
Zaim menarik atm cardnya dari saku dompet, lalu memberikannya pada Nia. "Kan udah aku bilang pegang aja walopun gak kamu pake."
"Enggak. Aku tuh lagi ngospekin jiwa jajan aku yang badung banget."
Zaim tertawa. "Kayanya darurat banget. Mau buat apa emang?"
"Buat nyokong ide sesatnya Vina …"
Benar. Ide sesat Vina yang kemungkinan bisa membuktikan bahwa Kepsek Andalan Teladan adalah orang yang sus* memang membutuhkan sokongan berupa cuan alias uang. Uang itu rencananya akan digunakan untuk membeli perekam video yang baru-baru ini viral di kalangan gamers bernama pongpong. Pongpong diklaim bisa merekam apapun karena memiliki fitur tembus pandang. Pongpong juga bisa menjangkau seluruh ruangan meskipun hanya dipasang satu buah saja.
*Sus dipakai sebagai akronim dari kata dalam bahasa Inggris “suspicious” atau “suspect” yang berarti mencurigakan atau tersangka. Kata itu adalah kata slang yang juga digunakan untuk mengatakan bahwa seseorang atau sesuatu tidak boleh dipercaya.
Dan saat pongpong sudah berada dalam genggaman, Nia dan Vina akan bertamu ke apartemen Denar. Tentu saja itu bukan bertamu dengan tujuan silaturahmi melainkan untuk memasang pongpong di tempat yang bahkan tidak bisa dijangkau oleh seekor nyamuk. Sesat, bukan? Dan berisiko terlampau tinggi. Tetapi tak masalah selama ada Zaim Alfarezi yang menjadi tameng ide sesat itu. Ya, meski yang dijadikan tameng tidak tahu-menahu. Yang terpenting Nia dan Vina memiliki tameng!
Nia memasukkan atm card ke dalam ranselnya. "Yaudah kalo gitu aku langsung pulang ya."
"Gak makan siang dulu sama aku?"
"Vina kan nunggu aku di depan."
"Yaudah suruh masuk. Kita makan siang bareng."
"Lain kali aja." Nia beranjak. "Aku sama Vina sibuk hari ini."
Zaim mengulurkan tangannya. "Yaudah sini dulu."
"Kenapa?"
Zaim menyentuh bibirnya. "Ini dulu."
"Omg-omg, Zaim Alfarezi makin ke sini makin keliatan banget ya aslinya."
Zaim tertawa. "Aku pikir kamu suka." Zaim beranjak menghampiri Nia. "Kata kamu bibir aku lembut. Kata kamu aku pro. Kata kamu badan aku ya–"
Nia refleks membekap mulut Zaim. "Kok kamu bisa tau?"
"Taulah. Kan banyak cctv di rumah aku," balas Zaim sembari mengecup telapak tangan Nia.
"What? Terus dipasang di mana aja? Jangan bilang di kamar mandi juga?"
"Yaiyalah. Sebagai bentuk keamanan."
Nia diam, kehilangan kata-kata, pun kehilangan muka. Bagaimana tidak? Jika benar ada cctv di kamar mandi tamu kediaman Zaim yang selama ini Nia tempati, itu artinya Zaim sudah tahu sejak lama jika Nia memiliki kebiasaan menyanyikan lagu dangdut saat kesulitan buang air besar. Gila!
"It's okay, Sayang. Lagian aku udah pernah liat kamu telanjang kok," imbuh Zaim.
"M-maksudnya telanjang itu gimana?"
"Telanjang ya telanjanglah, Sayang. Emang telanjang bisa diklasifikasiin? Gak pake baju sehelai pu–"
__ADS_1
Nia kembali membekap mulut Zaim. "Kok kamu bukannya minta maaf malah laporan sebangga itu ke aku?"
Zaim mengecup telapak tangan Nia lagi. "Bukannya kamu ya yang harusnya minta maaf? Sama makasih sekalian. Karna kalo waktu itu aku ngikutin nafsu aku ya–"
KLEK
"Pak, makan siangnya mau saya siapin sekarang?" Nisma tiba-tiba masuk ke ruangan Zaim. "Soalnya semua manajer cabang Zimnasium udah dateng."
"Emang saya gak ada bilang ke kamu buat jangan masuk ke ruangan saya ya?"
"Ya?"
"Kamu gak liat saya lagi ngapain? Saya otw mau ciuman loh sama pacar saya. Tunda lima belas menit."
"O-oh. Baik, Pak." Nisma buru-buru menutup pintu.
KLEK
"Kamu gila?"
Zaim menggeleng sambil berbisik pada Nia, "Aku lebih dari itu."
...•▪•▪•▪•▪•...
"Siapa kamu bilang? Kakak tirinya Nia?"
"Yaudah iya bawa aja. Kasian Nila." Ushi mendecak," kamu pikir saya bakal jawab gitu? Gila kali ya itu si Nila. Udah utangnya di mana-mana, ke–"
"Udah saya lunasin semuanya, Bu."
"Oya? Bagus deh. Uang simpenannya Burhan jadi bisa buat Nia semuanya."
"Saya izin bawa Nia, Bu."
Ushi meletakkan cangkir tehnya kasar. "Di saat lagi marak-maraknya perdagangan manusia kaya sekarang? Kamu pikir saya gak waras?"
"Kalo Ibu gak percaya, saya bisa telfon Mamah saya sekarang ju–"
"Justru saya makin gak percaya. Bisa jadi Mamah kamu itulah yang suka jualin orang," sela Ushi.
