HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
BENANG KUSUT


__ADS_3

" … Denar Djajadi kan udah ngasih kesaksian. Kalo soal bukti, dia bilang mau cari kan? Terus masalahnya apalagi, Pak?"


"Saya ragu, Pak Bastian," balas Sobari.


"Saya yakin pelaku penembakan itu Monaco. Kalo Atlas udah gak mungkin. Apalagi anggota Atas yang pangkatnya rendah."


"Menurut saya justru mungkin. Karna gaji anggota Atlas yang pangkatnya rendah itu kecil." Sobari menoleh pada Bastian. "Kita gak boleh gegabah, Pak. Kalo kita asal tuduh apalagi yang dituduh ini Monaco, bisa gawat."


"Oke gini. Anggep pelakunya warga sipil. Emang dia bisa bayar Atlas? Terus warga sipil emang boleh punya senjata? Oke anggep aja mereka punya senjata diem-diem, tapi di mana mereka beli senjata itu? Di Joff? Joff mana mau jual senjatanya ke warga sipil. Ranahnya dia kan orang-orang ge–"


"Stop."


Akhirnya, Zaim buka suara setelah membiarkan Bastian dan Sobari adu argumentasi selama hampir dua jam. Begitu pula dengan Jani yang hanya menjadi pendengar sembari menghisap rokok elektriknya di pojok room karaoke. Sambil mencari kekurangan room karaoke kelas VVIP miliknya, Zaim mengatakan jika pelakunya bukan Monaco melainkan Kasih. Saat ditanya alasannya Zaim menjawab hanya insting, instingnya yang sensitif terhadap orang berhati busuk menunjuk Kasih sebagai otak dibalik insiden penembakan itu.


" … Atlas gak bakal mau kerja sama sama Monaco, apalagi Nila. Nila udah berubah. Gua bisa rasain."


Jani mengangguk-angguk menanggapi Zaim. "Kalo gitu fix Denar boong. Motifnya udah pasti karna dia sayang banget sama Nia. Tapi Nila juga bisa. Mungkin sampe sekarang Denar masih nyimpen dendam sama Nila."


"Tapi Joff ngebenerin kalo pas insiden penembakan itu, A110 emang lagi ada misi di sekitar Komplek Medina. Si Joff mana mungkin boong?"


"Tapi saya inget ekspresi A110 waktu itu, Pak Bastian. Itu ekspresi orang ketangkep basah. Dan dia nembak saya di sini." Sobari menyentuh jantungnya. "Kaya sengaja mau bunuh saya buat nyingkirin saksi."


"Joff cuma ngebenerin perkara misi, bukan bela A110. Jadi soal A110 serahin aja sama Joff. Walopun kita gak minta, Joff yang udah keusik pasti bakal nyeledikin diem-diem." Zaim beranjak. "Pak sobari, Bapak balik aja ke rumah aman* buat ngawasin Nia. Terus lu, Jan, join sama Bastian buat ngawasin Kasih. Cari motifnya."


*Sebuah rumah yang digunakan Zaim untuk kepentingan misi-misinya. Rumah aman terletak tepat di depan rumah Nia.


Tak ada jawaban dari Bastian dan yang lain. Meski begitu sudah pasti mereka mengiyakan misi itu dengan senang hati. Mereka pun ikut beranjak dan mengekori Zaim meninggalkan room karaoke. Namun di tengah perjalanan pulang, tiba-tiba saja ada seorang pria yang melompat ke arah Zaim beserta yang lain. Tentu saja para petugas keamanan langsung mengadang pria itu. Tetapi Zaim mengadang balik ketika si pria menyebut nama sang kekasih. Pria itu mengatakan jika Nia sangat pelit karena hanya memberinya uang pas.


"Saya gak paham," ujar Zaim.


"Jadi pacar Pak Zaim pernah minjem duit sama saya buat nolongin anak kecil di pangkalan angkot, Pak."


"Kok bisa? Emang Anda siapanya pacar saya?"


"Bukan siapa-siapanya, Pak. Saya cuma sopir angkot. Saya kenal pacar Pak Zaim dari tv sama inst*gram. Jadi waktu itu tuh pacar Pak Zaim minjem duit sama saya buat nolongin anak kecil. Yaudah saya pinjemin. Eh dibalikinnya ngepas." Si sopir angkot terbahak. "Tapi kayanya pacar Pak Zaim ditipu deh."


