HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
JARUM DALAM JERAMI


__ADS_3

CEKREK


Suara jepretan kamera ponsel seketika menghentikan kegiatan penuh berahi itu. Zaim menoleh ke asal suara, tepatnya ke luar jendela kamar Nia, pun Nia meski dirinya tak mendengar suara apapun. Ada bayangan seseorang yang kini tengah bersembunyi di balik tembok. Bukan. Bukan wartawan, sebab mereka tahu batas kenekatan yang bisa ditoleransi oleh seorang Zaim Alfarezi. Si penjepret sekaligus pengganggu itu sudah pasti Ikbal. Ya!


"Ikbal lagi ngintip."


"Yaudah minggir." Nia mendorong Zaim menjauh.


"Aku belom selesai."


"Udah selama itu?"


"Bukan ciuman, tapi ngomong," balas Zaim.


Nia membuang pandangannya. "Yaudah apa?"


"Liat aku. Kamu kan lagi ngomong sama aku."


Nia tak menjawab, tetapi perlahan kembali memelototi Zaim.


Zaim mengeratkan lingkaran kedua tangannya di pinggang Nia. "Aku bakal ngomong ini sekali. Jadi denger baik-baik, dan pake selamanya. Clear?"


Nia masih enggan menjawab, malah kembali membuang pandangannya.


"Clear?" Zaim menyentuh wajah Nia, membuatnya kembali membalas tatapannya.


"To the point dih aku laper."


"Clear?"


Nia menghela napas. "Yaudah clear yaudah cepetan mau ngomong apa!"


"Akhir-akhir ini aku sibuk banget karna harus bolak-balik Indonesia Malaysia. Jadi kita gak bisa ketemu sesering sebelumnya. So, please, Sayang, jangan mikir yang gak penting."


"Siapa yang mikir gak penting? Aku mikir berdasarkan fakta tuh. Mbah kamu bilang kalo aku cuma mau ngeretin kamu doang. Ya wajar dong kalo aku mikir dia gak suka aku. Terus kamu kan juga gak suka aku. Kamu macarin aku cuma karna gabut kan? Iya kan?"


Zaim berganti menghela napas. "Aku pengusaha. Aku gak suka rugi, terutama rugi waktu. Dan pacaran butuh banyak waktu. Jadi udah gak mungkin aku cuma gabut."


Nia masih melotot, meski tak seseram sebelumnya.


"Aku suka sama kamu karna ada sesuatu yang aku rasain di sini." Zaim menempelkan tangan Nia di jantungnya.


"Anjir ini orang bisa mati gak nih jantungnya heboh banget kaya gini?" tanya Nia dalam hati.


"Terus soal Kakek aku. Dia justru suka sama kamu. Abis ketemu kamu dia langsung nelfon aku dan nyuruh aku cepet-cepet nikahin kamu," imbuh Zaim seraya merapikan rambut Nia yang berantakan. "Cara ngomongnya emang kacau. Jadi coba kamu biasain mulai dari sekarang. Hm?"


Nia tak mengangguk, pun menggeleng. Tetapi Zaim tahu Nia mulai melunak.


"Terakhir. Aku paling gak suka main petak umpet, apalagi didiemin gak jelas. Mending kamu telfon aku, tanya langsung, jangan ambil keputusan sepihak. Aku gak apa-apa dimaki-maki atau dipukul selama sebabnya jelas. Jadi pastiin ini yang terakhir kamu bersikap kaya gini. Clear?"


"Kamu ngutak-ngutik hp aku kan?"


"Clear?"


"Jawab aku dulu."


"Iya," balas Zaim.


"Alesannya?"

__ADS_1


"Biar Kasih gak bisa gangguin kamu lagi."


"Pasang-pasang kaya GPS gitu juga kan makanya waktu itu Mbah kamu tau duluan aku ada di kantor polisi sebelum wartawan-wartawan itu?"


"Iya. Udah nanyanya? Jadi yang tadi clear?"


Nia kembali mendorong Zaim menjauh, meski tubuh kekar berbalut kaos putih tanpa lengan itu tak bergerak sedikit pun. "Yaudah clear. Sekarang minggir."


"Aku belom selesai."


"Banyak banget sih yang mau diomongin. Apalagi?"


