
Kamar rawat bertipe dahlia dengan nomor sembilan itu tampak disesaki oleh anak-anak berseragam SMA. Itu adalah kamar rawat Nia, yang dua hari lalu tertimpa musibah jatuh ke lintasan rel kereta api. Teman-teman sekelas Nia beserta sang wali kelas pun datang menjenguk seusai kegiatan belajar mengajar. Mereka terlihat tulus mengkhawatirkan Nia. Wajar saja karena Nia masih tampak sangat pucat.
"Cepet sembuh ya, Yes. Cepet sekolah lagi."
"Iya, Yes. Vina jadi pendiem banget karna gak ada lu. Kita malah takut tau," timpal teman sebangku Vina, Sekar, pada teman sebangku Nia, Cindy.
"Udah ayo-ayo Nia mau istirahat." Wali Kelas Nia menggiring teman-teman Nia keluar dari kamar. "Cepet sembuh ya, Yesenia. Kalo gitu saya permisi, Bu Ushi."
Ushi beranjak. "Iya, Bu. Makasih udah nyempetin buat jenguk Nia. Hati-hati di jalan."
Ushi mengantar kepergiaan Wali Kelas serta teman-teman Nia hingga ke tempat parkir rumah sakit. Ternyata mereka sampai membawa bus sekolah demi menjenguk Nia. Di sepanjang perjalanan, terdengar teman sebangku Nia, Cindy, dan teman sebangku Vina, Sekar, juga teman dekat Ikbal, Esa serta Falah, tengah bergibah ria. Menggibahkan Nia pun Vina yang terkenal lebih lengket melebihi permen karet.
" … Kamar tipe dahlia bukannya murah ya? Gue pikir si Yesenia bakal di rawat di kamar tipe president suite* tau gak."
*Unit kamar terbaik yang memiliki ukuran ruangan lebih luas dari unit lain. Terdiri dari dua kamar tidur, living room, dapur hingga mini bar.
"Gue juga mikir gitu. Makanya gue udah niat bikin status," balas Cindy pada Sekar. "Ternyata Yesenia sederhana ya."
"Nia mah bukan sederhana tapi gak tau caranya jadi holkay." Esa terbahak. "Ditambah ketemu si Vina yang medit merkidit. Udahlah makin-makin."
Falah ikut terbahak. "Kaya botol ketemu tutup."
"Kita lagi ngomongin Yesenia ya bukan Vina. Soalnya kan secara gitu Yesenia tuh pacarnya orang paling kaya di Jaksel. Terus nyokapnya Nia juga tajir kan. Ples background keluarga nyokapnya juga mentereng."
Cindy mengangguk menanggapi Sekar. "Kalo gue perhatiin Yesenia tuh jarang mesen ojek online tau. Dia tuh lebih sering naek angkot dan gue baru tau hari ini kalo ternyata dia naek kereta juga."
"Akhir-akhir ini malah gue sering liat Yesenia sama Vina jalan kaki. Sampe lampu merah loh mereka jalan. Kan jauh banget anjir dari Andalan Teladan ke lampu merah."
Esa menoleh pada Sekar. "Ya itu tadi yang gua bilang. Karna si Nia temenannya sama Vina. Coba temenannya sama gua, tiap hari bakal gua ajak naek limosinnya Zaim Alfarezi."
"Gua juga kalo temenannya bukan sama lu gak bakal ngibulin Bu Kantin, Sa. Makan gorengan empat bilangnya tiga." Falah kembali terbahak.
Cindy memukul Esa dan Falah bergantian. "Ih apaan sih lu berdua gaje banget."
"Tau nih. Nimbrung aja lagi. Gak nyambung …"
Kegiatan gibah itu pun berlanjut semakin seru ketika Wali Kelas Nia serta sang sopir bus ikut serta. Sementara itu, Ushi yang mengantar kepergian rombongan teman-teman Nia masih bergeming di tempat parkir rumah sakit. Ushi tampak bertelepon dengan seseorang. Entah siapa yang menelepon Ushi pun entah apa kabar yang dibawa orang tersebut, yang jelas Ushi terlihat sangat bahagia hingga tanpa sadar berjingkrak berulang kali.
" … Alhamdulillah kalo gitu, Do. Tapi fix kan yang aku minta beneran bisa kelar pas Nia sama Ikbal lulus SMA?"
"Iya fix, Shi." Suara Edo, teman dekat Ushi sedari SMP, terdengar jelas melalui sambungan telepon.
"Yaudah kalo gitu aku langsung ke sana ya kalo Nia udah dibolehin pulang sama Dokter."
__ADS_1
"Jangan dulu, Shi. Jangan ke sini dulu."
Tawa bahagia di wajah Ushi seketika sirna, digantikan kerut-kerut kekhawatiran. "Loh kenapa? Ada masalah? Pacar kamu kumat lagi posesifnya? Aku cuma mau nraktir kamu makan doang kok. Lagian kita kan udah kaya sodara."
"Bukan, Shi. Ini gak ada hubungannya sama dia. Aku cuma ngerasa akhir-akhir ini kaya ada yang ngawasin …"
DEG
" … Mungkin cuma perasaan aku aja. Secara yang kamu minta kan beresiko banget," imbuh Edo.
