
Suara napas terengah tertahan terdengar samar memenuhi gorong-gorong taman salah satu rumah mewah bekas perampokan. Vina yang tengah dikejar-kejar Heri alias Pria Purnama akhirnya memutuskan untuk bersembunyi karena tahu hanya ada jalan buntu di komplek yang terletak di bagian selatan tersebut. Gila! Pria yang kepala botaknya kian mengilap diterpa bulan purnama itu benar-benar gila! Vina tak menyangka Heri sampai menyogok security komplek untuk membantu menangkapnya.
"Halo, Nya," bisik Vina dengan sisa-sisa suara tangisnya. "Tolongin gue."
"Eh, Vin? Lu nangis? Lu kenapa anjir? Lu di mana? Ada apaan?"
"Di komplek yang langganan maling itu. Tapi gue gak tau ini di mananya. Gue dikejar-kejar Pria Purnama." Vina terisak.
"Sharelock cepet. Terus jangan matiin hp lu oke?"
"Batre gue tinggal 4 persen."
"Yaudah cepet sharelock." Nia mengakhiri panggilan itu.
Tangan Vina yang dibasahi keringat itu kian bergemetar hebat. Meski begitu Vina tetap berusaha menggerakkannya untuk mengirim lokasinya sebelum angka empat persen pada baterai ponselnya itu berubah menjadi tiga, dua dan terkahir, satu.
"Vina? Sayang? Kenapa kamu suka banget lari-lari sih? Ayo keluar dong. Saya udah capek nih." Heri cekikikan. "Kita pulang yuk, Sayang. Udah malem loh ini." Heri masih cekikikan. "Kita fokus cari di sekitar sini aja. Soalnya tadi saya liat dia belok ke sini."
Mendengar itu Vina semakin membekap mulutnya sendiri, pun semakin meringkuk ke dalam gorong-gorong. Baterai ponsel Vina kian menipis, namun dirinya harus melakukan perlawanan terakhir. Benar, hubungi polisi. Sementara Vina berjuang berkonsentrasi dalam kungkungan rasa takut, Nia dan Ikbal sudah sampai di titik yang dibagikan Vina. Namun tak ada siapa pun di titik tersebut. Wajar saja. Komplek di daerah selatan memang sepi sejak terjadi perampokan yang memakan korban di akhir tahun 2016 silam.
Beruntung ada sinar lampu senter yang terlihat samar dari kejauhan. Nia dan Ikbal pun langsung menuju ke arah lampu senter tersebut terlihat. Dan benar saja, ada Pria Purnama alias Heri di sana, beserta dengan tiga orang security komplek. Terlihat para security memegang senter sambil mencari sesuatu, sementara Heri, berkecak pinggang seperti mandor. Heri yang melihat kedatangan Nia dan Ikbal langsung naik pitam seperti orang yang baru saja ketempelan setan ronggeng.
"Ngapain kamu di sini? Jangan berani-berani ikut campur lagi urusan saya sama Vina ya! Pergi sana!" seru Heri.
"Om tuh yang harusnya pergi. Om ngapain tiba-tiba nyari Vina? Bukannya Om udah ngeblock Vina ya?"
"Bukan urusan kamu! Udah sana pergi!"
"Urusan sayalah orang Vina temen saya. Om mau apa? Mau semua yang udah Om kasih ke Vina dibalikin? Oke, saya bakal balikin sekarang juga." Nia ikut berkecak pinggang.
"Ngomong apa sih kamu? Jangan mentang-mentang di belakang kamu ada Zaim Alfarezi ya kamu jadi berani kurang ajar sama orang tua! Disuruh pergi bukannya cepet pergi ma–"
"Gua tau mau lu apa." Ikbal menyela Heri. "Mana mau Vina sama lu. Ngaca anjir muka lu demek." Ikbal melihat para security. "Terus kalian pada sekongkol sama ini buntelan kentut?" Ikbal mengeluarkan ponselnya. "Gila-gila gak bisa dibiarin. Beneran kudu dilaporin ke pihak berwajib yang modelan begini mah."
"Bocah anjing!"
BUG
"Bukan gitu cara cowok nonjok, Bos. Tapi gini." Ikbal membalas tinju Heri.
