
"Saya itu satu-satunya orang yang yang paling ngerti Nia," imbuh Denar.
"Omongan Pak Denar yang barusan itu bahaya banget loh."
Denar tersenyum. "Iya makanya cuma saya omongin ke Pak Zaim."
Zaim tak menjawab, apalagi ikut serta tersenyum. Sebab demi Tuhan, sumbu kecemburuan Zaim telah tersulut! Namun alasan ucapan Denar membuat sumbu kecemburuan yang terlewat sensitif itu lambat laun mulai padam, bak diguyur hujan di awal bulan penghujan. Kenapa Denar begitu percaya diri dengan ucapannya? Karena kisah Denar kecil, hampir mirip dengan kisah Nia kecil. Satu yang membedakan kisah keduanya, kisah Denar kecil lebih menyayat hati.
" … Saya juga dianiaya Ibu tiri saya. Gak diperhatiin sama sekali. Jangankan dikasih makan, saya dis*domi Kakek saya selama enam taun aja Ibu tiri saya cuma diem …"
DEG
Denar tersenyum lagi, sembari melanjutkan, " … Sakit Bapak saya langsung kumat pas tau saya dis*domi. Abis itu Bapak saya dirawat di rumah sakit … Tapi akhirnya Bapaknya saya diusir karna gak kuat bayar biaya perawatan."
DEG DEG
" … Bapak saya meninggal. Terus Ibu saya kabur gak tau ke mana, bawa sertifikat rumah sama tanah," tambah Denar.
DEG DEG DEG
Zaim masih tak memberi jawaban apapun pada pria yang sedari tadi memamerkan senyum ambigu itu. Jadi itu alasan Denar menyulut sumbu kecemburuan Zaim? Luar biasa. Itu adalah alasan terbaik yang didengar Zaim tahun ini. Ternyata benar apa kata orang-orang bijak. Saat kita dipertemukan dengan seseorang, hanya ada dua alasan dibalik itu. Orang tersebut akan mengubah hidup kita atau sebaliknya, kita yang akan mengubah hidup orang tersebut.
"Terus." Denar diam sesaat. "Saya punya cewek yang saya suka. Tapi saya harus nikahin cewek lain." Denar diam lagi. "Menurut Pak Zaim gimana?"
"Saya tim sinetron bukan tim realita."
Spontan Denar tertawa, diikuti Zaim setelahnya.
"Saya belum bisa ceritain Pak Zaim gimana awal mula hubungan saya jadi serumit itu. Intinya cewek yang saya suka kekeh nerima keadaan saya."
"Bagus dong."
Denar menggeleng. "Dia layak dapet yang bukan bekas kaya saya, Pak Zaim."
"Bukannya bekas lebih pro ya?"
Denar tertawa lagi, kian geli. "Pak Zaim ini ada bakat ngelawak loh kaya Nia." Denar mengusap air mata gelinya sambil mengeluarkan ponsel dari dalam saku jaket. "Pokoknya saya harus nikah tapi bukan sama cewek yang saya suka, Pak."
"Ya silahkan aja. Tapi kalo kehidupan pernikahan Pak Denar akhirnya sengsara jangan sok kenal saya loh."
Denar tak henti tertawa, pun mengusap air mata gelinya. "Rasa suka tuh bisa dibikin, Pak Zaim."
__ADS_1
"Tapi dibikin sendiri sama dibikinin Tuhan tuh beda, Pak Denar."
Tawa Denar kembali meledak. "Saya gak nyangka ternyata saya dateng ke tempat yang bener ya."
Zaim hanya ikut tertawa menanggapi Denar.
"Sebenernya saya ke sini mau ngasih Pak Zaim ini." Denar meletakkan undangan pernikahanya di meja. "Tapi pasti Nia gak akan dateng. Padahal saya pengen banget Nia dateng. Saya pengen Nia ngeliat saya bahagia."
Zaim mengambil undangan pernikahan Denar. "Pak Denar kan gak bahagia."
"Bukan gak tapi belum, Pak Zaim."
"Nia bakal dateng kok."
"Terima kasih, Pak Zaim. Tapi saya harap Nia dateng atas kemauannya sendiri."
"Saya gak pernah maksa kecuali urusan ranjang."
Raut wajah Denar mendadak berubah serius. "Kebetulan Pak Zaim bahas itu. Tolong jangan rusak masa depan Nia. Saya yakin Pak Zaim beda dari kebanyakan pria di luar sana."
"Samalah."
