HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
PEMORAK-PORANDA RANJANG


__ADS_3

" … Masa Pak Denar playboy, Nya? Dia kan biksu Tong Sam Cong."


"Ya gue juga masih gak percaya," balas Nia pada Vina. "Tapi malming kemaren gue beneran liat dia jalan sama cewek. Tapi cewek itu bukan yang gue liat di stasiun. Kayanya bukan cewek yang di foto juga."


"Jadi maksudnya Pak Denar punya cewek tiga gitu? Anjir kok gue gak terima ya." Vina mengubah posisi malasnya. "Secara dia sholeh banget kan?"


Nia mengangguk-angguk. "Udah empat hari kita mata-matain dia lewat Pongpong*, dan ternyata idupnya lurus banget. Gak siang gak malem kerjaannya cuma sholat, dzikir sama tadarus."


*Perekam video mini yang diklaim bisa merekam apapun karena memiliki fitur tembus pandang. Pongpong juga bisa menjangkau seluruh ruangan meskipun hanya dipasang satu buah saja.


"Makanya. Masa yang kaya gitu ceweknya tiga? Apa jangan-jangan dia punya DID*?" Vina berguling-guling di ranjang. "Duh, makin gak terima gue kalo gitu."


*DID (Dissociative Identity Disorder), merupakan kondisi yang membuat pengidapnya mengembangkan satu atau lebih kepribadian alternatif. Kepribadian alternatif ini disebut kepribadian lain, sedangkan kepribadian asli disebut kepribadian inti. Tiap kepribadian alternatif mempunyai perbedaan pada ciri individu serta cara berpikir. Saat kepribadian alternatif muncul, pengidap DID akan mengalami amnesia. Akibatnya mereka tidak menyadari adanya kepribadian alternatif maupun ingatan mengenai apa yang dilakukan saat kepribadian alternatif tersebut mengambil alih.


"Kita udahin aja yuk mata-matain Kak Denar? Gue ngerasa dosa banget nih. Lagian soal dia playboy atau gak bukan urusan kita juga kan?"


"Iya juga sih. Bisa aja dia emang lagi pdkt sama banyak cewek karna ngeburu cepet nikah." Vina menoleh pada Nia. "Tapi misi lu yang mau nyari tau soal dari mana dulu Pak Denar dapet cuan buat bantu bayar biaya perawatan bokap lu, gimana?"


"Udahin juga aja. Ntar coba gue tanya lagi aja ke Kak Denar."


"Yaudin. Kalo gitu sekarang pikirin gimana caranya kita nyopot itu Pongpong."


Nia menghela napas. "Ah elah. Gue benci mikir lagi."


"Apalagi gue, Nya."


"Tapi masalahnya sekarang kita harus mikir. Ma–"


Nia sengaja menjeda ucapannya sendiri, karena mendengar suara dari ponselnya. Itu bukan suara sebuah pesan singkat, panggilan telepon, ataupun notifikasi instagr*m melainkan suara wanita yang tengah merintih. Spontan Nia pun buru-buru meraih ponselnya yang tertelungkup di sela-sela bantal tidur. Dan hampir saja Nia terkena serangan jantung saat melihat apa yang tengah ditangkap Pongpong saat ini. Vina yang tak kalah terkejutnya pun bahkan hampir salto di tempat tidur.


"Anjir."


"Anjir banget. Anjir maksimal. Anjir to the moon and back," sahut Vina pada Nia.


"Itu kan cewek yang di foto."


Vina mengangguk. "Gak salah lagi."


"Cewek yang gue liat malmingan sama Kak Denar kemaren juga model rambutnya kaya gitu."

__ADS_1


"Berarti fix itu cewek yang di foto, Nya."


