HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
SUS


__ADS_3

" … Khususnya untuk siswi perempuan. Jangan mudah termakan bujuk rayu pacar. Karna yang bakal dirugikan itu kalian." Pak Putro memutar tubuhnya menghadap kelas X2, kelas Nia. "Ya, Yesenia? Hati-hati pacarannya. Bedain cara nikmatin masa muda sama ngancurin masa depan."


"Saya cuma khawatir, dan cuma mau ngingetin aja kok." Denar meletakkan sendoknya di atas garpu. "Cowok yang bener itu gak bakal nyentuh kamu sebelum halal." Denar menoleh pada Nia. "Dan cowok yang bener itu gak bakal ngajakin kamu pacaran. Karna pacaran itu jalur ekspres menuju perzinahan, Dek."


"Dia brengsek tau gak. Ya wajar sih kalo kamu gak bisa liat apalagi ngerasain." Monica langsung menyedot jus kacang merahnya yang baru saja diantarkan oleh seorang pelayan.


DUG


"Aw," teriak Nia.


Nia mengusap-usap kepalanya yang baru saja terbentur penggung ranjang. Ternyata mimpi. Mimpi yang entah masuk dalam kategori buruk atau sebaliknya. Nia menghela napas seraya kembali menarik selimut. Masih tersisa delapan belas menit lagi sebelum alarm Nia berdering. Namun alih-alih menggunakan delapan belas menit itu untuk berangkat lebih awal ke sekolah, Nia malah terhanyut dalam mimpinya barusan.


Nia bergumam, "Omongan Pak Putro, Kak Denar sama Kak Monica emang bener sih. Tapi gimana dong kalo gue udah ngambil keputusan?"


Benar, Nia sudah mengambil keputusan. Nia mantap menikah dengan Zaim kelak saat usianya menginjak angka dua puluh. Bagaimana dengan restu? Tidak masalah selama Ushi yang adalah orangtua kandung Nia memberi lampu hijau. Jadi tidak ada masalah juga dengan kontak fisik yang dilakukan Nia dengan Zaim selama ini. Lagipula kontak fisik yang mereka lakukan terhitung wajar di zaman krisis moral seperti sekarang.


"Dan cewek mana yang bisa nolak seorang Zaim Alfarezi yang pro?" Nia berguling kegirangan. "Bibirnya lembut banget omg-omg. Terus, badannya ituloh ya ampun ya ampun …"


Nia berguling di ranjang sambil terus menumpahkan isi hatinya, tanpa pernah tahu jika ada banyak cctv tersembunyi di dalam kediaman super mewah itu. Delapan belas menit pun berlalu, Nia menyudahi kekonyolannya dan bersiap menyambut hari senin. Nia sudah tak sabar bertemu Zaim untuk melihat setelan seksi apa yang akan dikenakan Zaim serta berapa banyak kancing kemejanya yang akan dibuka hari ini. Namun.


" … Ada sedikit masalah di kantor cabang aku. Makanya aku gak bisa nganter kamu ke sekolah." Suara seksi Zaim terdengar jelas melalui sambungan telepon.


"Iya gak apa-apa."


"Makasih, Sayang. Nanti Pak Ucil yang bakal nganter kamu ke sekolah ya."


"Gak usah. Aku mau naik kereta aja. Soalnya masih pagi. Kalo berangkat kepagian tuh suka disuruh piket."


"Tapi ke stasiunnya dianter sama Pak Ucil ya?"


"Iya yaudah."


"Iya. Kamu sarapan dulu sebelum jalan."


"Iya-iya." Nia membuka tirai, mengintip Zaim yang baru saja masuk ke dalam mobil. "Yaudah sana kamu jalan."


"Iya. I love you."


"I love you."


Nia mengakhiri panggilan itu sambil mengantar kepergian Zaim diam-diam dari lantai tiga. Hari ini Zaim mengenakan setelan seksi berwarna abu-abu, tetapi berapa banyak kancing kemejanya yang dibuka? Pertanyaan sepele, namun sangat penting untuk mood Nia sepanjang hari ini. Nia pun menuju ruang makan, menyantap sarapan yang sudah disiapkan Nur dan para pelayan sedari matahari masih mendengkur.