Heri langsung tersungkur ke tanah dengan teriakan kesakitan, dan teriak kesakitan Heri kian melengking ketika dirinya sadar beberapa giginya telah tanggal. Heri memaki Ikbal habis-habisan, pun para security yang tidak bergegas memberi Ikbal pelajaran dan malah berdiam seperti orang kesemutan. tiga orang security berusia kisaran pertengahan dua puluh tahun itu pun kompak menyerang Ikbal. Tetapi bagi Ikbal mereka tak lebih dari samsak tinju. Mungkin tak banyak orang tahu jika Ikbal adalah pemegang sabuk hitam karate.
BUG
BRUK
BUG
__ADS_1
BRUK
BUG
"Angkat tangan!"
Spontan Nia mengangkat tangannya, pun Ikbal. Keduanya lalu bersamaan menoleh ke asal suara.
"Maju." Seorang pria berjaket kulit hitam yang tengah menodongkan pistol ke arah Nia dan Ikbal itu memberi kode pada dua rekannya yang berpakaian serupa.
"Pak, tunggu-tunggu, Pak. Bukan kita, Pak, tapi mereka. Terutama Om yang botak itu."
"Silahkan berikan kesaksian di kantor polisi," balas polisi lainnya pada Nia.
"Tapi, Pak. Tunggu dulu temen saya belom ketemu, Pak se–"
"Saya yakin temen Mbak baik-baik aja. Kami akan cari. Sekarang Mbak dan Masnya ikut kami ke kantor polisi dulu. Silahkan."
...•▪•▪•▪•▪•...
Suara langkah kaki terburu terdengar jelas di sepanjang koridor kantor polisi. Terlihat Ushi beserta kedua orangtua Vina muncul dari balik pintu dan langsung menghambur menghampiri putra-putrinya. Awalnya mereka tak sabar untuk menumpahkan amarah, tetapi saat melihat putra-putrinya menangis, kemarahan mereka pun langsung sirna entah ke mana. Benar, masih ada hari lain untuk marah, yang terpenting sekarang adalah fakta bahwa putra-putri mereka berhasil lolos dari kesialan.
" … Itu, Bu. Dia mau jahatin aku. Dia tiba-tiba ngikutin aku dan ngejar aku sampe ke komplek yang serem itu. Terus ngomongnya jorok banget." Vina menangis seraya menunjuk Heri.
BUG
"Ikbal," teriak Ushi yang terkejut karena Ikbal yang tiba-tiba beranjak dan meninju Heri.
BUG
"Ikbal! Brenti apa Ibu usir kamu dari rumah!"
BUG
"Ikbal Navarro!" seru Ushi lagi.
Tinju Ikbal tertahan di udara, dan perlahan, kesadarannya kembali. Ikbal menurut mengikuti arahan seorang polisi untuk duduk terpisah dari Heri serta para security demi menghindari penyerangan serupa. Dan interogasi pun kembali dilanjutkan. Tetapi tak berselang lama, terdengar riuh dari halaman kantor polisi. Entah sejak kapan para wartawan sudah berada di sana, pun mobil mewah milik hidden crazy rich selain Zaim, Al Hakam. Kedatangan Hakam yang mendadak, membuat interogasi itu pun kembali ditunda.
"Selamat malam, Pak."
Hakam hanya mengangguk menanggapi dua orang polisi di hadapannya. "Jendral ada?"
"Tidak ada, Pak. Tapi akan segera kami hubungi. Silahkan sebelah sini."
Hakam kembali mengangguk, dan berlalu mengekori dua orang polisi yang menuntunnya ke sebuah ruangan. Hakam menatap satu per satu orang yang ada di sana, dan yang paling lama adalah saat dirinya menatap Nia yang sedang duduk di pojokan. Suasana semakin ricuh. Program di televisi yang semula menyiarkan tayangan ulang film-film horor, kini berganti menyiarkan itu secara serentak. Ya, menyiarkan itu, berita tentang kekasih Zaim Alfarezi yang digelandang ke kantor polisi dengan om-om. Gila!
