HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
SENAM JANTUNG


__ADS_3

"Apa yang Kakak suka deh dari Ikbal? Emang dia punya nilai ples? Perasaan mines semua," lontar Nia tanpa menghentikan tangannya yang sedari tadi mengobok-obok bungkus snack kentang.


Wanita yang Nia panggil Kakak, Bunga, adalah kekasih baru Ikbal. Bunga terbilang sangat good looking, pun memiliki background pendidikan yang sangat mentereng. Bunga merupakan mahasiswi jurusan psikologi di salah satu universitas negeri. Lalu jika dilihat dari barang-barang yang Bunga kenakan, semua itu jelas bukan barang KW, di mana itu berarti, Bunga datang dari keluarga kaya. Luar biasa, bukan? Ikbal yang serupa Phitecanthropus Erectus itu bisa menggelitik hati seorang Bunga?


Bunga tertawa menanggapi Nia. "Kalo kamu kenalin Ikbal lebih dalem, dia punya banyak nilai ples kok. Ikbal tuh tulus."


"Tulus? Si Phitecanthropus Erectus itu? Bulus kali, Kak."


Bunga tertawa lagi. "Kamu lucu banget sih ya ampun. Cowok kamu pasti awet muda. Iya kan? Kamu pasti udah punya cowok kan?"


Nia hanya mengangguk merespon Bunga.


"Tuh kan bener. Anak mana?" tanya Bunga lagi.


"Jaksel. Dia polisi. Eh, bukan-bukan. Maksudnya pengusaha." Nia diam sesaat. "Pengusaha kafe kekinian."


"Namanya?"


"Namanya Dup–, bukan. Namanya siapa ya? Duh, lupa." Nia merogoh ponselnya. "Bentar, Kak."


Bunga tak henti tertawa. "Gimana sih kamu tuh? Masa nama pacar sendiri gak tau. Kebanyakan pacar nih kayanya."


"Cukup Ikbal Navarro aja yang pacarnya banyak, Kak." Nia ikut tertawa. "Yah, kayanya chatnya keapus otomatis deh. Udah lama banget sih emang. Siapa ya namanya? Kalo gak salah ada im-imnya gitu belakangnya."


"Siapa? Baim? Baim Wong? Apa Zaim? Zaim Alfarezi yang katanya mau beli roket itu?" Bunga masih tertawa.


"Zaim? Apa iya ya namanya Zaim? Apa Baim? Baim aja deh, Kak. Nyari aman."


"Dasar kamu ya." Bunga mencubit sebelah pipi Nia.


Nia tersenyum paksa, sembari merasakan cubitan Bunga yang entah karena benar-benar gemas atau malah sebaliknya. Dari sekian banyak wanita yang dipacari Ikbal, Bunga adalah yang pertama yang diminta menunggu di ruang tamu. Ya, sebab biasanya wanita-wanita itu pasti akan menunggu di kamar Ikbal. Dan lagi, ini juga kali pertama Ikbal berdandan sangat lama. Padahal biasanya Ikbal hanya membutuhkan waktu dua puluh menit, sekali pun lebih, pasti hanya satu menit, bukan satu jam!


"Sebelom ke sini tuh si Ikbal maen futsal apa maen di got, Kak?"


"Hah? Maksudnya?" Lagi-lagi Bunga tertawa menanggapi Nia.


"Ya maksudnya kenapa itu mantannya si ta* berjalan belom nongol-nongol juga sampe sekarang?"


Bunga mengusap air mata gelinya yang tak henti bermaraton. "Tuh, yang dari tadi kamu omongin udah selesai."

__ADS_1


Spontan Nia menoleh malas ke lantai dua. Aroma parfum bergamot langsung menyeruak menusuk indra penciuman. Nia melongo memerhatikan Ikbal sepanjang anak baru gede itu menuruni anak tangga. Bukan, demi Tuhan bukan karena Ikbal tampan. Justru sebaliknya, tak ada yang berubah dari Ikbal selain parfumnya yang disemprot berlebihan. Ikbal dan Bunga pun pergi bermalam minggu, setelah seperti biasa, Ikbal dan Nia saling melempar hinaan terlebih dahulu. Kini hanya tersisa Nia seorang di rumah mewah itu.


Ushi? Pergi ke Puncak. Sudah dua hari. Teman semasa kuliahnya meminta tolong untuk membantu merias figuran di film horor yang akan rilis pertengahan tahun depan. Ushi yang tak enak menolak permintaan temannya itu pun terpaksa mengiyakan dan akan berada di Puncak selama empat hari. Vina? Jangan tanya. Sejak Ushi bersikeras memindahkan Nia dan Ikbal dari Lentera Dunia, Vina mogok bicara. Namun karena aksi mogok bicara itu tak berani Vina tujukan pada Ushi, Nia dan Ikballah yang berakhir menjadi sasaran.


"Terus gue ngapain? Seharusnya gue kaya Ikbal. Punya pacar offline. Apa gue putusin aja Duplikat L.K terus nyari pacar offline?" Nia bergumam seraya memandangi lampu gantung ruang tamu.


