HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
GOYAH


__ADS_3

Sesuai prediksi Nia tempo hari, jagat media sosial kembali digemparkan oleh foto dan videonya dengan sang kakak ketemu gede, Denar. Foto serta video amatir tersebut mempertontonkan aksi Denar saat melindungi Nia dari lemparan bola basket yang membuatnya sampai mimisan. Bahkan kegemparan itu semakin tak terkendali saat salah seorang warganet iseng menggabungkan video Nia dan Denar dengan video Zaim dan Kasih saat tengah melakukan salam perpisahan di Bandara Soetta.


Namun yang paling menggemparkan dari semua itu adalah komentar para warganet. Rata-rata komentar dari warganet mengarah pada harapan agar hubungan Nia dan Zaim bisa segera kandas, sehingga Zaim bisa bersama Kasih. Warganet juga membahas perihal status Nia yang hanya gadis biasa, berbeda dengan Kasih yang adalah putri tunggal pemilik bimbel dengan puluhan penghargaan muri. Memang lebay, tetapi status pendamping cukup penting untuk menjaga image para pengusaha kondang.


Menurut warganet, Nia lebih pantas dengan pria yang memiliki status setara seperti Denar. Denar adalah pilihan yang tepat. Tampan, pintar, dan sholeh. Apalagi yang dicari? Materi? Oh, ayolah itu bisa dicari dengan mudah jika kita memiliki kebulatan tekad dan, orang dalam. Intinya para warganet sangat berharap agar pasangan yang tertukar itu segera disadarkan oleh Yang Maha Kuasa. Tidak hanya mengaminkan harapan satu sama lain, para warganet bahkan sampai menggelar doa secara online.


@Zansen: Fix, daku memilih berlayar di kapal Pak Kepsek. Pak Kepsek semangat. Tim horemu seindonesia raya wkwk.


@DiffaNadifa : Kalo diliat-liat mirip loh mereka. Maksudnya Pak Kepsek sama Yesenia. Biasanya yang mirip-mirip gitu jodoh kan 😂


@WatheniWini: Jadi tim Pak Kepsek ada berapa juta yok absen dulu.


@WendyThyankIda : Jujurly dari dulu gue udah ngarep Zaim Alfarezi sama Kasih. Cuma gue takut buat speak up ples takut dibully juga sama kalian 🤣


@EndahTmy_: Fyi aja nih. Aku juga sekolah di Andalan Teladan. Pak Denar tuh lebih ganteng aslinya guys.


@Ibunyaanakanak : Demi apa? Terus pas insiden bola basket itu kamu ada di tkp juga gak? @EndahTmy_


@EndahTmy_ : Sayangnya gak, Kak. Waktu itu aku lagi lab biologi. Tapi aku punya video versi fullnya dari temenku.


@Ikasartika : Mana share ke sini dong. Gue tunggu pokoknya. Mau lu makan dulu atau tidur dulu atau mojok dulu sama pacar lu pokoknya gue tunggu. @EndahTmy_


@Hasanah : Eh-eh serius ada video versi fullnya? Mana-mana. Gercep kirim ke gue juga. @EndahTmy_


@EndahTmy_ : Done ya kakak-kakak onlineku. Aku udah kirim ke semua yang komen di postingan ini.


@Elsewidawati : Perhatian buat yang belom nonton video versi fullnya. Jangan nonton di tempat umum kalo gak mau dikira kesurupan 😂


@Ikaindradika : Bener banget @Elsewidiawati. Barusan gue nonton video versi fullnya dan reflek ngejerit. Sumpah mereka cocok banget ya ampun.


@KasGpl_ : Btw kalo itu video versi fullnya gua bikin film pendek kira-kira bisa dapet cuan gak ya? Atau diundang sekali gitu ke podcast*nya artis. Ngarep haha.


