HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
BOLOS JAMAAH


__ADS_3

Akhirnya Nia kembali mengenakan seragam sekolah pascakecelakaan di stasiun kereta api yang menimpanya satu pekan silam. Ini adalah kali pertama Nia berdebar memasuki gerbang sekolahnya, SMA Andalan Teladan. Nia berpikir itu debaran sial yang akan membuatnya ditunjuk guru mapel matematika untuk mengerjakan soal di depan kelas setelah sekian lama. Tetapi sebaliknya, nyatanya itu debaran keberuntungan.


“Selamat datang kembali di Andalan Teladan, Yesenia.”


“Jangan sakit-sakit lagi ya.”


“Bentar lagi kan mau UTS.”


Nia tampak sangat terkejut, karena di balik pintu ruang kelasnya itu ada Wali Kelas beserta teman-temannya yang kompak memberi sambutan dengan senyum tulus berikut nasi tumpeng mini. Bahkan sang kepala sekolah, Denar Djajadi, ikut berpartisipasi merayakan kesembuhan Nia dengan meniadakan kegiatan belajar mengajar hari itu dan memborong semua dagangan para pedagang di kantin. Wow!


“Lu adeknya Pak Denar kan, Yes? Udahlah ngaku aja.”


“Ya kalo bukan adeknya ngapain Beliau sampe ngeborong semua makanan di kantin dan nraktir kita cuma-cuma gini sih?” Sekar, teman sebangku Vina menimpali Cindy, teman sebangku Nia.


Nia hanya menanggapi Sekar dan Cindy dengan senyum paksa. Lagi-lagi, Denar melakukan sesuatu yang terlampau berlebihan hanya demi Nia. Merasa harus mengucapkan terima kasih meski masih menyimpan rasa gondok, Nia pun menghampiri Denar di sela kegiatan makan-makan tersebut. Denar terlihat sangat senang hingga tanpa sadar telah berbicara panjang lebar pada Nia.


“ ... Bukan kamu yang harusnya bilang makasih tapi Kakak, Dek. Makasih udah mau ngomong lagi sama Kakak. Dan maaf karna Kakak sering bikin kamu marah ...”


Mendengar ucapan Denar membuat Nia melepaskan rasa gondok yang telah lama menyesaki hatinya. Nia jadi merasa seolah telah membalas kebaikan Denar dengan pengkhianatan. Bagaimana tidak? Denar pasti akan berganti mogok bicara alih-alih mengucapkan terima kasih jika dirinya tahu Nia pernah diam-diam memasang Pongpong* di apartemennya, dan bahkan, menonton pergelutan panasnya dengan Marina!


*Perekam video mini yang diklaim bisa merekam apapun karena memiliki fitur tembus pandang. Pongpong juga bisa menjangkau seluruh ruangan meskipun hanya dipasang satu buah saja. Pongpong terhubung dengan aplikasi bernama serupa. Melalui aplikasi ini, pengguna Pongpong bisa memantau semua yang berhasil terekam. Kemudian hasil dari rekaman tersebut akan otomatis terunduh ke gallery dengan kualitas 1080p.


“Pokoknya kalo sampe Pak Denar tau soal Pongpong berarti tersangkanya cuma ada empat orang.” Vina menunjuk dirinya sendiri. “Gue, Ikbal, Zaim.” Vina berganti menunjuk Nia. “Sama lu.”


Nia mengangguk-angguk. “Iya juga sih.”


“Yaudah ah gak usah dipikirin. Kalo dipikirin malah kejadian tau, Nya. Udah yuk ah cus. Ntar angkotnya penuh terus kita ngegelantung lagi kaya Sun Go Kong,” tambah Vina. “Kan gak ...”


Nia tertawa geli menanggapi sahabat sehati sesanubarinya itu, dan menambah kecepatan langkahnya menuju pintu keluar stasiun kereta api. Keduanya sama sekali tidak menyadari jika ada yang diam-diam mengawasi. Bukan, bukan si Bunga bangkai. Tetapi Bayu. Ya, bayu. Bayu yang entah berbuat dosa apa di masa lalu sehingga selalu terlibat dengan pria-pria rendahan seperti Pria Purnama dan Bagas.


“Gua harus nyari cara buat deketin si Nia,” gumam Bayu.


Bayu mengangguk mantap, sembari menancap gas motornya untuk membuntuti Nia yang tampak tengah mengobrol seru dengan Vina di dalam angkot yang mengakhiri tujuan terakhirnya di Gang Curut. Kegiatan mencurigakan Bayu itu pun disudahinya, ketika Nia dan Vina masuk ke dalam kediaman Nia. Bayu mengumpat pelan, namun refleks mengumpat keras saat mendapati seorang pria berbisik di telinganya.


