
" … Saya denger dia nikah lagi sama pengusaha kaya raya asal Taiwan. Jadi pasti kecil kalo cuma buat nyogok Atlas kan."
"Tapi motifnya apa, Pak Denar?" tanya Sobari.
"Apalagi? Ya karna dia gak suka liat Nia bahagia."
"Gitu ya."
"Emang gak bisa langsung ditangkep aja, Pak?"
"Kalo Ferdi bisa. Karna udah ada bukti berupa cctv. Kalo Nila gak bisa. Kecuali Pak Denar punya bukti."
Denar terdiam, meski ekspresi antusiasnya masih berkobar. Tidak ada bukti jika Nila adalah orang yang mengutus Ferdi untuk mencelakai Nia sekaligus orang yang menyulut insiden penembakan tempo hari. Dan Denar yakin, tidak cukup dengan hanya mengatakan jika Denar sangat mengenal sosok Ferdi yang hanya bersedia mengikuti perintah Nila, mantan selingkuhannya. Oleh karenanya Denar membutuhkan bukti yang lain. Sekali pun itu bukti palsu!
"Saya punya bukti, Pak."
Sobari tak menjawab, hanya mengubah posisi duduknya.
"Waktu itu saya hampir berhasil nangkep Ferdi," imbuh Denar. "Tapi dia, Nila, tiba-tiba muncul dan bantuin Ferdi kabur."
Sobari berganti diam. Alasannya sudah pasti karena Sobari tidak percaya sepenuhnya pada ucapan Kepala Sekolah muda dan tampan itu. Terlihat jelas dari sorot mata Denar, ada dendam yang berjubel di sana. Wajar jika itu hanya dendam yang baru dirawat kemarin sore. Tetapi gawat jika itu dendam yang sudah dirawat selama bertahun-tahun demi untuk menyeret orang yang tidak bersalah dengan insiden penembakan tempo hari.
Sobari Berdeham, "Pak Denar, saya tau hubungan Anda dan Nila gak baik. Tapi saya saranin jangan bawa orang yang gak tau apa-apa karna bisa ngerugiin Pak Zaim."
"Ngerugiin? Padahal saya ngasih tau siapa pelakunya tapi Bapak bilang saya malah ngerugiin?"
"Anda punya bukti kalo Nila pelakunya?"
Denar kembali diam, sembari menatap sorot mata Sobari yang penuh tekanan dan ancaman.
"Suami Nila bukan cuma pengusaha kaya raya. Dia mantan gangster yang sampe sekarang masih ditakutin. Bayangin kalo ternyata Nila bukan pelakunya. Apa namanya kalo gak ngerugiin? Jujur aja posisi Pak Zaim sekarang ini tuh bahaya banget."
"Bahaya gimana maksudnya?" tanya Denar akhirnya.
"Pak Zaim terpaksa ngusik Atlas buat nyari pelaku penembakan itu. Kalo Atlas gak terima? Bahaya kan? Terus kalo ketambahan Nila gak terima juga? Saya gak bisa bayangin kalo sampe Atlas sama mantan gangster paling ditakutin di Taiwan kerja sama buat bales Pak Zaim."
"Tapi saya gak asal bawa-bawa dia. Buktinya emang cuma mata saya. Tapi kalo menurut Bapak itu masih kurang, saya bakal berusaha cari bukti pendukung. Misal …"
Obrolan itu terus berlanjut, sampai sebelum Marina, istri Denar, pulang. Seolah tahu jika Marina tak nyaman dengan keberadaannya, Sobari pun pamit. Marina langsung menumpahkan murkanya tak lama setelah Sobari pergi. Namun alih-alih menenangkan sang istri, Denar malah fokus memandangi Sobari yang saat ini tengah berjalan menuju parkiran apartemennya. Tampak langkah tergesa Sobari melambat karena tiba-tiba mendapat panggilan telepon.
__ADS_1
" … Saya udah ketemu anggota Atlas yang Bapak curigaiin. Namanya A110. A110 bilang pas insiden penembakan itu dia malah niat bantu Denar Djajadi buat ngejar Ferdi," ujar Bastian melalui sambungan telepon.
"Tapi saya liat Ferdi keluar dari mobil A110, Pak Bastian."
"Bapak yakin itu mobil limosin yang platnya 110?"
Sobari diam cukup lama. "Saya gak yakin karna waktu itu posisi saya jauh."
"Nah itu dia, Pak Sobari. Berarti bukan A110 pelakunya."
"Tapi saya liat dia nodongin pistol ke arah Denar Djajadi?"
"Dari mana Pak Sobari tau kalo pistolnya ditodongin ke arah Denar Djajadi? Kalo ternyata ditodongin ke arah Ferdi gimana? Dan terlepas dari itu semua, dia ini dia siapa dulu gitu kan."
Sobari kembali terdiam.
"Gini, Pak Sobari," imbuh Bastian. "A110 bilang waktu itu dia lagi ada misi di sekitar Komplek Medina. Joff ngebenerin ini. Nah gak lama A110 denger suara tembakan. Baliklah dia. Tapi katanya Pak Sobari malah ngejar dia sambil nodongin pistol."
Sobari masih terdiam.
"A110 ngerasa gak bisa tinggal diem. Katanya dia sengaja ngelabuin Pak Sobari biar bisa balik ke tkp. Tapi di tengah jalan A110 liat Denar Djajadi lagi ngejar Ferdi. A110 niat bantu tapi ada penembak yang ngelepasin tembakan dari tempat rahasia. Pas A110 mau nyari si penembak ini, katanya Pak Sobari dateng dan nodongin pistol lagi. Yaudah dia bilang terpaksa nembak Bapak."
