
" … Tiba-tiba keluarga besar saya yang di Malaysia dateng dan pengen lama-lama di sini. Gitu, Za." Suara berbisik Ushi terdengar dari headset Zaim.
"Saya ngerti, Bu. Nia aman kok di rumah saya. Dan saya pastiin Nia gak akan kekurangan apa-apa selama di sini."
"Duh, saya jadi gak enak. Maaf banget ya, Za, udah ngrepotin kamu. Abis gimana lagi coba? Gak ada tempat lain buat Nia ngungsi sementara. Nia bilang gak enak ke rumah Vina mulu, terus kosan yang biasa dia pake ngungsi kebetulan lagi full."
"Iya, Nia udah cerita soal itu, Bu. Sekarang kan ada saya, Bu. Rumah saya kan rumah Nia juga," sahut Zaim.
"Duh, kok saya baper ya." Ushi tertawa pelan. "Makasih banyak ya, Za. Saya ka …."
Obrolan Zaim dan Ushi melalui sambungan telepon itu akhirnya usai juga. Sungguh, itu kali pertama ponsel Zaim kehabisan baterai. Bagaimana tidak? Ushi terus bercakap tanpa jeda. Mulai dari ribuan ungkapan maaf sekaligus terima kasih, rencana Ushi untuk mengantar perlengkapan sekolah Nia secepatnya, hingga ancaman agar Zaim menepati janjinya tempo hari. Janji? Ya, tentu saja Zaim ingat, sangat ingat. Menjaga kehormatan Nia sampai waktunya tiba, bukan? Bukan perkara sulit.
Zaim tahu batas meski rentan lepas kontrol. Maklum, masa putih abu-abu pun masa kuliah Zaim hanya digunakan untuk mengikuti jejak sang Kakek. Zaim tidak akan mau menyentuh apalagi merusak sesuatu yang tidak ada dalam rencana masa depannya. Lalu perihal ciuman panasnya? Zaim tidak merasa telah ingkar janji. Nia tidak menolak dan malah melingkarkan tangannya di leher Zaim. Anggaplah Zaim memang pencetus ciuman panas hari itu, tetapi bukankah tidak adil jika hanya Zaim seorang yang disebut ingkar?
TOK TOK TOK
"Ngomong di luar aja."
Zaim tersenyum menanggapi Nia yang terdengar sedang mengunyah sesuatu yang renyah. "Are you okay?"
"He'em."
"Let me in, Sayang."
"No. Never," balas Nia tegas.
"Why?"
"Kata Bu Nur akhir-akhir ini kamu cuma tidur tiga jam. Jadi kamu pasti bakal lepas kontrol lagi kaya kemaren."
Zaim tertawa. "Aku pikir kamu malah suka."
"What? Ya ampun telinga aku yang suci ini barusan denger apa ya ampun."
Zaim kembali tertawa, sembari duduk di depan pintu kamar tamu yang saat ini ditempati Nia. "Apa yang lagi kamu pikirin sekarang?"
"Masa kamu gak tau?"
__ADS_1
"I know. Tapi aku gak yakin. Kamu pengen putus lagi sama aku kan?"
"Setelah ngeliat langsung kemewahan yang kamu punya dan ngerasain pelayanan sekelas hotel bintang enem kaya gini aku malah minta putus? Ya gaklah. Aku masih waras ya tolong. Aku gak akan minta putus-putus lagi, dan aku berubah pikiran. Fix pake banget, aku bakal ngeretin kamu."
Tawa Zaim seketika pecah. Membuat Nia pun seluruh penghuni kediaman super duper mewah itu terkejut secara massal.
"Aku serius loh," tambah Nia.
"I'm ready. Tell me anything you need, Sayang."
Nia hanya merespon Zaim dengan decakan.
Zaim mengusap air mata gelinya. "Terus soal Kasih. Jangan diambil hati ya? Dia gak bermaksud bersikap kasar sama kamu kok. Sejak hamil dan ditinggal Zain emosinya emang jadi gak stabil."
"Aku gak ambil hati. Sebaliknya aku malah kasian. Orang-orang nganggep dia gila, tapi buat dia semua yang dia liat itu nyata. Gak kebayang gimana menderitanya dia, terutama calon anaknya. Iya kan?"
Zaim tak segera menjawab, sebab Nur yang tiba-tiba muncul dari balik tangga dan membisiki Zaim sesuatu.
"Ada Non Kasih sama keluarganya di bawah, Tuan."
Zaim beranjak, ikut berbisik, "Siapa lagi?"
"Suasananya gimana?"
"Siaga perang, Tuan," jawab Nur.
...•▪•▪•▪•▪•...
