HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
MENCAIR


__ADS_3

"Ini Gua Bao* terenak menurut saya. Kenapa saya baru tau ya?" Zhaohui, aktor papan atas Taiwan sekaligus teman Zaim, menunjukkan potongan Gua Baonya pada Monaco. "Serius kamu yang bikin ini?"


*Gua Bao mirip dengan sandwich, hanya saja isinya daging rebus yang sudah dibumbui. Daging yang biasanya digunakan untuk isian adalah daging babi. Namun ada juga isian daging sapi, ayam, telur atau ikan. Gua Bao disajikan dengan tambahan acar sawi, daun ketumbar, kacang tanah, dan mustard.


Monaco tersenyum. "Iya saya yang bikin. Syukur kalo Anda suka."


"Kalo ada yang gak suka sama Gua Bao di sini berarti ada yang salah sama lidahnya." Zhaohui menunjuk Zaim. "Liat Zaim aja udah abis berapa porsi." Zhaohui tertawa. "Tapi kayanya Pak Bastian kurang suka sama Gua Bao ya? Mungkin …"


Bukan. Sungguh Bastian pun langsung jatuh cinta pada Gua Bao buatan Monaco meski baru pertama kali mencicipinya. Yang membuat Bastian tak berselera adalah atmosfer yang menguar di dalam restoran milik Monaco tersebut. Ketika tahu Zaim akan mendatanginya di restoran, Monaco langsung mengusir para pelanggannya dengan beragam alasan konyol. Lalu setelah para pelanggan Monaco pergi, meja-meja di restoran itu pun langsung digantikan oleh kacung-kacungnya.


Benar-benar hanya ada satu meja yang tidak diisi oleh kacung-kacung Monaco. Terlihat Bastian duduk berhadapan dengan Zhaohui. Sementara Zaim, sudah pasti duduk berhadapan dengan Monaco. Dan benar-benar hanya Zhaohui dan Zaim yang tidak peduli pada atmosfer menegangkan di dalam restoran itu. Fokus keduanya sudah sepenuhnya teralihkan pada wadah-wadah berisi Gua Bao yang mengepul. Padahal bisa saja Gua Bao itu telah dibubuhi racun, bukan?


" … Ngomong-ngomong tadi kamu mau jemput siapa, Za? Mantan suaminya calon mertua kamu kan ya?"


Zaim mengangguk tanpa berhenti menggerakkan sumpitnya. "Saya gak tau dia ada di sini. Saya taunya dari kaki tangannya."


"Siapa tadi namanya?" tanya Zhaohui lagi.


"Bagas. Bagas Prasetyo."


"Mau saya bantu cari?"


Zaim menggeleng. "Saya udah tau dia ada di mana kok."


"Oke kalo gitu. Tapi kalo ada kesulitan langsung telfon saya ya, Za. Terus katanya kamu mau jenguk ibu tiri pacar kamu yang baru keluar dari rumah sakit. Rumahnya di mana? Sekalian aja bareng ke sananya kalo searah. Saya …"


Monaco tampak terkejut, pun Duyi beserta semua kacungnya yang menyesaki restoran berukuran cukup besar itu. Dari mana Zaim tahu jika Bagas bersembunyi di Taiwan? Lalu dari mana pula Zaim tahu jika Nila, ibu sambung Nia baru saja kembali setelah sekian bulan dirawat di rumah sakit? Jawabannya hanya satu. Zaim memiliki mata dan telinga di Taiwan. Namun sudah pasti mata dan telinga Zaim bukanlah Zhaohui si aktor papan atas. Lantas, siapa?


"Makasih tapi saya bareng Pak Monaco aja," balas Zaim akhirnya. "Mungkin Pak Monaco juga mau ikut jemput Bagas."


"Saya gak mau ikut campur."


"Itungannya udah ikut campur dong." Zaim meletakkan sumpitnya. "Kalo gak ikut campur harusnya jangan negosiasi sama Bagas."


DEG

__ADS_1


"Bagas pasti bilang kalo kaki tangannya di Indonesia bakal bisa bawa Nia ke sini. Terus sebagai bayaran dia minta dilindungin," imbuh Zaim. "Negosiasi receh kaya gitu mah udah ketebak."


DEG DEG


"Maksud kedatengan saya ke sini bener-bener buat jemput Bagas, bukan buat baku hantam." Zaim meletakkan tas berisi sesuatu yang terbungkus kertas kado di atas meja. "Sama sekalian ngasih ini ke istri Anda. Ini dari Nia."


DEG DEG DEG


...•▪•▪•▪•▪•...


" … Yesenia Eve, Ushi Widhiani dan Ikbal Navarro lagi belanja di Zetindo* … Sejauh pantauan saya selama beberapa hari terakhir sih gak ada aktivitas Yesenia Eve yang aneh … Baik kalo gitu, Pak Zaim."


*Nama supermarket milik Zaim yang memiliki cabang di Thailand, Singapura, Filipina dan Myanmar. Zetindo terkenal sangat lengkap, bersih, juga estetik.


Sobari mengakhiri panggilan teleponnya dengan Zaim, lalu kembali mengekori Nia, Ushi serta Ikbal yang tampak sibuk memenuhi troli. Misi Sobari adalah melindungi Nia secara diam-diam, jadi wajar jika dirinya hanya menumpahkan fokus pada gerak-gerik Nia. Padahal jika Sobari sedikit saja membagi fokus pada Ushi, dirinya akan mendapatkan banyak keanehan. Benar, Ushi tidak terlihat seperti manusia pada umumnya yang keluar dari rumah dengan membawa raga serta jiwanya.