DRRRTTT DRRRTTT DRRRTTT


Nia melirik ponselnya. "Eh? Nomer gak dikenal? Siapa? Tante kali ya? Apa si Vina lagi iseng karna gabut?" Nia menggeser tombol hijau pada layar ponselnya. "Halo? Siapa ya? Ha-, idih dimatiin. Gak sopan banget." Nia melempar ponselnya ke pojokan sofa.


DRRRTTT DRRRTTT DRRRTTT


"Siapa sih anjir iseng banget." Nia hanya memandangi tulisan unknown number pada layar ponselnya.


DRRRTTT DRRRTTT


"Hah? Sms apaan nih?" Nia buru-buru mengetikkan password untuk membuka kunci ponselnya.


JANGAN USIK RUMAH TANGGA SAYA! SAYA LAGI HAMIL! TOLONG UDAHIN HUBUNGAN KAMU SAMA SUAMI SAYA SEKARANG JUGA! JANGAN TUNGGU SAMPE KESABARAN SAYA ABIS!


...•▪•▪•▪•▪•...


Terlihat Bastian tengah memantau kediaman Ushi melalui teropong. Malam ini adalah waktu yang tepat untuk Bastian menyusup ke kamar Ushi demi mencari setidaknya satu petunjuk selagi si pemilik kamar sedang tidak ada di tempat. Waktu sudah menunjukkan pukul satu pagi, namun aksi penyusupan itu belum juga dilancarkan. Alasannya tentu saja karena Ikbal yang bermalam minggu dengan kekasih barunya belum juga menyudahi senang-senangnya.


"Tidurlah."


Spontan Bastian menoleh pada sosok yang duduk di kursi penumpang di belakang.


"Emang ada yang lebih lama dari tidur?" Sosok itu, Zaim, ikut menoleh.


"Lu ngapain tiba-tiba ikut gua?"


"Kasih mulai ganggu Kaoru."


"Ganggu gimana maksudnya?" tanya Bastian lagi.


"Nelfon Kaoru berkali-kali. Ngirimin Kaoru sms anceman juga."


"Lu tau darimana kalo itu Kasih?"

__ADS_1


"Gua liat sendiri."


"Ya terus kenapa lu diem aja?"


"Waktu itu gua ngantuk berat." Zaim menguap.


"Serius gua ma–"


"Bisa dipidanain?"


"Bisa pake undang-undang ITE. Pasalnya banyak. Tinggal pilih. Tapi harus ada bukti fisik."


"Adalah. Kan ada cctv di kamar gua." Zaim memperlihatkan sesuatu di ipadnya, tepatnya rekaman cctv yang memperlihatkan Kasih yang kala itu tengah membuka ponselnya. "Cukup buat jadi bukti fisik?"


"Lu serius?"


"Gua gak pernah becanda makanya gua kaya. Urus kalo dia udah lahiran."


Bastian kembali menghela napas. "Terus rencana lu apa sekarang?"


"Mau nyetting hpnya Kaoru biar gak bisa dikontek selain gua sama orang-orang yang gua acc," balas Zaim.


Bastian menggeleng seraya membatin, "Bener-bener duplikatnya Lexander Kingston nih manusia."


Tak ada lagi percakapan setelah itu. Bastian hanya sibuk meneropong, sementara Zaim, sibuk memeriksa ratusan cctv tersembunyi di rumahnya. Dan akhirnya, yang mereka nanti-nanti pun tiba. Ikbal pun memunculkan batang hidungnya tepat pada pukul dua tiga puluh pagi. Setelah lampu kamar tidur Ikbal mati, aksi penyusupan itu langsung dilancarkan. Tidak ada halangan berarti. Bastian dan Zaim berhasil masuk ke rumah berlantai dua itu kurang dari setengah menit.


"Woy, mau ke mana? Ini kamarnya Ushi."


"Mau ngapain gua di kamar dia?"


"Katanya mau nyari petunjuk masa lalunya Ushi?" Bastian balik bertanya pada Zaim.


"Ngapain gua yang bayar gua juga yang nyari?"


Bastian tertawa paksa, sembari memandangi punggung Zaim yang dalam sekejap hilang ditelan pintu kamar tidur berhias bunga edelweiss itu. Bastian pun bergegas, melupakan amarahnya yang seketika sirna setelah diredakan fakta menohok. Sementara Bastian sibuk bergelut dengan laci-laci dan kotak-kotak, Zaim masih mematung di tempatnya, bingung harus menggiring matanya ke arah mana. Bagaimana tidak? Ada banyak pakaian dalam wanita yang menggantung di sana-sini.


Dan tidak cukup dengan pakaian dalam wanita beraneka warna saja, bahkan si pemilik pakaian dalam yang tidur tanpa pakaian dalam itu kini tengah menyuguhkan posisi tidur yang berkuasa menggelitik berahi kaum adam bergelar biksu sekali pun. Zaim akhirnya memutuskan untuk balik kanan. Namun sial, untuk kali pertama, Zaim mengambil keputusan yang salah. Zaim keluar dari kamar Nia bersamaan dengan Ikbal, pun Bastian yang terlihat sangat terburu-buru.


"Maling. Iya kan maling?" Ikbal bergantian menunjuk Zaim dan Bastian. "Fix maling. Maling. Ma–"

__ADS_1


DUK


BRUK


__ADS_2