HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
BONUS IKBAL


__ADS_3

Terlihat mobil Ushi baru saja melewati pintu keluar SMA Andalan Teladan. Mobil berbentuk roti tawar yang sangat kinclong itu melaju dengan kecepatan tinggi menuju tujuan selanjutnya, SMA Panutan Bangsa. Di sepanjang perjalanan semua penumpang tampak sibuk mengobrol dan mengunyah, kecuali Nia. Hanya raga Nia yang duduk di samping Vina, sementara jiwanya, tertinggal di SMA Andalan Teladan bersama Kepsek muda dan tampan bernama Denar Djajadi.


*FLASHBACK ON*


" … Nia, anter ke Kak Denar nih." Burhan, ayah Nia, menyodorkan nampan berisi semangkok bakso dan es jeruk.


"Oke siap, Pak bos."


"Duh, pinter banget sih nih si cantik." Seorang pembeli mencubit sebelah pipi Nia.


"Ih, Tante. Sengaja nyubit-nyubit aku ya biar pipi aku kendor terus gak cantik lagi kaya Tante?"


Pembeli yang baru saja mendaratkan cubitan gemasnya di pipi Nia yang gembul, pun pembeli lain serta Burhan tertawa bersamaan menanggapi Nia yang kini tengah berjalan dengan sangat hati-hati menuju kontrakan di seberang. Terlihat pintu kontrakan itu langsung terbuka, saat Nia baru akan mulai mengetuk dengan kepalanya. Seorang pria muda menyambut Nia dan terutama menyambut nampan yang dibawa Nia dengan senyum dan tatapan berbinar.


"Lima belas rebu, Kak."


"Loh, kok naik seribu?" Pria berkemeja putih itu, Denar, mengambil alih nampan yang dibawa Nia.


"Yang laen malah dinaikin dua rebu." Nia duduk tepat di bawah kipas angin. "Karna Kak Denar beli baksonya Bapak tiap hari, makanya cuma dinaikin serebu."


"Gitu ya. Berarti mulai besok Kakak makan siang ketoprak aja deh."


"Bukannya Kakak alergi kacang?"


Denar menghela napas. "Apa boleh buat. Seribu rupiah tuh berarti banget buat anak rantau kaya Kakak." Denar menunjuk ranselnya. "Oya, buka itu deh. Kantong paling depan."


"Penting gak?"


Spontan Denar mengurungkan niatnya meniup kuah bakso, dan terbahak. "Penting buat pecinta coklat."


"Oh, aku-aku pecinta coklat." Nia membuka ransel berwarna biru tua itu sambil bergumam, "Apakah ini yang dinamakan surga susu coklat?"


Denar kembali terbahak. Sementara Nia, sibuk memandangi belasan susu kotak rasa coklat dalam ransel tersebut. Entah dari mana Denar tahu minuman kesukaan Nia, yang pasti Nia selalu pulang dengan membawa sekantong plastik berisi susu cokelat, nampan berjubel perkakas kotor, dan uang berjumlah lima belas ribu rupiah. Denar memang kakak-kakakan yang baik, pembeli yang setia, dan juga penghibur tanpa pamrih yang selalu ada saat Nia dimarahi oleh Nila.


" … Besok beneran gak beli bakso Bapak lagi, Kak? Beli aja kek. Nanti aku rayu Bapak deh biar gak ada kenaikan harga khusus buat Kak Denar."


Denar tak henti terbahak. "Sampe segitunya. Demi susu coklat ya?"


"Demi pr bahasa inggris sama matematika sih sebenernya …"


*FLASHBACK OFF*


" … Nya! Dih!"

__ADS_1


Spontan Nia terlonjak.


"Mikirin apaan sih lu? Bengong aja daritadi," imbuh Vina.


Nia tersenyum paksa. "Enggak kok enggak. Gak mikirin apa-apa."


"Mikirin Kepsek yang tadi kali."


"No no no. Ibu udah terlanjur ngeacc Zaim Alfarezi buat jadi mantu," timpal Ushi pada Ikbal. "Gak usah terlibat sama cinta segitiga ya. Takutnya Ibu juga ikutan dilema. Apalagi pilihannya sama-sama ganteng ples mapan." Ushi menarik rem tangan. "Cepet pada turun. Kepseknya udah nungguin dari tadi loh."


Berbeda dengan Andalan Teladan yang menjadi sekolah favorit para pilar negeri meski tidak masuk dalam urutan sekolah terbaik, Panutan Bangsa justru sebaliknya. Masuk dalam urutan kedua sekolah terbaik di kota tersebut setelah Lentera Dunia. Berbeda pula dengan Andalan Teladan yang memiliki kantin dan seragam yang recommended, Panutan Bangsa benar-benar sepi, serba putih, dan bahkan gedung antara siswa dan siswinya saja dipisah!


