HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
BAGAS LAGI BAGAS LAGI


__ADS_3

Nia mengusap peluh di dahinya, sambil melafalkan doa mimpi buruk. Nia masih tampak ketakutan, tetapi perlahan, air wajahnya kembali segar. Entah kenapa Nia sering sekali disambangi mimpi buruk beraneka tema. Padahal beberapa hari terakhir Nia bisa tidur dengan nyenyak, bahkan tanpa perlu dininabobokan lagu galau favoritnya.


"Masa gara-gara gue makan chicken katsunya si Ikbal diem-diem?" tanya Nia dalam hati. "Serem banget anjir. Apaan artinya ya? Jadi kepo." Nia meraih ponselnya.


Nia mulai mengetikkan sesuatu di kolom pencarian. Arti mimpi ke sekolah gak pake baju. Dan apa-apaan? Hasil tak masuk akal macam apa itu? Dikatakan dalam primbon bahwa mimpi melihat diri sendiri telanjang adalah, orang tersebut akan dibuka aibnya, akan dipermalukan, akan mendapat musibah. Nia menggeleng, menolak percaya namun sukses dibuat negative thinking.


Nia mengeleng lagi. "Mitos. Fix mitos."


Nia beranjak dari ranjang, melangkah malas meninggalkan kamarnya, berniat menenangkan diri dengan sisa bobanya semalam. Tampak Nia melangkah hati-hati menuruni tangga karena penerangan yang minim. Hening. Wajar saja. Ini masih jam satu pagi. Jam-jam di mana setan dan bala tentaranya tengah gencar-gencarnya meninabobokan para pemula tahajud.



"Eh? Mana boba gue?" Nia menoleh, memelototi pintu kamar tidur Ikbal. "Gak salah lagi pasti si buaya Bantar Gebang itu pelakunya." Nia menghela napas seraya menghampiri tudung saji. "Yaelah."


Nia menutup kembali tudung saji itu, kesal menyadari hanya ada semangkuk jengkol muda dan rawit letoy di sana! Alangkah bahagianya jika Nia bisa memesan tongseng dan sate ayam di gofo*d. Tapi untuk mengambil nikmat dunia itu Nia harus terlebih dahulu melewati pohon rambutan tua yang konon kata tetangga, ditunggu oleh Mbak Kunti. Sial!


"Bikin penyetan telor aja deh."


Sementara Nia mulai bergelut dengan cobek dan kawan-kawan, sang kekasih, Zaim, ternyata juga terjaga karena diteror mimpi buruk. Terlihat Zaim juga keluar dari kamarnya, hendak mencari udara segar. Namun langkah malas Zaim dihentikan oleh suara petir. Pada akhirnya Zaim pun merenung di ruang tamunya yang didekor seperti istana raja-raja itu.



"Pasti udah tidur." Zaim memandangi kontak Nia di ponsel, lalu menekan tombol kunci. "Kecuali dulu wa–"


Perkataan Zaim terjeda, karena layar ponselnya yang baru saja meredup itu tiba-tiba menyala. Ada panggilan telepon. Zaim buru-buru melihat siapa si penelepon, berharap itu Nia. Tetapi tentu saja bukan meski sekarang Nia pun sedang terjaga. Bastianlah yang menelepon. Zaim kembali bersandar pada punggyng sofa, sembari mengusap layar ponselnya.


"Za?"


"Hm." Zaim menguap.


"Gua mau laporan."


"Yaiya masa mau tidur sama gua."


Terdengar Bastian mendecak pelan. "Anak yang dikandung Kasih kemungkinan besar bukan anaknya Zain … Kunci password Emily ternyata nama lengkapnya Zain …"


"Intinya apa?"


"Ini masih dugaan kasar sih, Za. Tapi gua yakin banget."


"Apa?"


"Emily suka sama Zain, atau mungkin dia pernah nembak. Tapi sama Zain ditolak. Terus dia gak terima dan coba ngehancurin hubungan Zain sama Kasih, lewat cowok yang dia bilang masuk hotel sama Kasih."


Zaim tak menanggapi, hanya mengangguk-angguk mendukung dugaan kasar Bastian dalam diam.


"Lanjut selidikin gak?" tambah Bastian.

__ADS_1


"Ya kalo lu mau brenti selidikin Emily ganti selidikin Umar Zakawat."


"Loh? Emang itu sampah belom dianter juga sama bokapnya Ushi?"


Zaim menghela napas. "Belom."


Bastian terdengar ikut menghela napas. "Cuma perasaan gua aja apa emang masalah dari kemaren gak kelar-kelar malah makin numpuk? Terus …"


Zaim segera menjauhkan ponselnya dari telinga. Bukan karena moodnya yang semakin amburadul mendengar ocehan Bastian yang tak dibubuhi titik koma, melainkan karena getaran ponselnya yang menandakan ada pesan yang baru saja masuk. Spontan Zaim beranjak dari sandaran malasnya setelah tahu identitas si pengirim pesan. Benar, Nia.


