
Menu makan malam itu adalah sop iga. Tetapi anehnya tak terdengar suara seruputan kuah sop, suara tulang iga yang beradu dengan piring sampah, pun suara kunyahan kenikmatan. Kenapa? Mari kembali ke empat jam lalu, ketika Ushi mengajak Edo berpacaran, bertunangan hingga menikah tetapi hanya berakhir digantung. Bahkan tidak hanya digantung tetapi juga diabaikan. Benar, pada akhirnya Edo lebih memilih mengejar sang kekasih, Saskia, dan meninggalkan Ushi yang mematung di teras kediaman Zaim.
"Kalian lanjut makan aja," ujar Ushi seraya beranjak, lalu menoleh pada Zaim. "Saya ke kamar dulu ya, Za."
"Silahkan, Bu," jawab Zaim.
"Perlu saya bawain makan malemnya ke kamar, Bu?"
Ushi menggeleng pada Nur. "Saya mau langsung tidur. Makasih, Bi."
Ikbal ikut beranjak. "Bawain aja, Bi. Saya juga mau lanjut makan di kamar."
"Gak usahlah di–"
"Iya bawain aja, Bi Nur," sela Vina pada Ushi. "Saya juga mau lanjut makan sambil nemenin Tante Ushi yang patah hati."
"Sembarangan. Siapa juga yang patah hati …"
Ushi berlalu ke kamarnya di lantai dua, dengan diekori candaan Ikbal dan Vina. Juga Nur yang tak lama menyusul ketiganya. Kini hanya tersisa Zaim serta Nia di meja makan. Zaim menduga Nia juga akan segera bergabung untuk menghibur sang ibu. Namun di luar dugaan Nia bergeming, bahkan meminta tambahan sop iga pada pelayan. Ada sesuatu yang ingin disampaikan Nia dan sudah direncanakan. Begitu pikir Zaim. Dan benar saja. Bersamaan dengan porsi kedua sop iganya yang sudah siap disantap, Nia menyampaikan sesuatu.
"Hm? Om Santos? Siapa kok aku baru denger?"
"Bokapnya Vina. Namanya Suseno Santoso tapi panggilannya Om Santos."
Zaim mengangguk-angguk. "Jadi dia mau ngelamar jadi sekertaris aku ya. Boleh."
"Serius segampang ini?"
"Iya kan aku emang lagi open recruitment buat posisi sekertaris." Zaim mengusap mulutnya dengan lap makan. "Maksudnya siapa pun boleh apply. Tapi tetep harus ikutin semua tes."
"Kok segala pake tes? Emang gak bisa langsung diterima aja?"
Zaim menggeleng. "Semua karyawan aku harus lewatin tes, Sayang. Mulai dari tes screening, psikotes, medical check up, interview, sampe tes magang. Gak ada jalur uang atau orang dalem. Semua karyawan aku murni lolos karna keputusan akhir ada di tangan aku."
"Tapi ini darurat. Kalo kamu gak ngasih kerjaan Om Santos sekarang juga, dia bakal gadein gelar pengacara kondangnya buat beli mesin fotokopi."
Zaim hanya terbahak menanggapi Nia.
"Serius dih. Lagian Om Santos pasti lulus semua tesnya kok. Om Santos kan sarjana hukum. Dia gak cuma bisa jadi sekertaris kamu aja tapi bisa jadi penasehat hukum perusahaan juga loh," imbuh Nia.
"Banyak yang apply ke perusahaan aku gelarnya Doktor, berpengalaman, dan bahkan dapet rekomendasi dari perusahaan lamanya. Tapi tetep harus lewatin semua tes. Bukan formalitas. Bener-bener tes."
Nia yang merasa tak menemukan kata-kata tampikan pun terpaksa diam.
"Oke gini aja, Sayang. Karna ini permintaan kamu dan Om Santos tuh ayahnya sahabat kamu, aku bakal kasih keringanan. Om Santos cukup ikut psikotes sama medical check up aja. Kalo hasilnya bagus, aku bakal kasih dia kesempatan magang. Kalo dalam masa magang itu kinerjanya oke, aku bakal rekrut dia jadi karyawan tetap dan langsung kasih dia gaji setara setahun. Gimana?"
