. "Gak bisa dibiarin. Masalahnya itu cowok kalo udah modus kan brutal banget. Mari kita samperin."


...•▪•▪•▪•▪•...


Zaim mengantongi ponselnya. "Jadi gimana tadi, Mbak Monica Yin?"


Monica tersenyum. "Saya mau jemput Nia sesuai permintaan dari orangtua saya."


"Oh. Gak bisa."


"Maksudnya gak bisa apa ya?"


"Soalnya dua taun lagi saya bakal nikahin Nia."


Monica diam sesaat, memasang ekspresi wajah tak percaya, tetapi kemudian kembali menyuguhkan senyum. "Kamu sadar kan, kalo kamu gak punya hak buat bilang gak bisa?"


"Enggak."


Lagi-lagi Monica diam dan hanya bisa menanggapi Zaim dengan ekspresi wajah tak percaya. Sejak pertemuan pertamanya dengan Zaim, Monica sudah merasa jika ada yang salah pada otak pria super tampan itu. Arogan, angkuh, dan tak mau kalah. Itu adalah penilaian sementara Monica saat beradu tatap dengan Zaim pertama kali. Namun nyatanya itu menjadi penilaian sementara sekaligus permanen. Bagi Monica, CEO bak aktor negeri ginseng itu, minus!


Monica membenahi setelannya, lalu perlahan beranjak. "Kayanya saya dateng ke tempat yang sa–"


"Duduk."


"Maaf tapi gak ada gunanya sa–"


"Selama kamu di Indonesia, kamu ada di bawah kaki saya," sela Zaim lagi. "Mau, saya bikin kamu gak bisa pulang ke negara kamu?" Zaim menunjuk kursi. "Du–"


"Oya? Kalo gitu silahkan buktiin dulu. Kalo ngomong doang anak TK juga bisa kan?" Monica keluar dari ruang kerja Zaim.


BRAK


Sepatu berhak sembilan senti itu mencuri perhatian semua karyawan di kantor Zaim. Bukan karena desain pun warna sepatu tersebut yang sangat indah, melainkan karena suara terburunya yang gaduh. Si pemilik sepatu, Monica, benar-benar merasa sangat frustasi. Ternyata bukan pilihan tepat mendatangi kantor Zaim alih-alih menunggunya di kediaman Salih si Ketua Rt. Semuanya karena anak-anak Salih. Tidak, lebih tepatnya karena acara yang mereka tonton!


Awalnya Monica duduk dengan tenang menanti kedatangan Zaim, sampai sebelum anak-anak Salih yang baru pulang sekolah membawa makan siangnya ke depan televisi yang tengah menayangkan berita tentang video panas Zaim dan Nia. Bak disambar petir, ternyata foto gadis bernama Nia yang ada dalam berita sama persis dengan foto profil Nia di emailnya. Dan Zaim yang sedang ditunggu Monica saat ini, sudah pasti Zaim yang sama dengan yang ada dalam berita.

__ADS_1


Itulah kenapa Monica langsung meluncur ke alamat kantor Zaim yang tertera dalam berita. Jujur saja Monica tidak peduli akan video panas sang adik sambung. Terlepas dari benar tidaknya video panas itu, nasi sudah menjadi bubur. Tujuan kedatangan Monica hanya untuk melunasi semua hutang Nila dan membawa Nia ke Taiwan. Monica berpikir akan mudah mewujudkan permintaan orangtuanya. Namun siapa sangka jika sang adik sambung ada dalam cengkeraman pria sinting?


Monica menghentikan langkahnya, ketika tak sengaja melihat potret wajah Zaim pada bus yang baru saja melintas. "Bakalan cepet kelar ini urusan kalo dia tertarik sama aku. Tapi ini malah tertarik sama anak ingusan. Pr banget sih."


__ADS_2