
"Kakek, maaf. Maafin aku. Aku cu--"
"Jangan pernah muncul di depan saya lagi," sela Hakam pada Emily. "Ayo, Hen." Hakam meninggalkan ruang tamu kediaman Zaim.
Tangis Emily kian histeris, ketika Hakam dan Hendri melaluinya yang terduduk di lantai begitu saja. Meski tahu tangisnya sia-sia, Emily bersikeras, berharap ada yang memberinya sedikit belas kasih. Sayangnya harapan Emily hanya akan selamanya menjadi harapan. Sebab mengharap belas kasih setelah berani mengkhianati Al Hakam dan Zaim Alfarezi bagaikan mimpi di siang bolong!
Setelah mengakui jika dirinyalah yang membuat kesalahpahaman di antara Zain dan Kasih, Emily pun digelandang ke kantor polisi. Entah berapa banyak harta yang dikeluarkan Zaim demi membuat Emily mendekam di penjara seumur hidupnya, yang pasti satu masalah sudah selesai. Kini mendiang sang kakak, Zain Elfatih, benar-benar bisa tenang di alam sana.
"Bas, mata gua sakit. Singkirin," ujar Zaim.
Bastian mengangguk pada Zaim, pun bawahannya. "Bawa. Nanti saya nyusul."
"Enggak-enggak. Za, plis dengerin aku dulu, Za. Plis, Za." Emily meronta. "Lepasin. Tunggu-tunggu. Za, demi apapun aku gak maksud …"
Zaim menghela napas. "Hpnya tetep gak ketemu?"
Bastian mengangguk. "Tapi gua yakin ada di suatu tempat, Za. Kasih pasti tau. Tapi kan dia kena gangguan mental, jadi gak mungkin inget. Mau tetep nyari?"
"Boleh. Kali bisa bantu pemulihan Kasih."
"Oke. Deadline?"
"Nyantai aja," jawab Zaim.
"Terus si Yoshi mau diapain?"
"Biarin aja." Zaim diam sesaat. "Biarin Kakek sama orangtuanya Kasih yang nentuin nasibnya."
"Oke." Bastian beranjak. "Gua cabut kalo gitu."
"Bas."
Spontan Bastian menghentikan langkahnya, lalu berbalik menoleh pada Zaim yang sedari tadi memasang wajah angker.
"Lu mau cewek?" imbuh Zaim.
"Hah?"
Zaim beranjak. "Cewek. Mau?"
Bastian tak menjawab, sibuk menahan mulutnya yang siap melontarkan kutukan pada Zaim.
"Kalo mau ada tuh cewek namanya Monica. Coba temuin sekali. Kalo lu suka langsung sikat. Sebelom gua yang nyikat," tambah Zaim seraya berlalu.
Bastian menggeleng-geleng. "Ambigu banget omongannya."
"Gua denger."
"Gua tau."
"Katanya mau cabut?"
Bastian melanjutkan langkahnya. "Ini otw."
__ADS_1
"Cepetan mata gua sakit."
"Sialan," gumam Bastian.
"Gua denger."
"Bener-bener duplikatnya Lexander Kingston." Bastian masih bergumam.
"Gua denger."
...•▪•▪•▪•▪•...
"Inget, bilang Ibu gue nginep di rumah Vina," ujar Nia sambil menyerahkan helm pada Ikbal.
"Tiket premier si manis jembatan ancol 8 biji, jam sembilan malem hari sabtu. Deadline ngasih tiketnya besok."
"Iya-iya ntar gue mintain sama Zaim. Udah sono."
Ikbal tak menjawab, hanya menyalakan lampu motornya dan meninggalkan kediaman Zaim. Pak Ucil yang sedari tadi sudah menunggu Nia langsung berlari menghampiri Nia dan mengambil alih tas ransel yang dibawanya. Pak Ucil lalu mengantarkan Nia menuju kediaman Zaim, di mana Nur sang Kepala Pelayan berikut anak buahnya sudah menanti Nia di depan pintu dengan senyum tulus dan mata mengantuk yang dipaksa melotot.
Nia merasa tak enak hati, tetapi apa boleh buat. Zaim yang berjanji akan menelepon Nia tak kunjung menelepon meski sudah tujuh jam berlalu sejak pertemuan terakhir keduanya di kantor polisi. Itulah kenapa Nia nekat menyambangi kediaman Zaim pada tengah malam. Nia mengira Zaim sudah menunggunya di ruang tamu, namun sepertinya belum ada yang memberitahu Zaim perihal kunjungannya yang mendadak itu.
"Mau minum apa, Non?" tanya Nur pada Nia.
"Gak usah, Bi." Nia melirik kamar Zaim. "Zaim belom tau kalo saya di sini ya?"
"Belum. Tapi Tuan belum tidur kok, Non. Soalnya lampu kamarnya masih nyala."
"Dia juga pasti belom makan kan?"