"Gak yakin aja udah." Zaim beranjak.
Denar ikut beranjak. "Pak Zaim. Sa–"
"Saya binatang, tapi kalem kok kalo belom ijab kobul. Jadi gak usah ngegas gitu dong."
...•▪•▪•▪•▪•...
" … Bukannya kamu bilang hari ini mau rapat sama klien dari Korea Selatan?" Suara Nia terdengar melalui panggilan telepon yang diloud speaker.
"Besok, Sayang. Hari ini aku mau ke rumah kamu."
"Tapi aku lagi kerja bakti loh."
"Terus masalahnya?"
"Masalahnya kamu pasti bakal disuruh kerja bakti juga sama Ibu," balas Nia.
"It's okay. Bukannya yang punya otot kaya aku bakal lebih dibutuhin buat kegiatan kaya gitu ya?"
__ADS_1
Nia tertawa. "Yaudah-yaudah. See you."
"See you, Sayang."
Zaim menutup panggilan telepon itu, lalu menambah kecepatan mobilnya. Sungguh, Zaim sudah tidak sabar untuk memberitahu Nia perihal keputusan akhir Denar akan masa depannya melalui sebuah undangan pernikahan mewah. Entah reaksi apa yang akan diberikan Nia, namun Zaim sudah bertekad untuk menghindarkan sang kekasih dari rasa penyesalan seumur hidup. Benar, Nia harus menghadiri pesta pernikahan Denar dan wanita yang tidak dicintainya, Marina.
KLEK
DEG
"Bu?"
"Oh, iya-iya." Ushi tersenyum paksa. "Kirain siapa. Masuk-masuk."
"Ada masalah ya, Bu?"
Ushi refleks menghentikan langkahnya, lalu buru-buru berbalik menghadap Zaim setelah terlintas sebuah alasan yang bisa menutupi kikuknya. Belum saatnya. Ya, belum saatnya Zaim menunjukkan tatapan curiga seperti sekarang. Karena rencana Ushi bahkan baru mencapai tahap kerangka kasar! Ushi harus berpikir sedikit lebih serius, sebab pria yang ada di hadapannya saat ini bukanlah pria yang bisa dengan mudah dibodohi.
"Iya, Za. Ibu ada sedikit masalah nih. Maaf ya jadi ngelibatin kamu."
"Gak apa-apa kalo cuma ngelibatin. Khawatirnya ini yang bahaya. Soalnya bisa nular ke Nia, Ikbal dan yang lain, Bu," sahut Zaim.
"Iya, Ibu tau. Maaf ya, Za."
"Jadi masalahnya apa, Bu?"
"Biasalah orangtua saya. Mereka kumat lagi nyuruh saya nikah. Gercep* banget lagi sampe jadwal perjodohan saya selama sebulan aja udah dikirim ke email."
*Merupakan singkatan dari gerakan cepat. Kata ini biasa dipakai ketika ada seseorang yang tanggap dalam melakukan sesuatu. Kata ini juga bisa dipakai untuk menggambarkan mereka yang melakukan sesuatu lebih cepat dari biasanya.
Zaim hanya mengangguk-angguk mendengarkan Ushi.
"Itulah kenapa saya kaget liat kamu. Saya pikir kamu cowok yang mau dijodohin sama saya. Soalnya konsep perjodohan kali ini beda sama yang sebelum-sebelumnya," tambah Ushi. "Cowok itu yang bakal ke sini buat ngajakin kencan. Gila kan?"
"Kalo gitu pasang Smart Doorbell* aja, Bu. Saya juga rencana pasang itu di rumah. Nanti sekalian aja …"
*Bel pintu berkamera yang memungkinkan pemilik rumah untuk melihat terlebih dahulu tamu yang datang sebelum membukakan pintu.
Syukurlah. Sesuai dugaan, alasan Ushi akhirnya benar-benar berhasil menutupi kekikukkannya. Terbukti dari mimik wajah Zaim yang kembali santai. Hampir saja Ushi ketahuan merencanakan sesuatu untuk memisahkan Nia dan Zaim. Demi apapun Zaim tidak boleh sampai mengetahui rencana itu sedikit pun. Ushi berniat untuk lebih sering bertemu Zaim agar tidak kembali membuat Zaim curiga. Satu setengah tahun, setidaknya Ushi harus bertahan selama itu.
"Maafin Ibu, Za. Tapi sekarang Ibu ada di pihak Kakek kamu," batin Ushi.
__ADS_1