HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
BONUS HAKAM


__ADS_3

"Buat apaan beli-beli ginian sih, Bal?" Ushi melempar topi pantai ke dalam koper kosong.


"Ya buat dipakelah, Bu."


"Dipake ke mana? Emang ada pantai di Jakarta selain Ancol?"


"Adalah. Itu tempat wisatanya Kak Zaim kan ada pantainya walopun cuma pantai buatan," jawab Ikbal tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.


Ushi menggeleng-geleng. "Susah emang ngomong sama playboy."


"Mana ada aku playboy."


"Lah buktinya kamu gonta-ganti pacar mulu," sahut Ushi.


"Tuh, Ibu udah kemakan stigma*. Playboy tuh cowok yang macarin lebih dari satu cewek di waktu yang sama, Bu. Gonta-ganti pacar mah bukan playboy. Orang nyari yang terbaik kok dibilang playboy."


*Pikiran, pandangan, atau kepercayaan negatif yang diperoleh seseorang dari masyarakat atau lingkungannya, yang biasanya berupa stereotip hingga diskriminasi yang dapat memengaruhi individu secara keseluruhan.


"Ngeles terus aja kerjaan kamu." Ushi kembali melemparkan oleh-oleh yang dianggapnya tak penting ke dalam koper. "Sama Vina aja udah."


"Idih ogah. Ntar aku ketularan idiot."


Spontan Ushi tertawa, namun tawanya seketika terhenti karena Ikbal yang tiba-tiba menambah volume televisi. Akhirnya berita terbaru tentang kondisi Al Hakam datang juga. Terlihat dalam siaran berita live, seorang dokter pria paruh baya bernama Deri tengah menyampaikan kondisi Hakam yang kabarnya sempat kritis. Seakan terbawa suasana tegang di televisi, Ushi dan Ikbal pun ikut serta tak berkedip memelototi Zaim dan Deri secara bergantian.


"Selamat siang semuanya. Langsung saja ya saya sampaikan kondisi terbaru Pak Hakam yang sempat kritis semalam." Dokter Deri diam sesaat, mengatur napas. "Pak Hakam berhasil melalui masa kritis ... Beliau sudah bisa diajak berkomunikasi ... Rencananya …"


"Alhamdulillah." Ushi tiba-tiba beranjak. "Ibu ngasih tau Nia dulu ya. Kamu jangan maenan game mulu. Cepet makan terus samperin lagi itu tukang servis ac. Bilang acnya masih bobrok gitu."


Ikbal tak menjawab, hanya menggeleng memandang sang ibu yang menghampiri Nia di kamarnya tanpa sadar jika sandalnya terbalik. Ushi tampak tak sabar memberi tahu Nia jika Al Hakam telah berhasil melewati masa kritisnya. Namun langkah antusias Ushi langsung melemas, ketika dirinya tanpa sengaja mendengar percakapan Nia dan Vina di telepon. Apa yang baru saja didengar Ushi? Benarkah itu? Jika Nia adalah penyebab hidup Al Hakam berada di ambang maut?


" … Ibu sama Ikbal gak tau soal gue yang masang Pongpong* di mobil Zaim. Beneran gak tau dih. Mana ada gue keceplosan. Lu kali yang sering gitu. Lu …"


*Perekam video mini yang diklaim bisa merekam apapun karena memiliki fitur tembus pandang. Pongpong juga bisa menjangkau seluruh ruangan meskipun hanya dipasang satu buah saja. Pongpong terhubung dengan aplikasi bernama serupa. Melalui aplikasi ini, pengguna Pongpong bisa memantau semua yang berhasil terekam. Kemudian hasil dari rekaman tersebut akan otomatis terunduh ke gallery dengan kualitas 1080p.


DEG

__ADS_1


" … Iya ini gue mau otw rumah sakit. Gue harus ngaku sama kakeknya Zaim secepetnya," imbuh Nia. "Iya-iya bukan gue aja tapi kita. Yaudah lu mau nunggu di mana? Oh …"


DEG DEG


" … Yaiya ngaku sama Zaim jugalah. Siap gak siap sih. Orang gue salah. Iya-iya bukan gue aja tapi kita." Nia tertawa. "Yaudah …"


DEG DEG DEG


...•▪•▪•▪•▪•...


Bastian menatap angka pada mesin SPBU yang bergerak kilat memberi minum mobil tuanya yang sudah kehausan setengah mati, sambil melamun. Melamunkan hasil penyelidikan diam-diamnya demi mengungkap siapa pelaku dibalik kecelakaan hebat yang nyaris merenggut nyawa Al Hakam. Berbekal sedikit petunjuk dari Zaim, Bastian pun langsung menginterogasi para pelayan di kediaman Zaim. Terutama Pak Ucil, sopir pribadi Zaim. Serta Bi Nur, Kepala Pelayan Zaim.


