
"Hah."
Ushi menghela napas, sambil menghentikan langkah beratnya di lobby utama rumah sakit. Obrolannya dengan Bastian beberapa menit lalu masih terngiang jelas di telinga Ushi. Burhan pernah ke Malaysia, meletakkan selembar foto bayi secara diam-diam di dalam lokernya, dan bayi dalam foto itu, kemungkinan besar adalah buah cinta Ushi dan Burhan. Namun semuanya masih berupa kemungkinan, dugaan serta prasangka, yang mana akan selamanya menjadi abu-abu jika tidak segera dipatahkan dengan bukti.
Ushi melambaikan tangannya ke arah taksi yang baru saja menurunkan penumpang. "Bawa saya ke Menara Ahad."
"Baik, Miss."
"Tunggu-tunggu. Pergi sahaja ke lapangan terbang."
"Baik, Miss."
Bukan tanpa alasan Ushi tiba-tiba mengubah tujuannya. Jika Ushi menemui sang ayah di Tower Ahad, Ushi hanya akan menambah masalah dan membuat Nia dalam bahaya jika terbukti Nia adalah anak pertamanya. Yang dilakukan Ushi selama ini sudah benar, yakni merahasiakan Nia dari keluarganya. Ushi harus sabar menanti Bastian kembali pulih sehingga bisa segera menguak kebenaran masa lalunya. Ushi pun hanya bisa meluapkan amarahnya dengan memelototi Tower Ahad di sepanjang perjalanan menuju bandara.
"Aku gak akan maafin Bapak kalo yang bikin Burhan koma dan yang bikin aku pisah dari anakku beneran Bapak," gumam Ushi.
Dua jam lima menit pun berlalu, Ushi akhirnya kembali menghirup debu tebal Kota Jakarta. Setiap kali kembali ke Jakarta seusai dari Malaysia, Ushi memang selalu tak sabar untuk bertemu Nia. Namun kali ini ketidaksabaran Ushi berbeda, terlalu menggebu. Ushi pun tiba di kediamannya, dan langsung disambut suara gaduh Ikbal dan Nia yang seperti biasa pasti sedang saling mengejar memperebutkan sesuatu. Ushi tersenyum, sembari melangkah memasuki rumah yang diapit pohon rambutan rapiah itu.
KLEK
"Ibu?" Ikbal berlari menghampiri Ushi yang baru saja muncul dari balik pintu. "Ibu, Ibu, mau liat foto syu–"
"Tante, Tante Ikbal suka sama Vi–"
Spontan Ikbal melempar Nia dengan bantal sofa. "Dia udah gila, Bu."
"Dia makin buaya, Tan."
Ushi tertawa. "Pasti makin kaya kapal pecah deh nih rumah kalo kalian beneran kakak adek."
"Hah? Kakak adek? Aku? Sama dia?" Ikbal menunjuk Nia dengan jijik. "Ogah dih, Bu, amit-amit jabang bayi, jangan sampe ja–"
Nia berganti melempar Ikbal dengan bantal sofa. "Gue juga ogah punya adek buaya kaya lu tau gak? Masa semua cewek diembat. Sampe Vi–"
"Jaga bicaramu Upik Abu." Ikbal kembali mengejar Nia.
Ushi menggeleng-geleng. "Udah-udah. Ngebrisikin tetangga tau gak. Kita ke supermarket yuk? Belanja bulanan. Mau barbekyuan juga gak? Seru kayanya barbekyuan malming-malming gi–"
BUG
__ADS_1
"Oh, ****."
"Dia, Bu. Dia yang lempar." Ikbal menunjuk Nia.
Ushi hanya menghela napas, sambil memungut bantal sofa yang baru saja mendarat tepat di wajahnya. "Jadi kalian nantangin perang bantal nih?"
...•▪•▪•▪•▪•...
Akhirnya, setelah mengantri di jalur tiket selama hampir dua puluh menit, mobil Ushi pun melenggang keluar dari supermarket paling komplit di kota itu. Maklum, ini hari sabtu, tanggal muda pula, dan supermarket juga cocok bukan untuk dijadikan tempat berkencan para kaum bucin. Ya, walaupun sudah jelas kegiatan berkencan mereka hanya mengitari supermarket dengan troli kosong. Dan tibalah Nia, Ushi serta Ikbal di kediamannya setelah berhasil terbebas dari drama macet di malam minggu. Namun.
"Loh? Mereka dateng gak ngabarin lagi?" Ushi mendecak sembari melepas sabuk pengamannya.
"Aku aja, Bu. Ntar aku langsung ngunci kamar Nia juga. Ibu urus Nia aja." Ikbal keluar dari mobil, menghampiri keluarganya yang jauh-jauh datang dari Malaysia itu.
"Duh, gimana ya? Mmm, gini aja. Ini." Ushi memberikan beberapa lembar uang seratus ribu pada Nia. "Kamu ngumpet di sini dulu. Nanti kalo situasinya udah aman, kamu langsung ke rumah Vina aja. Atau ke kosan Bu Santi. Nanti Tante nyusul ke sana."
Nia hanya mengangguk-angguk menanggapi Ushi, sambil mengantongi uang di saku depan setelan kodoknya.
Waktu berlalu, sangat lambat untuk Ushi serta Ikbal, dan amat sangat lambat untuk Nia yang sudah dua jam meringkuk di belakang kursi sopir. Situasi di luar sana tidak kunjung aman karena pengawal keluarga Ushi yang terus berjaga. Dan gawat, perut Nia mulai membuat masalah. Seharusnya saat di supermarket tadi Nia tidak mengikuti Ikbal mencicipi semua makanan siap saji. Nia mengintip keluar jendela, mengamati sekitar. Ada satu jalan keluar. Ya, dengan melompati pagar.