*Sebuah hasil rekaman audio yang bisa didengarkan oleh khalayak umum melalui media internet. Berbeda dengan radio yang wajib dilakukan dan dibawakan secara langsung dalam frekuensi tertentu, podcast bisa diimplementasikan secara fleksibel atau kapanpun diinginkan. Serta bisa didengarkan melalui berbagai media elektronik yang ada.


KLANG


Garpu yang jatuh ke lantai itu langsung memecah kedamaian pagi di kediaman hidden crazy rich Jaksel, Zaim Alfarezi. Tidak hanya jatuh tetapi juga patah menjadi dua bagian. Dan tidak patah menjadi dua bagian karena terlalu keras membentur lantai melainkan karena dipatahkan api cemburu yang meluap-luap. Kepala Pelayan kediaman Zaim, Nur, beserta pelayan lainnya yang sedari tadi sibuk menghidangkan sarapan untuk Zaim pun seketika menoleh, membisu, dan menjadi manekin!


Nur dan pelayan lainnya tahu betul penyebab garpu malang itu menjadi pelampiasan kecemburuan Zaim. Zaim memang memiliki kebiasaan menonton berita sambil menyantap sarapan porsi besar. Awalnya berita itu menyampaikan topik-topik wajar seperti hasil sementara pemilihan presiden, kenaikan harga bahan pokok, donasi untuk bencana alam dan lain sebagainya. Namun entah bagaimana berita itu tiba-tiba saja beralih menjadi topik percintaan. Lebih tepatnya percintaan Nia dan Denar.


Zaim merogoh ponselnya, menelepon seseorang. "Halo."


"Halo, Pak. Selamat pagi." Suara Nisma terdengar terengah melalui sambungan telepon. "Ada yang bisa saya bantu, Pak? Tapi mohon maaf saya masih dalam perjalanan ke kantor."


"Santai aja, Nis. Saya cuma mau minta tolong revisi rute sidak Cinemaz* hari ini. Revisi ke jam delapan aja. Saya ada urusan lain yang lebih penting."

__ADS_1


*Nama bioskop milik Zaim yang tersebar di lima puluh titik di Pulau Jawa.


"Baik, Pak. Tapi kalo boleh saya tau urusan lain yang lebih penting itu apa ya, Pak?"


"Urusan hati."


"O-oh, iya-iya, Pak." Nisma terdengar berdeham, "Kalo gitu, rute sidak pertama diganti ke mana, Pak?"


"Kemang."


"Baik, Pak. Segera saya revisi rute sidak hari ini."


"Thanks, Nis." Zaim memutus panggilannya.


Nisma bergumam sembari memasukkan ponselnya ke dalam tas. "Bukannya sekolah pacarnya yang baru di Kemang juga ya? Pasti alesannya nunda sidak hari ini karna pacarnya." Nisma menghela napas. "Gitu deh kalo pacaran sama anak kecil. Duh, bisa bangkrut perusahaan kalo punya nyonya yang kaya gitu."


...•▪•▪•▪•▪•...


Sayang, kali ini dugaan Nisma tidak setepat dugaannya yang lalu-lalu. Sebab alasan Zaim menunda sidak hari ini bukan untuk menemui sang kekasih demi meluapkan rasa cemburunya melainkan untuk menemui Denar Djajadi, Kepsek Andalan Teladan yang namanya menduduki pencarian teratas, menggeser nama pesinetron papan atas yang tengah terjerat kasus narkoba. Luar biasa!


"Silahkan, Pak Zaim." Denar meletakkan secangkir teh di meja. "Saya gak tau Pak Zaim ada urusan apa tapi ada baiknya saya minta maaf terlebih dahulu."


"Kita seumuran ya?"


"Seumuran sama Bastian," gumam Zaim sambil mengangkat cangkir teh. "Punya hobi apa?"


"Ya? Oh, saya hobi baca-baca buku filsafat. Baca novel juga."


Zaim mengangguk-angguk sambil menyeruput tehnya. "Ini teh apa?"


"Saya kurang tau. Bukan selera Pak Zaim ya? Mau saya ganti?"