"Tapi tetep aja masih terlalu dini buat jadiin Nila sebagai dalang."
"Belum tau. Tapi Denar Djajadi bilang pas insiden penembakan, dia liat Nila bantuin Ferdi kabur."
"Wah, gak kapok-kapok ya tuh orang. Gak suami gak istri sama aja." Bastian menghela napas kasar. "Hampir aja kita baku hantam sama Atlas. Yaudah, Pak, biar saya aja yang laporan ke Zaim. Pak Sobari balik aja ke rumah aman* jagain Yesenia Eve. Kalo gitu selamat bertugas, Pak." Bastian memutus telepon.
*Sebuah rumah yang digunakan Zaim untuk kepentingan misi-misinya. Rumah aman terletak tepat di depan rumah Nia.
"Ada yang gak beres," gumam Sobari, sambil berbalik mendongak memandangi apartemen Denar. "Entah A110 atau Denar Djajadi, salah satu dari mereka jelas ada yang gak beres."
...•▪•▪•▪•▪•...
" … Ini udah jadi, Bu?"
Ushi menoleh, memelototi Ikbal. "Emang kamu gak bisa liat itu udah jadi apa belom hah?"
"Ya kan aku nanya, Bu, nanya. Kali aja Ibu mau kasih gamis gitu kan."
__ADS_1
Nia menggeleng-geleng. "Garnish* dih dodol banget."
*Bahan atau benda tertentu yang digunakan sebagai dekorasi hidangan guna memberikan daya tarik pada konsumen.
"Orang sengaja gua plesetin biar suasananya gak tegang-tegang banget. Eh malah gatot." Ikbal tertawa seraya membawa dua piring nasi goreng ke meja makan. "Tapi Ibu ada masalah apalagi sih? Bukannya masalah semur ayam udah kelar ya?"
"Iya kayanya Bu Ushi masih ada masalah. Disampein aja, Bu. Mumpung saya masih di sini."
"Enggak. Saya emang lagi gak mood aja. Soalnya gak tau kenapa saya feeling kalo si Kasih itu bakal jadi pengganggu selanjutnya setelah si kloningan dajjal," balas Ushi pada Zaim.
"Bener juga ya, Bu. Tapi ngomong-ngomong si kloningan dajjal itu ke mana, Kak?"
"Pulang kampung, Bal."
Ushi meletakkan telur dadar raksasa ke piring. "Syukur deh. Tapi awas aja kalo saya masih liat dia ada di Jakarta. Bakalan saya pites di tempat. Terus itu Kasih udah ngelahirin ya, Za? Kok kemaren saya liat perutnya kempes. Anaknya di mana?"
"Keguguran, Bu. Kasih kepleset waktu lagi packing. Jadi rencananya Kasih mau lahiran di sini. Dan sebelum itu kasih bilang mau ziarah ke makam Zain. Tapi …"
Semua terdiam mendengar penjelasan Zaim. Benar-benar terdiam seolah waktu pun ikut serta. Semua orang terutama Ushi yang semula mencerca Kasih, mendadak menjadi bersimpati. Malang betul nasib Kasih. Tak cukup diuji dengan penyakit mental pun ditinggal mati suaminya, Kasih bahkan masih harus kehilangan sang buah hati. Padahal mungkin saja dengan kehadiran buah hatinya, akan ada kesempatan untuk Kasih sembuh.
" … Kalo Zain masih ada, saya yakin Kasih bisa tetep bahagia walopun kehilangan anaknya."
Ikbal berdeham, "Btw tau gak, Kak Zaim? Dari kemaren tuh Ibu kepo sama pacarannya Kak Zaim sama si kunyuk itu. Maksudnya kalian pacarannya udah sampe mana gitu."
Ushi ikut berdeham, "Iya kan waktu itu kamu sempet mau ngasih tau saya kan. Tapi gak jadi karna Kasih tiba-tiba nongol."
"Dih Ibu apaan sih. Itu kan privacy."
"Gak apa-apa, Sayang. Penjelasan yang ketunda kan emang harus dilanjutin." Zaim tersenyum pada Nia yang sedari tadi sibuk membuat roti lapis.
"Ih gila kamu ya."
Ikbal menarik kunciran Nia seraya berlalu menerima piring berisi telur dadar raksasa dari Ushi. "Apaan sih lu. Gak sopan banget. Masa orang tua dikatain gila. Lu kali yang gila."
"Gak usah nyantai kamu, Bal. Karna abis Nia, kamu juga bakal Ibu introgasi. Pacar kamu kan banyak banget tuh. Jadi siap-siap aja jelasin ke Ibu kamu ngapain aja sama mereka."
"Dih, Ibu. Kenapa aku jadi dibawa-bawa sih," timpal Ikbal pada Ushi.
Zaim hanya tertawa melihat perdebatan Ushi dan Ikbal. Pun Nia meski tertawa paksa. Dan mulailah Zaim melanjutkan penjelasannya yang tempo hari tertunda. Penjelasan yang tak seorang pun mengira akan mengandung unsur dua puluh satu ples! Sambil membantu Nia menjejali roti lapis dengan aneka isian, Zaim membeberkan sudah sejauh mana dirinya dan sang kekasih yang telah hampir tiga tahun ini menjalin cinta.
__ADS_1
" … Pegangan tangan, pelukan, kissmark, french kiss, sama pegang ini sekali." Zaim menunjuk dadanya sendiri. "Bukan karna ada maksud, tapi karna waktu itu Nia lagi kepo banget sama obat pembesar payudara. Saya cuma khawatir. Jadi saya megang buat ngecek. Karna saya tau ukurannya. Kayanya 32A."
PRANG