HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
GAGAL NETHINK


__ADS_3

Zaim keluar dari ruang rapat dengan raut wajah kesal, diekori para bawahannya namun dengan raut wajah yang berbeda, pucat pasi. Mereka tampak melangkah enggan memasuki lift, sebab sungguh, berada satu lift dengan Zaim jauh lebih buruk daripada mimpi buruk! Pintu lift pun terbuka, dan seketika terlihat Nisma, sekretaris Zaim, berdiri di sana. Ada apa? Tidak mungkin Nisma terlambat mengambil makan siang Zaim. Lantas? Apa lagi-lagi Hakam datang berkunjung seenak jidat? Atau, ada berita lain yang lebih viral dari video panas Zaim dan sang kekasih?


"Ada apa?" tanya Zaim pada Nisma, tak lama setelah pintu lift tertutup.


"Pacar Bapak udah nunggu di ruangan Bapak dari jam tujuh pagi."


Spontan Zaim menghentikan langkahnya. "Dari jam tujuh pagi? Dia gak sekolah emang?"


"Kurang tau, Pak. Tapi pake seragam sih."


"Schedule saya selanjutnya apa?"


Nisma buru-buru membuka buku catatan yang sedari tadi digenggamnya. "Jam dua ada rapat sama karyawan Zetindo. Jam setengah empat ke–"


"Yang rapat jam dua undur setengah jam. Tapi kalo dalam setengah jam saya gak keluar ruangan, cancel aja. Schedule yang lain nanti saya infoin lagi."


"Baik, Pak."


"Satu lagi. Siapa pun dengan alesan apapun, gak boleh masuk ke ruangan saya."


"Baik, Pak."


"Thanks, Nis."


Langkah Zaim semakin lebar, tak sabar untuk meraih gagang pintu ruangannya. Pikiran Zaim mulai berkelana mengekori kenegatifan. Zaim berpikir Nia pasti sudah tahu tentang video panas itu. Dan tujuan Nia tiba-tiba mendatangi kantornya bahkan sampai nekat membolos sekolah pasti untuk meminta putus. Nia pasti percaya akan keaslian video panas yang sudah diputar sebanyak 800 juta kali itu. Tetapi apa yang dipikirkan Zaim salah besar! Nia malah terlihat sangat bahagia. Tampak Nia berguling-guling di sofa ruangan Zaim, menonton drakor sambil menikmati gorengan bakwan dengan rawit.


Nia tiba-tiba beranjak. "Diem di situ." Nia melompat dari sofa dan berlari menghampiri Zaim. "Buka baju."


Zaim tersenyum, paham maksud perintah Nia. "My pleasure, Sayang*."


*Dengan senang hati, Sayang.


"Aku cuma mau mastiin sesuatu aja kok."


"You can go further*."


*Kamu bisa melakukan yang lebih jauh.


Nia hanya berdeham menanggapi Zaim, dan semakin keras berdeham ketika atribut seksi berwarna hitam itu mulai jatuh ke lantai satu per satu.


"Celananya juga gak?"


Nia tak henti berdeham. "Enggak." Nia memandang tulang selangka kiri Zaim. "Ih, ada. Cowok yang di video juga ada bekas luka kaya gini di sini." Nia menekan-nekan bekas luka di tulang selangka Zaim.


"Terus? Sekarang kamu percaya kalo cowok di video itu aku?"


Nia tak menjawab, sibuk memandangi tubuh polos Zaim. "Enggak tapi ada lagi. Tanda lahir." Nia berlari memeriksa punggung Zaim. "Tuh. Ada juga. Cowok yang di video juga ada tanda lahirnya di sini omg."


Zaim berbalik menghadap Nia. "Kalo mau mastiin cowok di video itu bukan aku, cara ngeceknya bukan di semua tempat itu."

__ADS_1


"Terus di mana?"


Zaim hanya menunjuk sesuatu di dalam celananya.


"Ih." Spontan Nia melangkah menjauh. "Yang bener aja."


"Benerlah." Zaim melangkah mendekati Nia, sambil menanggalkan ikat pinggangnya. "Aku kan sering ngegym topless*, jadi siapa pun pasti tau aku punya bekas luka sama tanda lahir. Kalo sesuatu di dalem sini kan cuma aku yang tau. Mulai dari warnanya, bentuknya, ukurannya, pa–"


*Telanjang dada.


"Stop," sela Nia. "Cabul dih."


"Emang. Tapi cuma sama kamu." Zaim berganti menanggalkan kancing celananya. "Jadi gimana? Mau mastiin di tempat yang bisa ngasih hasil pasti? Hm?"


...•▪•▪•▪•▪•...


Sudah lebih dari lima menit Hakam menatap ke luar jendela, lebih tepatnya menatap punggung Umar Zakawat yang kini tengah berjalan menuju parkiran Muezza. Benar, akhirnya Safi mempertemukan Hakam dengan Umar Zakawat, saksi kunci kematian Zain. Entah apa balasan untuk pinta Hakam yang telah direalisasikan oleh Safi, Hakam tak berselera menerkanya sekarang. Bagi Hakam yang terpenting adalah membuktikan kebenaran ucapan Umar Zakawat melalui mata Zaim yang terkenal lebih jeli dibandingkan alat pendeteksi kebohongan.


*FLASHBACK ON*


" … Juruterbang mahu menurunkan saya dari pesawat. Tetapi sebabnya tidak jelas. Saya tidak tahu sama ada kerana saya membawa bom ke kapal terbangnya atau kerana saya menangkap dia bersetubuh dengan pramugari di dalam tandas*."