"Justru karna selera saya. Saya suka aromanya."


"Syukur kalo gitu. Saya cuma bisa nyediain minuman yang ada di kantin so–"


"Say boleh denger cerita tentang Pak Denar?" sela Zaim.


"Maaf?"


Zaim tak menjawab, hanya menunjuk Denar sambil kembali menyeruput tehnya.


"Cerita tentang saya? Apa ya?" Denar tertawa paksa. "Saya ngefans sama Pak Hakam. Dulu setelah lulus S2, saya langsung ngelamar kerja di perusahaan Pak Hakam. Tapi ditolak." Denar tertawa lagi, tetapi kali ini tertawa dengan tulus. "Apalagi ya?"


"Hubungan asmara mungkin."

__ADS_1


Raut wajah Denar seketika berubah tak ramah. "Maaf kalo soal itu saya gak bisa kasih tau, Pak Zaim."


"Oh, berarti punya pacar."


"Enggak."


Zaim tak merespon, hanya menggoyangkan cangkir tehnya yang hampir kosong. Tidak ada kebohongan pada ucapan Denar, tetapi Zaim yakin jika saat ini Denar sedang menjalin hubungan dengan seorang wanita. Entah itu hanya hubungan sebatas berkelahi di ranjang, yang pasti pria dengan look good boy itu memang single. Single yang sulit untuk digapai.  Menarik!


Suasana hati Zaim yang awalnya hancur berkeping-keping seketika membaik setelah mengambil kesimpulan kasar atas hubungan asmara Denar. Padahal Zaim sudah siap untuk memberi Denar tinju perkenalan, tetapi di luar dugaan jawaban Denar malah memberi keyakinan baru pada Zaim jika Denar bukanlah orang ketiga yang akan mewujudkan harapan para warganet!


"Maaf, saya emang suka tiba-tiba sensitif kalo ada yang nanya soal itu," tambah Denar seraya berdeham berulang kali. "Jadi maksud kedatengan Pak Zaim ke sini apa kalo bukan untuk ngebahas berita saya sama Nia yang viral?"


"Saya cuma pengen ketemu Pak Denar secara langsung. Ternyata bener gantengan aslinya." Zaim tiba-tiba beranjak. "Sebelumnya saya minta maaf udah nyinggung Pak Denar dengan topik itu."


Denar ikut beranjak. "Saya juga minta maaf, Pak."


"Maaf juga karna saya udah nyita waktu Pak Denar yang berharga." Zaim mengulurkan tangannya.


"Saya rasa waktu Pak Zaim jauh lebih berharga." Denar menyambut uluran tangan Zaim.


"Kalo gitu saya permisi."


"Silahkan." Denar membukakan pintu untuk Zaim.


KLEK


DEG


"Oh, maaf. Ternyata lagi ada tamu ya," ujar seorang wanita paruh baya yang hampir bertubrukan dengan Zaim. "Kalo gitu nanti aja saya ke sini lagi."


"Saya udah mau pulang. Urusan saya sama Pak Denar udah selesai. Silahkan masuk."


Wanita itu menoleh pada Zaim. "Kalo boleh saya tau urusannya nyangkut berita yang viral ha–"


"Bu, ngobrol di dalem aja," sela Denar. "Pak Zaim lagi buru-buru."


Wanita paruh baya itu tampak tak senang, tetapi memilih menahan emosi dan memasuki ruangan Denar dengan bibir monyong.


"Selamat sampai tujuan, Pak Zaim."


"Terima kasih. Oya, Pak Denar."


Spontan Denar menahan langkahnya yang hendak kembali memasuki ruangannya, dan menoleh pada Zaim.


"Kalo butuh bantuan, saya ada di kantor sampe jam empat sore," tambah Zaim. "Mau itu bantuan bersih atau sebaliknya, saya kasih gratis. Itung-itung sebagai ucapan terima kasih karna dulu Pak Denar udah jadi penghibur dan penyelamat pacar saya."

__ADS_1


__ADS_2