DEG DEG
"Halo, Shi? Ushi?"
"Oh iya, Do. Halo," sahut Ushi akhirnya, seraya melihat sekitar. "Apa aku ketauan sama Zaim ya, Do?"
"Kalo kata orang-orangku sih aman. Zaim Alfarezi gak ada datengin Semarang."
"Gitu ya."
"Aku bakal pantau sekitar semingguanlah. Nanti kalo aku rasa aman, kita baru ketemu."
"Oke, Do. Yaudah kalo gitu. Aku ngurusin Nia dulu ya. Dia ada kontrol sebentar lagi soalnya."
"Oke. Salam buat anak-anak kamu ya, Shi." Edo memutus panggilan.
Ushi kembali melihat sekitar, sambil merasakan jantungnya yang berdegup ketakutan. "Jangan-jangan Zaim beneran udah tau rencana aku buat bawa Nia sama Ikbal pindah ke Droseros*?" Ushi menggeleng-geleng. "Gak-gak. Jangan nethink dulu. Buat sekarang fokus ke pemulihan Nia aja dulu." Ushi berlalu.
*Salah satu desa terpencil di bagian Wisconsin, Amerika Serikat.
Sementara Ushi kembali ke kamar rawat Nia yang ada di lantai dua dengan langkah tergesa, kaca sebuah mobil mewah yang terparkir tepat di samping Ushi bertelepon sekian detik lalu, terbuka secara perlahan. Tampak dari balik kaca mobil mewah itu, Al Hakam tengah memandang punggung Ushi sambil menyumpit mie ayamnya. Apakah Hakam mendengar semuanya? Percakapan Ushi dengan Edo sampai percakapan Ushi dengan dirinya sendiri?
"Hen?"
"Ya, Pak?"
"Berapa rating mie ayamnya?" tanya Hakam lagi, pada Hendri.
"4.9 dari 5.0, Pak."
Hakam mengangguk-angguk. "Ngomong-ngomong, Hen. Saya bisa barter kan sama brandalan itu?" Hakam menyeruput kuah mie ayamnya. "Saya kasih tau dia rencana Ushi Widhiani, dia kasih tau saya siapa ayah dari anak yang dikandung Kasih. Gimana?"
...•▪•▪•▪•▪•...
__ADS_1
Dua buah mobil dengan plat berhias asksesori berlian asli itu kompak mengangkat rem tangan di depan gerbang sebuah rumah berlantai empat yang terletak di sekitar Pantai Fulung, pantai yang terkenal dengan kuliner kaki limanya. Terlihat tiga orang berpakaian serba hitam keluar dari mobil dan buru-buru berlari membukakan pintu mobil yang terparkir tepat di belakangnya.
"Silahkan, Tuan."
Monaco hanya mengangguk menanggapi Duyi, tangan kanannya.
"Silahkan."
"Makasih," balas Monica pada anak buah Monaco yang lain. "Tolong kopernya Mamah langsung bawa ke kamar ya."
"Baik."
"Hati-hati, Mah."
Nila tersenyum pada Monica. "Seneng banget rasanya bisa keluar dari rumah sakit. Mamah kangen banget jalan-jalan di pantai."
"Besok kan Mamah udah bisa jalan-jalan ke pantai sepuasnya. Yuk, masuk dulu."
Nila kembali tersenyum seraya meraih uluran tangan Monica.
"Pah? Gak masuk?"
Monaco menoleh pada Monica. "Duluan aja. Papah mau ngobrol dulu sama Duyi."
"Oke."
Monica pun berlalu bersama Nila. Setelah memastikan keduanya sudah benar-benar masuk ke dalam rumah, barulah Monaco dan Duyi bercakap dengan nyaman. Sambil menyulut rokok untuk sang tuan pun untuk dirinya sendiri, Duyi melaporkan hasil operasi plastik Mei yang sukses. Benar, hukuman untuk Mei yang tempo hari gagal menyelesaikan misi satu miliarnya adalah operasi plastik!
"Bagus. Dengan gitu kan Zaim Alfarezi atau Sobari bakal nganggep Mei udah mati. Jadi gak ada bukti kalo mereka mau nuntut kita." Monaco menyesap rokoknya dalam. "Terus, udah dapet pengganti Mei?"
Duyi mengangguk. "Udah, Tuan."
"Bagus-bagus. Masukin terus orang ke Indonesia sampe kita berhasil bawa Yesenia Eve ke sini. Dan kalo gagal lagi, tinggal kirim aja mereka ke ruang oprasi plastik."
"Siap, Tuan."
Monaco beranjak dari sandarannya di pintu mobil. "Yaudah kalo gitu."
"Masih ada yang mau saya sampein, Tuan."
Monaco tak berucap sepatah kata, hanya menoleh pada Duyi.
"Ada orang yang mau ketemu sama Tuan. Cowok. Satu orang. Dari Indonesia," tambah Duyi.
__ADS_1
"Saya gak ngerasa punya kenalan orang Indonesia selain si sombong Zaim Alfarezi sama polisi jompo yang namanya Sobari tuh."
"Tapi dia bilang kenal sama Zaim Alfarezi, Tuan. Dia mantan suaminya Ushi Widhiani, ibu kandungnya Yesenia Eve."