
Sejak Al Hakam membuat klarifikasi berkedok promosi bisnisnya, berita viral tentang Nia, Zaim, Ushi serta yang lain yang dianggap tak berhati pun mereda dengan sendirinya. Namun alih-alih berkemas dan kembali ke ibukota, Nia, Zaim dan yang lain malah memperpanjang waktu liburan mereka. Hitung-hitung untuk membuat netizen yang maha benar itu semakin merasa bersalah! Begitu kata Ushi.
" … Ini masa ikannya cuma dapet segini sih, Bal?"
"Bu, mancing tuh susah loh, Bu. Lagian udah empat hari kita di sini makan ikan mulu. Ya abislah ikannya," jawab Ikbal pada Ushi.
"Mana ada ikan abis. Ngaco aja kamu. Mancing lagi sana. Ikan segini mana cukup buat makan kita semua."
"Dih, Ibu tuh ya–"
"Yaudah kita mancing lagi aja, Bu," sela Zaim pada Ikbal seraya menyeretnya keluar dari pondok. "Nanti kita bawain ikan sekarung."
"Kak Zaim, dih. Ikan sekarung dari Hongkong. Udah abis dih ikannya."
"Sabar kamu kali yang udah abis. Pengen cepet-cepet ngambil hp di rumah Pak Kades terus ngegame kan kamu? Aktivitas tuh yang bermanfaat dikit sih, Bal." Ushi menunjuk ke luar jendela. "Itu si Nia juga samanya tuh sama kamu. Disuruh metik timun malah maenan hp. Pasti masih bacain komenan netizen."
Spontan Zaim melihat ke arah Ushi menunjuk, dan mendapati Nia yang memang tengah bermain ponsel di sepinggiran kebun mentimun. Padahal sahabat sehati sesanubari Nia, Vina, tampak bersemangat berjalan sambil berjongkok memetik mentimun sambil mendendangkan lagu-lagu Blackpink. Ternyata benar dugaan Ushi, Nia memang masih membaca komentar para netizen.
"Kalo bacain komenan mereka bikin kamu jadi gak semangat gini mending kamu gak usah pake medsos. Pake aku aja," bisik Zaim.
Nia refleks menoleh, dan menghujani Zaim dengan pukulan. "Ada suaranya dong kalo nongol. Bikin jantungan aja sih."
"Padahal aku udah manggil sayang-sayang daritadi loh."
Nia tak menjawab, hanya mengantongi kembali ponselnya sambil memetik mentimun segar di sekitarnya.
"Tapi aku serius loh, Sayang. Daripada pake medsos kan mending pake aku."
"Nawarin apa sih cowok ganteng satu ini. Ambigu banget," sahut Nia akhirnya.
Zaim hanya terbahak menanggapi Nia.
"Wajar dong aku gak semangat. Karna yang dibilang netizen kan bener."
__ADS_1
Zaim mengangguk-angguk. "Aku setuju. Tapi menurut aku yang lebih bener tuh omongan Ibu kamu."
"Omongan Ibu? Emang Ibu ngomong apa?"
"Ngomongin hubungan kita ke depan yang katanya bakal ribet dan makin bikin pusing."
"Oh." Nia diam sesaat. "Terus kamu ada rencana apa?"
Zaim kembali diam.
"Jawab dih. Tunggu. Jangan-jangan, kamu mau putus?" imbuh Nia.
Zaim masih membisu, membuat Nia semakin digerayangi pikiran negatif. Padahal di dalam kepala Nia sudah bergumul banyak sekali kenegatifan. Mulai dari macam-macam komentar pedas para netizen, alasan Al Hakam tiba-tiba memberikan lampu hijau, dan mengapa Zaim terus membisu untuk tanya yang tak memerlukan waktu berpikir barang setengah detik pun itu?
"Kita kan emang harus putus, Sayang."
Nia melotot. "Hah? Harus putus gimana maksudnya?"
"Dibilang jangan bikin aku jantungan," sela Nia sembari kembali menghujani Zaim dengan pukulan.
Tampak Zaim bergeming, malah menikmati pukulan sang kekasih yang dirasanya sangat romantis, bukan ngilu! Dan dibalik pemandangan penuh cinta itu, ada penonton yang diam-diam mengibarkan bendera putih. Benar, penonton itu adalah Ushi. Sambil memotek batang kangkung, Ushi memandang Nia dan Zaim yang kini tengah bermain kejar-kejaran dari kejauhan.