"Bukan ngomong, tapi ciuman."


Zaim menuntun kedua tangan Nia ke posisi sebelum mereka berdebat, atau lebih tepatnya sebelum suara jepretan kamera ponsel Ikbal ditangkap basah oleh pendengaran tajam Zaim. Sebelum semua itu terjadi posisi kedua tangan Nia memang melingkar di leher Zaim. Melingkar begitu saja mengikuti suasana yang ada, melingkar semakin kuat seiring dengan ritme ciuman mereka yang semakin cepat dan bersemangat.


"Ada ya, orang yang ingkar janji bukannya minta maaf malah ngelunjak?"


Zaim tersenyum. "Ada. Aku."


"Minggir gak?"


Zaim hanya menjawab dengan senyum. Senyum yang entah kenapa terlihat sangat menggoda. Nia membuang wajahnya saat tahu Zaim semakin mendekat, namun langsung kembali menghadap Zaim saat Zaim berbisik, Ngadep aku apa aku ingkarin janji yang lain? Dan akhirnya, ciuman penuh berahi itu berlanjut ke ronde dua dan kemungkinan besar terus berlanjut ke ronde tiga, empat, dan seterusnya.


...•▪•▪•▪•▪•...


Ushi tampak berlari menuju salah satu rumah sakit terbaik di kota kelahirannya, Penang, Malaysia. Namun sebelum itu Ushi sudah pergi ke stasiun kereta api, sebab tujuan kepergian dadakannya ke Malaysia memang untuk memeriksa lokernya yang ada di sana. Kegelisahan Ushi tak lagi bisa dibendung, sungguh. Fakta bahwa kunci lokernya yang hilang secara misterius saja sudah cukup membuat Ushi gelisah, kini malah ditambah fakta baru jika kemungkinan besar Nila bukanlah ibu kandung Nia.


"Atau malah Nia yang bukan anak kandungnya Burhan sama Nila? Terus Nia anak siapa?" tanya Ushi dalam hati. "Dia pasti tau jawabannya."


Ya, dia. Dia yang menurut petugas kereta api merupakan dalang terjadinya kebakaran di stasiun, Bastian. Stasiun di mana Ushi menyimpan barang-barang masa lalunya telah terbakar. Ushi masih sulit untuk percaya, apalagi jika mengingat hanya loker saja yang terbakar. Ada yang ganjil. Kegelisahan Ushi pun kian menjadi-jadi. Berbekal informasi dari petugas kereta api tentang pria bernama Bastian, Ushi pun langsung bergegas untuk menemuinya.


"Sila masuk, Miss." Seorang suster membukakan pintu kamar pasien untuk Ushi. "Tuan Bastian, ada tetamu untuk awak."


"Terima kasih."


"Jika Miss Ushi perlu apa-apa boleh panggil saya. Lepas tu saya pergi dulu."


Ushi kembali mengucap terima kasih pada si suster, dan kemudian melangkah ragu menghampiri ranjang Bastian. Terlihat Bastian tengah membenahi bantal tidurnya yang sengaja disusun sebagai pengganjal punggung. Padahal sebelumnya Ushi merasa bersemangat, tetapi saat berhadapan langsung dengan Bastian, Ushi mendadak menjadi canggung. Ya, wajar. Ushi tidak mengenal Bastian tetapi tiba-tiba memaksa untuk bertemu.


"Silahkan duduk, Bu Ushi Widhiani."


"Loh? Anda orang Indonesia? Bukan-bukan. Maksud saya, kok Anda bisa tau nama saya?" Ushi refleks mempercepat langkahnya.


"Ternyata Anda dateng ke sini sendiri. Kirain sama Zaim."


"Zaim? Maksudnya Zaim Alfarezi?" Ushi menarik kursi tanpa ragu dan langsung duduk di samping Bastian.


"Iya."


"Maksudnya gimana? Saya gak ngerti."


"Ceritanya panjang, Bu. Sambil makan aja." Bastian menyodorkan sepiring buah-buahan pada Ushi. "Silahkan, Bu Ushi boleh tanya apa aja sama saya."


"Gimana Anda bisa tau nama saya?"


"Soalnya saya dapet tugas buat nguak masa lalu Ibu," balas Bastian.


"Masa lalu saya?"

