
Terlihat Hendri baru saja memasuki lift rumah sakit, hendak membesuk atasan sekaligus orang tua angkatnya, Al Hakam. Sambil menanti lift itu membawanya ke lantai di mana Al Hakam dirawat, Hendri tiba-tiba saja teringat apa yang terjadi kemarin, ketika dirinya tanpa sengaja mendengar percakapan Bastian dan Ushi di sebuah kafe di seberang SPBU.
Kala itu Hendri pun sedang berada di kafe tersebut, usai memberi mobilnya minum, persis seperti Ushi. Saat tengah menanti kopinya, Hendri tak sengaja melihat Bastian bersama seorang wanita. Spontan Hendri pun berniat menangkap basah Bastian, namun niatnya itu seketika sirna
saat dirinya tanpa sengaja mendengar percakapan Bastian dan Ushi.
*FLASHBACK ON*
" … Tapi saya yakin kalo Zaim tau siapa pelaku sebenernya yang bikin Pak Hakam hampir meninggal, dia pasti gak bakal maafin."
"Zaim udah tau, Bu Ushi."
"Apa?"
Bastian mengangguk. "Zaim udah tau siapa pelaku sebenernya. Tapi Ibu gak perlu khawatir. Zaim sama sekali gak marah sama Nia. Bahkan sekarang mereka lagi dinner. Saya saranin Ibu tutup mulut aja. Pura-pura …"
*FLASHBACK OFF*
"Siapa sih pelaku sebenernya sampe bikin Zaim kicep gini? Padahal Kakek nyaris aja meninggal," batin Hendri sembari merogoh ponselnya. "Mana mati lagi nih nomernya Bastian. Padahal mau gua ajak ketemuan."
Hendri tampak keluar dari lift, dengan wajah menahan geram. Sambil terus mengulang tanya yang sama dalam benaknya, Hendri mempercepat langkahnya menuju kamar rawat Hakam. Dan betapa terkejutnya Hendri saat tiba di kamar rawat Hakam, karena ternyata ada Bastian di sana. Terlihat dari jendela pintu kamar rawat Hakam, Bastian tengah tertawa geli.
KLEK
"Oh, Hen. Tumben siangan kamu datengnya."
"Iya. Tadi ada sedikit masalah sama pengiriman ketring. Tapi udah aku urus kok," jawab Hendri pada Hakam. "Hp lu mati, Bas?"
Bastian hanya mengangguk menanggapi Hendri, sambil menunjuk ponselnya di meja yang tengah diisi daya.
"Oh," imbuh Hendri. "Kakek gimana kondisinya? Apa yang dirasa?"
"Ya masih pusing dikit-dikit. Tapi udah mendingan. Ngomong-ngomong, kalian lagi pada berantem?"
"Otw, Kek."
"Pantes. Pada berantemin apa emang?" tanya Hakam lagi.
Hendri memandang Bastian sebelum menjawab, "mau gua apa lu yang jawab, Bas?"
Bastian menghela napas. "Kita ngobrol di lu--"
"Bastian udah tau pelaku yang masang Pongpong* di mobil Zaim, Kek," sela Hendri.
*Perekam video mini yang diklaim bisa merekam apapun karena memiliki fitur tembus pandang. Pongpong juga bisa menjangkau seluruh ruangan meskipun hanya dipasang satu buah saja. Pongpong terhubung dengan aplikasi bernama serupa. Melalui aplikasi ini, pengguna Pongpong bisa memantau semua yang berhasil terekam. Kemudian hasil dari rekaman tersebut akan otomatis terunduh ke gallery dengan kualitas 1080p.
Hening. Sungguh, hanya terdengar suara cairan infus Hakam yang menetes lambat. Tetapi perlahan atmosfer tegang kembali mengambil alih!
__ADS_1
"Kok Kakek biasa aja dengernya? Jangan-jangan Kakek juga udah tau?" Hendri menghela napas kasar. "Jadi cuma aku doang yang gak tau? Wajar sih. Aku kan emang cuma orang lain."
"Kakek gak tau kok. Cuma iseng nebak-nebak aja dan ternyata bener." Hakam membenahi bantal tidurnya. "Zaim pasti ngamuk kalo pelakunya bisa diatasin. Tapi kalo sebaliknya, anteng kan dia?"
Hendri diam, mulai memikirkan maksud ucapan Hakam. Benar. Jika orang yang mengusik Zaim, keluarga atau orang terdekatnya bisa diatasi, Zaim pasti tidak akan segan mengamuk. Seperti saat Zaim tahu Safi adalah pelaku dibalik kematian Zain yang tidak wajar. Alih-alih mengamuk, Zaim malah duduk manis. Itu karena Safi bukan orang sembarangan yang bisa disingkirkan seperti pion sekali pakai.
Di mana artinya, pelaku yang memasang Pongpong di mobil Zaim juga bukan orang sembarangan. Siapa kira-kira? Safi? Tidak. Hendri sudah memastikan ribuan kali. Safi tengah sibuk menemui psikolog demi memastikan mentalnya tidak terganggu jika kelak gagal menjadi Raja Malaysia. Lantas? Siapa lagi orang yang tidak bisa diatasi Zaim? Tunggu. Tidak-tidak. Mungkinkah? Nia?