"Mamah saya bukan orang yang kaya gitu, Bu. Mungkin dulu Mamah emang jahat. Tapi sekarang Mamah udah berubah. Mamah kecelakaan dan koma. Mamah baru sadar setelah satu setengah tahun de–"
"Itu azab," sela Ushi lagi. "Mamah kamu pantes dapetin itu. Bahkan saya rasa masih kurang."
"Maaf tapi saya gak terima Ibu ngomong gitu ke Mamah saya."
Ushi menunjuk pintu keluar rumahnya. "Yaudah sana keluar kalo gak terima. Beres kan?"
Monica tak menanggapi Ushi, sibuk mengatur napasnya yang jika sampai lolos sedikit saja, hancurlah sudah segala perkakas di kediaman mewah itu. Cekcok di antara dua wanita berkelas itu bermula saat Monica menyambangi tempat kerja Ushi. Namun baru-baru ini Ushi mengambil libur setiap hari sabtu. Monica pun bergegas menuju ke kediaman Ushi. Tentu saja ada yang membukakan pintu untuk Monica kali ini, karena dirinya tahu tuan rumah sedang ada di rumah.
__ADS_1
Mulanya Ushi ramah karena terakhir kali Monica memperkenalkan dirinya sebagai teman Zaim yang datang dari luar negeri. Tetapi keramahan di wajah Ushi lambat laun berubah jengkel setelah Monica membeberkan identitasnya yang asli, pun maksud kedatangannya. Meski tahu Ushi semakin bertambah jengkel setiap kali dirinya membuka mulut, Monica bersikeras. Sudah hampir dua pekan sejak Monica menyanggupi pinta orangtuanya, tetapi hasilnya selalu saja nihil.
"Oke gini aja, Bu. Gimana kalo saya bawa Nia ke Taiwan tiga hari aja? Mamah saya bener-bener pengen ketemu sama Nia, Bu."
"Yaudah suruh aja dia yang ke sini," sahut Ushi dengan nada suara setengah berteriak.
"Kan tadi saya udah bilang, Bu. Mamah saya di rawat di rumah sakit. Kondisinya masih lemah karna baru sadar dari koma."
"Saya gak izinin. Saya yakin Zaim juga gak bakal ngizinin."
"Loh Ibu ngapain bawa-bawa dia?" Nada suara Monica mulai meninggi.
"Ya suka-suka saya dong. Dia kan calon mantu saya."
"Jadi Ibu ngerestuin Nia sama dia?"
"Jelas dong. Ganteng, tajir, gak neko-neko. Di mana lagi saya bisa dapet mantu seperfect itu coba?"
"Gak neko-neko? Ibu tau dari mana dia gak neko-neko? Justru karna dia ganteng dan tajir kemungkinan dia neko-neko tuh lebih tinggi." Monica menghela napas. "Pokoknya saya tau banget cowok modelan dia."
"Heh, kamu tuh lahir belakangan. Jadi jangan sotoy sama saya yang lahir duluan ya. Saya yang lebih tau cowok. Waktu kamu masih belajar jalan, saya udah hamil di luar nikah, udah diselingkuhin, udah cerai." Ushi beranjak. "Udah sana kamu pulang aja da–"
"Gak bisa, Bu." Monica ikut beranjak.
"Duh, kaget saya. Biasa aja dong. Sinetron banget sih kamu. Mau ngomong apalagi sih?"
"Kalo emang Ibu gak percaya sama saya, gimana kalo Ibu ikut ke Taiwan juga?"
"Oh, boleh-boleh. Kamu mau Mamah kamu gak sadar buat selamanya ya? Yaudah cepet pesen ti–"
"Bu Ushi!" potong Monica. "Keterlaluan banget sih? Saya emang gak tau kelakuan Mamah saya dulu kaya apa tapi sekarang Mamah saya udah berubah!"
"Kamu mau tau kelakuan Mamah kamu yang dulu kaya apa? Kaya dajjal. Da–"
"Keterlaluan! Walau bukan orangtua kandung, Mamah saya tetep punya hak atas Nia. Saya tetep bakal bawa Nia ke Taiwan bu–"
"Kenapa tiba-tiba dia nyariin aku? Dia mau mukulin aku lagi? Atau mau maksa aku makan makanan basi?"
Spontan Ushi dan Monica menoleh ke asal suara. Di mana terlihat Nia serta Ikbal berdiri di mulut pintu entah sejak kapan.
"Atau mau nitipin aku ke temennya yang suka megang-megang itu?" imbuh Nia.
Ushi, Monica pun Ikbal tampak semakin terkejut mendengar pengakuan Nia. Ushi pun refleks menyeret Monica meninggalkan ruang tamu. Awalnya Ushi kewalahan karena Monica yang tak henti meronta. Tetapi Ikbal yang turut serta turun tangan membuat Monica akhirnya berhasil didepak secara tidak hormat!
"Si dajjal itu ngapain kamu lagi hah? Cepet bilang sama Ibu." Ushi mencengkeram kedua bahu Nia sambil mengguncangkannya. "Ibu bakal samperin si dajjal itu sekarang juga. Cepet bilang."
Nia tak menjawab, hanya menghambur memeluk Ushi sambil menumpahkan tangisnya.
"Maafin Ibu. Maafin Ibu karna gak ada di samping kamu waktu kamu diperlakuin kaya gitu sama si dajjal itu." Ushi menangis tak kalah histeris. "Maafin Ibu."
__ADS_1