
Sebelum akhirnya mendapat celah, butuh waktu empat hari untuk Bayu bisa mendapatkan rekaman wajah Nia. Sebab Nia selalu pergi ke mana pun dengan menggerombol. Jika pun tidak, selalu ada Vina di samping Nia. Bayu sempat berpikir untuk merelakan sisa bayarannya, toh dirinya sudah mengantongi tiga ratus lima puluh ribu. Karena selama empat hari itu Bayu sudah melewatkan semua mapel. Bayu bersembunyi di kantin di mana kelas Nia terlihat, memantau segala aktivitas primadona Lentera Dunia itu.
Hingga celah itu pun datang, di hari kelima. Nia terlihat keluar dari kelasnya seorang diri tak lama setelah bel pergantian mapel berbunyi. Bayu tak segera beraksi, diam sesaat mencerna situasi. Ternyata mapel kelas Nia berikutnya adalah penjaskes, dan sepertinya Nia tidak terbiasa berganti pakaian secara jamaah di kelas. Bayu pun langsung berlari secepat kilat menyusul Nia. Mengikuti skenario Bagas, Bayu bergegas mengaktifkan kamera ponselnya, dan meletakkannya di depan salah satu bilik pintu toilet.
"Nia?"
"Eh? Siapa lu? Kok cowok masuk toilet cewek?" Nada suara Nia terdengar meninggi.
"Ini gua Bayu. Buka bentar deh. Gua mau ngomong. Darurat."
"Dih gila lu ya? Gue lagi ganti baju anjir."
"Tapi ini soal Vina ya–"
KLEK
"Kenapa sama Vina?" Nia membuka sedikit pintu toilet.
BRAK
"Apa-apaan sih lu?" Nia buru mengancingkan kembali seragamnya. "Maen masuk-masuk aja. Kalo ada yang liat gimana anjir."
"Sorry gua boong. Sebenernya ini bukan soal Vina."
Spontan Nia berbalik menghadap Bayu, mendekati cowok super jangkung itu sambil mendongak melotot. "Keluar apa gue teriak?"
"Tunggu-tunggu. Duh, gimana jelasinnya ya? Gini, gua lagi dikejar guru bk. Soalnya gua ketauan ngerokok di belakang lab biologi. Lu pasti gak bakal buka pintu kan kalo gua gak ngeles soal Vi–"
"Terus kalo ada yang tau gue di dalem toilet sama lu gimana hah?" sela Nia.
"Yaudah sih bentar doang."
"Yaudah lu sendiri aja yang disini. Semoga guru bk nangkep lu amin."
Spontan Bayu menarik tangan Nia yang hendak keluar dari toilet. "Eh tunggu-tunggu. Nolonginnya jangan setengah-setengah dong. Liat dulu di luar. Masih ada guru bk gak."
"Emang gue bilang mau nolongin lu ya?" Nia semakin melotot. "Lepasin apa gue beneran teriak?"
"Yaudah-yaudah. Kejem banget sih lu. Yaudah gua keluar."
__ADS_1
BRAK
Bayu buru-buru meraih ponselnya, menekan ikon kotak hitam di tengah layar, dan bergegas meninggalkan toilet. Sambil berjalan dengan penuh semangat melewati koridor, Bayu memeriksa hasil rekaman yang sudah membuatnya tertinggal banyak mapel. Rekaman berdurasi dua menit itu pasti akan menjadi opening film panas yang sempurna. Bagaimana tidak? Dalam rekaman wajah Nia terlihat sangat jelas, dan meski setelahnya hanya merekam kaki Nia dan Bayu, para penonton pasti akan sangat mudah dibuat salah paham.
"Om, saya udah dapet videonya. Mau ketemu kapan?"
...•▪•▪•▪•▪•...
Akhirnya sedan mewah yang dikendarai Zaim itu sampai di tujuannya, Karawang. Sesuai janjinya pagi tadi, Nia pun menemani Zaim berziarah ke makam sang kakak, Zain. Sepanjang memasuki area pemakaman itu Nia tak henti mengerjapkan mata. Nia tak percaya jika itu adalah pemakaman, meski matanya sudah berpuluh kali menangkap deretan batu nisan. Bagaimana bisa ada restoran, gedung serbaguna dan bahkan kolam renang di dalam pemakaman? Diusir ke mana para pedagang bunga?
"Ini kamu beneran mau ziarah apa cuma sepik biar bisa kencan sama aku?"
Zaim tertawa menanggapi Nia, sambil mematikan mesin mobil. "Dua-duanya."
"Jadi ini beneran makam?"