Sejujurnya tidak penting itu wanita yang ada di foto yang dipajang Denar di samping tempat tidurnya atau wanita yang diantar Denar ke stasiun kereta api, yang pasti saat ini Denar tengah beradu berahi dengan seorang wanita! Gila! Biksu Tong Sam Cong dari hongkong! Benar-benar tak disangka. Bahkan terlihat dari video tersebut Denar seperti sudah terbiasa bersetubuh. Ternyata Denar bukan orang yang sus* atau pengidap DID melainkan pemorak-poranda ranjang berkedok imam idaman!


*Sus dipakai sebagai akronim dari kata dalam bahasa Inggris “suspicious” atau “suspect” yang berarti mencurigakan atau tersangka. Kata itu adalah kata slang yang juga digunakan untuk mengatakan bahwa seseorang atau sesuatu tidak boleh dipercaya.


Nia dan Vina fokus menyaksikan tontonan yang berhasil ditangkap Pongpong hingga tidak mendengar panggilan Ushi yang meminta mereka untuk turun menyantap makan malam. Karena tidak ada sahutan baik dari Nia ataupun Vina, Ushi pun menghampiri keduanya. Nia dan Vina tampak terkejut saat Ushi tiba-tiba memasuki kamar Nia. Sialnya keterkejutan itu membuat ponsel Nia jatuh dari genggaman. Dan yang lebih sial, tombol volume yang membentur lantai itu tertekan hingga angka seratus persen. Gawat!


Aaahhh aaahhh aaahhhh


"Kalian lagi nonton apa anak-anak?" tanya Ushi dengan sorot mata murka.


...•▪•▪•▪•▪•...


"Selamat jadi manusia purba." Ikbal terbahak. "Sekalian aja lu sama sahabat sehati sesanubari lu itu bikin mie pake batu." Ikbal terbahak lagi. "Bego banget anjir. Nonton bokep tapi gak pake headset. Gak ngunci kamar pula" Ikbal berlalu tanpa menghentikan tawa terbahaknya.


"Sabar-sabar. Ladenin manusia aja jangan ladenin lelembut, Nia."


Nia terus menggumamkan itu dalam hatinya, sambil mengenakan sepatu sekolah. Sejak ketahuan menonton video porno dengan Vina, ponsel Nia disita oleh Ushi dan baru akan dikembalikan jika suasana hati Ushi sudah membaik. Beruntung Nia hanya mendapat hukuman penyitaan. Berbeda dengan Vina yang tidak hanya ponselnya saja yang disita tetapi uang jajannya pun dipangkas hingga hanya tersisa tiga puluh ribu rupiah. Sungguh kejam. Ongkos rata-rata pulang pergi dari rumah sampai Andalan Teladan saja sudah dua puluh empat ribu!


" … Gue dapet tebengan, Nya. Jadi duit jajan gue utuh. Tapi kalo lu mau nraktir gue jajan selama sebulan yaudah gue gak akan sungkan-sungkan mesen ayam bakar madu sama chicken steak tiap hari." Vina terbahak.


"Ada kating. Cewek kok cewek. Kalo cowok mah gue ogah anjir. Jauh banget perjalanan kalo naek motor. Bisa-bisa dedek nemplok tanpa sadar karna lelah." Vina kembali terbahak.


Nia pun kembali ikut terbahak. "Yaudah kalo gitu. Syukur deh. Gua jadi gak ngerasa bersalah banget. Gue pikir lu bakal kesusahan gara-gara gue."


"Gimana bisa gara-gara lu sih. Kan itu misi kita berdua. Udah ah gak usah dipikirin. Tapi Zaim pasti bakal kebakaran jenggot lagi deh karna gak bisa ngehubungin lu."


"Iyalah. Tapi pasti dia nelfon Ibu atau Ikbal dulu." Nia menutup wajahnya. "Duh, ancur udah image gue kalo ntar dia tau alesan hp gue disita."