"Oh iya lupa."


Spontan Pak Ucil menginjak rem. "Lupa apa, Non?"


"Lupa minta tiket premier sama Zaim."

__ADS_1


"Terus gimana, Non?"


Nia menghela napas. "Gak gimana-gimana, Pak Ucil. Masa mau nyamperin Zaim di kantornya. Yang ada saya telat ke sekolah."


"Tapi penting gak, Non, tiket apa itu tadi namanya?"


"Premier, Pak. Penting sih. Soalnya deadline ngasihnya hari ini. Kalo gak."


"Kalo gak?"


Nia tersenyum paksa menanggapi Pak Ucil. "Gak apa-apa, Pak. Ke stasiun aja."


"Bener nih, Non? Kalo emang mau nyusul Den Zaim ke kantornya saya puter balik nih."


"Gak usah, Pak. Lanjut ke stasiun aja."


"Oke siap kalo gitu, Non."


Sepanjang perjalalan menuju stasiun, Nia bergidik membayangkan konsekuensi dari kepikunannya. Ikbal pasti akan langsung mengadu pada Ushi jika Nia pergi ke kediaman Zaim pada tengah malam. Menginap pula. Gawat! Sedan putih yang terlewat kinclong itu pun akhirnya tiba di stasiun. Nia hendak melepaskan sabuk pengamannya, namun pemandangan di depan sana membuatnya kembali duduk di posisi.


"Loh, Kak Denar sama siapa tuh? Masa pacarnya? Emang Kak Denar pacaran?" tanya Nia dalam hati sambil memandangi Denar dan seorang wanita berhijab turun dari mobil.


...•▪•▪•▪•▪•...


Satu bulan menjadi siswi di SMA Andalan Teladan membuat Nia tersadar jika orang yang memegang gelar primadona yang sebenarnya bukanlah dirinya atau Vina, melainkan Denar. Ya, ternyata Denar tidak hanya tampan dari luarnya saja tetapi juga dari dalam. Reputasi seorang Denar Djajadi di SMA Andalan Teladan sungguh luar biasa. Tidak hanya tampan, mapan dan sopan, rupanya Denar juga imam idaman.


" … Gue jadi rajin sholat dhuha sama dzuhur tuh karna Pak Denar yang ngimamin," terang teman sebangku Nia dengan wajah merona.


"Kalian tau julukannya Beliau di sini apa?"


Nia dan Vina kompak menggeleng menanggapi teman sebangku Nia.


"Biksu Tong Sam Cong," jawab teman sebangku Nia dan Vina bersamaan.


Dan sekali lagi. Luar biasa. Sungguh, reputasi Kepala Sekolah SMA Andalan Teladan sangat luar biasa sampai-sampai disandingkan dengan biksu Tong Sam Cong yang menurut kisah, bahkan hanya berlalu ketika melihat wanita telanjang yang menggeliat seperti ulat di depan matanya. Namun alih-alih ikut memamerkan mimik wajah merona, Nia dan Vina malah tersenyum paksa.


"Mendingan lu sama Pak Denar aja, Yes."


Teman sebangku Vina menimpali teman sebangku Nia. "Setuju-setuju. Biar Zaim Alfarezi sama Kasih aja, Yes. Kali gitu kalo dinikahin sama Zaim Alfarezi dia bisa sembuh."


Vina berdeham, "Bukannya Pak Denar udah tua ya?"


"Baru tiga puluh dua," sahut teman sebangku Nia. "Mending sama yang lebih tua sekalianlah. Sama Zaim Alfarezi kan nanggung. Terus katanya kalian udah deket dari lu masih kecil ba–"


"Lu berdua udah ngerjain pr sosiologi?" sela Vina. "Gue denger dari kelas laen yang gak ngerjain pr bakal dikasih kuis dadakan."