"Maksudnya?"


"Gini, Pak Zaim. Ceritanya saya udah minjemin duit nih ke pacar Pak Zaim. Terus yaudah saya lanjut narik. Tapi saya liat anak kecil yang ditolong pacarnya Pak Zaim masuk mobil mewah."


"Mobil apa? Maksud saya merknya. Limosin bukan?" tanya Sobari.


"Limosin itu gimana bentuknya ya, Pak?"

__ADS_1


Bastian buru-buru menunjukkan gambar mobil limosin di ponselnya. "Ini bukan?"


"Oh iya ini, Pak. Tapi warna item."


"Terus platnya 110 bukan?" tanya Sobari lagi.


"Iya pak. 110."


"Anda kenal anak itu?"


Si sopir angkot menggeleng pada Jani. "Tapi saya sering liat dia sama ibu-ibu keluar masuk Mall Jago."


"Mall Jago ya. Bukannya ada apartemen di dalem mall itu? Kayanya anak itu tinggal di sana."


"Bisa jadi," timpal Jani pada Bastian. "Jadi mau mantau dulu apa langsung aja?"


Bastian tak menjawab, hanya menoleh pada Zaim. Tampak Zaim tengah berpikir keras. Perlahan, benang kusut itu mulai terurai. Meski hanya terurai beberapa helai, tetapi masih lebih baik daripada semakin kusut bukan? Zaim memberi kode pada Bastian dan Jani untuk pergi. Pergi melakukan apapun yang menurut mereka harus. Entah itu memantau, atau langsung mengeksekusi! Sementara Zaim dan Sobari, melanjutkan perjalanannya setelah Zaim menggenggamkan sepuluh lembar uang seratus ribu pada si sopir angkot.


"Andai bener otak dari insiden penembakan itu Bu Kasih, otomatis Bu Kasih bakal jadi targetnya Atlas kan, Pak?"


Zaim menghela napas merespon Sobari. "Iya."


"Terus rencana Pak Zaim?"


...•▪•▪•▪•▪•...


Terlihat puluhan mobil mengantri untuk keluar dari Kompek Medina. Komplek yang berdiri di atas lahan strategis itu kembali menjadi buah bibir. Bagaimana tidak? Suara timah panas kembali menggema di sana, pun jerit kesakitan warga sipil yang lagi-lagi menjadi korban. Itulah kenapa penghuni Komplek Medina berbondong meninggalkan kediaman mewahnya masing-masing. Selain karena ketakutan, mereka juga mematuhi titah pemerintah setempat untuk mengosongkan Komplek Medina sampai pelaku penembakan tertangkap.


" … Iya, Za. Makasih banyak ya. Duh saya jadi gak enak. Abis gimana ya. Anak-anak pada gak mau ngungsi di rumah Kakeknya. Mereka juga gak mau ngungsi ke hotel kalo bukan ke Zistay*."


*Nama hotel bintang delapan milik Zaim yang hanya ada di Indonesia. Hotel yang dikenai tarif fantastis per malam ini mengusung konsep kerajaan mulai dari interior, menu makanan, fasilitas, hingga seragam para pegawai.


Suara tawa Zaim terdengar melalui sambungan telepon yang diloud speaker. "Yaudah ke rumah saya aja, Bu. Gak kalah kok dari Zistay."


Ushi ikut tertawa. "Iya sekali lagi makasih ya, Za."


"Sama-sama, Bu. Kalo gitu selamat berkendara ya, Bu."


"Oke, Za." Ushi menghela napas setelah mengakhiri panggilan telepon itu. "Duh malu banget deh, Ibu."


"Malu kenapa sih, Bu? Dari tadi bilang malu-malu mulu. Lagian orang biasa malu-maluin ngapain malu segala?"


Spontan Ushi mencubit pipi Nia. "Emang kamu kalo jadi Ibu gak malu? Kemaren kan Ibu abis ngusir Zaim. Tapi sekarang Ibu malah ngungsi di rumahnya. Gimana gak malu coba?"

__ADS_1


"Itu namanya karma dibayar kilat, Bu." Ikbal terbahak. "Tapi kan mending ngungsi di rumah Kak Zaim daripada di rumah Kakek. Apalagi di rumah Om Edo."