Nia mengirim foto makanan yang sukses membuat perut Zaim berkoar. Seporsi nasi putih pulen yang mengepul dengan lauk telur dadar serta sambal merah menyala yang diplating dengan daun kemangi dan mentimun segar di atas cobek, fix nikmat no debat! Zaim pun tanpa ragu memutus panggilan teleponnya dengan Bastian, lalu bergegas membuat panggilan baru.


"Kok belom tidur?"


"Aku mimpi buruk." Suara Nia terdengar bersamaan dengan kunyahan mentimun.


"Mimpi apa?"


"Mimpi buruk banget pokoknya. Sampe bikin aku laper."


"Kenyang emang cuma makan itu?"


"Enggaklah. Tadinya aku mau gofo*d, tapi ini kan jam 1 pagi. Aku gak berani keluar buat ngambilnya," balas Nia.


"Lagi pengen makan apa emang?"


"Yang sebrang kfc sekolah kamu?"


"Iya. Jam segini lagi sepi-sepinya tuh dia. Porsinya pasti dibanyakin karna udah mau tutup. Definisi sisaan tapi maknyus." Nia tertawa.


Zaim ikut tertawa. "Yaudah aku beliin."


"Eh? Gak usah. Ini aku juga udah makan kok."


"Gak apa-apa. Lagian aku gak beliin secara cuma-cuma."


"Enggak akan." Nia menekan setiap katanya.


Zaim kembali tertawa. "Dengerin dulu."


"Permintaan 21+ gak perlu didengerin ya tolong."


Zaim tak henti tertawa. "Kali ini gak kok."


"Apaan emang?"


"Besok temenin aku ketemu sama Zain ya?"

__ADS_1


...•▪•▪•▪•▪•...


" … Oke, Om. Saya kirim videonya secepetnya." Bayu, teman sekelas Vina menutup telepon. "Mayan sejuta." Bayu melanjutkan perjalanannya menuju sekolah.


Ya, satu juta rupiah untuk mendapatkan rekaman wajah Nia memang harga yang lumayan. Tetapi siapa Om yang dimaksud? Yang pasti bukan Om Heri alias Pria Purnama, sebab target pria bertubuh buntal itu hanya Vina seorang. Om yang memberi Bayu uang dengan nominal menggiurkan itu adalah Bagas, ayah Ikbal. Nahas. Entah bagaimana Bayu bisa terus-menerus berurusan dengan orang-orang sinting.


Pertemuan pertama Bagas dengan Bayu tak jauh berbeda dengan pertemuannya dengan Heri. Saat itu Bayu sedang dalam perjalanan ke sekolah, dan tiba-tiba saja ditanyai oleh orang tak dikenal alias Bagas. Bagas mengimingi Bayu sejumlah uang asal Bayu bersedia membantunya menuntut balas pada Nia. Bayu pun menyatakan kesediaannya tanpa ragu, dan langsung menyabet uang muka yang digenggamkan Bagas padanya.


*FLASHBACK ON*


" … Kamu rekam dia pas dia lagi di toilet. Ngerti?"


Bayu diam sesaat, tampak berpikir. "Iya ngerti. Tapi kenapa saya harus masuk toilet juga ya, Om?"


"Ya emang ada begituan cuma sendiri?" Bagas meminta Bayu mendekat. "Saya mau bikin video panasnya Nia. Saya punya temen jago ngedit video begituan. Kata dia bisa banget, yang penting ada video asli yang menjurus buat opening."


Bayu tampak terkejut. "Waduh. Muka saya keliatan dong, Om? Kayanya saya gak berani deh, Om."


"Tenang aja. Muka kamu gak akan keliatan kok. Yang keliatan cuma mukanya si Nia."


"Beneran nih muka saya gak keliatan?"


"Kamu ngeraguin temen saya? Dia editor film panas di Jepang loh." Suara Bagas mulai meninggi.


"Gak gitu maksud saya, Om. Yaudah deh, Om. Tapi tambahin ya, Om. Masa cuma tiga ratus lima puluh rebu? Sejuta gitu gimana, Om? Resikonya tinggi soalnya."


"Oke. Yang enem ratus lima puluh nanti pas kamu udah dapet rekamannya."


"Oke, Om. Jadi rekamannya gimana tadi?"


Bagas kembali meminta Bayu untuk mendekat, seraya berbisik, "Kamu ikut masuk toilet pas Nia ke toilet. Tapi pastiin gak ada orang. Terus hp kamu taro pas depan pintu toilet. Abis itu kamu ekting apa kek sampe Nia bukain pintu. Nah kalo dia udah bukain pintu, kamu langsung masuk. Udah sampe situ aja. Ntar kesininya kan diedit …"


*FLASHBACK OFF*


"Nia?"


"Eh? Siapa lu? Kok cowok masuk toilet cewek?" Nada suara Nia terdengar meninggi.


"Ini gua Bayu. Buka bentar deh. Gua mau ngomong. Darurat."


"Dih gila lu ya? Gue lagi ganti baju anjir."


"Tapi ini soal Vina ya–"


KLEK


"Kenapa sama Vina?" Nia membuka sedikit pintu toilet.

__ADS_1


BRAK


__ADS_2