*Pilot itu mau ngeluarin saya dari pesawat. Tapi alesannya gak jelas. Entah karna saya bawa bom ke pesawatnya atau karna saya mergokin dia lagi begituan di toilet sama pramugari.


Hakam tampak terkejut, pun Hendri yang sedari tadi berdiri di belakangnya.


"Maksud awak Zain khianat isterinya*?"


"Ambil dadah juga. Saya masih ingat bahawa juruterbang itu bercinta sambil menghirup kokain*."


*Pake narkoba juga. Saya masih inget waktu itu pilot itu begituan sambil nyesep kokain.


"Ati-ati kamu kalo ngomong ya. Yang ada yang kaya gitu tuh si Zaim bukan Zain.


Hakam mengangkat sebelah tangannya, menghentikan Hendri yang secara refleks ingin menghampiri Umar Zakawat.


"Teruskan cerita awak*."


*Lanjutin cerita kamu.


Umar Zakawat mengangguk. "Dari situ kami bergaduh. Mula-mula tak layan, tapi apa boleh buat. Juruterbang hampir berjaya mengeluarkan saya dari pesawat. Tetapi kemudian lampu pesawat tiba-tiba terpadam. Pesawat mula bergegar. Juruterbang kembali ke kokpit, dan saya memutuskan untuk melarikan diri. Tidak lama kemudian pesawat itu terhempas*."


*Dari situ kami berantem. Awalnya gak saya ladenin, tapi apa boleh buat. Pilot itu hampir berhasil ngeluarin saya dari pesawat. Tapi terus lampu pesawat tiba-tiba mati. Pesawat mulai oleng. Pilot itu balik ke kokpit, dan saya mutusin buat kabur. Terus gak lama pesawat itu jatoh.


Hendri diam meski kedua tangannya kian kuat mengepal. Karena apa yang baru saja dikatakan Umar Zakawat barulah sesuai dengan karakter Zain.


"Teruskan.


"Itu sahaja*."

__ADS_1


*Itu saja.


"Adakah awak ingat nama pramugari? Atau mungkin ciri*?"


*Kamu inget nama pramugarinya? Atau mungkin ciri-cirinya.


Umar Zakawat mengangguk menanggapi Hakam. "Rambut pendek. Tidak terlalu tinggi dan sedikit gempal*."


*Rambutnya pendek. Gak terlalu tinggi dan badannya agak berisi. 


Hakam berganti mengangguk, lalu menoleh pada Hendri. "Bawain saya semua identitas awak kabin waktu insiden. Terus siapin mobil."


Hendri hanya membungkuk mengiyakan perintah Hakam, dan bergegas keluar dari ruangan Hakam dengan langkah dipenuhi emosi.


"Saya dah cakap semuanya. Jadi saya harap awak tak datang cari saya lagi. Kalau begitu saya ucapkan selamat tinggal*."


*Saya udah ngomong semuanya. Jadi saya harap Anda gak nyari-nyari saya lagi. Kalo gitu saya pamit.


"Tak boleh."


Spontan Umar Zakawat mengurungkan niatnya untuk beranjak, dan perlahan kembali duduk di kursinya.


"Saya perlu buktikan dahulu bahawa awak bercakap benar atau bercakap mengikut tuntutan senario*."


*Saya harus buktiin dulu kamu ngomong jujur atau ngomong sesuai tuntutan skenario.


"Jadi awak fikir saya berbohong?"


"Saya tidak fikir ada utusan yang jujur. Mereka akan berbohong malah mengkhianati mengikut keadaan. Kemungkinan meningkat kepada seratus peratus jika awak menjadi utusan untuk ahli perniagaan yang berjaya*."


*Setau saya gak ada pesuruh yang jujur tuh. Mereka bakal boong dan bahkan berkhianat sesuai sikon. Kemungkinannya tambah jadi seratus persen kalo jadi pesuruhnya pebisnis sukses."


Umar Zakawat mantap beranjak. "Saya kecewa."


"Terutama saya. Maaf kerana menyinggung perasaan awak, tetapi saya benar-benar tidak dapat mempercayai semua cerita awak tadi. Kerana cucu saya yang seorang lagi boleh bercinta di mana-mana dan menggunakan dadah. Jadi bolehkah saya membuktikan kebenaran apa yang awak katakan*?"


*Apalagi saya. Maaf karna udah bikin kamu tersinggung, tapi saya emang gak bisa percaya sepenuhnya semua cerita kamu barusan. Karna cucu saya yang bisa begituan di sembarang tempat dan make obat-obatan tuh cucu saya yang lain. Jadi boleh kan saya buktiin kebenaran omongan kamu?


"Apa sahaja yang awak mahu*."


*Terserah Anda aja.


Hakam tersenyum. "Itu jawapan yang berbahaya. Masalahnya bukan saya yang akan buktikan kebenaran apa yang awak cakap tapi Zaim. Adakah awak tahu siapa dia? Dia gila. Lebih gila daripada tuan awak*."


*Jawaban bahaya tuh. Soalnya bukan saya yang bakal buktiin kebenaran omongan kamu tapi Zaim. Tau kan siapa dia? Dia rada-rada loh. Lebih rada-rada dari majikan kamu.


Umar Zakawat menghentikan langkahnya.


"Apabila awak telah mengganggunya, mengganggu keluarganya, dan apatah lagi mengganggu teman wanitanya, nasib awak pasti hanya menjadi banduan seumur hidup*," imbuh Hakam.

__ADS_1


*Sekali kamu ngusik dia, ngusik keluarganya, dan apalagi ngusik pacarnya, nasib kamu udah pasti cuma jadi tahanan seumur hidup.


DEG


__ADS_2