HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
ADELWEISS?


__ADS_3

Sekumpulan pria dengan gerak-gerik mencurigakan terlihat berseliweran di setiap sudut Bandara Taoyuan*. Jika melihat dari tato di kedua tangan mereka yang sengaja dijadikan bahan tontonan, siapa pun pasti tahu siapa mereka. Benar, kacung-kacung Monaco, mantan gangster yang kini banting setir menjadi penjual Gua Bao* di sekitar Pantai Fulung. Dan meski tidak peduli apa tujuan mereka menyesaki Taoyuan sedari pagi buta, siapa pun itu pasti juga tahu jika akan segera terjadi baku hantam.


*Salah satu dari dua bandara utama di Taiwan.


*Gua Bao mirip dengan sandwich, hanya saja isinya daging rebus yang sudah dibumbui. Daging yang biasanya digunakan untuk isian adalah daging babi. Namun ada juga isian daging sapi, ayam, telur atau ikan. Gua Bao disajikan dengan tambahan acar sawi, daun ketumbar, kacang tanah, dan mustard.


"Zaim Alfarezi muncul, Tuan. Tapi dia gak sendiri. Dia bawa satu orang, cowok. Kayanya polisi soalnya bawa pistol." Salah seorang anak buah Monaco tampak berbicara melalui handsfree*.


*Sejenis earphone atau earbud tanpa kabel (wireless) yang hanya menutupi satu lubang telinga.


"Kalo gitu tembak bius juga," sahut Duyi, tangan kanan Monaco.


"Baik, Tuan."


"Semuanya standby di posisi." Duyi memutus panggilan grup itu.


Perintah baru dari Duyi pun langsung dilaksanakan. Seorang sniper yang adalah tokoh utama dalam misi tersebut sudah mengunci Zaim dan Bastian sebagai target. Sementara dua orang tambahan yang bertugas menggotong tubuh Bastian ke dalam van, terlihat tergopoh menghampiri dua orang rekannya. Dan sebuah mobil van dengan kaca super gelap itu pun sudah terparkir tepat di depan pintu darurat bandara. Semuanya sudah siap, hanya tinggal menunggu Duyi memberi mandat, EKSEKUSI!


"Mundur."


"Maaf, Tuan Duyi?" Anak buah Monaco yang lain menekan handsfree ke dalam telinganya, berharap dirinya salah dengar.


"Kamu buta ya? Ada Zhaohui* di samping Zaim Alfarezi." Suara Duyi terdengar setengah berteriak. "Balik ke markas sekarang."


*Salah satu aktor papan atas di Taiwan. Tidak banyak yang tahu perihal identitas asli Zhaohui yang adalah anak haram dari pengusaha paling berpengaruh di Taiwan.


"Tapi, Tuan Duyi. Tuan Monaco bilang misi ini gak boleh gagal."


"Heh, goblok. Pikirin resikonya. Sampe si Zhaohui lecet sedikit aja, Tuan Monaco yang malah bakal dalem bahaya. Balik ke markas. Sekarang!" seru Duyi.


Duyi yang naik pitam refleks keluar dari van. Sambil melempar handsfreenya ke sembarang tempat, Duyi bersumpah serapah. Bagaimana bisa Zaim Alfarezi mengenal dan bahkan sangat akrab dengan Zhaohui? Padahal Duyi sudah memastikan jika tidak ada jejak Zaim di Taiwan, di mana itu berarti Zaim pergi ke Taiwan hanya untuk menyetor nyawa pada Monaco. Duyi masih bersumpah serapah, namun seketika terhenti saat melihat mobil yang ditumpangi Zaim melintas dan berhenti di depannya.


"Gitu dong. Kalo nyambut orang tuh nongol. Masa ngumpet. Ngomong-ngomong, bisa rekomendasiin saya restoran Gua Bao yang paling enak?" Zaim menyeringai.


...•▪•▪•▪•▪•...


" … Oh, lagi survei lokasi bisnis baru kamu yang di Korea."


Zaim terlihat mengangguk sambil tersenyum menanggapi Nia melalui panggilan video call.


"Terus balik Jakartanya seminggu lagi?"

__ADS_1


Zaim kembali mengangguk, meski sadar itu sudah anggukannya yang kesekian belas kali. Zaim terpaksa berbohong pada Nia perihal keberadaannya saat ini pun apa yang sedang dilakukannya. Sebab tidak mungkin Zaim menjawab jujur jika dirinya tengah berada di Taiwan dan bukan Korea, bersama Monaco berikut kacung-kacungnya untuk beradu kata-kata angkuh dan bukan bersama kliennya untuk menyurvei lokasi usahanya yang baru.


"Terus kenapa gak bilang? Masa aku tau dari Ikbal? Ikbal juga bilang taunya karna dia nelfon kamu pas kamu lagi di pesawat."


"I'm sorry, Sayang. Aku buru-buru. Soalnya abis dari Korea aku harus langsung ke Thailand. Ada sedikit masalah sama cabang Zetindo* yang ada di sana," jawab Zaim akhirnya.


*Nama supermarket milik Zaim yang memiliki cabang di Thailand, Singapura, Filipina dan Myanmar. Zetindo terkenal sangat lengkap, bersih, juga estetik.


"Iya-iya gak apa-apa. Tapi bawain oleh-oleh."


"Anything for you, Sayang. Mau dibawain oleh-oleh apa?"


"Gopchang* sama Daechang*. Tapi aku maunya yang dikasih review lima bintang sama youtuber Korea. Nanti aku kirimin foto Gopchang sama Daechangnya lewat wa deh."