Dan seperti yang dikhawatirkan Nia serta Vina, Zaim memang langsung kebakaran jenggot saat mengetahui nomor ponsel Nia tidak aktif. Bahkan Zaim hampir membatalkan pertemuannya dengan klien penting hari itu jika saja Ushi tidak mengiriminya pesan yang memintanya untuk menelepon saat senggang. Zaim pun langsung menelepon Ushi, enam menit sebelum pertemuannya dengan seorang klien yang jauh-jauh datang dari Korea Selatan. Melalui telepon Ushi mengabarkan jika dirinya menyita ponsel Nia karena alasan memalukan.


" … Pantesan waktu itu saya panggil-panggil anaknya gak ada nyaut. Pas saya samperin ternyata dia lagi nonton film porno sama Vina."


Zaim menahan tawa mendengar cerita Ushi melalui sambungan telepon.


"Mana pinter banget lagi itu anak dua ngelesnya. Masa katanya buat edukasi? Siapa yang gak emosi coba? Mana kata dokter saya gak boleh emosi lagi kalo gak mau cepet keriput."


"Tinggal ke klinik kecantikan kan, Bu. Sebut aja passwordnya," balas Zaim pada Ushi.

__ADS_1


Terdengar Ushi tertawa geli. "Duh bisa aja sih nih calon mantu."


Zaim hanya ikut tertawa.


"Tapi, Za. Kamu harus bantu saya loh. Ini buat pelajaran Nia juga biar tuh anak gak kecanduan film porno. Anak cewek soalnya. Kalo cowok sih bodo amat," imbuh Ushi. "Jangan bikin Nia nyari-nyari cara buat ngontek kamu. Apalagi sampe kamu beliin hp."


"Oke, Bu. Nanti saya langsung ke rumah aja."


"Iya mending gitu aja, Za. Yaudah kalo gitu kamu lanjut. Pasti lagi sibuk-sibuknya nih pengusaha sukses di jam-jam segini. Saya tutup ya."


"Iya, Bu. Makasih udah ngabarin."


"Sama-sama, Za."


Tawa Zaim langsung pecah ketika Ushi mengakhiri panggilan itu. Nisma yang tengah berkonsentrasi merevisi schedule Zaim untuk berjaga-jaga bahkan sampai kelepasan memaki saking terkejutnya. Zaim mendadak besemangat, dan berniat menyelesaikan semua jadwalnya hari ini sebelum bel pulang SMA Andalan Teladan berdering. Entah kenapa saat melihat awan yang sejak pagi terus murung membuat Zaim terpikirkan untuk mengajak Nia berkencan di Puncak. Pasti menyenangkan berkendara dengan motor sambil saling memeluk menceritakan ini itu.


"Eh?"


"Mesen ojol kan?" tanya Zaim sambil menyodorkan helm pada Nia.


"Iya sih. Tapi bukan ojol super ganteng kaya gini."


Zaim tertawa. "Ke Puncak yuk? Katanya lagi ada kabut. Terus monyet-monyet juga lagi pada turun."


"Serius ada monyet di Puncak?" Nia tampak senang tetapi seketika membuang wajahnya sambil membatin, "Fix urat malu gue udah putus semua. Bisa-bisanya gue malah kesenengan. Pasti Zaim udah tau alesan hp gue disita sama Ibu makanya dia tiba-tiba jemput gue di sekolah."


"Iya."


"Hah?"


"Kamu pasti lagi mikir macem-macem kan sekarang? Jawabannya iya." Zaim meminta Nia untuk mendekat. "Sini bentar coba."


Nia bergeming. "Ngomong aja dari situ emang kenapa?"


"Ntar kamu yang malu loh."


Nia tak menjawab, hanya menuruti perintah Zaim meski ragu.


"Gak usah nonton begituan, Sayang. Gak ada gunanya. Soalnya aku dominan dalam segala hal terutama urusan ranjang. Aku gak akan biarin kamu mimpin. Aku gak akan biarin kamu di atas," imbuh Zaim.

__ADS_1


DEG DEG DEG


__ADS_2