Terlihat di ruang tamu, Kasih beserta kedua orangtuanya, Anto dan Davina tengah menunggu kedatangan Zaim dengan wajah seperti kawanan singa yang tak sabar mencabik seekor rusa yang kakinya terluka. Anto langsung beranjak sambil berkecak pinggang, ketika Zaim baru saja menjatuhkan dirinya di sofa. Meski sudah memasang posisi siap memaki, entah kenapa Anto tak kunjung bersuara. Kasih yang tidak sabar pun tidak puas hanya menuruti air matanya saja, akhirnya beranjak.
"Aku yakin pelakor itu masih ada di sini. Kamu umpetin di mana dia hah? Di mana?"
"Jangan ngelewatin batas, Kasih." balas Zaim.
"Apa kamu bilang? Ngelewatin batas? Aku istri kamu, Za! Kok bisa sih kamu lebih milih pelakor itu daripada istri kamu sendiri? Gi–"
"Kasih, cukup." Anto duduk di samping Zaim. "Kamu gak lupa sama perjanjian keluarga kita kan, Za? Kamu janji bakal gantiin Zain sampe Kasih ngelahirin," bisik Anto. "Terus apa-apaan ini semua, Za? Kamu bisa bahayain kandungan Kasih tau gak."
__ADS_1
"Suruh dia aja yang gantiin Zain." Zaim menunujuk Hendri, sekretaris sang Kakek yang baru saja tiba.
"Za!" Davina refleks berseru.
"Ssstttt. Hobi banget sih kalian ini teriak-teriak. Diomongin pake kepala dingin dong," ujar Hakam. "Kamu juga kalo ngomong jangan seenak udel, Zaim." Hakam memelototi Zaim.
Zaim hanya menghela napas, lalu beranjak tanpa ragu meninggalkan ruang tamu. Tetapi Kasih mengejar Zaim sambil menangis histeris. Tentu saja Zaim tidak tersentuh, namun sorot mata sang Kakek yang penuh ancaman itu membuatnya terpaksa balik kanan. Hening. Semua orang yang ada di ruangan itu tak ada yang bernyali untuk bersuara, kecuali satu orang. Bukan, demi Tuhan bukan Zaim, apalagi Hendri meski dirinya sering disebut orang terdekat Hakam. Tetapi Nia.
"Kok bisa sih ada orangtua sejahat itu? Udah tau anaknya sakit bukannya diobatin malah dibikin makin parah."
Spontan Kasih beranjak murka, berniat menghampiri Nia yang hanya terdengar suaranya saja. Namun Davina dan Anto yang juga spontan beranjak itu dihalau oleh Hakam.
"Harusnya Bu Kasih ini dikasih tau yang sebenernya dong, kalo Pak Zain udah meninggal, bukan malah diturutin imajinasinya. Gara-gara itu kan Bu Kasih jadi dibenci sama semua orang, bahkan mungkin sama almarhum Pak Zain juga," imbuh Nia.
Kasih menghentikan langkahnya di anak tangga pertama yang hendak dipijaknya, mematung.
"Ya okelah orangtua Bu Kasih gak usah sayang sama alamarhum Pak Zain dan keluarganya, tapi seenggaknya sayanglah sama Bu Kasih. Dengan cara apa? Ya itu tadi. Jangan ikutin imajinasi Bu Kasih yang nganggep Pak Zain masih idup."
"Zain? Almarhum?" Kasih menoleh, melihat bergantian ke arah Zaim, Hakam, Hendri, dan terakhir, kedua orangtuanya. "Maksudnya apa?"
Zaim kembali beranjak, menghampiri Kasih. "Zain udah meninggal, Kasih."
"Apa? Terus? Terus kamu siapa?" tanya Kasih lagi.
"Zaim. Aku Zaim. Bukan Zain."
Kasih menggeleng-geleng, air matanya yang bercucuran seketika menghambur ke segala sisi.
Zaim menunjuk potretnya bersama mendiang sang ayah, Hakam, Hendri, dan tentu saja, Zain. "Zain yang pake kemeja biru, yang berdiri di belakang Kakek, dan dia gak punya ini." Zaim berganti menunjuk punggung tangannya yang dipenuhi tato.
"Kamu bukan Zain?"
Zaim menghela napas, sembari menyentuh lembut kedua pundak Kasih. "Zain udah meninggal. Satu taun yang lalu. Kecelakaan pesawat. Hendri bisa jelasin lebih detil."
Kasih menoleh ragu pada Hendri. Begitu pula dengan Hendri. Tetapi setelah menarik napas panjang, Hendri mantap berjalan mendekati Kasih sambil menunjukkan sesuatu di layar ponselnya.
"Ini foto otopsi Zain."
__ADS_1
DEG DEG DEG