"Yaiyalah. Males banget Ibu liat muka Kakek kamu tiap hari. Apalagi liat muka pacarnya si Edo yang rada-rada itu. Mending ngungsi di rumah Zaimlah walopun sambil nahan malu. Terus kalo ngungsi di rumah Zaim kan kalian gak perlu izin sekolah lagi. Ibu juga gak perlu izin kerja. Orang …"


Setelah melewati macet parah, Nia, Ushi serta Ikbal pun tiba di kediaman Zaim. Seakan sudah diancam dengan sadis oleh sang tuan, para pelayan Zaim tampak begitu hati-hati menyambut Nia dan yang lain. Mereka dijamu dengan sangat mewah meski Zaim tidak ada di tempat. Zaim sedang sibuk mengurus bisnisnya yang ada di sekitar Komplek Medina, yang dipaksa tutup selama pelaku penembakan masih buron. Dikabarkan Zaim mengalami kerugian besar karena keputusan mutlak dari pemerintah setempat.


" … Kira-kira Kak Zaim rugi berapa milyar ya? Secara di sekitar rumah kan bisnisnya Kak Zaim banyak banget. Cabang Ziboba*nya aja ada empat. Ada Zetindo** juga. Terus cabang Cinemaz*** kan ada semua tuh di mall-mall deket rumah."


*Nama tempat minuman milik Zaim yang menjual aneka es boba.


**Nama supermarket milik Zaim yang memiliki cabang di Thailand, Singapura, Filipina dan Myanmar. Zetindo terkenal sangat lengkap, bersih, juga estetik.


***Nama bioskop milik Zaim yang tersebar di lima puluh titik di Pulau Jawa.


"Pengusaha mana mikirin rugi. Kalo pengangguran kaya kamu tuh baru," sahut Ushi pada Ikbal.


"Dih, Ibu. Aku pelajar bukan pengangguran."


Nia tertawa. "Emang lu beneran belajar?"


"Ya enggaklah. Tapi kan tetep aja gua pelajar. Lu juga emang pernah belajar?"


"Stop-stop. Inget ini di rumah orang." Ushi tersenyum pada Nur, kepala pelayan kediaman Zaim. "Maaf ya, Bi. Dulu saya ngidam nonton ondel-ondel makanya mereka pada brisik."


Nur tertawa. "Gak apa-apa, Bu. Saya sama yang lain malah seneng. Soalnya Pak Zaim kan orangnya diem banget. Jangankan makan. Napas aja gak ada suaranya. Ta–"


"Oh, lagi ada tamu."


Semua orang yang ada di ruang makan itu kompak menoleh ke asal suara. Ternyata yang baru saja muncul adalah Kasih. Entah apa yang membawa Kasih ke kediaman Zaim selarut ini. Namun satu yang pasti, Kasih menyeret koper. Dan mengingat koper identik dengan angkat kaki dari suatu tempat untuk bertandang ke tempat lain, bukankah sudah jelas tujuan kedatangan Kasih? Dan benar saja. Dengan alasan cemas karena insiden penembakan yang kembali terulang, Kasih berkata akan tinggal sementara di rumah Zaim.


" … Dilanjutin aja dinnernya," imbuh Kasih. "Bi Nur, bawain koper saya."


"Oh iya-iya, Non." Nur buru-buru mengambil alih koper yang dibawa Kasih. "Mari silahkan."


"Kalo gitu saya permisi."


"Tunggu, Bu." Nia tiba-tiba beranjak dan menghampiri Kasih. "Saya belum sempet minta maaf soal kemaren. Ibu udah dateng ke rumah tapi saya gak bisa nemuin karna waktu itu saya lagi dihukum gak boleh keluar kamar. Maaf ya, Bu."


Kasih tersenyum menanggapi Nia. "Gak apa-apa. Ikbal juga udah jelasin kok. Waktu itu saya dateng karna khawatir. Kamu pasti shock karna insiden penembakan itu, dan pasti hari ini kamu makin shock kan?"


"Kenapa ya dari kemaren Ibu ngekhawatirin Nia?" Ikbal ikut beranjak. "Kalo pas insiden penembakan pertama okelah karna media bawa-bawa Nia. Tapi kalo insiden penembakan kedua ini media gak ada bawa-bawa Nia tuh. Jangan-jangan Ibu emang tau siapa targetnya si penembak?"


DEG

__ADS_1


__ADS_2