*Makanan berlemak yang terbuat dari usus sapi yang dipanggang atau digoreng dengan lumuran saus barbeque. Perbedaan gopchang dan daechang adalah, gopchang biasanya dibuat dari usus kecil sapi sedangkan daechang terbuat dari bagian usus besar.


"Yaudah. Langsung kirim fotonya ya. Soalnya aku cuma sehari di Korea."


Nia berganti mengangguk.


"Terus soal rencana Ibu kamu yang mau pindah ke Amerika, nanti kita bahas langsung aja sekalian sama Ibu kamu kalo aku udah pulang ya," tambah Zaim


"Bye, Sayang. Can't wait to see you soon*. I love you." Zaim ikut melambaikan tangannya dan mengakhiri panggilan video call tersebut.


*Gak sabar ketemu kamu secepetnya.


"Omg-omg kalian uwuw banget sih." Vina berguling-guling di ranjang Nia, namun tiba-tiba duduk mematung. "Lu beneran mau pindah ke Amerika?"


"Iya. Soalnya Ibu udah beli rumah di sana. Terus …"


Mendengar cerita Nia, Vina pun semakin heboh, dan mengutarakan protesnya dengan berguling-guling di ranjang Nia seperti orang yang terkena wasir perdananya. Tetapi aksi protes Vina lambat laun terhenti, karena Nia yang diam-diam sudah memiliki rencana. Tidak-tidak. Nia tidak berencana untuk memohon pada Ushi selama tujuh hari tujuh malam agar Ushi berubah pikiran dan membatalkan kepindahan ke Amerika. Namun.


" … Gue mau ke Semarang, nemuin Om Edo," terang Nia.


"Om Edo? Siapa tuh? Kok namanya asing banget di telinga gue yang hobi nguping ini?"


"Kekasih tak sampainya Ibu."


"What? Kekasih tak sampai?" Vina menyahut setengah berteriak. "Maksudnya suami orang? Sugar daddy? Apa brondong?"


"Gak tau. Ikbal juga gak cerita banyak. Tapi kata Ikbal Om Edo tuh temennya Ibu banget. Jadi pasti Om Edo tau alesan Ibu pengen pindah sampe Amerika."

__ADS_1


Vina mengangguk-angguk. "Tapi tunggu deh. Serius lu jauh-jauh ke Semarang cuma mau tau alesan Tante pengen pindah? Bukan buat ngehentiin Tante?"


"Ya kan harus tau alesannya dulu baru bisa dihentiin, Vin," balas Nia.


Vina mengangguk-angguk lagi. "Oke. Terus lu tau alamat rumah Om Edo?"


"Enggak. Tapi gue punya nomer hpnya. Udah gampang yang penting nyampe Semarang dulu. Nanti kalo udah nyampe langsung minta ketemuan aja di mana gitu."


Vina tak henti mengangguk-angguk. "Tapi tunggu deh. Emang Tante bakal ngizinin lu ke Semarang?"


"Ya enggaklah. Nginep di rumah lu aja gak boleh apalagi ke Semarang. Makanya dua hari ini gue serius banget ngerjain ujian. Biar dapet nilai bagus. Ibu bilang kalo dapet nilai bagus gue bisa minta apa aja. Niatnya gue mau minta nginep di rumah lu."


"Tapi gak beneran nginep."


Nia berganti mengangguk-angguk, sambil memasang senyum penuh siasat.


"Tapi diem-diem ke Semarang nemuin Om Edo," imbuh Vina.


Nia kembali mengangguk, pun tersenyum penuh siasat. "Tapi gue gak mau Zaim tau. Jadi gue harus nyari ongkos tambahan ke Semarang. Karna palingan Ibu cuma ngasih ongkos berapa kan buat nginep di rumah lu."


"Ongkos tambahan ya. Kalo gitu mulai besok gue bakal serius ngerjain ujian juga deh. Biar bisa minta hadiah duit ke Bokap. Walau gak seberapa tapi bisalah buat nambah-nambah ongkos kita ke Semarang."


"Eh, lu mau ikut?"


"Omg segala ditanya lagi. Yaiyalah gue ikut. Gue bakal selalu ikut lu dalam kondisi apapun. Gue bakal bantu. Tapi bantu lewat aksi gak cuma lewat mulut," balas Vina.


Nia tak menjawab, hanya menghambur memeluk sahabat sehati sesanubarinya itu. Vina pun membalas pelukan Nia, sambil terbahak memuji hatinya yang sebaik malaikat.


"Tapi, Nya. Lu tau kan Bokap gue biarpun pengacara elit tapi meditnya amit-amit? Maksud gue jangan terlalu diharepin gitu."


Spontan Nia melepas pelukannya. "Iya juga ya. Terus gimana ya caranya dapet ongkos tambahan?" Nia tampak berpikir. "Oh iya. Adelweiss kan kemaren ngeDM gue di instagr*m nawarin job. Tapi gue baca doang."


"Siapa lagi tuh Adelweiss? Kok namanya asing banget di telinga gue yang hobi nguping ini?"


"Adelweiss tuh cewek yang nawarin jasa ngasih pelajaran ke cowok-cowok yang hobi selingkuh sama matre gitu."


"Uwaw keren banget sistah. Namanya aja udah keren, ditambah kerjaannya duh makin keren. Yaudah tunggu apaaan lagi, Nya? Cepetan bales cepet."


"Oke-oke." Nia buru-buru membuka kunci ponselnya.


__ADS_1


__ADS_2