"Mmm, saya boleh pinjem dapurnya?" tanya Nia lagi.
"Maaf, Non?"
Nia tersenyum. "Tenang aja, Bi. Gak akan meledak kok. Saya cuma mau bikin makanan yang simpel buat Zaim."
Ucapan pun ekspresi Nia yang meyakinkan itu berhasil membuatnya menjadi penguasa dapur. Nur meminta para pelayan yang lain untuk kembali beristirahat, sementara dirinya sendiri, menjadi tangan kanan Nia di dapur. Nur melihat Nia yang begitu cekatan memasak. Itu bukan keahlian yang dimiliki seseorang hanya karena rajin menonton channel memasak di y*utube melainkan karena tuntutan hidup. Fix!
"Ini mah bukan makanan simpel, Non."
Nia hanya tertawa menanggapi Nur sambil mengekorinya menuju kamar Zaim yang ada di lantai tiga. Saat keduanya sudah berdiri tepat di depan pintu kamar Zaim, Nur pun mulai mengetuk. Nur berpikir Tuannya itu baru akan membukakan pintu pada ketukan yang kesekian, tetapi di luar dugaan Zaim langsung muncul meski Nur belum menggenapkan ketukannya. Zaim tampak sangat terkejut namun dengan cepat membaca situasi.
Nia pasti datang karena khawatir atau, suudzon! Dan seporsi kwetiau rebus seafood itu pasti dimasak Nia khusus untuk Zaim. Zaim langsung mengambil alih nampan yang dibawa Nia, lalu memberi kode pada Nur untuk pergi. Nia pun masuk ke kamar Zaim meski Zaim tak mengatakan apapun. Sementara Nia terpukau dengan kamar tidur Zaim yang mewah, Zaim tampak lahap menyantap makan malamnya yang terlambat.
"Enak tapi kurang banyak."
Spontan Nia menyudahi keterpukauannya dan menghampiri Zaim di meja kerja. "Aku masak itu bukan buat kamu aja loh." Nia merampas garpu yang dipegang Zaim. "Aku juga belom makan malem gara-gara nungguin telfon dari seseorang."
"Baru mau aku telfon, Sayang."
"Jam segini? Aku tuh anak sekolah tau. Udah kelas dua pula."
"Mau gimana kalo urusan aku baru selesai sekarang coba?" Zaim membuka mulutnya, menerima suapan udang montok dari Nia. "Dan mau gimana juga kalo aku gak bisa tidur sebelom denger suara kamu?"
__ADS_1
"Gombal."
"Emang."
Nia melotot, membuat Zaim tertawa.
"Thank you for coming, Sayang. I feel more better*."
*Makasih udah dateng, Sayang. Aku ngerasa lebih baik.
"Bayar," sahut Nia sembari menyuapi Zaim lagi.
"Pake uang apa pake aku?"
"Dih!" Spontan Nia berseru.
Zaim kembali tertawa. "Ngomong-ngomong, siapa cowok yang makan soto mie bogor sama kamu di kantin sekolah tadi siang?"
Nia mengurungkan niatnya menyuap kwetiau. "Tadi siang? Di kantin sekolah? Soto mie bogor? Cowok? Kak Denar?"
"Oh, jadi itu yang namanya Kak Denar."
Nia mengangguk sembari melanjutkan suapan kwetiaunya yang terjeda. "Kok kamu tau? Oh. Jangan-jangan ada anak Andalan Teladan yang moto pas aku lagi makan sama Kak Denar terus dishare di instagr*m lagi?"
"Iya. Tapi udah aku tarik foto-fotonya." Zaim menerima garpu dari Nia. "Tapi kok kamu jawabnya santai banget?"
"Terus aku suruh jawab gimana? Orang aku gak ada hubungan apa-apa. Beneran cuma yang kakak ketemu gede."
Zaim diam sesaat. "Dibandingin Monica, Kak Denar kamu itu lebih bahayain hubungan kita loh."
"Tapi Kak Monica bilang dia mau bikin kamu suka sama dia."
"Dia bilang gitu demi kamu."
"Hah?"
"Jadi kamu belom tau dia siapa."
"Emang siapa?"
"Nanti juga kamu tau. Intinya dia gak punya niat jahat," jawab Zaim.
"Kak Monica bilang dia temen kamu dari luar negri?"
"Dia bilang gitu? Berani banget dia ngaku-ngaku."
"Loh? Jadi bukan?"
"Bukanlah, Sayang. Taiwan mah gak masuk ranah bisnis aku."
"Taiwan ma–"
"Besok aku berangkat siang jadi bisa anterin kamu ke sekolah," sela Zaim sambil tiba-tiba beranjak. "Kamu nginep kan? Tidur di kamar aku aja. Janji aku bakal anteng."
__ADS_1
"Tunggu-tunggu. Kamu kok tiba-tiba ngalahin pembicaraan gitu?"
"Kalo gak aku alihin aku gak jadi anteng loh. Mau?"