__ADS_1


"Betul, Bu. 


Ushi menggeleng-geleng. "Saya beneran gak ngerti sama sekali."


"Anak Ibu sama almarhum Pak Burhan masih hidup."


DEG


"Saya gak tau anak itu cewek atau cowok karna di foto masih bayi banget. Tapi saya yakin itu anak Ibu sama almarhum Pak Burhan. Karna foto anak itu ada di dalem amplop yang ditaro almarhum Pak Burhan di loker Ibu," tambah Bastian.


DEG DEG


"Mungkin Ibu gak tau. Tapi almarhum Pak Burhan pernah ke Malaysia buat naro amplop itu di loker Ibu. Tapi pas mau balik ke Indonesia, almarhum Pak Burhan jadi korban tabrak lari. Almarhum Pak Burhan koma dan di rawat di rumah sakit ini juga selama tiga bulan."


DEG DEG DEG


"Bu Ushi? Ibu gak apa-apa? Mu–"


Hening, dan aneh. Sebab semua yang dikatakan Bastian hanya bisa didengar Ushi seperti dengungan. Fakta baru apalagi itu? Mendiang mantan kekasih Ushi, Burhan, pernah ke Malaysia dan meletakkan sesuatu di dalam lokernya? Tanpa sepengetahuannya? Dan apa? Burhan pernah koma? Kapan? Dan kemudian apalagi? Anak pertamanya masih hidup? Tidak mungkin. Ushi bahkan masih mengingat kata demi kata yang dikatakan dokternya saat itu.


*FLASHBACK ON*


"Maaf, Bu, anak Ibu tidak berhasil kami selamatkan. Ibu mengalami kondisi di mana hanya satu orang yang bisa diselamatkan, dan Pak Burhan memutuskan untuk menyelamatkan Ibu."


Ushi menggeleng menanggapi dokter wanita itu. "Gak mungkin. Saya tau Burhan. Saya kenal Burhan. Gak mungkin Burhan lebih milih saya daripada anaknya. Di mana Burhan?" Ushi menoleh ke sena ke mari.


"Udah kabur."


"Apa?" Ushi menoleh pada sang ayah, Safi, Sayfudin Qazzafi.


"Dia kabur ninggalin kamu sama anak kamu. Dia juga minta uang satu milyar."


Ushi kembali menggeleng. "Gak mungkin. Aku gak percaya. Burhan bukan orang kaya gitu. Bu–"


Saya yang bakal nguburin anak ini. Saya juga bakal ninggalin ushi karna dari awal saya emang gak pernah cinta sama dia. Dia cuma anak manja yang nyusahin. Saya mau ganti rugi. Satu milyar be–


Safi menjeda rekaman suara yang memperdengarkan suara Burhan. "Sekarang udah percaya?"


Ushi tak menjawab, hanya menunduk, lalu lambat laun, menangis pilu.


"Anak kamu udah mati. Pacar kamu yang miskin itu juga, anggep aja udah mati. Sekarang ikutin omongan Bapak. Pindah ke Malaysia kalo kamu udah pulih. Mulai hidup baru di sana. Bapak bakal urus semuanya."


*FLASHBACK OFF*


Ushi tiba-tiba beranjak dari kursi, lalu berbalik menatap ke luar jendela, tepatnya menatap gedung paling tinggi di antara gedung lainnya. Benar, gedung milik ayah Ushi.


"Bu, Ibu gak apa-apa mi–"


"Semuanya pasti ada kaitannya sama Bapak saya," sela Ushi pada Bastian.


"Kemungkinan besar iya, Bu."


"Saya terlalu sakit hati sama Burhan. Soalnya saya cinta banget sama dia, bahkan sampe sekarang." Ushi kembali duduk di kursinya. "Dan walopun Bapak saya udah ngebuktiin kalo Burhan udah ngekhianatin saya, saya tetep gak percaya dia ninggalin saya demi uang."


Bastian hanya mendengarkan sambil memuji Ushi dalam hati, bukan main wanita ini, meski disuguhi banyak fakta menyakitkan, tak ada air mata yang tumpah barang setetes!


"Pak Bastian, boleh saya nanya?"


"Silahkan, Bu," sahut Bastian.

__ADS_1


"Nia anak pertama saya kan?"


__ADS_2