Nia masih diam, namun berulang kali mengangguk girang.
"Oke kalo gitu beres ya soal ini?"
Nia kembali mengangguk. "Karna kamu udah kasih keringanan Om Santos, aku mau kasih kamu hadiah. Kamu bilang aja mau apa."
__ADS_1
"Apa aja?"
"Iya tapi jangan yang aneh-aneh."
"Tidur sama aku malem ini."
"Oke," balas Nia kilat.
Spontan Zaim beranjak. "Yaudah kalo gitu aku keluar dulu."
"Hah? Keluar ke mana tiba-tiba banget?"
"Aku mau beli sesuatu."
"Yaudah minta tolong Pak Ucil aja. Atau Bi Nur. Atau pelayan kamu yang lain kan banyak."
Zaim menggeleng. "Harus aku yang beli. Jenisnya banyak soalnya."
"Jenis apa sih? Mau beli apaan emangnya?"
Zaim mendekat pada Nia, lalu berbisik, "******. Kan kita mau tidur bareng malem ini. Atau kamu gak masalah gak pake ******?"
"Kamu juga gak masalah kalo aku jambak sampe botak?" Nia melotot.
"Gak masalah sih yang penting abis itu kita tidur bareng."
Mendengar itu Nia semakin melotot, dan tanpa ragu benar-benar menjambak Zaim. Zaim yang tak mengira jambakan Nia akan sekuat itu pun kabur karena seketika dibayangi kebotakan. Keduanya pun heboh saling mengejar di dalam rumah.
"Jadi gak sabar nunggu Tuan Zaim sama Non Nia nikah. Pasti tiap hari rumah ini bakal rame," batin Nur sembari tersenyum memandang Nia dan Zaim yang berlarian di luar rumah.
Terlihat mobil Jani berbelok memasuki Nusakambangan, sebuah penjara yang mendapat julukan Pulau kematian. Di sana jugalah Emily berakhir setelah terbukti sebagai penjahat. Jani datang untuk membuktikan kecurigaan Al Hakam dengan alasan membesuk. Al Hakam curiga jika teman yang dimaksud Kasih adalah Emily. Andai kecurigaan Al Hakam benar, Emilylah yang mesti bertanggung jawab atas kambuhnya delusi* Kasih serta hilangnya nyawa seorang warga sipil pada insiden penembakan beberapa waktu lalu.
*Merupakan salah satu gangguan mental serius. Delusi ditandai dengan kesulitan seseorang untuk membedakan mana hal yang bersifat kenyataan dan mana yang merupakan imajinasi. Dan walaupun sudah terbukti bahwa apa yang diyakini tidak benar, penderita gangguan delusi akan tetap berpegang teguh pada pemikirannya dan menganggap bahwa apa yang diyakini tersebut benar.
"Terus jangan-jangan bener lagi kalo Emily yang ngeluarin Kasih dari RSJ? Tapi gimana caranya? Apa ada yang bantu Emily? Tapi siapa?"
Jani terus menumpahkan tanyanya dalam hati, sembari berjalan menyusuri lorong menuju ruang cctv penjara. Kedatangan Jani langsung disambut kikuk oleh seorang Sipir. Meski begitu si Sipir cukup mahir mengubah mimik wajahnya dengan cepat. Jani tak menegur, cukup menganggap si Sipir sebagai ancaman! Setelah menyampaikan maksud kedatangannya, Jani juga bertanya di mana orang-orang Al Hakam yang diberi misi mengawasi Emily, Bagas, Ken Izanagi, dan Heri alias Pria Purnama.
"Lagi pada beli makan siang, Bu. Makanya ini saya gantiin."
"Misi sepenting ini diserahin gitu aja sama yang bukan tim? Aneh," batin Jani. "Gitu ya. Yaudah kalo gitu kamu makan siang juga aja. Ada tahanan yang mau saya cek."
"Saya udah makan siang kok, Bu," jawab si Sipir. "Silahkan kalo Ibu mau cek. Saya tunggu di luar kalo Ibu gak nyaman."
"Oh nyantai aja."
"Baik, Bu."