“An-”

__ADS_1


“Jir? Jing? Yang mana?” Bastian merangkul bayu. “Ngopi sama saya yuk? Di rumahnya hidden crazy rich Jaksel?”


...•▪•▪•▪•▪•...


Siang itu Nisma tampak sedikit canggung saat menemani Zaim beraktivitas di kantor. Tentu saja Zaim yang terlewat peka bisa merasakannya. Tidak hanya menyambut Zaim dengan senyum canggung seusai rapat, bahkan membuka karet nasi padang untuk makan siangnya pun Nisma terlihat canggung. Wajar. Bunga, adik semata wayang Nisma hampir membuat kekasih sang atasan meregang nyawa di lintasan rel kereta api.


“ ... Terakhir jam empat sore. Bapak ada janji ketemuan sama Pak Lee.”


“Di mana?” tanya Zaim pada Nisma, sambil menggerogoti rendang ayamnya.


“Pak Lee sih ngajak ketemuannya di mall, Pak. Soalnya Beliau bilang sekalian nemenin istrinya shopping mumpung di Indonesia.”


“Cancel aja kalo gitu. Bilang saya gak sanggup nemenin cewek shopping. Bisa kambuh migren saya.”


Nisma mengangguk-angguk. “Baik, Pak. Saya akan segera menghubungi Pak Lee untuk mengatur ulang jadwal ketemu.”


Zaim tak menjawab, hanya melahap potongan terakhir rendang ayamnya dalam sekali gigitan.


“Jadi tempat ketemuannya mau diganti di mana, Pak? Scuboss, Steakstik, atau Notnope?”


“Baik, Pak.”


“Ada lagi?”


Nisma menggeleng sembari tersenyum paksa. “Itu aja sih, Pak, untuk saat ini.”


“Kalo gitu selamat makan siang, Nis.”


Nisma kembali tersenyum paksa, tetapi tetap diam di tempat. Itu karena masih ada lagi yang ingin Nisma sampaikan meski topiknya di luar urusan pekerjaan. Nisma ingin meminta maaf mewakili sang adik yang belum siap bertemu langsung dengan Zaim. Namun Nisma tak tahu apa kata pertama yang paling cocok. Itulah kenala Nisma mematung di samping Zaim bagai manekin yang pakaiannya akan segera dilucuti karyawan toko.


“Soal kecelakaan yang nimpa pacar Bapak, saya mau minta maaf ngewakilin adik saya, Pak,” ujar Nisma ragu.


“Lupain aja. Udah berlalu juga kan.”


“Iya, Pak. Terus saya mau minta maaf juga soal grup pe-”

__ADS_1


KLEK


“Kebetulan ada kamu di sini, Nis. Tolong ambilin saya sendok ya. Sama tolong pesenin jus semangka yang di kantin depan konter pulsa.”


“Oh baik, Pak Hendri.” Nisma buru-buru meninggalkan ruang kerja Zaim.


KLEK


Rasa penasaran Zaim perihal ucapan Nisma yang menggantung seketika lenyap, digantikan rasa penasaran yang lain, perihal apa yang membawa sekretaris Al Hakam itu ke kantornya di jam-jam macet seperti sekarang. Sayangnya Zaim harus ekstra meluaskan sabarnya. Karena demi apapun kemampuan berbasa-basi Hendri jauh lebih unggul dari Al Hakam. Zaim pun melanjutkan santap siangnya, sembari sesekali mengatur napasnya yang mulai ugal-ugalan.


“Mana lauk lu?”


“Di lambung,” balas Zaim pada Hendri.


“Oh iya lupa. Lu kan tim lauk seuprit nasi segunung.” Hendri menunjuk semua lauk pilihannya sesaat setelah menanggalkan karet nasi wartegnya. " Mau gua bagi lauk gua?"


“Mau gua gebukin sampe koma?”


Spontan Hendri terbahak. “Selow dong Pak Bos.”


“Cepet ngomong. Gua mau lanjut rapat.”


“Soal barter yang lu tawarin ke Kakek waktu itu. Kakek bilang gimana kalo direvisi sedikit?”


Zaim mengurungkan niatnya untuk menyambar kotak tisu. Sebab firasat Zaim yang memburuk memburuk.


“Ushi mau pindah setelah Nia sama Ikbal lulus SMA,” imbuh Hendri.


DEG


“Dan Kakek tau Ushi mau bawa mereka pindah ke mana.”


DEG DEG


Hendri masih melanjutkan, “Kalo lu mau ngasih tau siapa ayah dari anak yang dikandung Kasih, Kakek juga bakal ngasih tau ke mana Ushi bakal pindah. Gimana? Deal?"

__ADS_1


DEG DEG DEG


__ADS_2