"Bener kan yang aku bilang?"
Spontan Ushi menoleh ke asal suara. "Maksudnya?"
"Akhirnya kamu luluh juga sama mereka."
"Bukan luluh. Tapi kasian."
"Sama ajalah, Shi."
Ushi hanya menanggapi Edo dengan helaan napas kasar.
__ADS_1
"Bener juga kan yang aku bilang?"
"Bilang apa aja sih kamu kok banyak banget hah?"
Edo tertawa sebelum akhirnya menyahut, "Zaim tuh mirip aku kalo soal asmara. Kita sama-sama cuma mikirin sekolah sama nerusin kerjaan turun-temurun keluarga. Jadi kita gak sempet kenal cewek. Bukan karna sibuk, cuma belom nemu yang seradar aja. Tapi sekalinya nemu, serius, gak bakal kita lepasin. Selama halangannya bukan hubungan darah, kita malah bakal semakin ngiket cewek itu.
"Terus cewek yang seradar sama kamu emang pacar kamu yang sekarang? Bukannya aku ya?"
...•▪•▪•▪•▪•...
"Pake segala mogok lagi tuh taksi. Ngerjain gue aja sih anjir. Mana masih jauh lagi."
Bunga tak henti menggerutu sejak taksi yang ditumpanginya tiba-tiba mogok tepat di depan pintu masuk komplek kediaman Nia. Tentu saja Bunga memilih berjalan kaki sekian kilo meter, alih-alih menangkap kode alam yang menyuruhnya untuk balik kanan. Tak peduli meski hari sudah larut, pun meski kejahatan bisa mengincar dirinya kapan saja, Bunga bersikeras melanjutkan langkah murkanya.
" … Rumahnya si Nia pasti kosong karna nyokapnya sama Ikbal pada ngikut liburan juga. Ini kesempatan. Gue ha–"
Bunga refleks menjeda gumamannya sendiri, dan buru-buru bersembunyi di balik tiang listrik. Hampir saja Bunga beradu tatap dengan pria itu. Ya, pria itu. Pria paruh baya yang saat persidangan Bagas muncul di semua saluran televisi, Achmad Sobari. Terlihat Sobari baru saja keluar dari rumah aman*, sembari bercakap-cakap melalui telepon dengan seseorang yang kemungkinan besar adalah istrinya.
*Rumah yang dibeli Zaim untuk kepentingan misi. Rumah aman terletak tepat di depan rumah Nia.
" … Jadi anak-anak masih nungguin aku, Bu? ... Iya tadi aku ketiduran di rumah aman … Cuma tidur sejam sehari sejak misi ngelindungin Mbak Yesenia … Kalo sekarang mah gak perlu dilindungin. Kan Mbak Yesenia lagi sama Pak Zaim. Yaudah …"
Bunga mendecak sembari membatin, "Berlebihan banget sampe nyewa polisi buat ngelindungin Nia. Makin gede pala pasti tuh anak."
" … Iya suruh anak-anak tunggu. Ini aku otw pulang. Iya, assalamualaikum."
Seringai seram di wajah cantik itu seketika mengembang, sesaat setelah mobil dinas milik Sobari berbelok ke pertigaan komplek. Tuhan memang maha adil. Terbukti dari sebuah kesempatan emas yang dibagiNya secara merata tanpa memandang hambaNya yang berhati bak malaikat atau sebaliknya, berhati busuk! Bunga pun bergegas melanjutkan aksinya. Benar, menerobos masuk kediaman Nia.
"Masalah resiko mah pikirin belakangan. Emang semarah-marahnya Zaim bakal nyakitin perempuan? Gak kan?"
Setelah dengan begitu percaya diri mengatakan itu, Bunga pun tanpa ragu memanjat pagar kediaman Nia, dan membobol jendela rumah bernomor delapan itu dengan hanya bermodalkan jepit rambut. Lagi-lagi seringai seram di wajah cantik itu kembali mengembang, ketika ruangan yang menjadi tujuannya merealisasikan kebusukan itu tidak terkunci. Sebuah ruangan yang tidak lain tidak bukan adalah, kamar tidur Nia.
"Pasti masih ada kan cdnya yang motif stroberi itu? Atau nilai ulangannya yang kaya nomer absen? Atau, foto kecilnya yang sebelas dua belas sama gembel?" gumam Bunga sembari mengaktifkan flash kamera ponselnya.
__ADS_1