Jani benar-benar merasa semakin aneh, trutama saat dirinya melihat Emily dari rekaman langsung kamera cctv. Tampak Emily tengah tertidur. Namun meski sudah lebih dari lima belas menit Jani memandang Emily, pun memandang Bagas, Ken Izanagi, dan Heri yang juga sedang tidur, rasanya hanya Emily yang seperti orang mati. Berbeda dengan Bagas beserta yang lain yang tetap melakukan gerakan kecil meski tengah tertidur. Jani pun memutuskan untuk mengecek langsung ke sel Emily.
"Surat izin besuknya, Bu?"
__ADS_1
Jani tak menjawab. Hanya merogoh saku jaketnya dan menyerahkan selembar amplop pada Sipir.
"Tapi ini jam besuknya jam sebelas siang, Bu. Sekarang jam sepuluh aja belom ada," imbuh Sipir.
"Kaku banget sih kamu. Saya kan polisi. Saya bebas mau besuk tahanan jam berapa." Jani menunjuk surat izin besuknya. "Lagian itu kan cuma buat formalitas. Masa kamu gak tau? Kamu anak baru?"
Sipir tertawa paksa. "Ikutin prosedur aja ya, Bu, biar gak kena masalah. Ibu kan liat sendiri tahanan yang mau Ibu jenguk juga masih tidur. Tolong tunggu di ruang tunggu. Nanti kalo udah jam sebelas ba–"
"Kamu bukan orangnya Al Hakam ya?" sela Jani seraya beranjak. "Kamu pasti juga tau kan kalo kamera cctv di selnya tahanan yang mau saja besuk itu udah diapa-apain sama seseorang?"
"Maksudnya, Bu? Saya gak tau apa-apa."
Jani menyeringai. "Berarti bener dong ada apa-apa. Masa kamu gak tau sesuatu? Taulah pasti biar pun sedikit. Iya kan?"
Sipir menggeleng cepat.
"Oh berarti kamu tau banyak nih," tambah Jani sembari mengeluarkan pistolnya. "Udahan bego-begonya. Cepet kasih jawaban yang saya mau kalo kamu masih pengen pa–"
"Lama tidak berjumpa, Patricia Anjani. Awak selalu susah nak tipu kan. Tabik saya*."
*Lama gak ketemu, Patricia Anjani. Dari dulu kamu emang susah ditipu ya. Salut saya.
Jani tak langsung menoleh pada pria yang baru saja masuk ke dalam ruang cctv. Karena suara serak pun bahasa pria tersebut yang sudah sangat cukup memberi Jani jawaban. Dan, benar saja!
"Oh. Beneran kamu ternyata."
Wafiq Ma'ruf, tangan kanan Sayfudin Qazzafi alias Safi alias ayah Ushi mengangguk. "Nampaknya awak sudah tau banyak*."
*Kayanya kamu udah tau lumayan banyak.
"Enggak juga. Kan saya belom tau alesan Pak Safi sampe terlibat."
"Dia geram dengan Zaim Alfarezi. Jika Zaim Alfarezi menyelesaikan kes video lucah secara tertutup, pasti tidak akan memberikan kesan pada pemilihannya. Kerana berita mengenai kes itu sampai ke luar negara, orang ramai mengetahui bahawa pelaku sebenarnya adalah ahli keluarganya*."
*Beliau kesel sama Zaim Alfarezi. Coba waktu itu Zaim Alfarezi nyelesaiin kasus video pornonya secara tertutup, pasti gak akan berdampak sama pemilu Beliau. Karna berita kasus itu sampe mancanegara, orang-orang jadi tau kalo pelakunya ternyata pernah jadi anggota keluarga Beliau.
"Wah-wah saya gak kepikiran sampe sana. Saya yakin Zaim juga enggak." Jani tertawa. "Ngomong-ngomong. Sekarang jadinya saya tau terlalu banyak dong ya."
"Maka dari itu. Selamat tinggal, Patricia Anjani."
DORR
DORR
DORR
DORR
DORR
BRUK
__ADS_1
"Buang mayat itu ke dalam laut. Jangan lupa ikat tangan dan kaki." Wafiq meninggalkan ruang cctv.
"Baik, Pak," balas Sipir.