Teman sebangku Nia beranjak. "Duh, kenapa baru bilang sih, Vin? Kalo gitu gue duluan. Nih. Gue titip bayar makanan gue ya."

__ADS_1


Teman sebangku Vina ikut meletakkan uang di meja. "Gue juga titip. Nanti kita lanjut ngobrolnya."


Vina menghela napas. "Jangan diambil hati, Nya."


"Gak sama sekali tuh." Nia menyedot habis es susu fantanya. "Gue malah ngerasa kalo Kak Denar itu sus*."


*Sus dipakai sebagai akronim dari kata dalam bahasa Inggris “suspicious” atau “suspect” yang berarti mencurigakan atau tersangka. Kata itu adalah kata slang yang juga digunakan untuk mengatakan bahwa seseorang atau sesuatu tidak boleh dipercaya.


"Eh? Kok sama? Awal-awal sih gue b aja. Tapi pas kita makan siang bareng tuh gue baru ngerasa dia sus."


"Gue pernah liat Kak Denar sama cewek di stasiun."


"What?" Vina refleks berteriak. "Demi apa? Gak mungkinlah, Nya. Dia biksu Tong Sam Cong loh, biksu Tong Sam Chong."


"Sumpah. Ceweknya pake hijab. Mereka naik goc*r soalnya ada stiker goc*r di mobil yang mereka naikin."


"Duh, mulai kepo nih gue. Lu juga kan, Nya?"


Tak ada jawaban dari Nia, tetapi Vina tahu dari tatapan Nia yang bergetar, Nia menyetujui ajakannya. Mereka pun mulai memata-matai Denar. Namun aksi mata-mata mereka tak berjalan mulus karena Denar yang jarang keluar dari ruangannya. Akhirnya mereka terpaksa membuntuti Denar usai pulang sekolah. Sayangnya tidak ada yang aneh. Denar benar-benar biksu Tong Sam Cong!


Tetapi di hari keempat, ada aktivitas Denar yang sedikit berwarna. Hari itu Denar menerima tamu seorang wanita berhijab. Namun si wanita berhijab tidak masuk ke dalam apartemen Denar. Wanita berhijab itu terlihat langsung pergi setelah memberikan plastik makanan cepat saji pada Denar. Denar pun tanpa ragu langsung menutup pintu apartemennya.


"Ternyata Pak Denar beneran biksu Tong Sam Cong, Nya."


Nia menggangguk-angguk. "Kalo gitu kita akhirin sampe sini aja."


"Setuju. Sekarang ki–, eh, itu cewek yang tadi balik lagi dong. Rekam, Nya, rekam cepet."


Nia pun buru-buru mengaktifkan kamera ponselnya. Terlihat wanita berhijab itu kembali ke apartemen Denar. Namun kali ini wanita tersebut tidak menekan bel melainkan langsung memasukkan password. Inilah Jakarta. Pemandangan yang kini direkam Nia bukan lagi hal yang tabu. Karena budaya timur yang seharusnya kita wariskan pada anak cucu sudah dikikis habis oleh budaya barat.


"Anjir. Itu cewek ngapain segala mencet bel kalo tau password apartemennya Pak Denar dih."


"Bener banget." Nia menoleh pada Vina. "Btw tembok apartemen tuh kedap suara gak sih?"


"Serius lu nanya sama gue yang selama tujuh belas taun gede di Kampung Bojong Kenyot?"


Spontan Nia terbahak. "Aduh salah nanya."


"Emang lu mau ngapain misal tembok apartemen gak kedap suara? Nguping?"


"Yaiyalah. Kalo bisa ngintip sekalian. Biar plong gituloh kekepoan ini."


Vina mengangguk-angguk. "Gue ada ide."


"Fix sesat."


"Kalo ide gue lurus, lu gak akan jadian sama Zaim Alfarezi ya tolong."

__ADS_1


Nia kembali terbahak. "Oke-oke apaan?"


Vina menyeringai sebelum membisikkan sesuatu pada Nia. Dan, resmi dilaksanakan sudahlah ide sesat Vina, ketika Nia pun ikut menyeringai.


__ADS_2