Tetapi demi apapun, itu bukan pilihan yang tepat saat dalam kondisi perut yang seperti sekarang. Nia kembali menggelesot, sembari menghela napas kasar. Keringat Nia mulai bercucuran, sebab perutnya yang kian bertambah mulas. Nia sudah tidak tahan, Nia butuh toilet atau cangkul atau apapun itu. Nia mulai berpikir nekat, tetapi beberapa orang pengawal itu tiba-tiba meninggalkan posisinya. Segera Nia pun berlari tunggang langgang mencari toilet terdekat, toilet toko buku!
"Apa iya gue ke rumah Vina aja?" Nia menggeleng. "No. Tiap hari kan gue udah ke sana. Mana kosan Bu Santi lagi full." Nia memandangi layar ponselnya. "Apa ke rumah Zaim? No-no. Jangan masuk ke kandang macan yang lagi pengen kawin." Nia kembali menggeleng-geleng.
DRRRTTTT
"Eh, macan. Baru juga diomong. Bilang apa ya? Mending jangan bikin masalah sama macan satu ini deh kalo gak mau dipojokin terus dipaksa ngomong clear-clear." Nia megusap tombol hijau pada layar ponselnya. "Halo."
"Aku baru break rapat. Udah makan?"
"Udah tadi di supermarket."
"Di supermarket?"
Nia menghela napas. "Kamu kelar rapat jam berapa?"
"Masih lama. Why? Is anything good?"
"Gak good. Aku lagi ngegelandang. Keluarga Tante yang dari Malaysia tiba-tiba dateng, terus yaudah aku pergi. Mau ke rumah Vina gak enak. Mau ke kosan yang biasa aku sewa tiap keluarga Tante dateng tapi lagi full."
__ADS_1
"Kenapa baru bilang sih? Kebiasaan banget. Aku kirim supir. Kamu kirim lokasi kamu sekarang." Zaim mengakhiri panggilan itu.
"Dih. Gue yang sial kenapa dia yang kesel?"
Meski begitu Nia tetap mengirimkan lokasinya saat ini pada Zaim. Lalu tak berselang lama, seorang pria yang mengaku bernama Ucil menghampiri Nia yang tengah memandangi lampu taman sambil menyenandungkan lagu patah hati. Nia tampak siaga, dan tak menurut begitu saja ketika Ucil mempersilakan Nia ke parkiran. Tetapi saat Zaim mengonfirmasi bahwa Ucil adalah supir yang dimaksudnya, barulah Nia mengekori Ucil ke tempat parkir. Dan tibalah Nia di kediaman Zaim. Namun.
PRANG
"Dasar murahan! Gak punya hati! Berani-beraninya kamu ngasih liat muka kamu di depan saya!" Kasih melempar segala perkakas ke arah Nia.
PRANG
"Dasar pelakor! Kamu gak liat hah? Saya lagi hamil!" Kasih menunjuk perut lima bulannya. "Seenggaknya kalo hati kamu emang buta, mata kamu pasti masih bisa liat kan? Iya kan?" Kasih berjalan cepat menghampiri Nia.
"Non Kasih, mohon maaf ta–"
Kasih memelototi Ucil. "Keluar kamu, atau saya pecat?"
Spontan Ucil pun berlari tunggang langgang kembali ke posnya.
"Tinggalin suami saya selagi saya masih minta baik-baik. Kamu pasti cuma ngincer harta suami saya kan? Yaudah sebut aja. Sebut sekarang juga semua yang kamu mau. Apa? Rumah? Mobil? Perhiasan?"
"Saya gak ma"
PLAK
"Emang. Sekali murahan tetep murahan," sela Kasih pada Nia. "Karma Tuhan itu nyata. Saya yakin di waktu yang Tuhan tetapin, kelak pelakor-pelakor kaya kamu bakal menderita." Kasih kembali melayangkan tamparannya.
PLAK
BRUK
Kasih menghampiri Nia yang baru saja didorongnya, berniat melakukan sesuatu yang lebih buruk. Namun seorang kepala pelayan tiba-tiba memegangi Kasih. Kepala pelayan itu, Nur, sudah bekerja untuk keluarga Zaim selama berpuluh tahun. Bagi Nur dipecat bukanlah masalah, yang menjadi masalah adalah tidak mendengarkan kata hati. Nur memerintahkan bawahannya memanggil Ucil untuk mengantar Kasih kembali ke kediamannya. Sementara Nur sendiri, membawa Nia ke kamar tamu.
"Udah gila kamu ya, Nur! Lepasin! Lepasin saya! Kamu dipecat, Nur! Pergi kamu dari sini! Kemasin barang-barang kamu sekarang juga!"
"Maaf, Non Kasih. Tapi yang bisa mecat saya cuma Pak Hakam. Lain daripada Beliau, kuasanya setara sama saya. Jadi silahkan datang lagi kalo Non Kasih udah tenang," balas Nur.
"Kurang ajar! Kamu pikir saya sama sama kamu ya–"
__ADS_1
Nur menggeleng memandangi Kasih yang diseret keluar, lalu menoleh pada Nia. "Mohon maaf untuk ketidaknyamanannya ya, Non." Nur membantu Nia berdiri. "Mari, saya antar ke kamar."