"Iya. Yuk. Keburu ujan."
Nia mengangguk menuruti perkataan Zaim, dan mengekorinya menuju jalan setapak berhias bunga-bunga indah dan harum. Layaknya berziarah ala kalangan biasa, Zaim langsung membacakan doa setelah menaburi pusara Zain dengan bunga. Setelah sesi doa selesai, Zaim tampak diam, hanya menatap lurus ke batu nisan bertuliskan Zain Elfatih bin Barakatullah. Nia pun beranjak, setelah perlahan menyadari jika sesi selanjutnya setelah sesi doa dan sebelum sesi air mata adalah sesi curhat.
"Aku ke sana dulu ya. Mau liat-liat mumpung di sini. Kamu santai aja. Aku rela bolos sekolah kok." Nia melambaikan tangannya dan berlalu.
Zaim tertawa memandang Nia, lalu kembali menatap nisan sang kakak. "Namanya Nia. Cantik kan?" Zaim melepas jas hitamnya, membentangkannya tepat di samping nisan Zain. "Akhirnya gua jatuh cinta."
"Hai, chimp*."
*simpanse.
Zaim menoleh ke sisi kirinya, ke asal suara itu datang. Terlihat Zain duduk tepat di samping Zaim, memandang jauh ke depan.
"Gua pikir lu bakal jadi perjaka tua," imbuh Zain.
"Mubazir banget dong keseksian gua."
Zain tertawa. "Bener kan? Hidup kita makin lengkap kalo kita punya seseorang yang kita cinta selain keluarga."
"Iya."
Zain menoleh pada sang adik. "Gak bisa apa lu dateng tanpa masalah?"
__ADS_1
"Gak bisa orang gua pusatnya masalah."
Zain kembali tertawa. "Oke. Jadi apa masalahnya kali ini?"
"Akhir-akhir ini gua sering mimpi buruk tentang Nia. Kayanya bakal ada yang gangguin dia lagi."
"Tinggal disingkirin kan?"
"Berantem kalah aja sok-sokan bilang nyingkirin."
Zain tak henti tertawa menanggapi adik semata wayangnya itu.
"Sebenernya lu ada hubungan apa sama Emily? Yang brengsek tuh lu, Emily, apa Kasih sih?" Zaim menghela napas. "Gua pusing mikirin masalah lu sementara masalah gua sendiri aja gak ada abisnya."
"Yaudah pikirin aja masalah lu sendiri. Gampang kan?"
"Iya. Ngomong emang gampang."
Lagi-lagi Zain tertawa. "Emang apa aja masalah lu?"
"Banyak." Zaim diam sesaat. "Kakek gak restuin hubungan gua sama Nia …"
Kemudian masalah selanjutnya, lambat laun Safi pasti akan mengetahui identitas asli Nia. Sebab serapat apapun kebenaran dikubur, suatu saat pasti akan menampakkan diri. Dan ketika Safi tahu jika Nia adalah cucu haramnya, Safi pasti akan langsung menyusun seribu siasat untuk mencelakai Nia. Tidak hanya Hakam dan Safi, ibu Nia yang lain, Nila, bisa kembali ke tanah air kapan saja dan sudah pasti akan membuat Nia berada di posisi yang sulit. Dan masalah terakhir, Kasih.
" … Kalo pengobatan Kasih gagal, makin ruwet udah."
"Tapi bisa aja Kakek tiba-tiba ngasih lu restu. Atau bisa juga Safi mendadak insaf. Terus bisa juga kan Nila-nila itu gak balik ke sini selamanya? Dan soal Kasih, dia pasti sembuh kok," balas Zain.
"Kalo gak sembuh?"
"Beresin Safi sama Nila. Kacangin Kakek sama Kasih. Terus kawin lari sama Nia dan ngumpet di pulau terpencil."
Zaim berganti tertawa. "Saran lu emang selalu sesat."
Zain ikut tertawa. "Yang namanya orang hidup tuh pasti punya masalah sesuai porsi dan kesanggupan masing-masing. Kalo gak mau punya masalah ya ayok ikut gua." Zain terus tertawa. "Lu jauh lebih kuat dari gua. Hadepin. Lu pasti bisa. Kalo ternyata emang gak bisa yaudah ikut gua aja deh."
Zaim tak henti tertawa, begitu pula dengan Zain yang ada dalam khayalannya. Khayalan yang selalu sirna saat air mata Zaim jatuh menetes.
"Duplikat L.K?"
__ADS_1
Spontan Zaim menoleh ke asal suara.
"Kamu ketawa sama siapa?" tanya Nia lagi, dengan wajah pucat pasi.