Namun para pelayan bergaji fantastis itu bukan pelakunya. Merasa buntu, Bastian pun terpaksa memasukkan Safi dan Atlas* ke dalam daftar pelaku. Tetapi sama saja, orang-orang yang memiliki kuasa melebihi Presiden itu juga bukan pelakunya. Namun ada satu bukti mencengangkan yang berhasil Bastian kantongi. Dari seratus pembeli Pongpong, ternyata Nia termasuk satu di antaranya. Menurut data dari Toko X, Nia membeli Pongpong dengan menggunakan kartu atm milik Zaim.


*Julukan untuk kediaman/keluarga besar Joffrey Scott Atlash, hidden crazy rich Jakarta Barat.


Kini Bastian mengerti, alasan Zaim tidak berselera menyelidiki pelaku yang hampir membuatnya menjadi sebatang kara. Bastian tetap melanjutkan penyelidikannya yang sudah kepalang tanggung, meski terus dihantui rasa tidak percaya. Benarkah Nia yang memasang Pongpong di mobil Zaim? Atau lagi-lagi ada yang memfitnah Nia? Lantas jika benar Nia pelakunya, apa alasannya? Bastian yang sudah tak sabar untuk memberondongi Nia sejuta tanya pun semakin bersemangat menginjak gas.


KLEK


Bastian tersenyum pada Nia. "Saya baru mau mencet bel rumah kamu loh."


Nia ikut tersenyum. "Tapi saya mau keluar, Pak. Tapi ada Ibu sama Ikbal sih di dalem."


"Kamu pasti mau jenguk Pak Hakam ya?"


Nia mengangguk. "Bapak juga?"


"Iya. Yaudah kalo gitu kita bareng aja."


"Tapi saya udah janjian sama temen saya di stasiun, Pak. Kalo jemput temen saya di stasiun dulu gak apa-apa?"


"Temen? Pasti Elvina Priska. Dia jelas terlibat. Soalnya di cctv toko itu Yesenia beli Pongpong sama dia," batin Bastian. "Gak apa-apa. Yaudah kita langsung ke stasiun aja ke-"


"Pak Bastian?"

__ADS_1


Spontan Bastian pun Nia menoleh ke asal suara.


"Sedang dalam misi?" imbuh Sobari, robot zaim lainnya yang sedang dalam misi melindungi Nia secara gerilya.


"Anggep aja gitu, Pak Sobari."


"Misi dari Pak Zaim atau?"


"Misinya Zaim sih andai dia setuju. Ma–"


"Mbak Yesenia, mundur," sela Sobari sembari menodongkan pistol pada Bastian.


"Wow-wow. Ini apa-apaan ya, Pak Sobari?"


"Pelaku yang masang Pongpong di mobil Pak Zaim kemungkinan orang terdekat. Jadi bukan gak mungkin kan?"


"Oh, jadi Pak Sobari ngerasa bukan pelaku karna baru sebentar jadi robotnya Zaim gitu?" Bastian ikut mendongkan pistolnya pada Sobari. "Maaf saya lancang udah nyari informasi pribadi Pak Sobari tanpa persetujuan. Tapi bukannya Pak Sobari pernah jadi robotnya Atlas ya?"


"Saya udah gak ada hubungan apa-apa sama Atlas. Dan Atlas bukan pelakunya."


"Kok kedengerannya kaya ngebela gitu ya? Apa jangan-jangan Pak Sobari masih jadi robotnya Atlas? Atau …"


Nia mematung. Sebab sungguh, itu kali pertama Nia melihat pistol. Bahkan sensasi atmosfer saat ini benar-benar terasa seperti sebuah adegan action dalam film Sherlock Holmes. Percakapan antara Bastian dan Sobari kian memanas. Nia harus segera meluruskan kesalahpahaman yang melilit Bastian dan Sobari sebelum suara timah panas mengudara mengundang keramaian di komplek kediamannya. Hanya ada satu cara. Benar, mengaku! Namun.


KLEK


"Saya tau siapa pelakunya," ujar Ushi yang tiba-tiba muncul dari balik gerbang utama kediamannya. "Bukan Pak Bastian atau Bapak ini kok." Ushi menunjuk Sobari. "Tapi orang lain. Orang lain yang udah sering bikin masalah."


Bastian dan Sobari kompak tak menjawab, sengaja menanti Ushi melanjutkan ucapannya sambil perlahan menurunkan pistol masing-masing.


"Pelakunya Bapak saya," tambah Ushi.



...Al Hakam...

__ADS_1


__ADS_2