"Kayanya Ibu masih marah deh karna waktu itu kita masuk kamarnya diem-diem. Itu buktinya Ibu belanja jengkol aja gak happy. Padahal Ibu kan paling suka sama jengkol."


Ikbal mengangguk menanggapi Nia. "Kalo gitu gawat misal Ibu sampe tau kita masuk kamarnya diem-diem buat nyolong nomer hpnya Om Edo. Lu sih sok ngide. Mana sesat lagi idenya."


Spontan Nia memukul Ikbal. "Jangan nyalahin orang pas udah kejadian ya. Lu kan setuju-setuju aja biarpun tau ide gue sesat." Nia kembali memukul Ikbal.


Nia dan Ikbal hanya menggeleng kompak merespon sang Ibu.


"Yaudah kalo gitu kita ke kasir terus langsung makan siang. Pada mau makan siang apa? Mau makan siang di rumah apa di luar?" imbuh Ushi.


"Di luar aja, Bu."


"Makan geprek yang di Kober yuk, Bu," timpal Ikbal pada Nia.


"Setuju-setuju, Bu. Terus minumnya es kelapa jeruk."


"Setuju, Bu, setuju."


"Yaudah ayok. Keburu macet. Ibu paling males kalo udah macet."

__ADS_1


Belanja bulanan itu pun beres. Kini Nia, Ushi dan Ikbal tengah dalam perjalanan menuju Kober, tempat makan favorit anak-anak kampus. Di sepanjang perjalanan yang terhitung ramai lancar itu tidak ada yang bersuara. Ushi tampak fokus menyetir. Sementara Ikbal, tentu saja bermain game dengan mode muka badak. Lalu Nia sendiri sedang asyik bertukar pesan dengan sahabat sehati sesanubarinya, membahas tempat wisata mana yang akan mereka kunjungi saat bertandang ke Semarang nanti.


"Abis uas kalian ada jeda seminggu kan sebelum berangkat study tour?"


Nia menoleh pada Ushi. "Sembilan hari sih, Bu, lebih tepatnya. Kan tanggal empat sama lima merah."


"Oya? Ibu belom ngecek tanggalan bulan depan." Ushi diam sesaat. "Gimana kalo sebelom study tour kalian ikut Ibu liat rumah di Droseros?"


"Lah kan kita mau study tour, Bu," sahut Ikbal.


"Kan masih ada waktu sembilan hari sebelom study tour. Sebentar aja kok. Dua atau tiga harian aja."


Ikbal mendecak, "Ah elah, Bu. Yang ada ntar kita kecapean terus ujung-ujungnya malah gak jadi ikut study tour."


Ushi ikut mendecak, "Kamu tuh bisa banget ngelesnya. Pasti kamu udah janji yang gak-gak sama Esa sama Falah kan?" Ushi melirik Nia. "Kalo kamu gimana?"


Nia tak segera menjawab, meski hati kecilnya langsung berteriak tidak! Apa-apaan? Kenapa Ushi tiba-tiba memiliki rencana aneh yang lain? Sudah pasti Nia menolak untuk pergi ke Droseros. Karena waktu sembilan hari setelah uas sudah Nia susun untuk melakukan banyak hal. Mulai dari bertemu dengan Adelweiss, mengunjungi Edo, kekasih tak sampai Ushi di Semarang, dan sedikit bersenang-senang dengan Vina dengan gaji perdananya sebagai penata rias Adelweiss.


"Mmm, abis uas rencananya aku mau nginep di rumah Vina, Bu. Itu kalo nilai ujian aku bagus sih."


Ushi mengangguk-angguk. "Jadi kalo nilai ujian kamu gak bagus, kamu mau ikut Ibu liat rumah di Droseros? Gitu kan maksudnya?"


Nia kembali mengulur waktu untuk menjawab, sembari melirik Ikbal yang tengah memberinya kode untuk berkata tidak!


"Droseros tuh bagus banget loh. Beneran kaya negri dongeng," tambah Ushi. "Kalian coba ke sana sekali aja. Ibu jamin kalian bakal langsung suka."


"Mmm, kayanya aku gak ikut deh, Bu. Misal nilai ujian aku gak bagus pun aku udah ada rencana lain. Aku dapet job makeup dari Adelweiss."


Ushi refleks mengurangi kecepatan mobilnya. "Siapa? Adelweiss? Adelweiss yang kerjaannya balesin dendam cewek-cewek yang diselingkuhin cowoknya itu?"


"Loh kok Ibu bisa tau ka–"


"Adelweiss ngehubungin kamu?" sela Ushi. "Yang bener?"


Nia mengangguk sambil menunjukkan sesuatu di ponselnya pada Ushi. "Beberapa hari lalu aku diDM sama Adelweiss."

__ADS_1


"Adelweiss mah gak mainan sosmed. Ibu tau karna kenal dan pernah pake jasanya. Jangan-jangan kamu lagi dikerjain. Siapa ..."


"Siapa lagi tuh Adelweiss? Kenapa feeling gua ngarah ke Bunga ya? Gua harus cepet-cepet ngasih tau Kak Zaim. Biar langsung diberesin ajalah itu Adelweiss," batin Ikbal.


__ADS_2