"Mending lu aja yang pindah ke sini biar rada tobat," ujar Vina sembari menyenggol Ikbal.


"Kenapa gak lu aja?" Ikbal menunjuk salah seorang siswa yang melintas. "Mending lu jadian sama kutu buku kaya dia tuh daripada jadian sama om-om gak je–"


"Oh, no."


Spontan Vina dan Ikbal menoleh pada Nia.


"Kayanya kita emang ditakdirin pindah ke Andalan Teladan deh," tambah Nia. "Soalnya di sini ada t*i berjalan tuh." Nia menunjuk sesuatu di seberang.


Vina dan Ikbal berganti menoleh ke seberang, di mana sosok t*i berjalan alias Kinan pun sedang menoleh ke arah mereka.


" … Terus kenapa baru bilang sekarang?" Suara Nia terdengar sangat murka dari seberang telepon.


"Aku ada urusan mendadak, Sayang.


"Terus les bela dirinya dicancel lagi gitu? Kamu udah ngecancel empat kali ini loh. Tau gitu aku les di tempat lain."


"I'm sorry, Sa–"


"Kalo Ikbal mah malah seneng lesnya dicancel. Dia pasti langsung ngajakin Kak Bunga kencan," sela Nia. "Lah aku?"


"Ada Vina kan?"


"Kamu pikir kalo ada Vina aku bakal sekesel ini? Dia lagi kerkel di Tebet!" Terdengar Nia menghela napas. "Orang ingkar janji tuh sekali ya. Mana ada orang ingkar janji sampe empat kali kaya kamu."


"Gini, Sa–"


Zaim berganti menghela napas, ketika Nia mengakhiri panggilan teleponnya secara sepihak. Memang benar apa kata Nia. Tak ada orang yang akan mengingkari janji lebih dari sekali, tetapi jika ada bahkan sampai empat kali? Ya, anggap saja dia bukan orang! Namun sungguh, Zaim tidak bermaksud demikian, keadaanlah yang memaksanya. Sejak tahu Umar Zakawat ditinggalkan oleh Tuannya dan berakhir mendekam di ruang interogasi, jadwal kerja pun kencan Zaim jadi berantakan!


Zaim memandang potret Nia yang dijadikannya wallpaper hp. "I'm sorry, Sayang. Tapi kali ini ada yang lebih penting dari kamu." Zaim berganti memandang pintu kantor polisi. "If you think i break my promise, fine. But this is the last for everlast, Sayang*." Zaim mengecup potret Nia dan keluar dari mobil.

__ADS_1


*Kalo kamu pikir aku ngingkarin janji, gak apa-apa. Tapi ini yang terakhir buat selamanya, Sayang.


KLEK


BUG


BUG


BUG


BRUK


" … Anjing! Gak cukup lu bunuh Zain dan bunuh semua penumpang di pesawat, tapi lu bunuh Riko juga, hah?"


Umar Zakawat tak menanggapi Hendri, hanya meludah setelah mencabut paksa giginya yang hampir tanggal.


"Ngomong anjing ba–"


"Stop." Zaim menahan tinju Hendri. "Gak gitu cara bikin orang buka mulut."


"Tapi dia gak bakalan buka mulut, Za."


"Karna lu gak tau caranya." Zaim membantu Umar Zakawat duduk di kursi. "Cari titik lemahnya dong."


"Gak ada. Dia gak punya titik lemah. Keluarganya udah mati semua. Dia juga gak punya pacar. Dia gak punya siapa-siapa."


"Saya tidak percaya ada orang yang benar-benar hidup bersendirian. Sekurang-kurangnya awak mempunyai crush," bisik Zaim pada Umar Zakawat. "Kalau tak silap nama dia Filzah? Nurmala? Siapakah itu? Rabihah? Atau Rabi--*"


*Saya gak percaya ada orang yang bener-bener hidup sebatang kara. Seenggaknya punya gebetan dong. Kalo gak salah namanya, Filzah? Nurmala? Siapa ya? Rabihah? Atau Rabi--.


"Berhati-hati jika awak berani mencampuradukkan perkara dengan Rabihaat*."


*Awas kalo kamu berani macem-macem sama Rabihaat.


"Bergantung kepada awak. Saya akan buat macam-macam kalau awak tak taat pada saya*." Zaim meletakkan sebungkus rokok dan korek di meja.


*Tergantung kamu. saya bakal macem-macem kalau kamu gak patuh sama saya.


DEG DEG DEG



...IKBAL NAVARRO...

__ADS_1


__ADS_2