"Gak mungkin Nia kan?" tanya Hendri seraya memandang bergantian Hakam dan Bastian. "Jadi beneran Nia pelakunya?"
...•▪•▪•▪•▪•...
" … Mana makan siang aku, Sayang?" Zaim menyandarkan ponselnya di cangkir teh.
"Aku kesiangan jadi gak sempet masak."
Zaim hanya tersenyum menanggapi Nia.
"Kenapa senyum-senyum gitu?" imbuh Nia.
"Enggak, Sayang. Gak apa-apa."
"Telfonan aja ah. Ngapain video call sih? Tiba-tiba banget." Nia mengarahkan layar ponselnya ke langit-langit kamar.
"Kita kan udah empat hari gak ketemu."
"Kok tau?"
Nia buru-buru menyambar ponselnya dan kembali menghadapkan layar ponselnya ke wajahnya yang kusut. "Hah? Gimana? Ngomong apa kamu barusan?"
Zaim tertawa. "Aku emang sengaja gak luangin waktu buat kamu, Sayang. Karna aku lagi ngebut ngelarin kerjaan. Biar pas liburan nanti kita bisa bener-bener quality time."
Nia tak menjawab, hanya kembali menghadapkan layar ponselnya ke langit-langit kamar. Zaim pun refleks tertawa, sebab yakin betul jika saat ini sang kekasih tengah salah tingkah. Setelah melalui rapat panjang yang memusingkan, Zaim buru-buru kembali ke ruangannya, tak sabar meredakan pusingnya dengan makan siang buatan sang kekasih.
Namun Zaim tak mendapati apapun di meja. Zaim pun langsung menelepon Nia, berniat protes. Tetapi alih-alih mendapatkan jawaban yang diinginkannya, Zaim malah dibohongi. Ya, Nia tidak kesiangan melainkan sengaja tidak membuat makan siang untuk Zaim. Alasannya sudah pasti karena Nia masih merasa bersalah perihal musibah yang nyaris merenggut hidup Al Hakam.
"Sayang?"
"Hm," sahut Nia.
"Aku mau nanya sekali lagi boleh?"
"Apaan?"
"Kamu mau jadi partner hidup aku apa partner di medan perang kaya Bastian, Jani, Pak Sobari sama Pak Ucil? Kalo mau jadi partner hidup aku, cepet bikinin aku makan siang."
Lagi-lagi Nia membisu, karena tentu saja, kian salah tingkah.
__ADS_1
"Sayang."
"Ih iya-iya. Sayang-sayang mulu."
Zaim tak henti tertawa. "Yaudah aku tunggu ya."
"Iya tapi aku gak bisa anter."
"Iya aku tau. Kamu kan lagi dihukum gak boleh keluar rumah sama Ibu kamu kan."
"He'em. Jadi nanti aku G*jekin aja."
"Gak usah, Sayang. Biar diambil sama Pak Ucil aja ya."
"Yaudah aku masak dulu. Tapi masak apa aja ya yang ada di kulkas. Soalnya Ibu belom belanja bulanan."
"It's okay, Sayang. Sesimpel apapun masakan kamu pasti enak. Yaudah kamu nanti juga jangan lupa makan siang ya. I love you."
Zaim memutus panggilan video call itu. Dan tak lama setelahnya, sang sekretaris, Nisma, masuk ke ruangannya. Nisma yang yakin hari ini Nia tidak mengirim bekal makan siang Zaim pun buru-buru menghadap Zaim untuk menanyakan makan siang apa yang tengah diinginkannya, sekaligus membacakan agenda Zaim hari itu yang seolah tidak ada habisnya.
"... Makanan yang ringan-ringan aja, Nis. Soalnya bekel makan siang saya otw."
Nisma mengangguk merespon Zaim. "Kalo makanan yang ringan-ringan saya rekomendasiin siomay, asinan betawi atau salad, Pak."
"Siomay deh. Banyakin pare sama tahu putih. Sambel kacangnya pisah ya."
"Baik, pak. Terus minumnya apa, Pak? Mau jus buah naga yang biasa?"
"Boleh."
"Baik, Pak. Ada lagi, Pak?"
"Itu dulu aja, Nis. Terus schedule saya selanjutnya gak usah dibacain. Kamu print aja terus taro meja saya ya. Terus kamu makan siang juga."
"Baik, Pak. Kalo gitu saya permisi."
"Oh iya saya hampir kelupaan."
Spontan Nisma menahan langkahnya yang hendak balik kanan. "Ada tambahan, Pak?"
"Kalo weekend nanti kamu free, temuin Bastian ya. Ada yang mau Bastian sampein sama kamu."
Nisma diam cukup lama sebelum menjawab ragu, "Baik, Pak."
KLEK
"Pak Bastian mau nyampein sesuatu? Apa ya? Kok perasaan gue mendadak gak enak gini. Tunggu-tunggu." Nisma menghentikan langkahnya. "Jangan bilang Pak Bastian udah tau soal fanbase itu? Atau udah tau soal si Bunga yang pura-pura jadi Adelweiss? Duh, gawat," batin Nisma seraya berlalu.
__ADS_1