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam, dan Nia beserta teman, para orangtua juga para biang kerok, masih ditelantarkan. Ya, semua polisi ada di ruangan itu bersama Hakam dan Jenderalnya yang datang dengan keringat bercucuran dua puluh menit yang lalu. Lalu tepat pada pukul dua belas malam, Hakam akhirnya muncul. Jenderal yang tak menyebutkan namanya itu langsung menahan Heri dan para security yang terbukti telah bersekongkol melakukan kejahatan.
__ADS_1
" … Kemudian untuk Saudari Nia, Vina dan Saudara Ikbal akan dibebaskan dengan syarat bersedia dipanggil kapan saja untuk memberikan keterangan," imbuh sang jenderal. "Sudah, Pak Hakam?"
Hakam mengangguk. "Terus saya mau ngobrol sama kamu. Boleh luangin waktu? Sebentar aja."
Nia beranjak ragu. "Oh, boleh, Pak."
"Boleh pinjem ruangan yang tadi?"
Si jenderal refleks mengangguk berulang kali. "Silahkan, Pak Hakam, Silahkan."
KLEK
"Saya Hakam, kakek sekaligus ayah Zaim."
"Nia, Pak." Nia membalas jabatan tangan Hakam.
"Jujur aja saya dateng ke sini karna Zaim yang minta."
"Saya gak paham. Dia tau dari mana saya di sini? Wartawan aja belom lama datengnya. Terus berita tentang saya di tv juga baru banget disiarin," balas Nia.
"Hp kamu pasti pernah dipegang Zaim."
Nia menggeleng. "Seinget saya gak pernah."
"Berarti dia pernah pegang hp kamu diem-diem."
Nia tak menjawab, sibuk mendengarkan suara hatinya yang bertanya, mungkinkah? Tapi kapan? Dan di mana? Tidak saat dirinya sedang tidur, bukan? Semoga saja tidak. Karena jika iya Zaim memegang ponselnya diam-diam saat dirinya sedang tidur, kacau sudah. Sebab demi apapun, kebiasaan tidurnya sangat amat buruk!
"Dia emang over protektif sama orang yang disuka," imbuh Hakam. "Kalo saya boleh tau, gimana awal mula hubungan kalian?"
"Kita ketemu di Zet. Terus saya blokir dia. Dari situ hubungan kita makin deket dan dia bilang mau coba pacaran sama saya."
"Apa yang kamu suka dari Zaim?" tanya Hakam lagi.
"Mmm, masih saya cari tau."
Hakam tertawa. "Mungkin karna dia kaya. Hampir semua perempuan kan nyarinya pria-pria kaya. Ya kasarnya buat beli skincare, hp, atau tas milyaran? Ngeretinlah intinya."
"Gak salah sih. Tapi kalo saya pribadi mending buat beli rumah sama tanah. Lagian misal saya ada jodoh sama dia yang rugi saya loh, Pak. Idup saya bakal heboh tiap hari, bakal ngadepin Kasih atau siapalah itu yang gila, terus bakal sering ngobrol gak faedah sama Bapak."
Hakam tak memberi respon meski saat ini dirinya tengah terkejut sejadinya.
"Jujur aja saya ngeiyain pacaran sama Zaim karna saya takut. Dia kan tukang maksa, terus hobi nyemek-nyemek." Nia beranjak dari kursi. "Bapak tenang aja. Saya susah suka sama orang dan saya percaya karma, jadi saya gak akan berani jahatin orang."
Hakam masih tak memberi respon, namun urat-urat misterius di wajahnya mulai menggumpal.
"Saya juga gak akan ngeretin Zaim kok, Pak. Saya punya ginjal, dua. Saya juga cantik, masih ori lagi. Jadi perkara duit mah gampang." Nia membungkuk pada Hakam. "Kita pasti putus kok, Pak. Karna hubungan macem sinetron indosiar gini gak akan bertahan lama. Kalo gitu saya permisi, Pak. Besok saya ada ulangan mapel laknat."
__ADS_1
Dan tawa Hakam pun pecah, sesaat setelah pintu ruangan itu tertutup. Ternyata urat-urat misterius yang menghiasi wajah keriput Hakam bukanlah tanda akan kemurkaannya melainkan karena dirinya yang tengah mati-matian menahan tawa.
"Akhirnya dapet pawang juga itu anak," gumam Hakam seraya mengusap air mata gelinya.